Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
111. Ninda vs Andira.


__ADS_3

"Sini, Dir. Duduk samping gue!" Ucap Nayla saat Dira sudah semakin dekat dengan meja yang mereka tempati. Sontak saja, Verrel dan Bastian langsung menoleh ke belakang karena memang posisi mereka yang membelakangi Axell dan Dira.


"Wih... Bidada- eh... ibu negara udah dateng!" Celetuk Bastian yang langsung mendapat tatapan datar dari Axell. Bukannya merasa bersalah, Bastian malah terkekeh geli melihat sikap Axell yang di tujukan padanya sekarang ini.


Setali tiga uang dengan Bastian, Verrel juga tak mau kalah mengambil kesempatan untuk menggoda Axell saat ini.


"Lo pake lem merek apaan, Xell? Si Dira sampe kuat banget nempel sama Lo?" Ucap Verrel yang di akhiri dengan kekehannya.


Sama seperti respon Axell pada Bastian tadi, Axell hanya menatap Verrel malas tanpa berniat sedikit pun untuk menjawab ucapan tak bermanfaat dari sahabatnya itu.


Tapi, Saat Dira akan duduk di samping Nayla, Axell enggan melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan gadis itu. Dan saat Dira menoleh ke arah tangannya dan Axell bergantian, Axell malah tersenyum ke arah Dira, "Gak duduk di samping aku aja, yang?" Tanyanya.


Dira melirik ke arah Nayla sekilas dan kembali menatap Axell, "Iya, kak." Jawab gadis itu yang kini langsung memilih duduk di samping Axell.


Merasa menang, Axell diam-diam melemparkan senyum ke arah Nayla, senyum yang terkesan... mengejek pada teman sekelasnya sekaligus kekasih dari Verrel sahabatnya itu.


Ya, Axell tahu, ada tatapan tak suka dari Nayla yang di layangkan untuknya, dan Axell juga sudah bisa menebak, mengapa Nayla bersikap demikian. Tapi bukan Axell namannya kalau mau menanggapi hal yang tak penting menurutnya.


Tak mau ambil pusing dengan gadis bernama Nayla, Axell kini memilih mengangkat satu tangannya bermaksud untuk memanggil salah satu pelayan yang bekerja di kafenya itu untuk memesan beberapa makanan.


"Mau pesen apa, yang?" Tanya Axell pada Dira.


"Samain aja, kak." Jawab Dira yang lebih memilih menyerahkan pilihannya pada Axell. Axell tersenyum mendengar jawaban Dira. Gadisnya itu berbeda dengan gadis-gadis pada umumnya yang lebih memilih mengatakan terserah kalau di tanya pesan apa.


"Dih, senyum... Semerdeka Lo aja deh, Xell!" Celetuk Bastian yang melihat senyum Axell tadi.


Tak menjawab. Axell memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada sofa setelah pelayan tadi pergi seusai mencatat pesanannya. Menurut Axell, menanggapi Bastian tidak akan ada habisnya.


"Em... aku ke toilet bentar ya, kak?" Ucap Dira yang memang ingin buang air kecil.


Axell mengangguk, "Di ruangan aku aja, yang!" Jawabnya.


Dira mengangguk dan langsung pergi menuju toilet yang berada di ruang kerja Axell.


Selepas kepergian Dira, Nayla menatap Axell dengan tatapan entah marah, benci atau kesal. Bahkan Nayla seperti ingin menelan Axell hidup-hidup kalau saja Bastian tak menegurnya.

__ADS_1


"Hati-hati, Nay. Nanti kalo mata Lo tiba-tiba lepas terus menggelinding di meja. Kan, jadinya horor..." Celetuk Bastian. "...Lo liat Axell gitu banget!" Tambahnya.


Tak menjawab, Nayla hanya balik menatap Bastian kesal.


Verrel yang sejak tadi sedang bermain game itu pun menghentikan permainan yang sedang ia mainkan di ponselnya sejak tadi dan beralih menatap wajah Nayla yang ternyata sedang menatap Axell. "Kenapa sih, Beib?" Tanya Verrel yang mendapati gelagat tak biasa dari kekasihnya itu.


Nayla mendengus kesal, "Kesel gue sama nih orang satu." Jawab Nayla yang malas menyebutkan nama laki-laki yang saat ini tepat duduk di depannya. "Heran gue, kenapa si Dira bisa sebegitu nurutnya sama dia." Sambungnya.


"Ya wajarlah, Nay..." Sahut Bastian cepat. "Mereka kan-" Ucapan Bastian yang hampir mengatakan kalau status Dira dan Axell adalah suami istri itu seketika terhenti saat Bastian melihat tatapan maut yang Axell tujukan padanya.


"Apa?"


"Mereka apa, Bas?"


