Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
130. Khawatirnya Axell.


__ADS_3

Jam istirahat sedang berlangsung setelah bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan disinilah Zaki sekarang, Sedang menikmati nasi goreng dan juga es jeruk seorang diri di kantin tanpa adanya Melody dan juga... Dira.


"Lo sendirian aja, Zak? Dira sama Melody mana?" Tanya Nayla yang baru saja memasuki kantin bersama dengan Verrel dan juga Bastian. Gadis itu nampak menoleh ke setiap sudut kantin dan tak mendapati adanya Dira di kantin tersebut.


Tak menjawab, Zaki hanya mengangkat kedua bahunya acuh sambil menikmati makanannya.


Plak!!!


"Auw... sakit, Nay! Lo jadi cewe kasar banget, sih!" Protes Zaki saat setelah Nayla memukul punggungnya.


"Abisnya Lo... Gue kan nanya, Dira mana?" Tanya Nayla lagi.


Zaki berdecak kesal, "Ck, gue gak tau Nayla! Tadi si Dira keluar kelas pas pelajarannya Bu Retno, terus gak balik lagi." Jawab Zaki malas.


"Sama siapa? Sama Axell?" Tanya Nayla dengan nada tak suka. Nayla mengira jika Dira meninggalkan kelas karena Axell yang mengajaknya seperti yang pernah Axell lakukan beberapa kali.


Zaki menggelengkan kepalanya, "Sama ayang beb gue!" Jawab Zaki lalu menyeruput minumannya.


"Ya udah lah, Beib. Kita makan aja dulu!" Sahut Verrel pada Nayla yang mendapat anggukan kepala oleh gadis itu.


Sementara Bastian ia nampak kebingungan mencari seseorang, "Eh Rel, si Axell mana? Bukannya tadi bareng kita kesini?" Tanya Bastian pada Verrel.


"Paling lagi di ruang OSIS." Jawab Verrel asal.


"Gue berani taruhan. Pasti junjungan Lo pada lagi nyari si Dira juga!" Sahut Zaki. "...Gue tadi liat dia gak jadi masuk kantin karena mungkin udah ngeliat si Dira gak ada duluan." Lanjut laki-laki itu.


...***...


Ceklek...


Pintu ruang UKS terbuka dan tanpa menunggu waktu lama, Axell langsung masuk kedalamnya. Laki-laki itu berjalan pelan karena tak ingin mengganggu seseorang yang tengah beristirahat di dalamnya.

__ADS_1


"Biar gue yang jaga Dira, Lo boleh pergi!" Ucap Axell lirih pada Melody.


Melody menganggukkan kepalanya mengerti dan beranjak dari duduknya meninggalkan Axell dan juga Dira di UKS.


Sebelumnya, laki-laki itu berjalan beriringan menuju kantin dengan Bastian, Verrel dan jangan lupakan Nayla. Tapi Axell mengurungkan niatnya memasuki kantin tersebut karena tidak mendapati gadisnya itu di sana, jadilah ia menghubungi ponsel Dira dan betapa terkejutnya saat Melody yang menerima telepon tersebut dan mengatakan kalau Dira tengah beristirahat di UKS sekarang ini.


"Kalo sakit kenapa gak bilang aku sih, yang?!" Lirih Axell sambil mengusap pelan rambut Dira. Laki-laki itu menyadari wajah gadisnya yang terlihat sedikit pucat.


'Kamu udah berhasil bikin aku sayang banget sama kamu, Dira. Kalo aku sampe kehilangan kamu... Aku gak tau apa yang bakal terjadi sama diri aku!' Ucap Axell dalam hati.


Cup,


Axell mengecup kening Dira lama, seakan menyalurkan rasa sayang yang begitu mendalam ia rasakan pada gadis itu.


Ceklek...


Tiba-tiba, pintu ruang UKS terbuka dan menampilkan Nayla di balik pintu, disusul dengan Verrel dan juga Bastian yang mengekor di belakangnya.


Axell mengrutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi ia bisa lupa berpesan pada Melody agar tidak memberitahu Nayla jika Dira sedang berada di UKS saat ini.


"Dira kenapa?" Tanya Nayla.


"Gue gak tau." Jawab Axell tanpa menoleh ke arah Nayla.


"Gak tau? Lo kan pacarannya?!" Ucap Nayla mencibir.


Axell menoleh ke arah Nayla, di tatapnya wajah gadis itu dengan tatapan tajam menusuk, "KALO LO MAU NGAJAK BERANTEM, SEENGGAKNYA JANGAN DISINI. KELUAR LO!" Ucap Axell pelan tapi dengan penekanan di setiap kata-katanya dan itu sukses membuat Nayla bungkam seketika. Lebih baik diam dari pada di usir kan?


