
"Yang, sekarang ya?" Tanya Axell dengan suara beratnya. Laki-laki itu tengah menahan hasratnya sekarang. Tak ada jawaban, Dira hanya menatap wajah suaminya.
Axell dapat dengan jelas melihat, gadisnya ini tengah merasa ragu akan sesuatu. Mengerti dengan apa yang mengganggu pikiran dari gadisnya saat ini, Axell melayangkan kecupan singkat di kening Dira. "Kali ini gue janji... rasanya gak akan sesakit seperti saat kita pertama kali melakukannya." Ucap Axell yang masih berusaha untuk membujuk gadisnya itu. Misinya harus berhasil. Axell sudah bertekad untuk membuat Dira segera hamil. Dan...
Berhasil. Dira mengangguk, "Pelan-pelan, kak. Aku masih... belum terbiasa." Jawab Dira lirih. Selain gugup gadis itu juga tengah menahan rasa malu saat ini.
Apa tadi, Belum terbiasa? Ah... Tentu saja, Axell begitu bahagia kala mengingat, ialah laki-laki pertama yang menjamah dan memasuki gadisnya. Betapa beruntungnya dia.
"Gue akan melakukannya selembut mungkin, yang. Gue gak mungkin menikmatinya sendirian sementara Lo kesakitan." Ucap Axell sambil kembali mengecup singkat bibir Dira. "Bagaimana? Are you ready, baby?"
Dira tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ok, let's do it now, baby." Ucap Axell yang langsung melancarkan aksinya. Laki-laki itu lalu melepaskan kaos yang menutupi tubuh bagian atasnya. Lalu kembali mengungkung Dira.
Axell meraih satu tangan gadis itu dan menuntunnya untuk meraba tubuh bagian atasnya. "Ini semua milik Lo, yang. Hanya milik Lo seorang." Ujar laki laki itu.
Axell kembali menciumi Dira. Melu**t bibir gadisnya itu dengan sangat lembut. Ciuman yang penuh dengan perasaan tanpa menuntut sedikit pun. Keduanya saling mengecap, dan merasai bibir masing-masing. Dira, gadis itu kini sudah belajar banyak darinya.
Axell beralih ke bagian leher, salah satu tempat favoritnya. Menyesap dan menggigitnya pelan. Tangannya pun tak tinggal diam. Ia buka satu persatu kancing baju piyama milik Dira. Meraih pengait bra yang masih menjadi satu penghalang pandangannya untuk menikmati tubuh bagian atas Gadisnya.
Setelah berhasil melepas baju dan bra milik Dira, Axell kembali melanjutkan aksinya yang sempat terhenti. Ia kembali menciumi setiap inci leher gadisnya dan sesaat bergantian di bibir, dengan tangan yang mere**s-re**s kedua gundukan kenyal gadisnya secara bersamaan.
Semakin turun, Axell kini menciumi gundukan kenyal milik gadisnya itu. Menciumi, menghisap dan memainkan puncaknya dengan satu tangan yang masih memainkan bagian yang lainnya. Membuat tubuh Dira tiba-tiba menukik keatas karena merasakan sensasi luar biasa yang Axell salurkan padanya.
Ok, cukup. Laki-laki itu sudah tidak bisa menahan dirinya lagi sekarang. Laki-laki itu bangkit dan dengan gerakan cepat, Axell melepas celananya. Menampilkan Jasson yang sudah berdiri tegak siap beraksi. Axell lalu membantu gadisnya untuk melepas satu penghalang terakhir milih Dira.
Setelah keduanya sama polos, Axell kembali memposisikan dirinya. Tangannya kini mulai menggerakkan Jasson pada Jessy sambil sesekali memperhatikan Dira. Sangat ketara saat ini, Gadisnya itu... tegang sekali.
__ADS_1
Axell menciumi kening Dira sekilas dan kembali meyakinkan gadisnya. "Rileks, yang!" Bisik laki-laki itu. Dira mengangguk dengan mata yang masih terpejam. Gadis itu bisa sedikit tenang sekarang. Dan,
"Akhh..."
Dira kembali mendesah saat Jasson berhasil kembali memasuki dirinya. Axell menggerakkan Jasson dengan pelan, agar Jessy terbiasa. Masih dengan tempo yang sangat pelan namun pasti. Saat ini Axell masih menuruti permintaan Dira agar melakukannya dengan pelan.
Tapi, seketika gerakan Axell terhenti saat melihat gadisnya itu membekap mulutnya sendiri. Axell tahu apa yang Dira lakukan sekarang. Gadisnya itu sedang menahan desahannya agar tak terdengar.
