
"Aaaaa..." Pekik Dira kaget. Tiba-tiba saja ada seseorang yang dengan sengaja mendorongnya masuk kedalam sebuah mobil.
Drab,
Suara pintu mobil itu tertutup setelah Dira berhasil masuk kedalamnya. Dira yang merasakan ada seseorang duduk di sampingnya itu memutuskan untuk membuka matanya yang tadi sempat terpejam karena terkejut.
"Kak Axell." Lirih Dira saat mengetahui kalau tadi yang memasukkannya ke dalam mobil adalah Axell.
Tak menjawab, Axell malah menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menuju suatu tempat yang entah kemana Dira belum tahu.
Axell melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan bahkan hal itu sampai membuat Dira ketakutan. "K-kak ki-kita mau ke-kemana?" Tanyanya terbata karena asli, Dira tengah ketakutan saat ini. Pasalnya Axell belum pernah mengendarai mobil seperti ini saat bersamanya.
Axell yang menyadari hal itu pun akhirnya mengurangi laju mobilnya. Ia melirik Dira yang sedikit lebih tenang setelah mobil kembali berjalan dengan kecepatan sedang.
Hening, keduanya diam dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya mobil Axell sampai di depan d'AXE Cafe.
Axell turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Dira. Ia menggandeng tangan Dira untuk masuk ke dalam ruang kerjanya di kafe tersebut.
Ceklek.
Axell langsung mengunci ruangan tersebut agar tak ada seorang pun yang akan mengganggu keduanya.
Dira yang mengetahui kalau Axell telah mengunci pintu ruangannya pun menelan ludahnya kasar. Ia sedang berpikir apa yang akan Axell lakukan setelah ini.
Axell berjalan ke arah Dira dengan senyum menyeringai, bak iblis yang siap menyergap mangsanya. Sepertinya ia harus melakukan ini, begitu pikir Axell. Karena menurut Axell, istrinya ini susah untuk di beritahu secara baik-baik.
Ya, Axell cemburu. Dan sekarang ini ia hampir meledak karena tadi melihat interaksi Dira dengan seorang Nicholas Mahaputra.
Dira yang melihat itu pun menjadi waspada. Ada apa dengan Axell hari ini? Begitu pikir Dira. Karena seingat Dira ia tak membuat kesalahan apapun. Bahkan tadi juga tidak ada apa-apa saat di kafe sebelumnya. Axell masih terlihat biasa saja. Tapi sekarang? Axell berbeda.
Dira pun berjalan mundur perlahan di saat Axell yang semakin mendekat ke arahnya. "K-kak Ax-xell m-mau apa?" Tanya Dira yang kembali terbata.
Axell tak berniat menjawabnya saat ini. Ia masih tetap bungkam dan bahkan berjalan semakin mendekat ke arah Dira.
Semakin dekat, dekat dan sekarang posisi Axell sudah benar-benar berada tepat di depan Dira dan berhasil membuat Dira semakin waspada dengan apa yang akan di lakukan oleh Axell selanjutnya. Apalagi sekarang ini Axell sudah mulai memajukan wajahnya ke arah Dira.
Kini Dira benar-benar di buat terkunci oleh sikap Axell. Meskipun sebenarnya Axell belum melakukan hal apapun pada Dira.
"Gue udah pernah peringatin Lo baik-baik, tapi Lo bebal juga ternyata." Ucap Axell setelah jarak keduanya sudah sangat dekat. 'Sepertinya gue emang harus ngelakuin ini supaya Lo mau nurut sama gue.' Batin Axell.
__ADS_1
Dira diam, ia sedang mencerna apa yang sedang Axell katakan padanya tadi. 'Emang gue abis ngapain?' Batin Dira.
Dih, Dira berlagak amnesia.
Axell semakin memajukan wajah dan membisikkan sesuatu pada Dira, "Gue mau minta hak gue."
Deg,
Dira tidak bodoh, ia tahu betul apa yang di maksud Axell sekarang ini. Hanya saja ia ragu untuk menuruti kemauan Axell sekarang.
"Hak? H-hak apa maksud kak Axell?" Tanya Dira pura-pura tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Axell.
"Hak sebagai suami Lo. Dan kewajiban Lo sebagai istri... Untuk memenuhi nafkah batin suami." Jawab Axell tenang dengan terus menatap wajah gadis di depannya.
Deg,
Jantung Dira semakin berdebar kencang setelah mendengar apa yang baru saja Axell katakan. Nafkah batin katanya?
"Kak, kita masih sekolah." Ujar Dira yang mengingatkan status keduanya yang masih sebagai pelajar.
"Tapi kita suami istri dan kita sah melakukannya." Jawab Axell cepat.
