
Dira sedang memasak sore ini. Gadis itu tengah berkutat dengan alat dapur di bantu dengan Bi Irah yang sedang memotong beberapa sayuran.
"Bi, kak Axell kalo di rumah sukanya makan apa ya?" Tanya Dira pada Bi Irah.
"Den Axell gak pernah pilih-pilih makan, non. Semua makanan den Axell makan, yang penting gak pedes aja, non. Soalnya... Den Axell gak bisa makan pedes dari kecil, pasti langsung sakit perut." Jawab bi Irah yang kini sedang beralih mencuci beberapa peralatan bekas memasak tadi.
Dira menganggukkan kepalanya mengerti, memang di awal menikah Axell sempat memberitahunya tentang hal itu. Dengan apa yang bi Irah katakan tadi, Dira dapat menyimpulkan kalau wanita paruh baya yang sedang membantunya memasak saat ini sudah bekerja sedari lama, sejak Axell kecil.
Saat Dira tangah asyik memasak, Tiba-tiba gadis itu merasakan ada tangan kekar yang mengelus pelan puncak kepalannya dan sebuah ciuman yang mendarat di pelipisnya.
Dira yang saat itu terkejut langsung menoleh dan mendapati Axell yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Masak apa, yang?" Tanya Axell yang kini sedang memperhatikan gadisnya yang sedang memasak.
"Bikin Sop ayam, kak." Jawab Dira Yang kini sedang memasukkan sayur kedalam panci berisi air mendidih.
Axell mengangguk mengerti. Lalu pandangannya mengarah pada Bi Irah yang ternyata juga tak sengaja sedang melihatnya. Seketika Axell melemparkan senyum. Bi Irah yang mengerti maksud Axell pun mengangguk dan pergi entah ke mana.
"Bunda di mana, yang? Gak kelihatan dari pagi?" Tanya Axell. Laki-laki itu kini berjalan menuju kulkas, mengambil buah apel kesukaannya. Lalu kembali ke tempat dimana ia berdiri tadi sambil menggigit buah tersebut.
"Kata bi Irah, bunda ke Bandung, nyusul ayah. Nanti malam paling juga udah pulang." Jelas Dira. Gadis itu tengah mengaduk sop yang kini hampir matang.
Axell mengangguk. Lalu semakin mendekat ke arah Dira dan melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping Dira.
"Eh," Dira menoleh, terkejut dengan apa yang Axell lakukan.
"Kak-
"Kenapa, yang? Mau nolak gue lagi." Tanya Axell sambil mengangkat satu alisnya.
Dira menghela nafas pelan, Gadis itu lupa akan sesuatu. Bukankah ia sudah bertekad untuk mendekatkan diri pada suaminya, harusnya ia membiarkan tangan Axell kan? "Gak gitu... Gak enak kalo di liat bibi!" Jawab Dira lirih.
Axell tersenyum mendengar jawaban Dira, "Dira... Lo liat sekeliling Lo! Ada orang lain di sini?" Ucap Axell, Gadis itu kini melihat ke arah di mana bi Irah berdiri tadi dan tak melihat adanya bi Irah disana.
"Sayang..." Panggil Axell tepat di dekat telinga Dira. Gadis itu kini tiba-tiba menegang. Suara Axell entah mengapa malah membuat bulu kuduknya meremang.
"K-kak Axell-
"Kenapa, yang?" Tanya Axell cepat.
"Kak Axell Panggil aku apa tadi?" Tanya Dira.
Axell mengernyit, "Sayang. Kenapa memangnya? Lo gak suka gue panggil gitu? Atau Lo berharap orang lain yang manggil Lo sayang, kayak... Sahabat tapi suka Lo itu mungkin?" Terka Axell. Laki-laki itu bahkan kini memutar tubuh Dira yang sedari tadi membelakanginya. Axell ingin melihat raut wajah gadisnya.
Deg,
__ADS_1
Jantung Dira berdebar kencang saat kini bertatapan dengan Axell. "B-bukan gitu, kak." Jawab Dira terbata.
Sementara Axell hanya menarik satu alisnya, menunggu apa yang akan Dira katakan setelahnya.
"Biasanya kak Axell manggil sayang kalo ada orang lain. Di sekolah atau gak di depan bunda. Ini kita cuma berdua-
"Apa salahnya. Lo kan emang kesayangan gue, Istri gue kan?" Jawab Axell yang kembali memotong kata-kata Dira. Pandangan laki-laki itu bahkan tak pernah lepas sedikitpun dari gadisnya.
"Lo keberatan kalo gue manggil Lo sayang? Atau malah gak suka?" Tanya Axell yang hanya mendapat gelengan kepala dari Dira. Axell tersenyum lalu memeluk gadisnya.
"Gue sayang sama Lo, Dira." Lirih Axell pelan, tapi masih bisa di dengar oleh gadis itu. Pelukan itu kini perlahan terlepas. Tangan Axell bergerak untuk meraih sesuatu di belakang gadisnya.
