
"Kak, kenapa kak Axell kayak gitu tadi?" Tanya Dira lirih. Gadis itu tak habis pikir dengan apa yang baru saja Axell lakukan.
"Memangnya kenapa sih, yang? Salah kalo salah satu temen Lo ada yang tau hubungan kita?" Tanya Axell pelan sambil menyelipkan helaian rambut Dira ke belakang telinga gadis itu.
"Aku cuma belum siap ada yang tau status kita?" Jawab Dira lirih.
"Cuma Melody kan? Dia bisa jaga rahasia." Ucap Axell santai.
"Tapi... Kak Axell yakin?" Tanya Dira ragu.
Axell menganggukkan kepalanya. "Percaya sama gue!" Axell lalu meraih Dira agar masuk ke dalam pelukannya.
'Gue sengaja prepare, yang. Gue pengen ada satu temen Lo yang tau status kita sebenarnya. Jadi misal suatu saat Lo benar-benar hamil, temen-temen Lo gak akan mikir macem-macem tentang Lo.'
...***...
"Shitt!" Umpat Axell kesal. Dira reflek menoleh ke arah suaminya. Terbesit tanda tanya tentang apa yang membuat Laki-lakinya itu tiba-tiba kesal hanya karena menerima sebuah telepon.
"Yang..." Panggil Axell yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa, kak?" Tanya Dira bingung.
"Gue gak bisa temenin Lo di rumah, gue harus ke sekolah." Jawabnya.
Dira mengangguk, "Gapapa kak, kan masih ada Bunda." Jawab Dira.
"Tapi gue pengen temenin Lo!" Ucap Axell.
"Kan nanti bisa ketemu lagi." Jawab Dira.
Laki-laki itu menghela nafas mengiyakan apa yang baru saja gadisnya itu katakan. "Kasih gue semangat kalo gitu!" Pinta Axell.
"Semangat?" Beo Dira yang di angguki langsung oleh Axell.
Dira reflek mengangkat satu tangannya. "Semangat!" Ucap gadis itu sambil tersenyum.
Axell menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu." Ucap Axell. Laki-laki itu lalu membungkuk dan,
Cup,
Axell mencium bibir Dira, Melu**tnya sekilas lalu melepasnya. "Begini, cara ngasih semangat suami." Jelas Axell sambil mengusap bibir Dira yang sedikit basah menggunakan jempolnya.
Deg,
Deg,
Deg,
Jantung Dira mendadak berdebar hebat. Ini bukan sekali atau dua kali Axell menciumnya pagi ini. Tapi kenapa jantung Dira seperti habis lari maraton.
Beberapa menit kemudian, Axell sudah siap dengan seragam sekolahnya. Laki-laki itu kembali mendekat ke arah Gadisnya. Tangannya terayun untuk mengusap lembut kepala Dira sambil mengecup singkat kening gadis itu. "Gue pergi dulu, ya! Baik-baik di rumah." Pesan Axell.
__ADS_1
Dira tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Hati-hati!"
Laki-laki itu lalu mengilang di balik pintu. Beberapa menit kemudian, samar-samar Dira mendengar suara mesin motor yang menggema dari garasi. Gadis itu lalu berjalan menuju balkon dan benar saja, sebuah motor Sport warna hitam keluar dari pintu gerbang rumah keluarga Marvellyo dengan seorang Axell di atasnya.
Dapat dengan jelas Dira lihat, motor itu melesat dengan cepat menjauh dari komplek perumahan Royal palace.
"Kak Axell pake motor?"
...***...
"Dira gak masuk lagi?" Pertanyaan sedikit ngegas yang keluar dari mulut Nayla. Gadis itu baru saja datang di kantin dan langsung duduk bergabung dengan Melody dan juga Zaki.
"As you can see." Ucap Zaki santai. Laki-laki itu sedang menyesap jus jeruk kesukaannya. "Bisa gue tebak, Junjungan Lo pasti juga gak masuk." Tebak Zaki.
Sementara Melody, gadis itu hanya diam. Ia tak ingin banyak bicara dan malah mengatakan hal yang tidak perlu ia katakan.
Nayla menggelengkan kepalanya, "Masuk dia." Jawab Nayla malas. "Eh... Mel, Si Dira ada telpon Lo, nggak?"
"Emm.. pagi tad-
"HALLO EPERIBADEH!" Pekik Bastian yang tiba-tiba muncul, bersama dengan Axell dan juga Verrel.
"Panjang umur." Celetuk Zaki saat pandangannya bertemu dengan Axell.
Sementara Axell, seperti biasa. Ia hanya menampilkan kesan cuek dan dingin dan itupun tak luput dari perhatian Melody. Diam-diam gadis itu memperhatikan Axell sekarang.
Gadis itu masih mengingat dengan jelas kejadian pagi tadi. Dimana Axell yang menunjukkan sisi lain yang ada pada dirinya. Sifat yang begitu berbeda jika hanya sedang bersama Dira dan saat sedang berada di sekolah. Dan juga, kejadian saat Dira yang tiba-tiba hilang entah kemana, Axell kembali menunjukkan sifat yang tak biasa, laki-laki itu bisa tiba-tiba meledak dan itu juga karena Dira. Betapa Dira membawa pengaruh besar dalam kehidupan Axell.
