Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
102. Drama pagi hari.


__ADS_3

"I love you, Andira." Satu kata yang membuat Dira tertegun. Sungguh, Dira tak mengira Axell akan mengatakannya. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum.


"I love you too, kak." Balas Dira lirih.


"Apa, yang? Gue gak denger." Jawab Axell.


"I love you too, kak." Ulang Dira.


"Sebut nama gue, Dir. Panggil nama gue!" Pinta Axell.


Dira kembali tersenyum untuk kesekian kalinya, "I love you too... Axello."


Axell tersenyum, ditariknya tubuh polos Dira agar masuk ke dalam dekapannya. "I'm more."


...***...


Keesokan harinya di kala sinar matahari mulai memancar menyentuh sebagian sisi bumi. Sepasang anak manusia yang masih terkurung di bawah selimut itu mulai tersadar. Bayangan sisa pertempuran semalam itu pun masih sangat terasa. Apalagi ketika mereka merasakan sentuhan kulit satu sama lain di bawah selimut yang sama, kilatan itu semakin terbayang.


Dira meremas sprei dengan erat, menyembunyikan wajahnya di antara sisi selimut tersebut. Ia sedikit memundurkan tubuhnya perlahan dari dekapan Axell. Rasa malu yang membumbung tinggi itu belum bisa ia hilangkan. Ingatan saat mereka tengah terbang melayang menuju langit ke-7 itupun terus terbayang-bayang di kepalanya.


Rasanya gadis itu masih belum percaya bahwa mereka telah melakukannya. Melakukan ritual yang akan terus terukir dalam sejarah hidup keduanya.


Namun genggaman pada seprei itu perlahan terlepas, tatkala Axel yang kembali merengkuh tubuh polosnya untuk kembali masuk kedalam dekapannya. Pergerakannya seketika lumpuh saat itu juga. Jantungnya pun terus berdebar-debar tiada terkira.


Tangan Dira meringkuk di depan dada dan mengepal erat. Ia memejamkan mata dan hanya bisa menyembunyikan wajahnya dalam-dalam didada bidang milik suaminya itu. Menyembunyikan rasa malu yang tak berkesudahan.


Mata gadis itu semakin terpejam karena merasakan Axell yang terus mengecup puncak kepalanya. Perasaan yang semakin campur aduk tidak menentu itu seakan membuatnya seperti akan meledak saat itu juga.


'Jadi yang semalam itu... Bukan mimpi?'


Gadis itu lalu memutuskan untuk bangun. Namun kesulitan karena Axell yang memeluknya erat.


"Kak..." Panggil Dira lirih.


"Hm..."


"Kak... Aku mau mandi." Ucap Dira.


"Bentar, yang. Gue masih ngantuk." Jawab Axell masih dengan mata tertutup.


"Kak lepas, aku mau mandi." Ucap Dira lagi.


"Bentar, yang. Lima menit lagi." Jawab Axell masih dengan mata terpejam. Dira menghela nafas pelan. Suaminya ini bukannya melepaskannya, tapi malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Kak, yang mau mandi itu aku. Aku mau sekolah." Rengek Dira frustasi.

__ADS_1


"Emang bisa jalan?" Bukanya melepaskan pelukannya, Axell malah melontarkan pertanyaan yang malah membuat gadis itu bingung sendiri.


"Ha?" Cengo Dira.


Axell lalu terbangun, ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh keduanya.


Cup,


Axell mengecup singkat bibir Dira. "Lo bilang mau sekolah, kan?"


Cup,


Lagi, Axell kembali mengecup bibir Dira. "Emang Lo bisa jalan, yang? Kok gue gak yakin. Bukannya semalem gue gempur Lo habis-habisan, ya. Bahkan kita baru berhenti jam tiga pagi tadi." Ujar Axell sambil menunjukan tiga jari tangannya.


Dira membulatkan matanya mendengar apa yang Axell katakan padanya tadi. Itu benar. Bahkan Dira masih merasakan tubuh bagian bawahnya itu yang perih dan... Sakit.


"Ok, Kalo Lo mau mandi... Tapi kalo sekolah, gue nggak kasih." Ujar Axell lalu bangun dan menggendong Dira menuju ke kamar mandi.


Hampir tiga puluh menit berlalu, kini keduanya sudah selesai dengan urusan mandinya. Axell menggendong Dira yang hanya mengenakan Bathrobe keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di sofa sementara Axell dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Axell lalu berjalan ke lemari untuk mengambil baju ganti untuk dirinya dan juga Dira.


Setelah mengenakan baju santai miliknya, Axell mendekat ke arah Dira dengan sambil membawa baju ganti untuk Dira, lengkap dengan pakaian dalam milik gadis itu.


"Bisa ganti baju sendiri gak, yang? Atau perlu gue pake-


"Nggak. Aku bisa pake sendiri." Potong Dira cepat, membuat Axell terkekeh geli.


