Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
121. Temen main belakang.


__ADS_3

"Kak Rhey..." Sapa Dira pada sepupu dari suaminya itu. Membuat para gadis yang sedari tadi memperhatikan Rheyhan menoleh ke arah Dira dengan tatapan bingung.


Rheyhan yang merasa mendengar suara dari gadis yang hampir setengah jam ia tunggu itu pun menoleh. Gadis yang menjadi alasan dari sepupunya yang menyuruhnya untuk datang ke sekolah yang sama dimana ia dulu mengenyam pendidikan.



"Eh... Dira." Jawab Rheyhan ramah. "Ya udah... kalo gitu saya duluan ya, pak." Ujar Rheyhan pada pak Heru salah satu satpam penjaga gerbang.


"Iya, mas. Hati-hati di jalan." Jawab pak Heru yang mendapat anggukkan kepala dari Rheyhan.


"Kak Rheyhan, kok bisa ada disini?" Tanya Dira saat Rheyhan berjalan mendekat ke arah gadis itu.


"Jemput Lo." Jawab Rheyhan. Pandangan laki-laki itu lalu beralih pada Melody. "Lo... Gue kayak pernah ketemu. Tapi dimana ya? Sorry gue lupa." Ucapnya pada Melody.


"O... iya, kak. Kita emang udah beberapa kali ketemu sebelumnya... Di d'AXE Cafe sama apartemennya Dira... Waktu itu." Jawab Melody menjelaskan.


"O...Iya, gue inget sekarang. Kalo gitu, Gue duluan, ya..." Mata Rheyhan melirik ke arah Dira. "...Udah di tunggu soalnya." Ujar Rheyhan pada Melody.


Tiin... tiiinnn...!!!


"Ok, kak. Tapi kayaknya, gue deh yang duluan. Bye, Dir." Ucap Melody yang kini masuk ke dalam mobil Zaki.


"Bye, Mel." Jawab Dira sambil melambaikan tangannya.


"Ya udah, ayo!" Ajak Rheyhan pada Dira. Dira lalu mengikuti Rheyhan yang lebih dulu berjalan beberapa langkah di depannya. Nampak Rheyhan membukakan pintu untuk Dira. Dan hal itu tak luput dari pandangan para gadis-gadis tadi.


"Sweet banget, deh!"


"Mau satu yang kayak gitu, dong!"


"'Tuh cowok siapa nya Dira, ya?"


"Sodara kali."


"Dari mana sodara? Wajah gak ada mirip-mirip nya gitu!"


"Temen main belakangnya Dira mungkin."


"Mentang-mentang kak Axell lagi gak masuk sekolah, eh... Si Dira selingkuh sama cowo lain."


"Kak Axell kurang apa sih, sampe Dira selingkuhin?"


"Wah... Ternyata Dira gak sepolos kelihatannya ya!"


Begitulah bisik-bisik tetangga yang muncul dari para gadis-gadis yang sedari tadi memperhatikan Dira dan juga Rheyhan. Tak sedikit yang mengatakan kalau Rheyhan adalah selingkuhan dari Dira. Tanpa mereka tahu, Axell lah yang menyuruh Rheyhan untuk datang menjemput istrinya.

__ADS_1


"Kak Rhey, kak Axell belum selesai ya, Meeting nya?" Tanya Dira.


"Udah sih tadi. Tapi ada Meeting lanjutan buat bahas kerja sama dengan Sean Group. Makanya dia minta gue buat jemput Lo." Jawab Rheyhan yang kini mulai memasang safety belt. Dira mengangguk mengerti.


Baru saja gadis itu duduk nyaman di dalam mobil Rheyhan, kaca jendela mobil tersebut tiba-tiba di ketuk oleh seseorang dari luar.


Tok...


Tok...


Tok...


Sontak saja, hal itu membuat Rheyhan dan juga Dira menoleh bersamaan. Dan ternyata seorang Arfen lah di balik aksi tersebut.


