
"Kak Axell, ada apa?" Tanya Dira spontan saat Axell menggandeng tangannya.
"Nggak apa-apa." Jawab Axell yang terus berjalan sambil menggandeng tangan Dira menuju ke sebuah ruangan yang mirip seperti ruang kerja.
Sampai di ruangan kerjanya, "Sementara Gue kerja, Lo tungguin gue di sini!" Ucap Axell lalu berjalan menuju meja kerjanya.
Dira menurut dan langsung duduk di sofa sambil mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan. Terdapat lemari dengan banyak map yang tertata rapi. Ada sebuah pintu yang mungkin ada ruangan lain di baliknya, begitu pikir Dira.
Tak lama berselang seseorang mengetuk pintu dari luar.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk!" Ucap Axell datar.
Ceklek,
Setelah pintu di buka, masuklah seorang pelayan kafe yang membawa nampan berisikan beberapa menu makanan dan minuman yang tersedia di kafe tersebut.
"Permisi, kak. Ini mau di taruh di mana?" Tanya pelayan kafe itu sambil tersenyum ke arah Axell.
"Ke meja sana aja, Mbak." Jawab Axell tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop di depannya.
Pelayan tadi lalu menuju ke meja di dekat sofa yang sedang Dira duduki tadi. Meletakkan makanan yang tadi Axell minta sambil sesekali melirik memperhatikan wajah gadis yang ada di depannya itu.
'Nih cewek siapanya Axell? Setahu gue, Axell gak pernah bawa cewek sebelumnya?' Batin pelayan tadi yang bernama Ninda.
"Loh, aku nggak pesen lho mbak?" Ucap Dira pada Ninda. Dira memang tak merasa pesan makanan tadi. Lalu kenapa ada seorang pelayan kafe mengantarkan makanan ke arahnya?
Tadi Dira tidak begitu memperhatikan Axell dan Ninda, karena tengah asyik mengutak-atik ponselnya.
"Kak Axell yang pesan, kak." Jawab Ninda. Mendengar jawaban Ninda tadi membuat Dira menatap wajah Axell sesaat.
"O... Yaudah, makasih ya!" Ucap Dira lembut.
"Iya, saya permisi." Ucap Ninda lalu pergi dari ruangan Axell.
Dira memperhatikan Axell yang tengah serius mengetik sesuatu pada laptopnya.
"Kak Axell." Panggil Dira ragu, takut mengganggu lelaki di depannya itu.
"Apa, Dir?" Jawab Axell sambil menatap wajah Dira sesaat lalu kembali menatap layar terang di depannya lagi.
"Kok pesen makanan banyak gini?" Tanya Dira. Melihat meja di depannya yang telah tersaji beberapa makanan, secangkir moccachino dan juga Lemon tea hangat kesukaannya.
"Gue nggak tahu, apa yang Lo suka. Jadi gue sengaja pesenin lo Signature di kafe ini." Jawab Axell sambil menatap wajah Dira.
"Tapi nggak perlu sebanyak gini juga, kak-" Protes Dira menggantungkan kalimatnya. "....emm... Maksud aku, nanti kalo nggak kemakan kan jatuhnya mubasir." Sambung Dira.
"Yaa Lo makan, biar nggak mubasir." Jawab Axell santai.
"Ck." Dira berdecak pelan mendengar jawaban dari Axell.
__ADS_1
"Nanti gue bantu ngabisin makanannya." Celetuk
Axell tiba-tiba.
Drrtt.... drrtt....
Ponsel Axell bergetar menandakan ada panggilan masuk. Axell meraih ponselnya yang ia letakkan di sampingnya laptopnya. Dan ternyata,
📲 Verrel is Calling...
Axell mengangkat sebelah alisnya, ada apa Verrel menelponnya?
"Hallo."
"(....)."
"Ada apa?"
"(....)."
"Gue lagi kerja."
"(....)."
Tuutt... tuutt...
Telpon di matikan sepihak oleh Verrel. Axell lalu menatap wajah Dira yang sedang mengutak-atik ponselnya.
"Dir..." Panggil Axell.
"Ya kak, ada apa?" Tanya Dira.
"Lo masuk kamar. Temen gue mau kesini..." Ucap Axell yang membuat Dira semakin bingung. "...Buru Dira! Lo nggak mau kan, Verrel tau Lo ada disini?" Ucap Axell lagi.
Mendengar apa yang di katakan Axell barusan membuat mata Dira membulat. Tanpa menjawab, Dira langsung menuju ke kamar yang ada di ruangan itu.
Ceklek.
Tepat saat Dira sudah menutup pintu kamar, pintu ruangan Axell di buka oleh seseorang yang baru saja datang.
"Kalo dateng, ketok pintu dulu?" Protes Axell lalu meraih ponselnya. Axell mengetik sesuatu untuk ia kirim pada gadisnya.
^^^📤 Axarkn^^^
^^^Jangan keluar sebelum gue suruh!!!^^^
Send,
"Wait, santai, Bro. Lo kek gak suka liat gue dateng." Ucap Verrel yang langsung mendapat tatapan dingin dari Axell.
