Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
20. Telepon dari papa Dira.


__ADS_3

Dira tengah men-scroll akun Instagramnya. Setelah tadi Nayla pulang dan Axell yang beberapa menit yang lalu mengembalikan ponselnya. Dira tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya meletakkan ponselnya di sembarang tempat bahkan meninggalkannya begitu saja.


Dira ingat betul tadi saat Nayla memintanya untuk bernyanyi dan memainkan gitar, Nayla sempat mengunggahnya lewat laman Instragram. dia menjadi penasaran dengan komentar dari teman-temannya tersebut.


Disukai @verrel.gan dan 1.0**80 lainnya**.


@orion.ptr93 seketika hanyut gue sama @andira.pra25


@babas.tian anjirr, bidadari gue...😍


@zaki.ganteng @andira.pra25 diem-diem mendem bakat ... gila anjirrrr ...


@verrel.gan lagi pada dimana??? @nayla.nayku & @andira.pra25


@arfen.ars32 share lokasi @andira.pra25 @nayla.nayku gue mo nyusul.


@my.melody aaaaaaa... gue gak diajak ... kejamnya @andira.pra25 @nayla.nayku


Setelah membaca beberapa tanggapan dari teman-temannya Dira hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak mau ambil pusing, Dira memilih untuk tidur karena waktu memang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


...***...


Keesokkan paginya Dira sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Saat di jalan dekat sekolah, Dira bertemu dengan Arfen yang sengaja menghadang jalannya.


Melihat ada Arfen di depan mobilnya membuat Dira keluar dari mobil dan menghampiri Arfen.


"Morning Cantik." Sapa Arfen dengan senyum tampannya sambil memberikan dua batang coklat besar untuk Dira.


"Morning to, Arfen." jawab Dira sambil menerima coklat pemberian dari Arfen.


"Boleh gue tanya sesuatu?" Tanya Arfen. Dira mengernyitkan dahinya bingung. bukanya menjawab Dira malah tanya balik "Ada apa?".


"Lo lagi marah sama gue, ya?" tanya Arfen yang mendapat gelengan kepala dari Dira.


"Atau gue gak sengaja bikin salah sama Lo?" Tanya Arfen lagi. Dira kembali menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada Arfen. Lo aneh deh. Kenapa sih, tiba-tiba nanya gitu?" Ucap Dira yang merasa ada sesuatu yang aneh dengan Arfen.


Arfen menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya kembali bertanya pada Dira. "Ya kalo gitu, kenapa nomor gue di Block, sih?" Tanya Arfen pelan.


"Apa?" Tanya Dira yang seperti tak mendengar apa yang Arfen tanyakan padanya tadi.


"Kenapa nomor gue di blockir, Dira? Tanya Arfen lagi.


"Gue gak ada blockir nomor Lo, Ar." Jawab Dira apa adanya. "Kalo Lo nggak percaya, Lo boleh lihat sendiri!" Sambung Dira sambil mengambil ponselnya dari dalam tas sekolah.


"Kalo gak di block, kenapa kemaren waktu Lo sama Nayla, gue telpon nomor Lo nggak bisa?"


"Masa' sih?" Tanya Dira gak percaya sambil mengutak-atik ponselnya.


"Kemaren ponsel gue ketinggalan di mini market, terus malemnya ada yang balikin." Jelas Dira.

__ADS_1


"O... gitu. Siapa yang balikin? Gue sempet telpon terus yang angkat cowo." Ucap Arfen.


"Ada, orang. Tapi aku gak kenal." Jawab Dira bohong. Bukan Dira tak ingin jujur, tapi Dira hanya tak ingin nanti ada perselisihan dari Arfen dan juga kakak kelasnya, Axell. Ya, Dira mengira mungkin ini ulah dari Axell.


"Ya udah, kalo gitu. Udah clear. Jangan di block lagi!" Ucap Arfen sambil melihat jam tangannya. "Udah hampir jam tujuh, sekolah gih. Telat nanti!" Suruh Arfen pada Dira.


Dira menganggukkan kepalanya dan berbalik menuju mobilnya. Arfen dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Dira.


"Jangan ngebut, udah Deket kok. Nanti gue telpon." Ucap Arfen sambil tersenyum penuh arti.


"Iya, Lo juga cepetan ke sekolah. Nanti telat di hukum Lo?" Ucap Dira mengingatkan.


Arfen dan Dira kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah masing-masing tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya dari kejauhan.


...***...


Di Kantin sekolah Dira, Nayla dan Melody kini tengah menikmati makan siang bersama. Ketiganya tengah makan sambil sesekali bercanda dan tertawa, entah apa yang di bahas selalu ada yang bisa membuat ketiganya tertawa. Sampai datanglah tiga cowok yang bergabung dengan ketiganya. Siapa lagi kalau bukan Axell dkk.


"Hay bidadari." Sapa Bastian pada Dira.


"Hai, kak Bastian." Jawab Dira sambil melanjutkan kembali makannya.


"Kamu nggak makan, Beib?" Tanya Nayla pada Verrel yang kini duduk di sampingnya.