"Jangan di manyun-manyunin gitu dong yang, bibirnya. Gue lagi laper. Kalo gue khilaf, gue makan habis 'tuh bibir." Ucap Axell yang kian gencar menggoda Dira.


"Kak Axell!! Ih... Bener-bener, ya!" Protes Dira yang kian kesal.


"Hahaha... Gue turun bentar ambil sarapan. Lo cepetan ganti baju, nanti kita sarapan bareng."


...***...


"Lho, Boy... Kok sendiri? Dira mana?" Tanya Bunda Resty saat melihat Axell yang berjalan ke meja makan dengan tanpa adanya Dira.


Axell menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki itu bingung, jawaban apa yang bisa ia berikan pada orang tuanya. Nggak mungkin kan kalau ia bilang Dira lagi dalam posisi kesusahan berjalan karena habis di garap semalaman. "Di atas, Bun. Lagi gak enak badan." Jawabnya.


"Dira sakit?" Tanya Ayah Marvellyo yang terlihat khawatir.


"Gak, yah. Cuma kecapekan." Jawab Axell.


"Kecapekan?" Ulang Bunda Resty.


Axell menghela nafas pelan sampai akhirnya menjawab, "Akhir-akhir ini Dira banyak kegiatan, Bun." Jelas Axell.

__ADS_1


"Apa perlu kita panggil David?" Tanya Ayah Marvellyo.


"Nggak perlu, yah. Nanti kalo udah istirahat sama minum vitamin pasti juga udah enakan." Axell lalu membalikan piring di meja, mengambil nasi goreng beserta lauknya, tak lupa dengan sendok dan garpu. Lalu segera kembali ke atas. Axell tak ingin berlama-lama di meja makan, bisa-bisa kedua orangtuanya itu akan membombardirnya dengan banyak pertanyaan.


...***...


Sementara itu di kamar Axell, Dira yang sudah selesai mengenakan baju itupun sedang menerima Video call dari teman sekelasnya. Melody.


"Gue gak apa-apa, Mel. Cuma kecapekan doang." Ucap Dira.


"Kirain sakit, Dir. Lo kan kemaren gak masuk. Padahal kemaren 'tuh iya, kak Nayla bilang Lo Dateng ke sekolah. Makanya dia gak percaya pas gue bilang Lo gak masuk." Jelas Melody.


"Itu... Mm... Eh, Mel... Nanti kabarin gue, ya, kalo ada tugas yang mesti di kumpulin besok." Ucap Dira yang berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Melody.


"Kalo itu, sih, Lo tenang, Dir." Jawab Melody sambil mengacungkan jempolnya.


"Ok, Kalo gitu gue-


Cup,


Axell yang tiba-tiba datang dan langsung mengecup singkat pipi Dira itu pun sukses menghentikan apa yang akan Dira katakan. Dan juga, tindakan Axell barusan secara tidak langsung membuat seseorang di seberang sana menganga tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.


"Ayo makan dulu, yang!" Ajak Axell yang sama sekali tak menghiraukan panggilan dari Melody yang masih tersambung.


"Kak-


Cup,


Axell kembali mencium Dira, tapi bukan di pipi, melainkan di bibir. Axell bahkan dengan sengaja menekan tengkuk gadisnya agar semakin memperdalam ciumannya. Tak perduli dengan gadisnya yang pasti akan protes.


"Morning Kiss." Ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Kak-


"Sshht..." Lagi, seakan benar-benar tak membiarkan gadisnya itu untuk protes. Laki-laki itu mengambil alih ponsel dari tangan Dira. Dilihatnya panggilan video itu yang masih tersambung.


"Mel... Apa yang Lo liat barusan, gue minta simpan buat Lo sendiri... Bisa?" Ucap Axell santai. Bahkan Melody sampai terkejut di buatnya. Terkejut dengan sikap Axell yang sangat berbeda dengan yang biasa laki-laki itu tunjukkan jika di sekolah. Dan juga bukan hanya itu, Apa yang ia lihat tadi... Menimbulkan banyak tanya di benak Melody.


'Sedang apa mereka berdua di dalam kamar bahkan sepagi ini? Mereka terlampau mesra untuk ukuran pacaran. Dan juga ini bukan apartemen Dira. Atau mungkin ini... Kamar Dira? Tapi ini desain kamarnya cowok banget. Atau mungkin kamar....'


"Astaga... Kalian-


"Mel, Apa yang Lo lihat dan apa yang Lo ketahui... Entah apapun yang ada di pikiran Lo sekarang, Gue minta simpan buat Lo sendiri. Karena suatu saat, Lo akan tau sendiri kebenaranya. Ok, gue tutup dulu."


Tut...

__ADS_1


Axell langsung memutuskan telpon itu sepihak tanpa memberikan kesempatan pada Melody untuk sekedar bertanya atau mengiyakan permintaannya tadi.


"Kak, kenapa kak Axell kayak gitu tadi?"


__ADS_2