"Adada apa?" Tanya Axell jengah karena Axell merasa kalo Verrel datang di saat yang tidak tepat.
"Nghak ada apa-apa." Jawab Verrel enteng.
"Kalo gak ada apa-apa, Lo pergi!" Ketus Axell yang memang berharap Verrel segera pergi.
__ADS_1
"Lo ngusir gue?" Tanya Verrel setengah tak percaya. Tak biasanya Axell mengusirnya seperti ini. Karena biasanya Axell akan membiarkannya datang dan pergi ke kafe maupun ke ruang kerjanya.
"Pinter." Singkat Axell yang kembali mendapat tatapan tak percaya dari sahabatnya itu.
"Gue nggak percaya Lo ngusir gue, Xell. Gue cuma ngerasa, Lo aneh akhir-akhir ini." Ucap Verrel yang mengatakan pendapatnya.
"Gue cuma lagi sibuk, Rel." Jawab Axell yang memang benar-benar sibuk. Di tambah lagi, ada Dira disini.
"I know. Lo lanjutin kerjaan Lo, Xell! Gue nggak akan ganggu." Jawab Verrel sambil berjalan menuju sofa tempat Dira duduk tadi.
"But, gue mau nanya satu hal." Ucap Verrel lagi.
Axell menarik satu alisnya seakan bertanya apa?
"Sebelum gue masuk, Lo disini sama siapa?" Tanya Verrel penasaran. Melihat banyak makanan di meja, secangkir moccachino dan juga segelas... 'Lemon tea hangat?' Batin Verrel.
Bukan apa-apa, tapi ini suatu kejanggalan menurut Verrel. Verrel tahu sejak lama, kalau sahabatnya itu menyukai moccachino. Tapi hari ini, melihat adanya segelas minuman yang tak biasa. Verrel merasa aneh, aneh dengan Axell. Sejak kapan sahabatnya itu menyukai Lemon tea?
"Seperti yang Lo lihat, gue sendiri." Jawab Axell sambil menatap wajah Verrel sesaat lalu beralih menatap layar terang di depannya.
"Gue nggak yakin Lo sendirian disini, Xell. Lo pasti nyembunyiin sesuatu dari gue?" Tanya Verrel ingin tahu. Verrel penasaran, ia ingat beberapa hal belakangan ini. Verrel pikir mungkin ini semua berkaitan.
Kejadian beberapa hari yang lalu. Verrel sempat mengira kalau ia mungkin salah lihat. Tapi tidak, dengan cepat Verrel menyangkalnya. Ia yakin apa yang ia lihat adalah benar.
"Kenapa memangnya?" Tanya Axell balik.
"Kebiasaan Lo, Xell. Jangan menjawab pertanyaan, dengan pertanyaan!" Protes Verrel pada sahabatnya itu.
Enggan menjawab, Axell malah hanya menatap tajam ke arah Verrel. Berharap Verrel diam.
Mendapat tatapan mata menakutkan dari Axell membuat Verrel mengerti, sahabatnya ini sedang tak ingin di ganggu.
"Ok, fine. Lo menang, gue diam." Ucap Verrel mengalah lalu berbaring di sofa.
...***...
Sementara itu,
Dira kini tengah berbaring sambil mendengarkan musik menggunakan **E**arphone pada ponselnya. Tadi Dira sempat melihat-lihat seisi kamar tersebut. Ada sebuah lemari yang entah ada apa di dalamnya, Dira tidak tau dan sama sekali tak berniat untuk membukanya. Ada juga sebuah ranjang King size yang tersedia untuk beristirahat. Dira juga melihat ada Hoodie dan juga topi yang tergantung di sudut ruangan. Karena merasa ngantuk, akhirnya Dira tertidur.
Ceklek,
Pintu kamar terbuka menampilkan seseorang yang muncul di balik pintu. Sebenarnya, Verrel sudah pulang beberapa menit yang lalu karena Axell mengusirnya dan beralasan Axell akan pulang. Tadinya Axell berniat untuk mengajak Dira pulang, tapi karena di lihatnya gadis itu tengah tertidur, mau tak mau Axell mengurungkan niatnya untuk mengajaknya pulang.
Axell berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah mencuci muka Axell lalu duduk di tepi ranjang yang sama dengan Dira. Axell memijat pangkal hidungnya sesaat karena ia merasa sedikit pusing.
Karena merasa lelah dan mengantuk, akhirnya Axell ikut berbaring di samping Dira dan memutuskan untuk tidur sebentar.
Sebelum tidur, Axell memilih untuk memandangi wajah damai gadis yang kini tengah terlelap di sampingnya itu. Axell mengubah posisi tubuhnya menghadap ke arah Dira. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap lembut puncak kepala Dira. Dan,
Cup,
Satu kecupan ia berikan pada kening Dira, disusul dengan kata maaf dari lelaki itu. "Sorry, udah kelamaan ngurung Lo disini sampai Lo ketiduran."
*Yang udah baca eps. Ini absen, dong!
__ADS_1
Komen, jam berapa kalian bacanya? Ok😘..
Jan lupa likenya ..