Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
114. Serangan di pagi hari.


__ADS_3

Tak berniat menjawab, Axell malah menatap laki-laki yang sekarang ini sedang berdiri tepat di hadapannya itu dengan tatapan tak biasa. Tiba-tiba Axell merasa kesal sendiri. Rasa marah yang tadi sempat muncul karena perlakuan Ninda terhadap Dira belum sepenuhnya hilang, kini bertambah lagi karena di pertemukan dengan seseorang yang selalu berhasil memancing emosinya.


Tak ingin berlama-lama membuat gadisnya tak nyaman dengan posisi tidurnya yang seperti ini, Axell memutuskan untuk melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari seseorang yang tak lain bernama Derry itu.


Derry tersenyum menyeringai melihat respon Axell yang selalu terkesan tak peduli. Semenjak berakhirnya hubungan Axell dengan Renata, Axell seperti membatasi pertemanan antara dirinya dan juga Nicholas. Axell bahkan berjalan melewatinya begitu saja. Namun bukan Derry namanya kalau ia kehilangan akal untuk membuat Axell bicara.


Axell masih tetap melanjutkan langkahnya untuk sampai di unit milik Dira. Dan saat sampai, tanpa membuang waktu, Axell langsung menekan tombol Password yang Dira pakai untuk keamanan unitnya. Dan saat pintu mulai terbuka, Axell langsung masuk dan meletakkan Dira di kamarnya.


Setelah memastikan gadisnya tidur dengan posisi ternyaman nya, laki-laki itu kembali keluar dan tak lupa mengunci pintu. Axell bermaksud untuk menemui Derry setelah ini.


"Ternyata putus sama Rere bikin Lo beneran jadi cowo gak baik, ya, Xell. Gak nyangka gue, ternyata perginya Rere bisa bawa pengaruh besar dalam hidup Lo." Cibir Derry saat mendapati Axell yang baru saja keluar dari apartemen Dira.


"Apa maksud Lo?" Tanya Axell datar.


Derry tersenyum miring. "Kehilangan orang tersayang ternyata bisa ngerubah sifat seseorang, ya. Jadi, gue penasaran, apa yang Lo lakuin ke cewe tadi barusan? Em... Maksud gue, cewe tadi, Dira kan?" Tanya Derry.


"Bukan urusan Lo." Ucap Axell dengan penuh ketegasan. Axell lalu berjalan meninggalkan Derry seolah-olah ia akan menuju apartemennya. Tapi baru saja berjalan beberapa meter, Axell menghentikan langkahnya, "Jangan pernah samakan antara Lo sama gue." Ucap Axell menambahkan.


"Apa bendanya, Xell? Kita sama-sama cowok. Pikiran kita tentang cewek itu gak jauh beda. Kita selalu mencari kesenangann dalam setiap hubungan... You know, love and s*x are just a thin line, Xell." Ucap Derry santai.


Mendengar apa yang di katakan Derry membuat Axell menarik satu sudut bibirnya. Axell bahkan kini beralih menatap kearah Derry. "Gue bukan lo, Derry. Gue cowok yang setia sama satu cewe. Apalagi dengan Dira. Bukannya gue udah pernah bilang sama Lo sebelumnya, Dira istri gue?" Balas Axell.


"Istri?" Tanya Derry sambil tertawa mengejek. "Lo pikir gue percaya?"


Sementara Axell menggeleng samar, "Lo pikir gue peduli? Gue sama sekali gak butuh pendapat Lo, Der. Ini hidup gue, dan gue yang ngejalanin. Mau Lo percaya atau tidak, kenyataannya Dira emang istri gue. Silahkan kalo Lo emang gak mau percaya! Gue juga gak mau ambil pusing. Dan juga, bilang sama temen Lo itu, jangan terlalu berharap sama istri orang! Buang-buang waktu." Ucap Axell yang kini kembali melanjutkan langkahnya. Axell sudah tak lagi peduli dengan apa yang akan Derry katakan setelah ini.


'Sial.'


...***...


Keesokan paginya, Dira yang baru saja selesai mengenakan seragam sekolah itupun berniat untuk membangunkan Axell suaminya. Hari semakin siang, jadi keduanya harus cepat-cepat bersiap menuju kesekolah.


"Kak bangun!" Ucap Dira sambil menggoyang-goyangkan bahu Axell. Tapi nihil, Axell masih tak bergeming. Dira lalu kembali mengulangi aksinya untuk membangunkan Axell.


"Kak Axell, bangun! Udah siang, kak." Ucap Dira sambil menepuk pelan pipi Axell. Dan kali ini berhasil, Axell menggeliat dan,


Bruk,


Tiba-tiba tangan Axell menarik Dira dan mengakibatkan gadis itu terjatuh menimpa tubuh Axell. Dan dengan gerakan cepat, Axell menggulingkan tubuhnya dan mengubah posisinya menjadi Dira yang berada dibawahnya.

__ADS_1


Cup,


Axell mengecup singkat bibir manis milik gadisnya, "Morning Kiss, baby." Ucap Axell dengan suara serak khas bangun tidur. Dan untuk sesaat Dira tertegun mendengar suara Axell yang terdengar begitu... Sexy di telinganya.


