
📥 Bastian.
Lo dimana?
Nayla mo nyari bini Lo.
Dia otw apart Lo b'dua sekarang.
Bareng Verrel.
"Ck." Axell berdecak kesal setelah membaca pesan yang baru saja Bastian kirimkan. Dengan cepat Axell bergegas mengajak Dira untuk segera pergi dari apartemen.
Kini Axell mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju d'AXE Cafe. Laki-laki itu sesekali tersenyum sambil menoleh ke arah istrinya yang kini sedang tertidur, mungkin karena terlalu lelah menangis jadi Dira mudah sekali tertidur.
Axell masih mengingat kejadian beberapa jam yang lalu antara Dira dan dirinya di apartemen milik gadisnya itu. Dimana Dira tadi yang mengatakan bahwa sudah tak memiliki perasaan sedikitpun terhadap Arfen, dan itu membuat Axell merasa lega dan bahkan sekarang tak henti-hentinya tersenyum seperti saat ini.
*Hati-hati, Xell... Kebanyakan senyum, gak baik. ðŸ¤
Mobil Axell berhenti tepat di depan d'AXE Cafe. Laki-laki itu lalu menggendong gadisnya masuk lewat pintu samping, pintu yang langsung mengarah ke arah pantry dekat ruang kerja miliknya.
Gak lucu kan kalau Axell masuk ke dalam kafe dengan menggendong seorang gadis yang tengah menutup matanya. Akan dapat di pastikan banyak tanda tanya nanti yang muncul di benak para pelanggan kafenya.
Saat Axell masuk lewat pintu samping, setiap pasang mata para pelayan kafe langsung tertuju ke arahnya. Menciptakan sebuah tanda tanya besar dalam benak masing-masing. Bukan tentang siapa gadis yang sedang Axell gendong sekarang, karena mereka sudah bisa memastikan itu pasti adalah gadis yang biasa datang dengan Axell. Tapi melainkan apa yang sedang terjadi dengan gadis dalam gendongan dari pemilik kafe tersebut.
"Dira kenapa?" Pertanyaan muncul dari Rheyhan yang kebetulan berada di kafe tersebut. "Kok kayak abis nangis?" Tanyanya lagi. Rheyhan sempat memperhatikan wajah Dira, dimana mata gadis itu yang masih terlihat sembab.
"Kecapekan nangis, bang... Abis gue paksa." Jawab Axell asal. Axell kini melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya di ikuti oleh Rheyhan di belakangnya.
Ninda yang kebetulan lewat setelah mengantar kan pesanan pun tak sengaja menguping pembicaraan keduanya. Ia kini berniat mencari tahu ada hubungan apa sebenarnya antara Axell dan juga Dira.
"Paksa? Gila Lo, Xell!" Ucap Rheyhan setengah tak percaya. Bahkan laki-laki yang hanya berusia tiga tahun di atas Axell itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Minta hak boleh, pemaksaan jangan... Tunggu Dira siap dulu, kasihan!"
"Ya gak lah, bang. Gue sayang banget sama dia... Masa' iya gue maksa istri gue sendiri-
Trang...
Bunyi nampan kosong yang tak sengaja lepas dari tangan Ninda. Gadis itu terkejut dengan pengakuan Axell tadi.
Axell dan Rheyhan yang mendengar suara yang tak jauh darinya itu pun seketika menoleh dan mendapati Ninda yang masih berdiri di depan ruangan Axell.
"Ninda, apa yang kamu lakukan di situ?" Tanya Rheyhan.
"Saya kebetulan lewat pak. Maaf." Jawab Ninda lalu pergi ke arah pantry.
Rheyhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ninda. Ia tahu, sudah sejak lama Ninda sering memperhatikan Axell karena mungkin Ninda menaruh hati dengan sepupunya.
"Berarti Lo udah berhasil dong, Xell, making-in si Dira?" Tanya Rheyhan setelah Axell menidurkan Dira di kamarnya.
"Kepo Lo, bang." Jawab Axell singkat. Gak mungkin kan Axell bilang kalo selama mereka menikah mereka belum pernah melakukan hal yang semestinya di lakukan sebagai pasangan suami istri.
__ADS_1
"Selamet deh kalo gitu. Jangan lupa, iya, cepet-cepet kasih gue ponakan, yang banyak kalo bisa!" Ucap Rheyhan asal.
"Ok. Kalo gitu, gue temenin Dira tidur dulu ya, bang. Nanti kalo ada temen-temen gue dateng kesini, bilang gue gak ada!" Ucap Axell.
"Ok, Lanjut deh, Xell. Gue masih mau baca laporan kafe. Jangan lupa kunci kamar, takut gue khilaf dan malah ikut masuk nanti." Jawab Rheyhan sambil duduk di kursi Axell.
Rheyhan tersenyum sambil kembali menggelengkan kepalanya, "Axell... Axell... Si gunung es, lama-lama cair juga."
...***...
Sore harinya di kediaman keluarga Marvellyo. Axell yang baru saja selesai mandi itu kini sedang memainkan ponselnya di atas ranjang sembari menunggu Dira yang sedang mandi.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk!" Ucap Axell yang mendengar seseorang yang mengetuk pintu dari luar.
