
"Ayo, yang. Pak Septa udah nunggu kita di bawah." Ajak Axell pada istrinya itu. Tak ada jawaban, Dira masih diam. 'Kita?'
Axell menghela nafas panjang. Merasa Dira yang tak kunjung bersiap, laki-laki itu kembali membuka lemari, mengambil satu Hoddie lagi dan memberikannya pada Dira. "Bukanya istri itu harus ikut kemana suaminya pergi, ya?" Ucap Axell saat menyerahkan Hoddie tersebut pada Dira. Lalu,
Tuk,
Axell dengan sengaja menyentil pelan kening gadisnya.
"Auw..." Pekik Dira sambil mengelus dahinya. "Kak Axell kenapa nyentil jidat aku!" Protes Dira.
"Bukanya gue udah bilang kemaren, kalo ngajakin Lo tinggal di rumah? Lo lupa?"
...***...
Sesuai dengan apa yang di katakan Axell kemarin. Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Marvellyo dengan di antar oleh pak Septa, Supir sekaligus asisten pribadi dari Ayah Marvellyo.
Axell duduk di kursi penumpang dengan Dira yang duduk di sampingnya, sementara pak Septa yang mengemudikan mobil. Axell nampak memejamkan matanya. Terlihat laki-laki sudah tertidur sejak lima menit yang lalu. Sementara Dira, ia nampak sesekali mencuri pandang pada laki-laki di sampingnya itu.
'Ini kak Axell kok aneh, ya? Gak biasanya minta di supirin gini?'
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang di tumpangi Axell dan Dira pun sudah memasuki pintu gerbang rumah keluarga Marvellyo. Mobil seketika berhenti dan nampak pak Septa turun untuk membukakan pintu untuk Dira dan Axell keluar dari mobil.
Melihat Axell yang masih tertidur, Dira dengan pelan mencoba membangunkan suaminya. "Kak, bangun! Kita udah sampai." Ucap Dira pelan sambil menggoyangkan pundak Axell.
"Kak Axell..." Ulang Dira karena laki-laki di sampingnya ini tak kunjung bangun. "Kak." Panggil Dira lagi.
"Hm. Lo keluar duluan!" Lirih Axell yang kini mulai bangun.
Dira keluar duluan lalu di susul Axell setelahnya. Keduanya kini berjalan beriringan memasuki rumah dan langsung di bukakan pintu oleh Bi Irah. "Malam Den Axell, Non Dira." Sapa Bi Irah.
"Malam, bi." Jawab Axell dan Dira ramah.
"Bunda dimana, Bi?" Tanya Axell pada pembantunya itu.
"Ada, Den, di ruang tengah kayaknya. Kalo bapak masih di luar kota." Jawab bi Irah.
"Ya sudah bi, makasih." Jawab Axell dan kini langsung berjalan dan langsung bertemu dengan bunda Resty yang sedang duduk santai di sofa depan TV.
"Assalamualaikum, Bunda." Sapa Axell yang kini meraih tangan Bunda Resty untuk ia cium.
"Walaikumsalam... Loh, Boy, Dira... Kalian pulang." Sapa bunda Resty ramah sembari mengulurkan tangannya pada Axell dan Dira secara bergantian.
"Bunda gimana kabarnya? Sehat?" Kini giliran Dira yang mencium tangan Bunda Resty.
__ADS_1
"Bunda sehat, sayang. Menantu cantik Bunda juga sehat, kan? Kalian sudah makan?" Tanya Bunda Resty.
"Sudah, Bun" Jawab Axell dan Dira yang nyaris bersamaan.
Axell menoleh ke arah Dira, "Lo masuk kamar duluan, dan langsung istirahat!"
"Tapi kak-
Mendengar Dira yang sepertinya akan mengeluarkan kalimat bantahan, Axell langsung menatapnya dengan tatapan datar. Dira yang mengerti maksud dari tatapan Axell pun langsung menurut.
"Aku ke atas dulu ya, Bun." Pamitnya pada sang mertua.
"Iya, kamu istirahat dulu sayang." Titah Bunda Resty pada menantunya itu. Wanita paruh baya itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat interaksi antara Axell dan Dira tadi.
Setelah Dira menghilang di ujung tangga, bunda Resty kembali menoleh ke arah putranya. "Kamu jangan keras-keras sama istri kamu, Boy!" Ujar Bunda Resty sembari mencubit pelan pinggang Axell.
Axell yang tadinya duduk itupun kini mengubah posisinya menjadi berbaring dan berbantalkan pangkuan Bunda Resty. "Axell gak keras, Bun. Cuma tegas, Dira susah di bilangin soalnya."
Bunda Resty kembali menggelengkan kepalanya. "Boy, apa kamu sudah punya kabar baik buat Bunda?"
...***...
Sementara di kamar Axell, Dira yang baru selesai mandi itu kini memutuskan untuk segera tidur. Tapi, baru saja ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba Dira merasa haus. Gadis itu pun kini beranjak turun dari ranjang. Ia memutuskan bangun untuk kembali turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum di dapur.