"Pagi juga, kak." Balas Dira dengan senyumnya.


Axell balik tersenyum, melihat gadisnya yang terlihat segar sehabis mandi tiba-tiba hasratnya timbul begitu saja.


"Yang..." Panggil Axell pelan.


"Iya, kak. Kenapa?." Jawab Dira yang masih belum mengalihkan pandangannya dari sang suami.


"Kita main sebentar, ya. Aku ingin..." Ucap Axell dengan tatapan penuh arti.


"Main?" Ulang Dira meyakinkan apa yang ia dengar.


Axell reflek mengangguk membenarkan apa yang gadisnya itu katakan, "Semalem kan kamu lupa ngasih jatah aku, yang. Sekarang aku pengen." Ucap Axell lagi.


'Jatah?'


Tiba-tiba mata Dira membulat dengan sempurna saat mengetahui apa yang Axell maksudkan sekarang. "Kak, ini udah siang. Kita haru- embh..."


Dira yang awalnya tadi sempat memberontak, kini bahkan tanpa sadar mengalungkan kedua lengannya pada leher Axell. Seakan menikmati ciuman yang Axell berikan padanya.


"Boleh ya, yang. Bentar aja." Ucap Axell memelas, laki-laki itu berharap Dira tidak menolak permintaannya.


"Tapi, ka-


"Boleh ya, yang. Ayo dong! Boleh ya?" Ucap Axell sambil sesekali mengecup leher putih mulus milik Dira. "Aku pengen, yang." Pintanya lagi.


Dira menghela nafas pelan. Axell suaminya kan, jadi ia tak ada alasan lagi untuk menolak kebutuhan biologis dari suaminya itu.


Tak langsung menjawab, Dira kini malah menatap lekat wajah Axell. Sangat jelas terlihat, tatapan Axell itu benar-benar udah berada di mode pengen.


"Iya boleh." Jawab Dira pelan sambil tersenyum malu. Meskipun mereka sudah sering melakukannya. Entah mengapa Dira masih saja merasa malu saat melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Merasa mendapatkan lampu hijau, Axell lalu kembali mencium Dira. Tangan Axell yang sudah mulai nakal itupun mulai menjalar kemana-mana.


"Embh..." Terdengar lenguhan dari Dira saat Axell mulai menciumi leher putih mulus milik gadisnya. Hal itu membuat Axell semakin bersemangat melakukan apa yang sangat ia inginkan sekarang. Dan tahap selanjutnya, terdengar suara desa**n dan erangan yang keluar dari keduanya saat penyatuan itu terjadi.

__ADS_1


"I love you, yang." Ucap Axell saat kegiatan penuh cinta itu berakhir. Dira menoleh ke arah Axell sambil kembali tersenyum.


"Love you too, kak." Balas Dira pelan.


Detik berikutnya Axell bergegas bangun dan,


"Aaa... kak Axell." Pekik Dira tiba-tiba saat merasakan tubuhnya melayang begitu saja.


"Kita harus cepat yang. Jadi untuk mempersingkat waktu, kita mandi bareng aja." Jawab Axell yang saat ini tengah mendudukan Dira di atas closet. Axell lalu bergegas mengisi Bathtub dengan air hangat. Dira tak menjawab karena memang apa yang Axell katakan benar.


Dira ingat, saat ia akan membangunkan Axell tadi dimana jam sudah menunjukan pukul 06.05. Mereka hanya punya waktu kurang dari 30 menit sekarang untuk bersiap menuju sekolah. Dan bukan tidak mungkin, mereka akan terlambat sampai di sekolah nanti.


...***...


"Pak, tolong bukain pintu." Ucap Axell pada pak Dirman yang sedang berjaga di pos satpam dekat pintu gerbang.


Laki-laki berusia setengah abad itupun mendekat dan menyanggupi keinginan dari anak pemilik sekolah itu.


"Tumben telat, mas Axell?" Ucap pak Dirman saat pintu gerbang setengah terbuka.


Axell tersenyum sambil melirik Dira sekilas. "Terlambat bangun, pak." Jawab Axell santai. Axell tidak bohong. Memang benar kan, Axell memang terlambat bangun dalam arti kata yang lain. Bangun dari kenikmatan. Kalau saja mereka tidak bersekolah, Axell pasti akan meminta lagi dan lagi.


Axell lalu memarkirkan mobilnya di parkiran khusus, tempat ia biasa meletakkan mobilnya.


"Ayo, yang. Aku antar kamu sampai ke kelas." Ucap Axell saat melihat raut kegelisahan yang terlihat dari wajah gadisnya. Axell tahu, ini kali pertama Dira terlambat mengikuti pelajaran, dan itu karena ulahnya tadi.


...***...


Drrtt... drrtt...


Ponsel Axell yang di letakkan di meja kantin itu tiba-tiba bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ya, sekarang ini jam istirahat,


Axell meraih benda pipih persegi panjang itu dan,


📞 Papa is Calling...


Satu alis Axell terangkat dengan sempurna saat membaca ID si pemanggil. Tak ingin membuat Papa mertuanya menunggu terlalu lama, Axell langsung menggeser tombol hijau pada layar terang tersebut.


"Hallo... Assalamu'alaikum, Pa."

__ADS_1


__ADS_2