Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
71. Mereka udah jadian? (Arfen)


__ADS_3

Hari masih sore saat mobile Axell memasuki gerbang rumah keluarga Marvellyo. Axell dan Dira turun dari dalam mobil hampir bersamaan. Axell menenteng belanjaan yang tadi di beli oleh Dira. Membawanya menuju dapur dan meletakkannya di atas meja.


Dira mengeluarkan buah-buahan yang tadi di belinya dan sisa belanjaannya tadi ia bawa ke kamar.


Mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Dira menyiapkan baju ganti untuk Axell. Dira yakin Axell tengah mandi saat ini.


Ceklek,


Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Axell dari balik pintu. Ia berjalan mendekat dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Bahkan tetesan air masih menetes dari ujung rambut laki-laki itu.


"Lo gak mandi?" Tanya Axell yang sudah meraih baju yang akan ia kenakan.


"Ini juga mau mandi, kak." Jawab Dira cepat. Sambil membawa baju ganti, cepat-cepat Dira masuk ke dalam kamar mandi. Dira sengaja menghindar dari Axell. Laki-laki itu akan mengenakan bajunya di dalam kamar. Otomatis Axell akan melepas handuk yang sedari tadi menutupi tubuh bagian bawahnya.


Axell tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu, Dira sedang menghindarinya.


Selesai mandi Dira mengeringkan rambutnya menggunakan Hair dryer. Mengalihkan pandangan Axell yang sejak tadi menatap laptop di depannya.


Axell memperhatikan Dira dari belakang. Seulas senyum muncul dari bibir laki-laki itu. Gadis yang beberapa bulan lalu ia anggap misterius Karena jarang membuka mulut, kini sudah mulai terbuka padanya.


"Dir..." Panggil Axell.


"Iya, kak." Tanya Dira yang menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut. Dira selalu berhenti mengeringkan rambutnya di saat sudah setengah kering. "Ada apa?"


"Lo bisa bikin kopi?" Tanya laki-laki itu.


"Kak Axell Mau di bikinin?" Tawar gadis itu.


Axell mengangguk, "Kalo Lo gak keberatan. Gue ada beberapa laporan dari kafe yang harus gue periksa, mata gue gak bisa di ajak kerja sama?" Keluh Axell.


"Bentar ya, kak. Aku bikinin dulu." Pamit Gadi itu dan keluar dari kamar.


Ceklek,


Sepuluh menit kemudian, Dira kembali ke kamar dengan nampan berisi satu cangkir kopi dan satu gelas Lemon tea anget serta beberapa cemilan.


Dira meletakan kedua minuman itu di atas meja dan duduk di samping Axell. Memperhatikan Axell sekilas yang sedang serius dengan layar terang di depannya. Tangannya terulur untuk meraih bungkus snak kentang yang ia beli tadi.


"Di minum, kak, kopinya." Pinta gadis itu yang mendapat anggukan kepala dari Axell.


Dira kembali menoleh ke arah Axell sambil memakan snak kentang kesukaannya. "Kak Axell udah lama ya, kerja di d'AXE Cafe?" Tanya gadis itu penasaran.


Axell menoleh ke arah Dira. Lalu meraih kopi di atas meja dan menyesapnya. "Udah dua tahun. Kenapa?" Tanya Axell balik setelah meletakan kembali cangkir berisi kopi yang masih penuh itu.


Axell menyenderkan tubuhnya pada sofa. Sedari tadi memandang layar terang di depannya membuat matanya kering dan lelah.


"Gak apa-apa. Kak Axell, ponselku mana?" Tanya Dira.


Tanpa menjawab, Axell menyerahkan ponsel milih Dira. "Suka banget Snack kayak gitu. Lo tau, makanan kayak gitu gak sehat."

__ADS_1


Dira mengangguk, "Aku tahu. Aku makan cuma sesekali doang... Kalo lagi pengen." Jawab Dira tanpa menatap wajah Axell, ia sedang asyik men-Scroll akun sosial media miliknya.


"O... iya, Kak. Aku mau tanya sesuatu boleh." Tanya Dira penasaran, ini sudah lama ingin menanyakan tentang hal ini pada Axell.


"Mau nanya apa?" Tanya Axell yang sudah kembali melanjutkan kegiatannya yang terhenti tadi.


"Apa alasan kak Axell kerja di kafe? Maksud aku gini... Ayah sama bunda ngasih kak Axell fasilitas yang gak main-main menurut aku, Kak Axell masih sekolah juga. Aku pengen tau aja." Ucap Dira hati-hati mengatakan keingintahuannya. Ia tak ingin Axell tersinggung atau salah paham.


"Kenapa? Lo malu, punya suami yang cuma kerja sampingan di kafe?" Bukannya menjawab, Axell malah melontarkan pertanyaan balik untuk Dira.