"Belum, Bun." Ucap Axell.
"Kalian sengaja menunda?" Tanya bunda Resty sembari memijat kepala putranya itu.
"Ya gimana, Dira kayaknya belum bisa terima Axell sebagai suaminya, Bun." Jawab Axell sambil memejamkan matanya. Laki-laki itu kini sedang memejamkan matanya di pangkuan Bunda Resty sembari menikmati pijatan Bunda Resty di kepalanya.
"Kamu jahatin menantu Bunda, ya? Sampai menantu Bunda susah suka sama kamu?" Tanya Bunda Resty asal.
Axell langsung membuka matanya setelah mendengar apa yang Bunda Resty katakan, "Gak kok, Bun. Bunda kok ngomongnya gitu? Selama ini Axell selalu bersikap baik sama Dira. Ya mungkin ada sifat dari Axell yang gak Dira suka, Tapi Axell lakuin itu untuk kebaikan Dira... Axell sayang sama Dira, Bun."
Bunda Resty tersenyum mendengar apa yang putranya itu katakan. "Boy, selain cucu... Boleh bunda minta sesuatu?"
"Apa, Bun?" Tanya Axell cepat. Laki-laki yang amat sangat menyayangi bundanya itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Selalu jagain menantu cantik Bunda ya, Boy!" Pinta bunda Resty pada Axell.
"Tanpa bunda minta pun, Axell pasti lakuin, Bun. Dira istri Axell, Tanggung jawab Axell, dan juga... Axell juga udah cinta sama Dira, Bun."
...***...
__ADS_1
Dira kini tengah duduk di tepi ranjang sambil memegangi dadanya, merasai jantungnya yang terus berdebar-debar sejak ia tak sengaja mendengar sedikit percakapan dari suami dan ibu mertuanya.
Dira yang tadi ingin ke dapur untuk mengambil air minum seketika mengurungkan niatnya dan lebih memilih kembali ke kamar. Untuk kesekian kalinya, Dira mendengar ungkapan perasaan dari laki-laki yang sudah berstatuskan suaminya itu.
"Axell sayang sama Dira, Bun"
"Axell juga udah cinta sama Dira, Bun."
Entah mengapa, dua kalimat yang Dira dengar dari mulut Axell kini terus terngiang-ngiang di benak gadis itu. Secinta dan sesayang itukah Axell padanya? Entahlah,
Cukup lama Dira bergelut dengan pemikirannya sendiri, Sampai-sampai gadis itu tidak menyadari pintu kamar telah di buka oleh seseorang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Axell yang baru saja masuk dan sukses mengejutkan Dira.
"Kak Axell ngagetin!" Protes Dira.
Tak menjawab, Axell hanya menarik satu alisnya, seakan bertanya kenapa?
"Aku mau ambil minum, kak." Ucap gadis itu lalu turun dari ranjang.
Setelah Dira menghilang di balik pintu, Axell kini merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memijat pelipisnya, kepalanya semakin sakit. Axell lalu memutuskan untuk segera tidur. Tak lama kemudian, Dira kembali masuk sambil membawa segelas air dan meletakkannya di atas nakas dekat suaminya. Lalu bergabung dengan Axell yang sudah mulai tertidur.
...***...
Pukul satu dini hari, Dira terbangun dari tidurnya karena merasa terusik dengan suara gumaman lirih dari seseorang di sampingnya.
Dira mengerutkan keningnya saat tahu Axell yang tengah menginggau. Tangan Dira bergerak untuk membangunkan suaminya itu. Tapi pada saat tangan putih Dira menyentuh pipi Axell, tiba-tiba mata Dira membulat dengan sempurna.
"Panas." Desahnya saat setelah menjauhkan tangannya dari pipi Axell. "Kak Axell demam."
Gadis itu lalu bangkit dan berjalan keluar. Ia akan ke dapur untuk mengambil baskom berisikan air hangat, dan handuk kecil. Dira akan mengompres dahi Axell.
Dira kembali ke dalam kamar dengan membawa baskom dan meletakkannya di nakas. Dengan cekatan Dira mengambil kain basah dari dalam baskom itu dan memerasnya, ia letakkan kain lembab hangat itu pada kening Axell.
Axell yang merasakan ada kain lembab di dahinya pun perlahan membuka matanya, dan mendapati Dira yang duduk di tepi ranjang sambil menghadap ke arahnya.
"Kok gak tidur? Ini jam berapa?" Tanya Axell dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku baru bangun. Kak Axell demam." Ujar Dira.
"Gue gak apa-apa. Lo lanjut tidur lagi!" Ucap Axell lalu menggeser tubuhnya untuk ke tengah-tengah ranjang. "Sini." Pinta Axell sambil menepuk bantal di sampingnya. Laki-laki itu ingin Dira kembali tidur di sampingnya.
"Tapi kak Axell lagi demam, aku mau ngompres kak Axell dulu, sampai suhunya turun." Jawab Dira.
__ADS_1
"Gue gak butuh di kompres, Dira... Yang gue butuh itu Lo."