
Malam ini Dira tengah berjalan dengan menenteng beberapa kantong belanjaan berisikan bahan makanan. Beberapa hari tinggal dirumah orang tuanya, Dira baru ingat kalau bahan masakan di apartemennya tinggal sedikit. Jadi Dira memutuskan untuk berbelanja sebelum pulang ke apartemennya.
Saat tiba di lobi apartemen, ponsel Dira berbunyi karena ada panggilan masuk. Mau tak mau Dira harus menaruh beberapa kantong belanjaannya tadi di lantai untuk mengambil ponsel Dira di dalam Sling bag miliknya.
📲 Mama Diva is Calling...
"Hallo, Ma."
"(....)."
"Maaf, Ma. Dira udah di apartemen. Maaf Dira tadi pulang gak pamit.
"(....)."
"Kemana, Ma?"
"(....)."
"Ok, Ma."
"(....)."
"Iya, Ma."
Tuutt...
Dira memutuskan panggilan teleponnya. Dira terdiam sejenak sambil memejamkan matanya. Sampai suatu suara mengagetkannya.
"Lo ngapain? Sakit?" Tanya seorang cowok yang berada tepat di belakang Dira. Sempat terlonjak kaget, Dira akhirnya memutar badannya untuk menghadap ke arah orang yang bertanya padanya tadi.
"Kak Axell." Ucap Dira lirih. Sementara Axell Hanya mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya ada apa.
"Nggak apa-apa kok, kak. Tadi cuma abis terima telpon." Jawab Dira.
"O... Mau gue bantuin?" Tanya Axell pada gadis itu. Melihat begitu banyak barang belanjaan tergeletak di lantai, membuat Axell berinisiatif membantu gadis yang notabene adalah adik kelasnya itu.
"Nggak usah, kak. Ngrepotin." Tolak Dira halus.
"Emang tangan Lo gak capek, bawa belanjaan segini banyak? Apart Lo masih beberapa lantai lagi." Jawab Axell.
"Tapi, kak-" Jawab Dira yang belum sempat menjawab pertanyaan dari Axell, karena Axell yang kembali membuka suara.
"Sini gue bantu." Ucap Axell singkat sambil membawa beberapa kantong belanjaan Dira.
Sampai di depan apartemenya, Dira menekan Password untuk membuka pintu unit miliknya dan tak sengaja Axell melihat Password yang di Dira kenakan.
"Taruh disini aja, kak." Ucap Dira sambil menunjuk meja di ruang tamunya.
"Ok, gue taruh sini." Axell langsung menaruh belanjaan Dira di meja. "Kalau gitu gue balik dulu." Pamit Axell yang akan pergi meninggalkan apart Dira.
"Eh kak, nggak minum dulu." Tawar Dira pada Axell.
"Nggak usah, Next time. Udah malem." Jawab Axell yang kembali melangkah kan kakinya keluar dari apartemen Dira.
"Kak Axell." Panggil Dira lagi. Axell menoleh ke arah Dira.
"Ya." Jawab Axell singkat.
"Terima kasih." Ucap Dira pelan. Tak ada jawaban Axell hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar menuju apartemennya.
...***...
Kini di kantin sekolah Dira, Nayla dan Melody tengah asyik menikmati makan siangnya.
"Gimana, Dir?" Tanya Nayla.
"Apanya?" Tanya Dira sambil mengunyah makanannya.
"Lo sama Arfen?" Tanya Nayla lagi. Dira mengangkat sebelah alisnya.
"Maksudnya?" Tanya Dira bingung.
"Ya Lo sama dia..." Jawab Nayla menggantungkan kalimatnya.
"Ngomong yang jelas dong, kak! Gue juga penasaran nih!" Protes Melody.
__ADS_1
"Maksud gue, hubungan Lo sama dia, masih sama kayak dulu atau udah in relationship?" Tanya Nayla ingin tahu.
Dira menghembuskan nafasnya pelan. "Masih kayak dulu, Nay." Jawab Dira.
"Kalau saling suka, kenapa gak jadian aja?" Nayla menyarankan.
"Nggak, Nay. Mau bagaimanapun gue sama Arfen. Kita gak akan pernah bisa sama-sama." Jawab Dira.
*Kan udah di jodohin, jadi gak bisa sama-sama.😏
"Kenapa memangnya?" Tanya Melody kepo.
"Iya, kenapa memangnya?" Ulang suara cowok yang baru saja datang dan duduk di samping Melody.
"Ih, Lo dateng-dateng kepo, deh." Cibir Melody.
"Ssstt... diem." Jawab Zaki Sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Melody.
"Kita dengerin cerita Dira dulu, abis itu baru gantian Lo yang cerita." Lanjutnya Zaki.
"Emang gue mau cerita apaan?" Jawab Melody sambil memanyunkan bibirnya.
"Tentang perasaan Lo ke gue." Jawab Zaki tersenyum penuh arti.
"Ish... Pede banget Lo!" Jawab Melody ngegas sambil memukul pundak Zaki.
"Tapi suka, kan?" Tanya Zaki Sambil Menaik-turunkan alisnya.
Blush...
Seketika pipi Melody merona karena mendengar apa yang dikatakan Zaki tadi. Melody mulai menyukai Zaki, tapi ia memendam perasaanya karena mengira Zaki menyukai Dira.
Melihat pipi Melody yang kini memerah membuat Zaki kian gencar menggodanya. "Kenapa 'tuh pipi di merah-merahin?" Tanya Zaki lagi.
"Tau ah." Jawab Melody ngegas lalu pergi meninggalkan kantin.