Nayla kini memilih duduk di ruang tunggu yang terletak di sudut ruangan. Ditemani Verrel yang ikut duduk di sampingnya.


"Lo kenapa sih, Beib? Gue perhatiin... kenapa Lo sekarang kek jadi setengah musuhan gitu sama Axell? Bukannya Lo pernah bilang, entah itu Axell atau pun Arfen, Lo gak bakal masalah sama siapa yang jadi pacarnya si Dira?" Tanya Verrel pelan, tapi masih bisa di dengar oleh telinga Axell.

__ADS_1


"Tanpa gue kasih tau, lo harusnya ngerti jawaban gue, Rel!" Jawab Nayla.


Verrel mengangguk mengerti, laki-laki itu ingat betul saat Nayla mengatakan kalau Axell seperti membawa pengaruh buruk untuk Dira. Axell seperti bisa membuat Dira begitu penurut pada Axell. Dan juga, Nayla khawatir dengan gaya pacaran keduanya yang terkesan terlalu intens. Nayla hanya tak ingin jika keduanya sampai kebablasan dalam hal berpacaran. Itu sebenarnya yang Nayla pikirkan saat ini.


"Tapi gue percaya sama Axell. Dia gak mungkin sampai melewati batasannya." Ucap Verrel mengatakan apa yang sedang ia pikirkan.


Bukannya membuat Nayla tenang dan merasa lebih baik, entah mengapa mendengar apa yang Verrel katakan barusan seakan sukses mematik api pada diri Nayla.


Gadis itu pun menatap Verrel tak suka, "Lo bisa bilang gitu karena dia sahabat Lo! Mana ada sahabat yang ngejelekin sahabatnya sendiri?" Protes Nayla.


"Tapi coba lo liat Axell, Beib! Dengan mengesampingkan dulu rasa gak suka Lo itu! Ngeliat Dira yang kayak gitu, bisa Lo liat betapa khawatirnya Axell? Itu tandanya Axell beneran sayang sama Dira. Coba Lo ingat-ingat! Pernah gak, Axell sebegitu sayangnya sama cewe? Lo bandingin waktu Axell sama Rere! Jauh banget gak, sih?" Ucap Verrel yang berusaha mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya itu.


Dalam hati, Nayla membenarkan apa yang Verrel katakan. Nayla bisa melihat, Axell yang... Benar kata Verrel, Nayla bisa melihat dengan jelas, terlihat guratan kekhawatiran yang sangat ketara dari wajah Axell saat ini.


"Si ibu negara kita kenapa, Xell?" Tanya Bastian yang kini mendekat ke arah Axell untuk melihat keadaan Dira lebih jelas. Laki-laki itu enggan menyimak sepasang kekasih yang sepertinya sedang bersitegang saat ini.


Axell menggeleng pelan, "Gue juga gak tau, Bas. Pas gue telepon Dira, Melody yang angkat dan bilang kalo Dira lagi disini." Jawab Axell tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari Dira.


Bastian mengangguk mengerti, "Jadi itu yang bikin Lo gak jadi ke kantin tadi?" Tanya Bastian lagi.


Axell mengangguk, "Kayaknya gue harus telepon Om David buat mastiin keadaannya Dira!" Putus Axell. Laki-laki itu lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan mencari kontak Om David.


Tapi, belum sempat Axell menekan tombol panggil, terdengar suara lenguhan dari Dira. Sepertinya, gadisnya itu akan bangun. Dan benar saja,


"Kak Axell... Kok kak Axell bisa ada di sini?" Tanya gadis itu setelah benar-benar membuka matanya dan mendapati Axell yang duduk tepat di samping brankar yang ia tempati sekarang.


Bukannya menjawab apa yang Dira tanyakan, Axell malah melontarkan pertanyaan pada Dira. "Kenapa gak bilang kalo kamu lagi gak enak badan sih, yang?! Hm? Sengaja ya mau bikin aku khawatir!" Ucap Axell pelan.


Dira tersenyum mendengar apa yang Axell katakan. Gadis itu lalu duduk dan meraih tangan Axell untuk ia genggam. "Aku gapapa kok, kak. Mungkin cuma salah makan aja tadi." Jawab gadis itu pelan


"Aku telepon Om David ya, yang? Atau kita ke rumah sakit aja? Aku khawatir banget sama kamu!"

__ADS_1


__ADS_2