Klik,
Axell mematikan kompor yang masih menyala sedari tadi. Kini tangan kekar itu terangkat untuk menangkup wajah Dira agar semakin mendekat padanya, mengikis jarak di antara keduanya, Dan,
Cup,
Axell mencium bibir Dira dengan sangat lembut. Hanya kecupan singkat, karena setelahnya ia kembali menatap wajah gadisnya. Keduanya saling diam, tanpa kata. Kini pandangan Axell terarah pada bibir ranum milik gadisnya.
"K-kak-
Cup,
Axell kembali mendaratkan ciumannya pada bibir Dira. Seakan tak peduli dengan apa yang akan gadisnya itu katakan. Sama seperti tadi, hanya kecupan singkat yang Axell berikan. Laki-laki itu tersenyum. Senyum manis yang seakan menghipnotis Dira. Gadis itu diam sesaat sampai akhirnya entah sadar atau tidak, kini ia membalas senyum Axell.
"Ekhem..." Ciuman keduannya seketika terlepas begitu saja karena mendengar Deheman seorang pria paruh baya yang sudah pasti Axell dan Dira kenal.
Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati Ayah Marvellyo dan juga Bunda Resty yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat Mereka.
"Boy, jangan ganggu menantu Bunda lagi masak!" Ucap bunda Resty yang kini berjalan mendekat ke arah Axell dan Dira.
Jika Dira kini menunduk malu karena kepergok kedua mertuanya saat tengah berciuman dengan Axell, tapi berbeda dengan reaksi yang Axell tunjukan. Laki-laki itu hanya menampilkan wajah santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Bunda Resty semakin mendekat ke arah keduanya. Dan,
"Auw... Sakit, bunda!" Pekik Axell saat tangan bunda Resty terayun bebas untuk menarik salah satu telinga Axell.
"Nakal ya kamu, gangguin menantu, bunda! Orang masak itu di bantuin, Bukannya di gangguin begitu!" Tegur Bunda Resty pada putranya itu.
"Axell bantuin kok, Bun?" Jawab Axell sambil berusaha menepuk pelan tangan bunda Resty. "Bunda sakit!"
Bunda Resty melepas tangannya dari telinga Axell, wanita paruh baya itu menggeleng pelan. "Anak Nakal!" Pungkas Bunda Resty.
"Bunda kan baru Dateng. Jadi Bunda gak liat, Axell tadi lagi bantuin Dira, ya kan, yang?" Ucap Axell penuh pembelaan lalu melemparkan senyum pada gadisnya.
__ADS_1
"Bantuin apa? Bunda liat dari tadi, apa yang kamu lakukan sama menantu bunda." Ujar bunda Resty.
"Bantuin kasih semangat dong, Bun. Apa lagi?" Jawab Axell tanpa rasa bersalah. Mendengar jawaban Axell barusan membuat Bunda Resty kembali menggelengkan kepalanya.
"Sini kamu, boy. Mau Bunda plintir lagi kuping kamu." Tanda bunda Resty.
"Ampun, Bunda. Axell gak nakal lagi kok, Bun. Ya kan, yang?" Ucap Axell yang kini berlari menghindar dari Bunda Resty.
Melihat tingkah Axell yang seperti ini membuat Dira terkikik sendiri. Sangat berbeda sekali dengan sikap yang Axell tunjukan selama ini.
Axell yang melihat Dira menertawai dirinya pun terhenti, "Awas Lo, yang! Lo juga bakal kena nanti dari gue!"
"Jangan ancam menantu bunda, Boy. Sini nggak, kamu." Titah Bunda Resty.
"Oh... iya Bunda, Axell lupa." Celetuk Axell tiba-tiba dan sukses menghentikan tangan Bunda Resty yang kembali ingin menjewer telinga Axell.
"Axell mau telfon bang Rhey dulu. Dah, Bunda..." Ujar Axell yang kini berlari meninggalkan Bunda Resty dan juga Dira di dapur.
"Anak itu...!"
...***...
Di Serenity cafe,
"Kenapa bisa ada di Lo?" Tanya Arfen pada sahabatnya itu.
"Dira yang minta gue buat balikin itu ke Lo." Jawab Nayla setelah menyerahkan Paper bag warna Oren yang berisi Hoddie milik Arfen. Kini keduanya sedang duduk berhadapan di salah satu sudut ruangan Serenity cafe.
"Ternyata yang bawa Dira waktu itu... beneran Lo, Ar?". Tanya Nayla memastikan.
Arfen yang sedari tadi menatap jalanan di balik jendela itu pun seketika menoleh ke arah Nayla. "Iya."
"Gila! Pantesan Axell ngamuk dan langsung nuduh Lo! Ternyata dia emang udah tau kalo Lo yang bawa Dira pergi." Ucap Nayla.
"Dan Lo juga liat waktu dia kesini datengin gue." Ucap Arfen malas. Nayla mengangguk mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ar..." Panggil Nayla lirih. Gadis itu dapat melihat ada raut kesedihan pada sahabatnya.
"Ini berat, Nay."
.
.
.
__ADS_1
*Arfen Arsetya Restu.