"Baru pesen gue, bentar juga datang pesanannya." Jawab Verrel sambil meraih minuman Nayla dan meminumnya. Jangan tanyakan Axell. Seperti biasa, Axell hanya akan bersuara jika ada yang bertanya padanya.


"Eh, Dir, kemaren Lo sama kak Nayla lagi dimana, sih?" Tanya Melody yang teringat tentang Dira dan Nayla kemarin.


"Oh... iya... gila... parah Dira... ternyata Lo jago nyanyi ya! Emang paket komplit deh, bidadari gue." Celetuk Bastian kagum sambil menggelengkan kepalanya di sertai tepuk tangan yang menarik perhatian dari semua murid yang ada di kantin. Hal itu pun membuat Axell kesal dan melempari Bastian dengan tutup saus sambal yang terletak di meja kantin. dan...


"ADUH!!" Pekik Bastian yang mengelus jidatnya. "Kira-kira dong, Xell!" Protes Bastian tak terima setelah tahu kalau yang melempar tutup saus tadi adalah Axell, langsung Bastian melayangkan protes pada sahabatnya yang irit bicara tersebut.


"BERISIK!" Balas Axell datar penuh dengan intimidasi.


"Gue kan cuma menyampaikan apa yang gue rasain. Lagian emang bener kan, bidadari gue sesempurna itu. Lo aja yang nggak tahu." Cibir Bastian.


"Terserah Lo." Jawab Axell malas.


Drrtt... drrtt...


📲 Papa is Calling...


"Siapa, Dir?" Tanya Nayla. Tanpa menjawab, Dira langsung menunjukkan ponselnya sekilas pada Nayla dan langsung menerima panggilan dari Papa Pras.


"Hallo, Pa."


"(....)."


"Bisa kok, Pa. Emangnya, ada apa ya, Pa?"


"(....)."

__ADS_1


Tring...


Mendengar sesuatu yang baru di sampaikan oleh Papa Pras, seketika membuat Dira lemas dan menjatuhkan sendok makan yang tengah yang dipegangnya ke lantai.


"Lo Kenapa, Dir?" Tanya Nayla dan Melody bersamaan.


"Ada apa?" Tanya Verrel ikut menimpali.


"Dira, Lo kenapa? Kenapa sama Bokap Lo?" Tanya Bastian tak kalah khawatir. Sementara Axell, dia hanya menatap Dira seakan menunggu apa yang akan Dira katakan.


Mendengar suara Papa Pras yang masih terus memanggilnya membuat Dira kini tersadar dan kembali melanjutkan percakapannya dengan Papa Pras.


"Iya, Pa. Dira gak apa-apa kok."


"(....)."


"Ok, Pa. Dira tutup dulu."


Tuutt...


Dira memutuskan telepon itu sepihak, dan melihat ekspresi dari teman-temannya yang ternyata memperhatikannya sejak tadi.


"Dira, are you okay?" Tanya Nayla pelan. Nayla tahu, pasti ada sesuatu dengan sahabatnya itu.


Enggan menjawab, Dira malah menatap satu persatu wajah teman-temannya sampai akhirnya dia bangkit dan pergi meninggalkan kantin.


"Dira kenapa, sih?" tanya Melody.


"Kamu tahu sesuatu, Beib?" Tanya Verrel pada Nayla yang hanya mendapat gelengan kepala dari gadis itu.


"Bidadari gue, kek sedih gitu gak sih, mukanya tadi? Kalian merhatiin gak?" Tanya Bastian.


"Kita susulin Dira yuk, kak!" Ajak Melody khawatir.


"Biarin Dira sendiri dulu, nanti kita tanya pelan-pelan." Jawab Nayla.


"Iihhh... Kok gitu sih, kak? Lo nggak liat tadi?" Protes Melody tak terima.


"Justru karena gue lihat. Gue kenal Dira udah lama, Mel. Kita kasih dia waktu bentar. Nanti kita tanya pelan-pelan, ada apa?" Ucap Nayla memberi pengertian. "Kalau kita kejar dia sekarang, yang ada nanti Dira malah semakin bungkam." Tambahnya.


Mendengar jawaban dari Nayla membuat Melody berpikir sejenak. Mungkin benar apa yang di katakan oleh Nayla tadi.


"Gue khawatir, deh, sama Dira." Ucap Melody.


"Gini aja, kita susulin Dira pelan-pelan. Jangan sampai Dira tahu." Ucap Nayla pelan.


Belum sempat Melody menjawab, Bastian yang sedari tadi mendengarkan keduanya pun kini membuka suara. "Ok, gue ikut." Ucap Bastian menimpali.


"Eits... Lo diem disini. Ini urusan cewek." Balas Nayla cepat menghentikan langkahnya Bastian.


"Ck. Si Nayla, Nggak asik Lo. Gue juga khawatir kali sama Bidadari gue." Protes Bastian tak terima.

__ADS_1


"Udah diem, Bas, Sekali-kali nurut aja napa?" Ucap Verrel menengahi.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Axell kembali memperhatikan segala gerak-gerik Dira bahkan sampai gadis itu pergi menghilang dari pandangan matanya.


__ADS_2