Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
90. Gue gak butuh obat. (Axello)


__ADS_3

"Gue gak butuh di kompres, Dira... Yang gue butuh itu Lo." Ucap Axell lirih yang kini menarik Dira untuk semakin mendekat ke arahnya.


Tak menolak, Dira hanya menurut. Tapi gadis itu tak memposisikan dirinya dengan berbaring, sama seperti Axell, melainkan dengan setengah duduk dan bersandar dengan kepala ranjang. Dira memutuskan untuk tetap terjaga guna menjaga Axell sekarang. Seperti yang sering di lakukan oleh laki-laki itu biasanya ketika Dira sakit.


Tak ada pergerakan saat Dira yang kembali meletakkan kain kompres di dahi Axell. Laki-laki itu ternyata sudah kembali tidur dengan posisi miring sambil memeluk perut Dira. Bahkan sesekali kembali terdengar gumaman yang kembali keluar dari mulut Axell.


Saat kepala Axell menempel pada perutnya, Dira dapat merasakan suhu tubuh Axell yang tinggi. Meskipun tak langsung bersentuhan dengan kulit karena terhalang oleh kain baju yang Dira pakai. Tapi Dira masih bisa merasakan. Dira pun berniat untuk mencari obat penurun panas dan memberikannya pada Axell, berharap agar demam Axell segera turun.


Tangan Dira bergerak pelan untuk melepas pelukan Axell. Tapi bukannya terlepas, Axell yang merasa terusik dengan pergerakan dari istrinya itu pun malah semakin mengeratkan pelukannya, seakan tak membiarkan gadisnya itu pergi. "Jangan kemana-mana, temenin gue disini!" Gumam Axell pelan, namun masih bisa Dira dengar.


Entah Axell dalam keadaan sadar atau hanya sekedar mengigau, Dira tak yakin karena memang wajah Axell yang tidak terlihat karena merapat ke perutnya.


"Aku gak kemana-mana, kak. Aku cuma mau cari obat buat kak Axell." Ucap Dira yang entah Axell bisa mendengarnya atau tidak.


"Gue gak butuh obat atau apapun itu. Yang gue mau Lo tetep diem disini." Jawab Axell yang kembali bergumam.


Dira hanya menghela nafas pelan. Dalam keadaan sehat atau sakit, Axell tetaplah orang yang sama. Tidak bisa di bantah.


Hening, Axell tak lagi mengigau seperti tadi. Bahkan terdengar dengkuran halus dan hembusan nafas teratur dari Axell, pertanda ia sedang tertidur dengan lelap.


Entah dorongan dari mana, tangan Dira kini terangkat untuk mengusap pelan rambut Axell, seakan memberikan ketenangan untuk suaminya. "Maaf, ya kak. Aku selalu ngerepotin kakak, Suka bandel kalo di kasih tau, Dan juga... Belum bisa jadi istri yang baik buat kak Axell."


...***...


Keesokan paginya, Bunda Resty yang sudah bersiap untuk pergi itu tengah berjalan pelan menuju ke arah dapur.


"Bi Irah." Panggilnya pada asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumahnya sejak lama itu.


"Iya, Bu." Jawab Bu Irah cepat dan langsung berjalan mendekat pada majikannya itu. "Ada apa, Bu?"


"Saya mau ke Bandung susulin bapak, Nanti jangan lupa bangunin Axell sama Dira buat sarapan ya, bi!" Titah Bunda Resty.


"Baik, Bu." Jawab bi Irah sambil sedikit membungkukkan badannya.


"O... iya, bi, Tolong awasin mereka ya, Bi. Bilang sama saya kalo Axell jahatin istrinya, Ya, Bi!" Pinta bunda Resty lagi.


"Baik, Bu." Jawab bi Irah sembari tersenyum.


"Ya sudah, saya berangkat ya, keburu macet!" Ucap Bunda Resty yang langsung berjalan keluar dari dapur.


...***...


Di sisi lain, di sebuah kamar mewah yang di dominasi warna hitam putih dan abu-abu itu, seorang gadis yang baru tertidur satu jam yang lalu kini mulai kembali membuka matanya.


Ia kembali bangun untuk memeriksa suhu tubuh dari suaminya. "Demamnya udah turun!" Ucap gadis itu. Gadis yang tak lain adalah Dira itu, kini perlahan turun dari ranjang untuk ke kamar mandi tak lupa ia membawa baju gantinya.


Selesai dengan aktifitas mandinya, Dira keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju meja untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Selesai mengeringkan rambut, tiba-tiba Dira teringat akan sesuatu. Ia lalu membuka laci meja rias dan mencari obat penurun panas yang mungkin tersimpan di sana. Nihil, tak menemukan obat yang ia cari, Dira memutuskan untuk keluar kamar dan pergi ke dapur.


Sampai di dapur, Dira melihat ada Bi Irah yang sedang mencuci peralatan bekas memasak. "Bi..." Panggil Dira sambil berjalan mendekat.