"Lepasin aja, yang. Gak usah Lo tahan. Gue suka saat denger Lo mendesah di bawah gue." Ujar Axell dengan suara seksinya. Tangan Axell pun bergerak untuk memindahkan tangan Dira yang masih menutup mulutnya itu. Axell menautkan jari jemari nya dengan tangan Dira. Dan saat Axell kembali menghentak...
"Akh..."
Pekikan itu kembali terdengar saat Jasson memasuki Jessy sepenuhnya. Axell menghentak dengan sedikit kencang tadi. Kini gerakan yang tadinya pelan itu semakin lama semakin cepat. Axell sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia semakin mempercepat tempo gerakannya.
"Kakh Axell... Akuh... Akh-" Ucap Dira meracau. Dan itu malah semakin membuat Axell bersemangat.
"Kak... Aku mau emh-" Mengerti dengan apa yang akan gadisnya itu katakan, Axell langsung membungkam dan melu**t bibir gadisnya itu sekilas.
"Bentar, yang. Tunggu gue!" Ujar Axell yang semakin mempercepat gerakannya. Dan...
"Akh... Kak... Akh..."
Hentakan terakhir dari Axell menyemburkan bukti kepuasan dari keduanya.
"Ah... Ssh... Kita sampai, sayang." Satu kalimat yang Axell ucapkan sesaat sebelum ia mencium kening Dira lama, bahkan tanpa melepas penyatuan keduanya.
'Gue harap setelah ini, Lo bisa cepat hamil, yang!' Batin laki-laki itu penuh harap.
__ADS_1
Setelah melepas ciuman dan penyatuannya, Axell lalu membaringkan tubuhnya di samping Dira, meraih remote AC yang terletak di atas nakas dan menyalakan mesin pendingin ruangan tersebut, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos gadisnya.
Nafas keduanya masih memburu. Axell memandangi wajah Dira yang berpeluh, tak jauh berbeda dengan dirinya. Mata gadis itu terpejam, Ia terlihat lelah dengan apa yang baru saja mereka lakukan dengan durasi 1 jam lebih tadi.
Sekilas Axell melirik ke bawah, dimana Jasson terlihat masih Stay on di sana. Laki-laki itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. "You are great, Jasson." Ujarnya.
Lalu kembali memandang wajah Dira. "Kita istirahat sejenak, sayang. Setelah ini... Kita lanjut ke sesi berikutnya."
...***...
Suara nyaring dari dentuman musik yang memekakkan telinga dan lampu-lampu yang berkelip warna-warni yang menyala di ruangan yang temaram serta bau alkohol yang menusuk hidung itu, langsung menyapa kedatangan dari laki-laki muda berusia 21 tahun tersebut.
Seorang Derry Bramantyo, datang memenuhi panggilan dari seseorang yang menelponnya satu jam yang lalu.
Pandangan mata laki-laki itu sedang menelisik setiap sudut ruangan untuk menemukan seseorang yang sedang ia cari sekarang.
Dan, ya... Dapat. Tak butuh waktu lama untuk Derry menemukan gadis itu. Tanpa membuang waktu lagi, Laki-laki itu langsung berjalan mendekat ke arah gadis yang sekarang ini sudah setengah mabuk.
"Udah berapa banyak Lo minum, Re?" Pertanyaan yang terkesan menyindir itu keluar dari mulut Derry. "Udah gue bilang, jangan kesini kalo Lo lagi gak ada temennya!" Sambung laki-laki itu.
"Itu gunanya gue telfon Lo, kak. Kalo gue telfon kak Nicho, yang ada habis gue." Jawab Renata dengan kepala yang sudah menggeleng ke kanan dan ke kiri, seakan menikmati musik yang sekarang sedang di mainkan oleh disk jockey di club' tersebut.
Derry memperhatikan seisi meja, dimana sudah ada dua botol kosong minuman favoritnya yang tergeletak begitu saja, tiga botol minuman lain yang sudah berkurang isinya dan ada banyak gelas yang entah itu milik siapa.
"Lo minum banyak kali ini? Ah... Sial, gue ketinggalan." Ujar laki-laki itu.
"Gue cuma minum dua gelas, kak." Jawab Renata. Dua gelas, tapi jarinya membentuk angka empat. Renata sudah mulai tidak bisa mengontrol apa yang di ucapkan nya sekarang. "Salah Lo sendiri. Lo lebih milih nurutin naf*u bi**hi Lo dari pada nemenin gue!" Protes Renata yang kini mulai cegukan.
__ADS_1
"Ayo, gue anter Lo pulang! Gue bisa habis kalo Nicholas tau keadaan Lo kayak gini."