Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
82. Marahnya Axello 2.


__ADS_3

Ceklek,


Axell segera masuk ke dalam ruang pantau CCTV dan melangkahkan kakinya ke arah meja. Dimana di atas meja tersebut terdapat beberapa layar terang menyala yang menampilkan banyak gambar setiap sudut sekolah.


Dengan sangat teliti, Axell melihat-lihat di mana saja tempat yang Dira lewati tadi. Ia me-Replay salah satu bagian rekaman di mana beberapa menit di saat-saat sebelum Dira mengirimkan pesan padanya tadi. Dan,


Dapat.


Axell melihat tiga gadis yang berjalan menuju tempat parkir dan sudah dapat di pastikan kalau ketiga gadis itu adalah Dira, Nayla dan juga Melody.


Axell terus memperhatikan setiap pergerakan dari ketiganya, sampai pada saat dimana Dira melangkahkan kakinya menjauh dari Nayla dan Melody menuju ke arah toilet. Tapi Dira tidak sampai masuk ke dalam toilet sehingga Axell masih bisa melihatnya.


Dalam rekaman tersebut, Axell dapat melihat dengan sangat jelas kalau Dira tengah mengutak-atik ponselnya dan Axell yakin, itu tepat dimana Dira mengiriminya pesan tadi.


Tapi tunggu, tiba-tiba Axell mem-Pause rekaman tersebut. Ia menangkap gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang mengenakan Hoddie berwarna hitam, sedang berdiri tak jauh dari Dira dan Hanya berjarak berapa meter dari gadis itu.


Axell kembali menekan tombol Play untuk membuktikan dugaan yang sempat terlintas di benaknya. Dan benar saja, hanya lewat dari sepersekian detik, tiba-tiba mata Axell membulat dengan sempurna, rahangnya kembali mengeras dan tangannya terkepal kuat bahkan sampai otot-otot di balik kulit tangan Axell terlihat menonjol dengan begitu sempurna. Seakan siap untuk membalaskan perlakuan seseorang yang sudah Axell pastikan kalau ia seorang laki-laki.


Bagaimana tidak, dalam rekaman tersebut, Axell dapat melihat dengan jelas, di mana laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Dira dan membekap mulut gadis itu, membawanya ke sebuah taman dan sudah dapat Axell pastikan mereka mengarah ke taman belakang sekolah.


"O SH-IT." Umpatnya kesal.


Tanpa membuang waktu lagi, Axell berdiri dan berlari keluar dari ruangan itu.


Ceklek,


Tepat saat Axell membuka pintu, ia mendapati Verrel, Bastian, Melody dan juga Nayla yang berjalan mendekat ke arahnya. Mereka berempat tadi tidak segera menyusul Axell Karen masih berusaha mencari Dira di sisi lain sekolah. Tempat yang mungkin belum mereka periksa tadi.


"Gimana, Xell?" Pertanyaan kompak yang keluar dari mulut Bastian dan juga Verrel.


"Pintu belakang." Jawab Axell singkat yang kini kembali berlari untuk menuju tempat yang ia maksudkan, dan langsung di ikuti oleh Bastian dan juga yang lainnya.


"Sial."


Setelah sampai di belakang sekolah, Axell kembali mengumpat setelah mendapati pintu pagar bagian belakang yang sudah terbuka. Axell sudah menduganya. Pasti seseorang itu telah membawa gadisnya lewat pintu belakang.


Tangan kekar Axell merogoh ponsel dari saku celananya untuk mencoba menghubungi Dira.


😘 Calling Dira...

__ADS_1


Tuutt...


Tuutt...


Tuutt...


Nihil, tak ada jawaban dari seberang sana. Ini membuat Axell tambah kesal, marah dan pastinya khawatir dengan keadaan Dira. Axell tampak menyunggar rambutnya kasar.


Axell lalu melacak keberadaan Dira melalui GPS. Tapi, belum sempat Axell mengetahui dimana titik yang menunjukan Dira berada, bulatan kecil warna biru yang menunjukan tempat Dira berada sekarang itu tiba-tiba hilang. Itu menandakan kalau ponsel Dira kini dalam keadaan di-Non aktifkan.


"Bangs*d." Umpatan yang kembali keluar dari mulut Axell untuk ke sekian kalinya.


"Pagarnya kebuka?" Ucap Bastian yang baru saja datang.


"Apa mungkin ini ada hubungannya sama cewe tadi, Xell?" Tanya Verrel yang mengira ini ada hubungannya dengan gadis yang tadi keluar bersamaan dengan Dira dari dalam toilet saat jam istirahat sekolah tadi. Iya, Verrel sempat berpikir mungkin ini ada kaitannya dengan Rere.