"Gak gitu, kak... Aku cuma-"


Belum sempat Dira menyelesaikan kalimatnya, Axell sudah lebih dulu memotong, "Buat kasih istri gue nafkah... Pake jeri payah gue sendiri." Jawab Axell sambil terus membaca laporan di depannya. Lalu Kini pandangan Axell beralih menatap Dira. "Gue gak mau mengandalkan uang dari ayah buat kasih istri gue makan." Lanjutnya lagi.


"Lo istri gue. Jadi sebagai suami, gue yang bertanggung jawab penuh buat nafkahi Lo." Tambahnya.


Deg,


Mendengar jawaban dari Axell, Dira jadi tersentil sendiri. Sebagai suami, Axell memang sudah melakukan kewajibannya. Tapi sebagai istri... Dira? Apa yang sudah bisa ia berikan untuk Axell?


"Lo udah denger jawaban dari gue, kan? Jangan Lo jadiin alasan gue barusan beban tersendiri buat Lo." Titah Axell pada istrinya itu.


Hening,


Dira sedang berpikir, apa yang harus ia lakukan untuk Axell setelah ini.


"Ayah sama Bunda udah pulang?" Tanya Axell yang mencoba mengalihkan perhatian Dira. Ia tahu ada sesuatu yang sedang gadis di sampingnya ini pikirkan.


"Ke Surabaya. Gue lupa tadi kasih tau Lo."


...***...


"Lo yakin? Mereka udah jadian?" Tanya seorang cowok yang kini tangah duduk di depan seorang gadis di salah satu meja di sebuah kafe.


Tampak gadis itu mengangguk. "Udah dua bulan malah." Jawab gadis itu yang tak lain adalan Nayla.


"Dua bulan?" Beo cowok tadi yang langsung mendapat anggukan kepala dari Nayla.


"Dira yang cerita ke Lo?" Tanyanya lagi.


"Bukan, cowo gue yang cerita... Axell bilang, mereka udah jadian dua bulan." Jelas Nayla.


Hening,


Cowok itu lantas diam seraya berpikir. 'Mungkin ini semua berhubungan.'


"Ar! Are you Ok?" Tanya Nayla pada sahabatnya itu yang tak lain adalah Arfen.


Arfen menggelengkan kepalanya, "It's Okay. Gue baru tau satu hal.

__ADS_1


"Apa?" Sahut Nayla cepat.


"Alasan Dira ngehindar dan takut setiap ketemu gue belakangan ini. Mungkin ada kaitannya sama jadiannya Dira sama Axell?" Tebak Arfen. Laki-laki itu memang merasakan ada keanehan dari sahabatnya sekaligus gadis yang ia suka.


"Takut? Takut yang bagaimana maksud Lo?" Tanya Nayla bingung, takut yang seperti apa maksudnya.


"Gue masih inget, waktu terakhir kali gue datengin Dira ke sekolahnya, Dira kayak waspada gitu waktu sama gue. Terus pas ketemu Lo juga di mall, asma Dira sampai kambuh." Ucap Arfen menjelaskan apa yang ia ketahui.


"Serius, Ar? Terus Dira gimana? Kok sampai kambuh?" Tanya Nayla khawatir dengan keadaan Dira.


"Gue bawa Dira ke rumah sakit. Terus Lo tau gak Nay, apa yang terjadi setelahnya?" Tanya Arfen.


Sementara Nayla hanya menggelengkan kepalanya, "Gue ketemu Axell dan om Pras. Kaget gue liat mereka akrab banget tanpa sekat." Ujar Arfen menceritakan apa yang ia lihat kemaren dan hal itu pun seketika membuat Nayla melongo.


'Mereka sudah sedekat itu?'


...***...


Axell tengah kesusahan untuk tidur malam ini padahal jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Sejak tadi ia sedang membolak-balikkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman agar bisa cepat tertidur. Mungkin ini efek dari minum kopi sore tadi.


Sementara Dira, gadis itu sudah tertidur satu jam yang lalu. Bahkan gerakan-gerakan dari laki-laki di sampingnya ini sama sekali tak mengusik tidurnya.


Axell tadi sempat mengganggu tidur gadis itu. Menciumi gadisnya mulai dari kening, kedua kelopak mata, kedua pipi dan bahkan bibir dari gadis itu. Bahkan Axell juga menggesekkan hidung mancungnya pada hidung Dira, namun Dira tak kunjung bangun. Padahal Axell akan meminta gadis itu untuk menemaninya tidak tidur malam ini.


Karena tidak mendapatkan hasil dari mengganggu Dira, akhirnya Axell diam dengan posisi telentang. Kembali ia memejamkan matanya.


1 menit,


2 menit,


3 menit,


Axell masih belum bisa tertidur.


5 menit,


10 menit,


15 menit,


Axell masih berjuang untuk tidur.


Sampai tiga puluh menit kemudian.


Byaaar,


Mata Axell kembali terbuka, seulas senyum muncul dari bibirnya.

__ADS_1


"Hallo Instragram."


__ADS_2