Bukannya masuk, seseorang yang entah siapa itu kembali mengetuk pintu lagi.
Tok...
Tok...
Tok...
"Tak acel, Andes dak bica buta intunya (Kak Axell, Andes nggak bisa buka pintunya)!".
Terdengar suara anak kecil dari luar dan sukses membuat Axell menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga... Andes. 'Tuh bocil kan gak bisa buka pintu sendiri." Ucap Axell kepada dirinya sendiri. Laki-laki itu lalu bangkit dari PW-nya dan berjalan untuk membukakan pintu untuk sepupu kecilnya itu.
Ceklek...
"Hallo jagoan..." Sapanya ramah sambil mengusap-usap kepala dari sepupunya itu.
"Hallo tak Acel (Hallo kak Axell)." Jawab bocah kecil yang tak lain adalah Junior Fernandes Finnegan, adik dari Rheyhan Theda Finnegan, putra kedua dari David Finnegan.
Kenapa umur Andes dan Rheyhan terpaut jauh 18 tahun, itu karena dulu mama dari Rheyhan sempat tiga kali mengalami keguguran dan nyaris di vonis tidak bisa memiliki keturunan lagi. Tapi, baru setelah Rheyhan hampir lulus SMA, mama dari Rheyhan dinyatakan hamil kembali dan 9 bulan kemudian lahirlah Andes.
"Andes kesini sama siapa?" Tanya Axell sambil menekuk lututnya untuk menyamakan tinggi badannya dengan Andes.
"Andes tecini cama tak leyhan, tak (Andes kesini sama kak Rheyhan, kak.)." Jawab Andes.
"Oh... iya? Mana Bang Rheyhan nya?" Tanya Axell tanya lagi.
"Ata di awah (ada di bawah)." Jawab Andes lagi.
__ADS_1
Ceklek,
Pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Dira di balik pintu dengan sudah mengenakan setelan piyama satin warna maroon dan handuk yang masih membungkus rambut basahnya.
"Yang, gue ke ke bawah dulu sama Andes."
...***...
Di meja makan, kini sudah ada Ayah Marvellyo, Bunda Resty, Dira, Axell dan juga kakak beradik Rheyhan dan Andes.
Jika semua tengah menikmati makanan yang sudah tersaji di meja, lain halnya dengan Rheyhan yang tak henti-hentinya menatap Dira dan Axell secara bergantian dengan senyum jail yang hanya ia yang tahu sendiri artinya.
"Kamu kenapa tidak makan, Rhey?" Tanya Ayah Marvellyo.
"Gak apa-apa, om." Jawab Rheyhan yang kini mulai menyendok makanannya.
"Kenapa kamu liatin Axell sama menantu Bunda sampai seperti itu, Rhey? Ada apa sebenarnya?" Tanya bunda Resty yang ikut bersuara. Sementara Axell yang masih makan dengan tenangnya. Dan Dira yang baru selesai menyuapi Andes makan nampak membersihkan kedua sudut bibir bocah kecil itu mengunakan tissu.
"Gak apa-apa, Bun. Rhey lagi ngeliat pemandangan di depan Rhey aja... Axell yang duduk di samping Dira, terus Dira yang lagi nyuapin Andes. Bunda liat, udah kayak nyuapin anaknya sendiri. Sungguh keluarga kecil yang bahagia." Jawab Rheyhan yang membayangkan jika Axell, Dira dan juga Andes adiknya adalah keluarga kecil yang bahagia.
"Kamu bener, Rhey. Om jadi gak sabar cepet-cepet gendong cucu." Celetuk Ayah Marvellyo yang ikut menimpali.
"Tenang, om..." Ucap Rheyhan sambil menatap Axell dan tersenyum, ia teringat dengan apa yang Axell katakan padanya saat di d'AXE Cafe siang tadi. "...Kata Axell udah On proses kok." Jawab Rheyhan dengan tanpa rasa bersalahnya dan sukses membuat Dira tersedak.
"Uhuk... uhuk... uhuk..."
"Yang, pelan-pelan... Nih, minum dulu!" Titah Axell sambil menyodorkan gelas berisi air. Dira menerimanya dan meminumnya perlahan.
"Kamu gak apa-apa, sayang." Tanya Bunda Resty pada menantu kesayangannya itu.
Dira mengangguk, "Dira baik-baik aja kok, Bunda."
...***...
Malam semakin larut, dan sekarang Dira masih belum bisa tidur. Gadis itu kini sedang berada di balkon kamar, memandangi langit yang sama sekali tak menampakkan bintangnya. Langit sedang mendung, dan sepertinya akan turun hujan.
Tak berapa lama kemudian, Dira yang terlalu asyik menikmati angin malam itu tak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Sampai lewat sepersekian detik, sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Disusul dengan satu kecupan di pipi gadis itu.
"Kenapa belum tidur, malah berdiam disini?"
.
.
.
*Junior Fernandes Finnegan.
__ADS_1