
"Ini peringatan terakhir buat Lo. Gue nggak mau lagi lihat dia datang apa lagi sampai bisa masuk ke sekolah gue... Terutama buat nemuin Lo, istri gue. NGERTI!" Ucap Axell santai tapi seperti tekanan tersendiri bagi Dira.
"Iya, Gue ngerti kak." Jawab Dira lirih.
"Kalau Lo langgar..." Axell mendekatkan wajahnya pada Dira dan berbisik, "...Gue bakal minta hak gue sebagai suami." Lanjutnya lalu segera membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Dira yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
Deg...
Deg...
Deg...
Seulas senyum muncul di bibir Axell. Ia sengaja menggertak Dira untuk ke sekian kalinya. 'Gue bakal lihat, setelah ini, Lo masih berani nggak, nemuin 'tuh orang!' Batin Axell sambil berjalan menuju kelasnya.
Jika Axell masih bisa merasa biasa saja setelah apa yang ia katakan pada Dira, lain halnya dengan gadis itu. Dira sekarang tengah memegang bagian dadanya sebelah kiri. Ia merasai jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Jantung gue... Kak Axell bilang apa tadi?"
...***...
Setelah menormalkan detak jantungnya, kini Dira berjalan dengan terburu-buru menuju ke kelasnya. Tadi bel sekolah telah berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera di mulai.
"Lo baru Dateng, Dir?" Tanya Zaki yang melihat Dira datang dengan tergesa-gesa.
"Iya, Zak." Balas gadis itu dan berjalan sejajar dengan Zaki.
"TUNGGU!" Panggil seseorang yang suaranya sangat Dira kenal?
'Kenapa lagi?' Batin Dira kesal sambil menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Xell?" Tanya Zaki saat melihat Axell yang berjalan dengan satu tangan yang ia masukan kedalam saku celananya.
Bukannya menjawab apa yang di tanyakan oleh Zaki padanya, Axell malah memilih menatap Gadis yang berjalan di samping Zaki tadi.
"Simpan ini!" Ujar Axell dan mengulurkan sebuah kantong plastik yang berisi entah apa itu pada Dira.
"Ini apa, kak?" Tanya Dira bingung. Sama halnya dengan Dira, Zaki pun bingung dengan kakak kelas yang menjabat sebagai ketua OSIS itu.
Muncul pertanyaan dalam benaknya tentang apa yang di berikan Axell pada Dira? 'Mereka lagi deket?' Batin Zaki menerka kemungkinan yang tak ia ketahui.
"Sesuatu yang mungkin akan Lo butuhin!" Jawab Axell lalu berbalik kembali ke kelasnya.
"Apaan, Dir?" Tanya Zaki yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran yang sedari tadi terus menyelimutinya.
Menurut Zaki, ini adalah hal yang 'Aneh'. Tak biasanya seorang Axell menghampiri siswi dan memberikan sesuatu padanya. Karena biasanya yang terjadi adalah kebalikannya.
Tak menjawab, Dira malah hanya mengendikan bahunya acuh. Tangannya tergerak untuk membuka kantong plastik berwarna putih yang baru saja Axell berikan padanya tadi. Dan,
Ting,
Terdengar bunyi Notif pesan pada ponselnya membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya membuka kantong plastik yang Axell berikan. Dahi Dira berkerut melihat nama si pengirim pesan.
__ADS_1
π₯ Axello.
Simpan ini buat Lo!
Gue gak mau Asma Lo kambuh disaat Lo lagi gak bareng gue, kayak kemaren.
Tanpa Dira sadari, seulas senyum muncul di bibirnya setelah membaca pesan dari Axell. Ia tahu apa yang Axell berikan padanya tadi.
"Dih, senyum." Cibir Zaki saat melihat Dira senyum-senyum sendiri saat membaca pesan yang entah dari siapa, Zaki tidak tahu.
"Lo nggak lagi sakit kan, Dir?" Tanya Zaki sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Dira.
"Apaan sih, zak!" Protes Dira saat tangan Zaki menempel di dahinya.
"Abisnya Lo, abis baca Chat langsung senyum-senyum nggak Jelas. Dapet Chat dari siapa, sih?" Ucap Zaki sambil berusaha melihat ke arah ponsel Dira.
"Bukan dari siapa-siapa." Jawab Dira dan langsung memasukkan ponselnya kedalam saku tanpa sempat membalasnya.
"Udah yuk, masuk kelas!" Ajak Zaki pada teman satu kelasnya itu.
Dira dan Zaki pun masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang sebentar lagi akan di mulai.
Tapi, Tanpa Dira dan Zaki sadari seseorang memperhatikan keduanya dan bahkan sempat mengabadikan momen saat tangan Zaki menyentuh dahi Dira tadi.
Seulas senyum muncul dari bibir orang itu saat melihat hasil foto yang baru dia ambil tadi.
...***...
