Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
127. Tamu tak diundang 3.


__ADS_3

Setelah pembicaraan serius yang sempat membuat sepasang suami istri muda itu berbeda pendapat, kini keduanya sudah berada di apartemen milik Axell.


Laki-laki itu kini terlihat sedang duduk santai di sofa sambil berbicara dengan Bunda Resty yang sedang menelponnya untuk menanyakan keberadaannya dan Dira sekarang. Sementara Dira, gadis itu tengah membersihkan diri di kamar mandi.


"Iya, Bun. Nanti Axell bilang sama Dira.


"(....)."


"Nanti Axell pulang..." Pandangan Axell beralih menatap pintu kamarnya. "...Dira masih mandi."


"(....)."


"Baik, Bun."


Axell menghela nafas pelan saat telepon seketika terhenti setelah Bunda Resty memutuskan sambungan teleponnya bertepatan dengan Dira yang keluar dari dalam kamar dan berjalan mendekat ke arah Axell.


"Kak Axell mau makan? Atau mau aku bikinin sesuatu?" Tanya Dira pada Axell saat hanya ada keheningan yang menemani keduanya tadi. Tak seperti biasanya suaminya itu lebih banyak diam setelah kejadian tadi.


Axell tak menjawab, laki-laki itu hanya menatap Dira lalu menggelengkan kepalanya.


"Kak Axell belum makan dari tadi, aku inget tadi kak Axell juga gak makan waktu di kantin sekolah." Ucap Dira.


"Aku belum laper." Jawab Axell singkat. Laki-laki itu lalu bangkit dari duduknya, "Aku mau keluar sebentar."


Dengan cepat Dira mencekal pergelangan tangan Axell, "Kak Axell mau kemana? Kak Axell masih marah sama aku soal yang tadi?" Tanya Dira lirih, seketika perasaan bersalah kembali menyelimuti gadis itu.


Axell kembali duduk, tangannya yang terbebas dari cekalan tangan Dira mengusap pelan puncak kepala gadis itu. "Yang, aku emang sempet kesel tadi. Tapi aku terlalu sayang untuk bisa marah sama kamu." Laki-laki itu tersenyum tulus. "Aku cuma mau turun ke apart kamu sebentar, ada sesuatu yang mau aku ambil disana. Kamu mau ikut? Atau ada yang kamu butuhkan?" Tanyanya.


Dira tersenyum, tiba-tiba gadis itu memeluk tubuh Axell dengan erat. "Maaf!"


"Udah, lupain yang tadi. Setelah aku ambil barang dari bawah, kita pulang. Bunda udah nanyain menantu cantiknya." Ucap Axell yang berjalan pergi keluar dari apart miliknya setelah sempat mencium kening Dira sekilas.


...***...


Dira merebahkan diri di sofa yang tadi ia duduki bersama dengan Axell setelah Axell pergi. Terhitung sudah lima belas menit setelah laki-laki itu pergi, tapi belum ada tanda-tanda laki-laki itu kembali.

__ADS_1


"Kak Axell kok lama, ya?" Gumam Dira lirih. "Perasaan tadi bilang cuma sebentar." Sambung gadis itu.


Tiba-tiba, ada seseorang yang datang dan mengetok pintu. Dira mengangkat satu alisnya seakan bertanya, kira-kira siapa yang datang bertamu. Setahu gadis itu selama ia tinggal bersama dengan Axell di apartemen milik Laki-laki itu, jarang ada orang yang datang berkunjung. Kecuali...


"Mungkin kak Verrel... atau kak Bastian." Tebak gadis itu.


Kaki gadis itu pun ringan melangkah mendekat ke arah pintu untuk membukakan pintu tersebut.


Ceklek,


Deg,


Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Dira saat melihat seorang gadis yang juga tak kalah terkejut dengan dirinya. Dira sama sekali tak pernah menduga dengan kedatangan gadis tersebut.


'Dia...'


"Eh... Gue gak salah tempat, kan?" Ucap gadis itu setelah berhasil tersadar dari keterkejutannya. Bahkan ia kembali melihat nomor yang tertera pada bingkai pintu dimana terletak nomor unit yang menjadi tujuannya saat ini. "Bener kok."


Kini pandangannya beralih menatap nyalang ke arah Dira, "Ngapain Lo disini? Xello mana?" Tanya gadis itu dengan nada tak bersahabat.