Pertanyaan kompak yang keluar bersamaan dari Nayla dan juga Verrel.


"Mereka kan pacaran, kek Lo berdua." Jawab Bastian.


"Tapi gue gak gitu-gitu banget, 'tuh." Jawab Nayla.


"Ada bagusnya kali, Beib, kalo Lo nurut sama gue. Kayak Dira yang nurut sama si Axell." Ucap Verrel yang setuju dengan apa yang di katakan Bastian tadi.


Mendengar apa yang baru saja di katakan Nayla, Verrel jadi gelagapan sendiri. Laki-laki itu bahkan mengrutuki dirinya sendiri sekarang. "Gak gitu Beib, maksud gue..."


"Apa?" Jawab Nayla cepat.


"Mampus!" Sahut Bastian dengan tawanya.


"Ini semua gara-gara Lo nih, Bas. Sialan Lo?" Ucap Verrel yang malah menyalahkan Bastian.


"Lah, kok jadi Gue?" Jawab Bastian tak terima di salahkan.


Sementara Axell, ia memutuskan untuk menyusul Dira. Laki-laki itu baru menyadari, gadisnya itu sudah terlalu lama di toilet.


"Lah... Lo mau kemana, Xell?" Tanya Bastian yang melihat Axell berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Gue mau ngecek laporan dulu bentar." Jawab Axell tanpa menoleh ke arah Bastian.


...***...


Sementara itu di ruang kerja Axell. Dira yang baru saja akan membuka pintu itu pun menghentikan aksinya karena ada seseorang yang memanggil dari belakang.


"Hey, nama Lo... Dira kan?" Tanya seorang gadis yang mengenakan seragam pelayan dengan nada tak suka.


"Iya, kak. Kenapa?" Tanya Dira yang kini memperhatikan gadis yang mengajaknya bicara tadi. Dira tidak mengenalnya, tapi mereka memang sering bertemu.


"Lo bener, istrinya Axell?" Tanya gadis yang tak lain bernama Ninda itu tanpa basa-basi.


Dira membelalakkan matanya mendengar pertanyaan gadis di depannya itu. Dari mana gadis itu tahu tentang pernikahannya dengan Axell, begitu pikirnya.


Ninda mendengus kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari gadis bernama Dira. "Di tanya bukannya jawab, malah bengong! Lo tuli?" Tanyanya lagi.


Ok, Dira menangkap signal tidak baik dari gadis di depannya ini. Mau tidak mau, Dira akhirnya mengatakan kebenarannya. "Iya, aku emang istrinya kak Axell. Ada masalah?" Tanya gadis itu balik.


"Bukannya Lo sama Axell masih sekolah, ya? Tapi kenapa udah nikah?" Tanya Ninda To the point.


Urung menjawab, Dira malah berpikir tentang mengapa gadis di depannya itu begitu ingin tahu tentang pernikahannya dengan Axell.


"Lo ngejebak Axell, ya, biar Axell mau nikahin Lo, iya kan?" Pertanyaan menohok Ninda ucapkan karena merasa Dira yang mengabaikan pertanyaannya tadi.


"Aku bukan gadis seperti itu, ya. Kita itu tidak saling kenal. Jadi aku minta baik-baik, jaga bicara kamu!" Balas Dira dengan nada yang masih tenang seperti tadi.


Lagi-lagi Ninda mendengus kesal mendengar ucapan Dira, "Gak ada ja**ng ngaku ja**ng. Gue kasih tau sama Lo, gue udah lama kerja disini. Jadi gue tau Axell deket sama siapa aja. Setau gue, Axell gak pernah deket sama cewe mana pun, apa lagi Axell sampai bawa masuk ke ruang kerjanya sekalipun. Dan sekarang, gak ada angin gak ada ujan, tiba-tiba Axell udah nikah sama Lo, apa namanya kalo Lo gak ngejebak dia dengan tubuh lo ini?" Ucap Ninda yang menuduh Dira melakukan hal yang tidak terpuji dan berujung membuat Axell menikahinya.


Ok, disini Dira sudah cukup bersabar menghadapi mulut pedas Ninda. Gadis itu sepertinya harus segera membungkam mulut gadis di depannya itu. Naluri seorang istri tiba-tiba bangkit dari dalam dirinya.


"Memangnya kenapa? Apa peduli kamu? Oh... aku tau, kamu kayak gini karena kamu suka, ya sama kak Axell? Suka tapi gak bisa dapetin, iya kan? Kasihan..." Ucap Dira dengan senyum mengejek.


Ninda semakin kesal mendengar apa yang baru saja ia dengar dari Dira. Tangan yang sedari tadi terkepal kuat itu kini terayun dan melayang bebas mengenai pipi mulus Dira.


Plak,

__ADS_1


Ceklek,


"Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan...


__ADS_2