Saat jam istirahat, Dira tengah berjalan menuju ke kantin sendirian. Hari ini Melody tidak masuk sekolah karena izin.
"Gue kemaren nyariin Lo, Dir?" Ujar Nayla.
"Ada apa, Nay?" Tanya Dira santai.
"Yang waktu itu." Ucap Nayla.
"Yang mana sih, Nay?" Tanya Dira menuntut kejelasan.
"Yang waktu gue telpon Lo, terus ada suara cowok?" Jelas Nayla.
'Nah kan, bener dugaan gue.' Batin Dira.
"O... yang waktu itu." Tanya balik Dira yang langsung mendapat anggukan kepala dari Nayla. "Dia..." Ucap Dira terpotong oleh Nayla.
"Siapa, Dir?" Tanyanya lagi.
"Em... Sepupu gue. Iya... Sepupu, Nay?" Jawab Dira bohong.
"Sepupu?" Beo Nayla tak yakin. "...Sejak kapan Lo punya sepupu?" Tanya Nayla menelisik.
"Itu... Eh... Nay, Lo mau pesen apa? Tolong pesenin gue sekalian ya, gue mau ke toilet bentar soalnya!" Ujar Dira mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Nayla dan langsung berjalan menuju toilet.
__ADS_1
"Yah... Kabur dia! Kebiasaan banget sih, Dira." Cibir Nayla pelan sambil melihat punggung Dira yang semakin mengecil dari pandangannya.
"Kenapa beib?" Tanya Verrel yang baru saja datang dengan Axell. Nayla menggelengkan kepalanya dan mendekat ke arah Bu kantin.
"Bu ida, pesen bakso dua, es jeruk satu, sama Lemon tea anget satu ya, Bu." Ucap Nayla pada Bu kantin.
"Siap atuh, neng." Jawab Bu kantin sambil mengacungkan jempolnya.
"itu, si Dira. Kabur mulu kalo di tanya, kebiasaan!" Ucap Nayla bermaksud menjawab pertanyaan dari Verrel tadi. Mendengar jawaban dari Nayla langsung membuat Verrel melirik sahabatnya sekilas.
"Ini neng, pesanannya." Ucap Bu kantin sambil menaruh dua mangkuk bakso, dan dua minuman yang Nayla pesan tadi.
"Kamu pesen Lemon tea, Beib? Bukannya Lo lebih suka es jeruk?" Tanya Verrel pada Nayla.
"Ini bukan buat gue, Beib." Jawab Nayla sambil mengaduk-aduk es jeruknya.
"Terus?" Tanyanya semakin penasaran.
"Punya Dira." Jawab Nayla singkat dan sukses mengingatkan Verrel akan satu hal.
'Lemon tea anget dan Dira? Ok, gue tahu sekarang.' Batin Verrel sambil menganggukkan kepalanya mengerti.
"Dira, sini!" Panggil Nayla saat melihat Dira yang baru masuk ke kantin.
"Sorry, Nay... Lama gue." Ucap Dira yang langsung duduk di samping Nayla dan tepat di depan tempat duduk Axell. Verrel yang melihat Dira dan Axell duduk berhadapan pun langsung tersenyum miring.
Ok. Verrel akan mencoba memancing sekarang. Bukan memancing ikan, melainkan reaksi dari sahabatnya itu.
"Dir, gue boleh nanya sesuatu sama Lo?" Ucap Verrel tiba-tiba sambil kembali melirik Axell sekilas.
Dira tampak mengerenyitkan dahinya bingung, kira-kira apa yang akan Verrel tanyakan padanya. "Tanya apa, kak?".
Jangan tanyakan Axell, ia hanya mengangkat sebelah alisnya seakan menunggu apa yang akan di tanyakan oleh Verrel pada Dira.
"Lo lagi sakit ya?" Tanya Verrel to the point.
"Ha, eng-gak kok, kak?" Jawab Dira terbata.
"Kok lo nanya gitu sih, Beib? Emangnya Dira sakit?" Tanya Nayla sambil melihat ke arah Dira. "Lo sakit, Dir?" Nayla beralih bertanya pada Dira yang di balas gelengan kepala dari Dira.
"Yakin?" Tanya Verrel ragu. Bukan itu sebenarnya maksud Verrel. Ia hanya ingin melihat ekspresi wajah dari Axell selanjutnya.
"Pagi tadi, gue lihat si Zaki pegang dahi lo. Gue kira Lo lagi demam tadi." Jelas Verrel dan sukses membuat Axell menatap tajam ke arah Dira. Dan hal itu sukses membuat Verrel kembali tersenyum miring, umpannya tepat sasaran.
'Gotcha'
.
.
.
__ADS_1
*Yang kek biasanya ya, dan gak bosenΒ² aku minta Vote dan likenya.. dan Jan lupa juga,, Yang udah baca Absen dong!!! Komen di jam berapa kalian baca eps. ini.. Okπ..
*Yang udah kasih Like dan komen, Klean Terbaik.. ππ»ππ»ππ»π