"Siapa yang Lo maksud, Rel?" Tanya Bastian yang memang tidak tahu apa-apa. Verrel hanya diam. Ia lebih memilih untuk menunggu Axell menjawab pertanyaannya.


Axell menggelengkan kepalanya, "Gue belum bisa mastiin. Yang jelas, orang yang bawa Dira pergi itu cowo. Gue gak tau, mereka sekongkol atau tidak." Jawab Axell pada Verrel.


Kini pandangan Axell beralih menoleh ke arah Nayla. "Hubungi sahabat Lo, Tanya posisinya, SEKARANG!" Pungkas Axell dingin. Bastian dan Verrel tahu, Axell dalam keadaan marah sekarang ini.


*Wah... wah... Nayla gak tau aja, nih, si Axell lagi gak bisa di ajak ribet.


"NAYLA, GAK USAH BANYAK NANYA!" Axell kembali menyentak nafas kasar untuk menyalurkan emosinya. "TELPON SAHABAT LO SEKARANG, GUE BILANG!" Ucap Axell sambil menekankan setiap kata-kata seakan tak mau di bantah.


Tak ingin mengulur waktu, Nayla segera menelepon Arfen dan menanyakan keberadaannya.


"Hallo, Ar." Sapa Nayla saat panggilan tersambung.


"(....)."


"Lo dimana?" Tanya Nayla.


"(....)."


"Serenity Cafe?" Ucap Nayla memastikan posisi Arfen sekarang.


Axell yang mendengar Nayla menyebut nama tempat di mana Arfen berada sekarang itu pun langsung bergegas menuju ke sana. Axell berjalan dengan langkah lebar menuju di mana mobilnya terparkir.

__ADS_1


Ciiittt...


Bunyi geseken ban mobil Axell yang memutar di tempat parkir yang sangat nyaring jelas terdengar dari pendengaran mereka. Sudah dapat di pastikan kalau Axell sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Kak Axell kalo lagi marah nyeremin ya!" Ucap Melody yang sedari tadi hanya diam.


"Kita susul Axell."


...***...


Sampai di Serenity cafe, Axell langsung berjalan memasuki tempat tersebut. Mata Axell menjelajah ke setiap arah pengunjung yang ada dan akhirnya ia menemukan seseorang yang ia yakini telah membawa gadisnya.



Arfen nampak duduk dengan beberapa teman-temannya. Tapi tunggu, Disini Arfen mengenakan Jaket warna navy dan bukan Hoddie warna hitam yang sama dengan yang ada di rekaman CCTV yang Axell lihat tadi. Axell yakin sekali kalo laki-laki yang membawa Dira pergi tadi adalah benar Arfen. Ia tak salah lihat.



Axell terus memperhatikan Arfen yang sejak tadi terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Sampai pada saat tangan Arfen bergerak melepas jaket yang tadi ia pakai dan meletakkannya di kursi kosong sampingnya, Axell masih memperhatikan laki-laki itu, Sampai pada akhirnya Axell berjalan mendekat ke arah Arfen.


"Bro, lihat belakang Lo, deh! 'Tuh bukannya Axell, anak Bhakti Bangsa?" Celetuk Reon pada Arfen.


"Dia nyariin Lo keknya." Sahut Erka yang juga melihat ke arah Axell sekarang. Terlihat jelas memang, pandangan Axell kini memang terarah tepat pada Arfen.


Mendengar nama Axell, Arfen langsung menoleh ke belakang dan benar saja, ia mendapati Axell yang berjalan mendekat ke arahnya. 'Ah... Cepat sekali.' Batin Arfen.


Arfen bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Axell. Ia tahu, Axell pasti akan mencarinya, tapi ia tidak pernah berpikir akan secepatnya ini, "Ada apa Lo nyari gue?" Tanya Arfen yang kini berdiri tepat di depan Axell.


"Gue gak mau basa-basi. Dimana Dira?" Tanya Axell datar.


Arfen tak langsung menjawab, ia diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut, "Gue gak tau."


Axell menarik salah satu sudut bibirnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arfen. Bohong banget. "Lo pikir gue percaya. Jelas-jelas gue liat Lo bawa Dira tadi."


Arfen terkekeh pelan, "Gue gak bohong, Xell. Kenapa, sih? Lo anti banget percaya sama gue! Gue beneran gak tau di mana Dira... Sekarang."


'Sekarang?'


*Wah... Arfen nantangin, nih!

__ADS_1


"Lo bawa Dira kemana tadi?"


__ADS_2