"TUNGGU, MEL!!" Pekik Zaki sambil bangkit menyusul Melody dan pergi dari kantin. "...Gue duluan Dir, Nay." Imbuhnya.
Dira dan Nayla yang melihat tingkah keduanya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Gue-..." Belum sempat Dira melanjutkan kata-katanya, salah satu ponsel di meja kantin tersebut berdering.
📲 Mama Diva is Calling...
"Bentar ya, Nay. Gue terima telpon dulu." Ujar Dira yang diangguki kepala oleh Nayla.
"Hallo, Ma."
"(....)."
"Dira ingat kok, Ma."
"(....)."
"Iya, dah Mama."
Tuutt...
"Mama Diva, Dir?" Tanya Nayla.
"Iya, Nay." Jawab Dira singkat.
"Ada apa emang?" Tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa kok, Nay. Bukan hal yang penting. Udah yuk kita ke kelas. Udah bel juga." Ajak Dira pada sahabatnya itu. Keduanya pun langsung berdiri untuk kembali ke kelas masing-masing karena jam istirahat sudah selesai beberapa menit yang lalu.
...***...
Di Koridor sekolah, terlihat ada seorang cowok yang sedang menerima telepon dari seseorang diseberang sana.
"Halo, Bun."
"(....).
"Hari ini Axell gak ada rapat OSIS, Bun, jadi bisa pulang cepet."
__ADS_1
"(....)."
"Ngapain, Bun?"
"(....)."
"Baik, Bun. Nanti Axell kesana."
"(....).
"Iya, Bun."
Tuutt...
Cowok yang tak lain dan tak bukan adalah Axell itu kini melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kelas, setelah telepon dari bunda Resty berakhir.
...***...
La'Rossa boutique.
Kini Dira telah sampai di butik tempat yang dijanjikan oleh Mama Diva. Tadi Dira menerima telepon dari Mama Diva yang memintanya untuk datang ke butik untuk melakukan Fitting baju pengantin.
"Mama." panggil Dira pada Mama Diva yang tengah asyik bercerita dengan dua wanita yang Dira yakini adalah calon mertuanya dan juga Tante Rossa sang pemilik butik.
"Kamu sudah datang, sayang. Sini sayang." Ucap Mama Diva yang berbinar seketika saat melihat kedatangan Dira. Dira mendekat dan langsung menyalami ketiga wanita paruh baya itu.
"Dira kamu cantik sekali, sayang." Puji Tante Rossa sang pemilik butik.
"Terima kasih, Tante." Jawab Dira sopan.
"Pastinya, dong. Kan Dira calon menantuku." Ucap Bunda Resty bangga sambil merangkul pundak Dira.
"Sayang, tadi Mama sama Bunda udah pilihkan beberapa gaun buat kamu. Kamu coba ya, nak. Pilih mana yang cocok sama kamu." Titah Mama Diva.
"Iya, Ma," Jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya.
Gadis itu mulai mencoba gaun yang cocok menurutnya. Dirasa sudah pas, Dira keluar dari ruang ganti untuk menunjukan gaun yang dikenakannya.
"Wah... Kamu cantik sekali, sayang. Ini sangat pas di badan kamu." Ucap Bunda Resty kagum saat melihat Dira yang memakai gaun pengantin.
"Iya, Dira, seakan gaun ini diperuntukan khusus untuk kamu. Sangat cantik." Ucap Tante Rossa.
"Kamu cantik sekali, sayang." Ucap Mama Diva sambil berjalan mendekat ke arah Dira.
Setelah dirasa cukup. Dira kembali ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.
"Sini sayang, duduk dekat Bunda." Titah Bunda Resty sambil menepuk sofa di sampingnya. Dira menurut dan mendekat. Gadis itu lalu duduk di samping calon mertuanya itu.
"Sayang, ada yang mau mama kasih buat kamu." ucap Bunda Resty sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Dira memperhatikan calon mertuanya itu sambil menerka-nerka apa yang akan calon mertuanya itu berikan padanya.
"Ini untuk kamu, sayang." Bunda Resty sambil menyerahkan sebuah kotak bludru berbentuk hati kepada Dira.
"Ini apa ya, Bunda?" Tanya Dira ragu.
"Ini cincin pertunangan kamu, sayang. Coba kamu lihat!" Ucap Bunda Resty pada Dira.
Dira menerima cincin yang Bunda Resty berikan padanya dan langsung membuka kontak kecil itu dengan perlahan. 'Indah sekali' batin Dira.
Sebuah cincin berbentuk hati dengan inisial huruf A di tengahnya.
"Kamu pakai ya sayang, jangan di lepas!" Pinta Bunda Resty. Dira lalu menuruti apa yang Bunda Resty katakan padanya tadi.
...***...
Kini Axell yang sampai di La'Rossa boutique, tempat yang sama dimana Dira Fitting baju tadi.
"'Tuh bukannya Dira?" Gumam Axell lirih ketika melihat Dira keluar dari butik. Tak mau berlama-lama membuang waktu, Axell kembali melanjutkan langkahnya memasuki butik dan di sambut dengan Bunda Resty.
"Boy, sini nak." Panggil Bunda Resty.
"Bunda ada apa nyuruh Axell kesini?" Tanya Axell yang memang tak mengerti kenapa bundanya menyuruhnya untuk datang ke butik.
Bunda Resty tersenyum penuh arti ke arah putra semata wayangnya itu sampai akhirnya ia mengutarakan maksudnya. "Kita Fitting baju buat kamu, sayang. Sebentar lagi kan kamu mau nikah." Ucap lembut bunda Resty sambil menepuk pundak Axell.
__ADS_1
"Eh... Nak Axell."