"Arfen!" Ucap Dira dan Rheyhan bersamaan.


"Lo kenal?" Tanya Rheyhan pada Dira.


Dira mengangguk, "Arfen sahabat aku dari kecil, kak. Kak Rheyhan juga kenal?" Tanya gadis itu balik.


"Kenal. Dia kan-


"Dir, ada yang mau gue omongin sama Lo, bentar." Ucap Arfen setengah berteriak dari luar dan itu sukses memotong kalimat yang hampir terucap sepenuhnya dari mulut Rheyhan.


"Bentar ya, kak. Kayaknya Arfen mau ngomong sesuatu, deh!" Ucap Dira sebelum kembali membuka pintu mobil.


Dira mengangguk sebelum membuka pintu mobil dan keluar untuk menemui Arfen. "Ada apa, Ar?" Tanya Dira To the point. Gadis itu tak ingin membuang banyak waktu.


Arfen menghela nafas pelan. Nampak jelas terlihat, Dira begitu tak ingin berlama-lama dengannya. Itu kesan yang Arfen tangkap dari Dira sekarang ini. "Gue pengen ngomong..." Ucapan Arfen menggantung, Laki-laki itu nampak melihat ke arah Rheyhan sekilas lalu kembali menatap wajah Dira. "...Tapi gak disini." Sambung Laki-laki itu.


"Ada apa, Ar? ngomong aja langsung! Gue buru-buru soalnya. Udah di tunggu sama kak Axell." Balas Dira.


Arfen kembali menghela nafas seakan tengah menahan sesuatu. Perasaan sesak dalam hati yang muncul begitu saja. Arfen menggeram. Tiba-tiba ia merasa kesal.


Laki-laki itu teringat kejadian pagi tadi. Dimana ia yang memutuskan untuk datang ke sekolah Dira dan menemui gadis itu untuk memberinya coklat. Hal biasa yang sering ia lakukan tapi ia urungkan karena melihat hal yang sangat membakar hatinya.


Bagaimana tidak, dengan sangat jelas Arfen tadi dapat melihat dimana Dira yang dengan sengaja mendekatkan diri dan berakhir dengan adegan mencium Axell.


Arfen tak pernah membayangkan sedikitpun sebelumnya. Dira, gadis yang ia kenal begitu polos, bisa seberani itu mencium Axell, bahkan di depan pintu gerbang sekolah. Sungguh, menurut Arfen, Axell sudah berhasil mengubah Dira menjadi gadis yang berani sekarang.


"Gue hargai pilihan Lo, Dir. Selama itu bisa bikin Lo bahagia, gue akan rela ngelepas Lo baik-baik..." Ucap Arfen menjeda kalimatnya. "...Tapi, kalo dia bawa pengaruh buruk buat Lo... tinggalin! Masih banyak cowok baik yang bisa jaga Lo." Ucap Arfen pelan, bermaksud agar gadis di depannya ini mengerti maksud dari apa yang ia katakan tadi.


Dira mengernyitkan dahinya bingung, gadis itu tak mengerti apa yang Arfen katakan padanya. "Maksud Lo apa sih, Ar? Gue gak ngerti?" Tanya Dira.


"Pagi tadi... gue liat Lo... nyium Axell... tepat di sini."

__ADS_1


...***...


"Kok bengong? Si Arfen ngomong apa tadi?" Tanya Rheyhan sambil melirik Dira sekilas sambil fokus mengemudi. Melihat Dira yang hanya diam tanpa kata membuat Rheyhan tak tahan untuk menanyakan apa yang Arfen katakan pada gadis itu tadi.


"Bukan hal yang penting kok, kak." Jawab Dira sedikit gugup. Tak mungkin kan ia bilang kalau Arfen melihatnya mencium Axell pagi tadi. Bisa malu kan.