"Lah emang si bidada- ... Eh, Sorry, Xell. Maksud gue si Dira, gak masuk?" Ucap Bastian yang hampir salah menyebut Dira dengan sebutan bidadari.
"Tumben, biasanya Lo berdua kan kompak?"
Tak menjawab, Axell malah mendengus kesal. Lalu merogoh ponsel dari saku celananya dan mengutak-atik benda pipih itu. 'Kira-kira Dira lagi ngapain, ya?'
Axell lalu mengetikan pesan untuk gadisnya,
^^^📤 Axarkan.^^^
^^^Yang.^^^
^^^Lagi ngapain?^^^
Send,
5 menit berlalu, tapi Axell tak kunjung menerima pesan balasan dari Dira. Laki-laki itu lalu bangkit, ia memutuskan untuk pulang dan menemui gadisnya.
"Lah... Mau kemana, Xell?" Tanya Bastian kepo.
"Cabut." Jawab Axell singkat, bahkan tanpa menoleh sedikit pun.
"Lanjut deh, Xell. Gue dukung Lo!" Ucap Bastian sedikit berteriak. Bastian tahu apa yang sedang terjadi. Laki-laki itu masih memikirkan tentang kejadian kemarin, dimana Dira yang tiba-tiba dibawa pergi Axell karena laki-laki itu memergoki istrinya yang sedang menemui sahabatnya. 'Si Dira pasti beneran di garap sama si Axell.'
__ADS_1
"Ngomongin apaan sih, Bas?" Tanya Nayla penasaran.
"Ada hal yang gak gue tau?" Timpal Verrel.
"Rahasia perusahaan, Brodie."
...***...
Saat Axell berjalan menuju parkiran sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang dengan sengaja mencekal tangannya.
Langkah Axell seketika terhenti. Laki-laki itu menoleh dan mendapati Renata yang sedang berdiri di sampingnya.
"Lepas!" Suara datar yang keluar dari mulut Axell.
"Xell, gue mau ngomong bentar sama Lo!" Balas Renata masih dengan tangan yang tak lepas dari Axell.
"Gue bilang, Lepasin tangan gue!" Ucap Axell tak mau di bantah.
"Xell, Please. Bentar aja. Kita perlu bicara." Ucap Renata memohon.
Axell menghempaskan tangan Renata yang masih bertengger di pergelangan tangannya dengan kuat. Dan dengan sekali hentak, cekalan tangan Renata itu pun seketika berhasil terlepas dari tangan Axell.
Laki-laki itu menarik satu sudut bibirnya mengingat kalimat terakhir yang barusan Renata ucapkan. "Kita? Gue gak salah denger kan tadi? Lo bilang kita?" Tanya Axell meyakinkan apa yang di dengarnya tadi.
Renata mengangguk, membenarkan apa yang Axell dengar memang tidak salah.
"Jangan pernah pake kata KITA antara Lo dan gue, karena kata itu udah gak seharusnya ada." Jawab Axell datar, mendengar kata kita yang keluar dari mulutnya barusan, entah mengapa Axell menjadi geli sendiri.
"Xell, gue perlu ngomong sama Lo." Ucap Renata memelas.
"Re, cukup! Gak ada yang perlu di omongin lagi. Antara Lo sama gue... Semuanya sudah lama berakhir dan gue minta, Stop ganggu hidup gue lagi." Ucap Axell penuh penegasan dan tanpa membuang waktu lagi, Axell kembali melanjutkan langkahnya tanpa berniat menunggu apa yang akan Renata katakan.
"Xell...! Xello...!" Panggil Renata setengah berteriak, berharap Axell akan mendengarnya, tapi bukannya berhenti, Axell malah semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Renata.
Bukan Renata namanya kalau mudah sekali menyerah. Gadis itu bahkan berjalan mendekat ke arah Axell.
"Xello, Stop." Pekik gadis itu.
Berhasil. Axell memang berhenti, tapi enggan berbalik untuk menoleh sedikit pun.
"Lo berubah, Xell. Sikap Lo berubah ke gue. Sebelumnya Lo gak kayak gini. Dan gue tau, pasti ini gara-gara cewe murahan itu kan? Pasti ja**ng itu yang udah ngerubah Lo. Iya, kan?" Ujar Renata penuh selidik.
Axell mengepalkan kedua tangannya, Mendengar kata tak pantas yang di tujukan pada gadisnya tadi seketika emosinya meluap, bahkan darahnya seakan mendidih saat itu juga.
Dira, Istrinya, gadisnya itu terlampau polos. Bahkan Axell yakin betul, ialah laki-laki pertama yang menyentuh gadisnya. Bahkan Axell masih bisa mengingat, dimana gadisnya itu begitu kaku saat ia pertama kali menciumnya. Dan sekarang, ada orang yang bahkan dengan seenaknya menyebut gadisnya itu ja**ng. Benar-benar kelewatan.
"Lo bilang apa barusan?" Tanya Axell datar.
"Cewe Lo, Ja**ng!" Hardik Renata tanpa rasa berdosa sedikit pun. "Dia itu gak pantas buat Lo, Xell."
"Oh... Iya? Terus cewek yang seperti apa yang pantes buat gue? Yang kayak Lo...?"
__ADS_1