Gadis itu mendengus kesal, "Ih, ngeselin Lo ya, ternyata. Berani Lo sama gue? Anak baru kemaren sore juga!" Ucap gadis itu mencibir.


"Kenapa gue harus takut? Sesama manusia juga kan?" Tanya Dira lagi lebih berani dan seketika memancing emosi dari gadis tersebut.


Jika dulu Dira diam dengan apa yang gadis di depannya ini katakan padanya, namun sekarang tidak lagi. Dira akan mencoba melawan. Apa lagi ini menyangkut tentang Axell, suaminya.


Gadis yang tak lain adalah Renata Isabella Mahaputri itu seketika meradang setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Dira. Ia maju mendekat ke arah Dira. Dan,


"Akh..." Pekik Dira kesakitan setelah tangan Renata dengan bebas menarik rambutnya kuat. "Lepasin rambut gue!"


Seakan tuli, bukannya melepas tarikan rambut Dira, Renata malah semakin kuat menarik rambut gadis itu. "Kebetulan gue ketemu Lo disini. Gue mau ngasih Lo sedikit pelajaran." Jawab Renata dengan senyum penuh kemenangan.


"Akh... Sakit." Teriak Dira saat Renata semakin kuat menarik rambutnya. Bahkan kulit kepala Dira terasa panas. Dira merasakan sakit seperti mau pingsan saat itu juga.


"Ini buat Lo yang gak mau dengerin peringatan gue!" Ucap Renata setelah kembali menarik rambut Dira semakin kuat. Seakan tak pernah puas dengan apa yang ia lakukan terhadap Dira. Renata kembali melanjutkan aksinya.

__ADS_1


"Dan ini...


Plak...


"Akh..."


"...Buat Lo yang terus-terusan deketin Xello. Dasar bi**h!"


"RENATA!!! STOP!!!" Tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang secara spontan membuat Renata melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Dira. Dan betapa terkejutnya ia mendapati seorang Axell yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Ngapain Lo disini?" Tanya Axell tak sabaran.


"X-Xell-


"Lo apain dia?" Tanya Axell semakin naik darah saat melihat Dira yang meringis kesakitan sambil memegangi rambut dan juga pipinya yang memerah dan sudah dapat dipastikan itu adalah bekas tamparan dari Renata.


Seketika Renata menjadi gugup, ia gelagapan sendiri, "Xell, tadi aku cuma-


"Cuma apa?" Axell melotot tajam dan sukses membuat Renata takut padanya. Pandangannya lalu kembali beralih menatap Dira khawatir, "Yang, kamu di apain sama dia?" Tanya Axell pelan.


Mendengar nada bicara Axell yang begitu khawatir dengan Dira membuat perasaan Renata seketika mencelos, sangatlah berbeda dengan nada saat berbicara dengannya tadi yang terdengar sangat kasar, "Xell-


Dengan cepat, Axell mencengkram kuat pergelangan tangan Renata, Dengan tatapan tajam seakan siap menelan hidup-hidup, Axell kembali mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat Renata jawab, "LO APAIN DIA, GUE TANYA?"


Tak ada jawaban, Axell melihat Renata yang semakin bergetar karena takut. "PERGI LO!" Ucap Axell sambil menghempaskan tangan Renata dan membuat tubuh gadis itu sedikit terpental.


Tak juga meninggalkan apartemen miliknya, Axell kembali menatap Renata tajam, "Lo bener-bener gak tau diri ya, Lo apain dia?" Tanya Axell lagi seakan tak puas.


Renata mencoba memberanikan diri untuk kembali mendekat ke arah Axell, "Xell... aku-" Renata mencoba untuk meraih tangan Axell. Namun dengan cepat laki-laki itu menepisnya dengan kuat. "Xell... Please! Jangan kayak gini!" Renata mencoba untuk menahan bahu Axell.


Namun, Axell dengan segera menghentak bahunya dengan keras sehingga membuat Renata kembali tersentak mundur.


Tidak mau peduli bahkan tidak mau tahu lagi, Axell menarik pergelangan Renata dan membawanya keluar dari apartemen, "Gue peringatin sama Lo, Re. Ini terakhir kali Lo nyentuh dia. SEBELUM KESABARAN GUE HABIS. SEBAIKNYA LO SEGERA PERGI DARI SINI!" Ucap Axell dengan nada tinggi di akhir kalimatnya. Dan,


Brak!!!

__ADS_1


__ADS_2