Rheyhan mengangguk, "It's Okay, kita udah sampai." Ucap Rheyhan saat mobil yang ia kemudikan mulai memasuki gedung perkantoran dari MJ Corp. Perusahaan milik Ayah Marvellyo.


"Udah pernah kesini?" Tanya Rheyhan saat melepas Safety belt-nya dan bersiap untuk membuka pintu mobil.


"Belum, kak. Baru kali ini." Jawab Dira yang kini juga bersiap keluar dari mobil saat setelah melepas Safety belt-nya.


Rheyhan dan Axell berjalan beriringan memasuki lobby utama. "Ini hampir dua jam. Kayaknya bentar lagi Meeting nya selesai." Ucap Rheyhan sambil melihat arloji yang melingkar di tangannya.


Tak menjawab, Dira hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.


"Tapi, Dir, gue gak bisa anterin Lo ke ruangannya Axell, Nyokap gue minta dijemput..." Ucap Rheyhan sambil mengetikan sesuatu pada ponselnya. Laki-laki itu sedang berbalas pesan dengan sang mama.


"Tapi, kak. Aku gak tau dimana ruangan kak Axell." Balas Dira sambil menghentikan langkahnya.


"Kalo soal itu, Lo bisa tanya sama mbak-mbak resepsionis. Bilang kalo Lo istrinya Axell..." Jawab Rheyhan. Laki-laki itu lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Ok, gue duluan ya." Ucap Rheyhan yang kini berbalik dan berjalan meninggalkan Dira.


Dira menghela nafas pelan lalu berjalan mendekat ke arah meja resepsionis. "Permisi..." Sapa Dira ramah kepada kedua resepsionis yang bertugas.


"Iya, ada yang bisa di bantu, dik?" Jawab salah satu resepsionis yang bernama Michelle.


"Em... begini, kak. Saya mau tanya, ruangan kak Axell sebelah mana, ya?" Tanya Dira ragu.


"Maaf, tapi adik ini siapa, ya? Dan ada perlu apa dengan pak Axell?" Tanya resepsionis ber name tag Raquel.


"Em... Saya istrinya kak Axell. Tadi Saya di suruh kesini." Jawab Dira ragu menyebutkan statusnya.


Raquel menatap Dira sinis, "Dik, jangan main asal klaim ya! Setau saya pak Axell itu belum menikah. Dan kalo pun sudah menikah..." Pandangan Raquel menatap penampilan Dira dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas. "...Pasti menikahnya bukan dengan gadis SMA seperti kamu." Jawab Raquel.


Michelle terdiam sejenak mendengar jawaban Dira. Ia teringat dengan kabar yang sempat beredar beberapa bulan lalu, dimana putra tunggal dari pak Marvellyo itu memang di kabarkan telah menikah. Tapi dengan siapa itu yang masih menjadi teka-teki.


"Jangan dulu berasumsi gitu dong, Quel..." Ucap Michelle pada Raquel. Kini pandangannya beralih pada Dira. "Dik, bukannya kita gak percaya. Tapi, memang sebelumnya ada beberapa yang datang kesini mengatasnamakan pacar atau teman dekat dari pak Axell. Begini saja, mending adik tunggu di situ..." Tunjuk Michelle pada sofa yang tersedia di sudut ruangan. "...Nanti kami akan menghubungi pak Axell kalo kamu mencarinya." Jelas Michelle.


Dira nampak menghela nafas pelan, "Ya udah deh, kak. Kalo gitu saya keluar sebentar, nanti saya akan kembali lagi." Jawab Dira lalu berbalik melangkahkan kakinya keluar dari lobby kantor.


"Begitu lebih baik." Gumam Raquel yang masih bisa di dengar oleh Michelle.


"Jangan gitu ah... Kita kan gak tau, bisa aja dia emang bener istrinya pak Axell." Ucap Michelle mengingatkan.


"Istri dari mana coba? Kita semua tau, pak Axell itu masih sekolah jadi mana mungkin dia-

__ADS_1


"Permisi mbak..."


__ADS_2