__ADS_1


"Eh... Iya, non. Wah... bibi kaget, non. Baru habis nyuci ini mau bangunin non Dira, eh... sudah bangun duluan." Ujar bi Irah.


Dira tersenyum, "Bi, Dira mau tanya... Biasanya bunda kalo nyimpen kotak obat di mana ya, bi?" Tanya Dira sopan.


"Obat apa ya, non?" Tanya bi Irah bingung.


"Obat turun panas?" Jawab Dira.


"O... Ada, non. Mari!" Ajak bi Irah yang berjalan menuju meja yang terdapat sebuah laci di bagian bawah.


"Non Dira sakit?" Tanya bi Irah sambil membuka laci dimana terdapat kotak obat di dalamnya.


"Bukan Dira, Bi. Kak Axell semalem demam, Panas banget, bi. Sampe ngigau-ngigau gitu." Jelas Dira menceritakan tentang keadaan Axell semalam.


"O... Den Axell kalo lagi demam emang gitu, non, sudah dari kecil. Aduh... Den Axell demam, non? Gimana ya, non, Ibu lagi gak di rumah lho, non. Gimana ini?" Ucap Bi Irah yang tiba-tiba bingung sendiri.


"Udah, bibi tenang. Kak Axell udah mendingan, kok, bi. Semalem Dira kasih kompres kak Axell." Jawab Dira.


"Syukur kalo begitu, non. Bibi lega sekarang." Jawab bi Ira sambil mengelus dadanya.


"Emang bunda kemana ya, Bi?" Tanya Dira yang menanyakan kemana mertuanya itu pergi.


"Ibu katanya ke Bandung, non nyusul Bapak. Mungkin pulangnya nanti malam." Jelas bi Irah.


"Ya udah, bi. Dira mau kembali ke kamar dulu sama mau bawain sarapan buat kak Axell." Ucap Dira yang sekarang berjalan kembali ke dapur untuk membawakan Axell makanan.


"Jangan, non! Biar bibi aja yang bawakan makanannya." Cegah bi Irah.


"Gak usah, bi, Dira bisa sendiri kok." Tolak Dira sopan. Gadis itu lalu berjalan ke arah meja makan, untuk mengambilkan makanan yang akan ia bawa ke kamar untuk Axell.


"Makasih Ya, bi. Kalo gitu Dira balik ke kamar dulu." Jawab Dira lalu berjalan menaiki tangga untuk kembali ke kamar.


"Udah cantik, mandiri, sopan lagi sama orang tua. Den Axell emang beruntung punya istri kayak non Dira." Ujar bi Irah sembari melihat menantu majikannya yang berjalan menaiki tangga sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya.


Sampai di kamar, Dira langsung meletakkan nampan tadi di meja dekat ranjang. Tangan Dira kembali bergerak untuk menyentuh dahi Axell.


"Masih anget." Lirih Dira. Gadis itu kini meraih ponselnya untuk mengetikan sesuatu.


^^^📤 AndiraGra.^^^


^^^Mel, tolong ijinin gue ya hari ini.^^^


^^^Gue gak masuk.^^^


Send Melody.


Tak menunggu lama, sebuah pesan balasan masuk dari ponsel Dira.


Ting,


📥 Melody.

__ADS_1


Kenapa lo gak masuk, Dir?


Lo masih sakit?


^^^📤 AndiraGra.^^^


^^^Gue gpp, Mel.^^^


^^^Udah sembuh juga.^^^


^^^Ada urusan.^^^


📥 Melody.


Ok, nanti gue bilangin pak Raka.


Btw, Dir.


Gue berani nebak,


Lo gak masuk, pasti kak Axell juga gak masuk.


🤭🤭


^^^📤 AndiraGra.^^^


^^^Kalo itu gue gak tau,^^^


^^^Btw, thx, Mel.^^^


📥 Melody.


Idih ...


Pura2 gak tau.


Iyain.


😏


Dira tersenyum, melihat isi pesan dari temannya tadi. Jelas saja Axell tidak masuk, karena Axell kan memang sedang sakit. Dan dirinya yang tidak bersekolah hari ini kan juga untuk menjaga suaminya.


Gadis itu menggeleng pelan, lalu menutup ponselnya dan kembali meletakkannya, tanpa membalas pesan terakhir dari Melody. Pandangannya kini terarah pada Axell. Dan saat Dira menghadap kearah Axell tiba-tiba,


Deg,


Pandangan keduanya bertemu. Entah sejak kapan Axell bangun dan sekarang tengah memandang ke arahnya.


"Pagi-pagi udah senyum-senyum kayak gitu. Dapat Chat dari siapa?" Tanya Axell penuh selidik.


"Dari Melody, kak. Aku ijin gak masuk hari ini." Jawab Dira jujur.

__ADS_1


"Kenapa gak masuk?" Tanya Axell yang kini bangun dan mendekat ke arah Dira yang terduduk di tepi ranjang. Tangan kekarnya terulur untuk menyentuh kening Dira. "Gak panas."


Dira menggeleng, "Aku gak apa-apa, kak. Aku gak sekolah karena mau nemenin kak Axell dirumah."


__ADS_2