Dira bingung, dengan cara apa lagi ia harus menolak keinginan Axell. Bukan menolak, tapi lebih ke mencegah. Mencegah sesuatu yang Dira yakin belum siap dan itu akan terjadi sekarang, mungkin.
Sebenarnya Dira pasti akan menurut jika Axell benar-benar meminta untuk melakukannya, karena itu memang sudah menjadi kewajibannya. Tapi tidak dalam keadaan yang seperti ini. Dira baru menyadari, Axell tengah emosi, mungkin karena melihat Nicholas yang mengusap rambutnya tadi.
Axell yang melihat Dira hanya diam tersenyum menyeringai. Axell mendekatkan wajahnya dan semakin menundukkan kepalanya.
Cup,
Axell mencium bibir Dira Lalu melu**tnya dengan kasar. Dira tak tinggal diam. Ia mencoba untuk berontak dengan cara memukul-mukul dada bidang lelaki yang sedang menciuminya itu.
Tak ingin aksinya terganggu, kedua tangan Axell lalu mencekal kedua tangan Dira dan mengarahkannya ke atas agar dia semakin leluasa menciumi Dira.
Axell yang sedari tadi melu**t bibir Dira dengan kasar itu kini turun ke bagian leher putih milik Dira. Mengecup dan menghisap. Axell sengaja meninggalkan beberapa jejak di sana.
Dira yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa itu pun hanya bisa menangis saat Axell belum berniat untuk melepaskannya. "Kak Axell, Stop! Please, lepasin gue!" Pinta Dira sambil terisak.
Axell menghentikan aksinya dan beralih menatap wajah Dira. Dilihatnya wajah Dira yang sudah basah karena air matanya. Begitu juga dengan KissMark yang begitu banyak Axell buat di leher Dira. Seketika Axell menyadari perbuatannya. Ada sedikit rasa bersalah yang Axell rasakan.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana mana lagi. Axell yang pencemburu, tidak bisa melihat Dira dekat dengan laki-laki lain. Axell sudah pernah memperingatkan Dira tentang hal ini, dimana dia harus bisa menjaga diri agar tidak ada laki-laki lain yang bebas menyentuhnya, meskipun itu seujung rambut sekalipun. Tapi ternyata Dira tidak menganggapnya serius. Axell pikir dengan cara ini ia bisa memberi Dira efek jera.
"Itu hukuman buat Lo! Gue udah pernah peringatin Lo sebelumnya. Gue gak bisa ngeliat ada cowo deketin lo... Gue cemburu, Dira!" Ucap Axell.
Dira masih terisak. Reaksi Axell terlalu mengejutkan untuknya. Ia tak mengira kalau Axell bisa sebegitu marahnya, hanya karena melihat laki-laki lain menyentuh rambutnya.
Tangan Axell terulur untuk mengusap lembut kepala Dira. Lebih tepatnya membersihkan bekas tangan Nicholas dari kepala Dira tadi.
"Sedekat apa Lo sama Nicholas?" Tanya Axell.
Dira yang sudah mulai tenang hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Axell.
'Mereka saling kenal?'
"Jangan deket-deket dia lagi!" Pinta Axell sambil menghapus sisa air mata di pipi Dira. Dira hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Kalo gitu, lepas jaketnya bisa? Mata gue sakit liat Lo make 'tuh jaket." Titah Axell pada Dira agar segera melepas Hoodie yang sampai saat ini masih melekat pada tubuh Dira.
Tanpa menjawab, Dira pergi menuju ke kamar mandi dan kembali dengan wajah yang terlihat kembali basah. Bukan karena Dira menangis lagi di kamar mandi, tapi karena Dira membasuh wajahnya, dan juga melepas Hoodie milik Nicholas yang ia kenakan tadi.
"Lo pake ini!" Pinta Axell sambil mengulurkan jaket miliknya. Dira diam, ia enggan menerima jaket yang Axell berikan padanya. Karena Axell merasa Dira enggan menerima jaket yang ia ulurkan membuatnya menghela nafas, "Lo perlu ini buat nutupin leher Lo."
Deg,
Mata Dira membulat sempurna mendengar apa yang Axell katakan, memangnya ada apa dengan lehernya?
Dira lalu mengambil ponsel dari saku bajunya dan betapa terkejutnya Dira saat melihat lehernya yang penuh dengan Kissmark dari Axell yang hampir mengelilingi lehernya.
"Pakai! Setelah itu kita pulang."
.
.
.
*Gimana nih? Kasih tanggapan kalian dong!
Komen dibawah ya! Jangan lupa kasih Like and Vote, Biar aku jadi makin semangat up-nya. TQ .. & See you bye-bye...😘
__ADS_1