Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
96. Kencan.


__ADS_3

"Tuan dan nyonya Axello yang terhormat, kami mohon kerjasamanya untuk tidak menampilkan ke uwuan di depan kami, bisa?" Ucap Zaki yang baru saja muncul di belakang Dira.


"Berisik!" Hardik Axell pada teman sekelas istrinya itu.


Dira terkikik melihat Zaki yang langsung kicep seketika, "Syukurin! Itu balasan karena Lo gangguin gue tadi, Zak."


"Zaki gangguin Lo, yang?" Sahut Axell pada Dira lalu menoleh ke arah Zaki dengan tatapan tidak suka.


"Gak, kak. Cuma Zaki becanda mulu' dari tadi, jadi ganggu konsentrasi aku ngerjain soal." Keluh Dira.


Axell menatap Dira sekilas, ia usap lembut kepala Gadisnya, lalu beralih menatap wajah Zaki, "Mau pindah kelas Lo?" Tanya Axell santai, tapi bagi Zaki itu sudah seperti ancaman tersendiri.


"Ampun bang jago!"


...***...


Setelah bel pulang sekolah berbunyi setengah jam yang lalu, kini Axell dan juga Dira sedang berada di dalam mobil yang tengah membelah jalanan ibu kota. Yang Dira pikir saat ini mereka akan pulang ke rumah. Tapi salah. Laki-laki itu tidak benar-benar membawanya pulang.


"Kak, kita mau kemana?" Tanya Dira saat menyadari Axell membawanya ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju rumah orang tua Axell.


"Kencan." Jawab laki-laki itu singkat.


"Kencan?" Beo Dira.


Axell mengangguk, "Selama ini, gue belum pernah ajak Lo jalan selain nemenin gue kerja." Jawab laki-laki itu. "Jadi, Lo mau kemana hari ini? Gue Free seharian dan itu gue lakuin buat Lo?" Tambah laki-laki itu.


Diam diam, gadis itu tengah mencerna ucapan Axell tadi. Detik berikutnya gadis itu paham dengan apa yang Axell katakan padanya. Seketika Dira merasa tidak enak.


"Kak, kita pergi lain waktu aja." Jawab Dira.


"Kenapa?" Tanya Axell yang masih fokus menyetir.


"Aku gak mau gangguin waktu kerja kak Axell. Nanti kalo kak Axell dimarahi atasan kak Axell karena gak masuk kerja gimana? Apalagi cuma gara-gara aku." Tolak gadis itu pelan, bermaksud agar Axell bisa menerima alasannya.


Axell terkekeh pelan mendengar apa yang gadisnya itu katakan. Dan hal itu malah membuat Dira bingung sendiri.


"Apanya yang lucu?" Gumam Dira lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Axell.


"Gak akan ada yang marah, yang." Ujar Axell di akhir kekehannya.


"Kak Axell tau dari mana?" Tanya gadis itu penasaran.


Tak menjawab, laki-laki itu malah menghela nafas pelan. "Setelah ini, gue bakal ajarin Lo buat ng-Handle d'AXE Cafe dalam waktu dekat, yang."

__ADS_1


"Kenapa harus aku? Bukannya selain kak Axell ada kak Rheyhan yang kerja di sana, ya?" Tanya gadis itu bingung.


"Bang Rhey cuma bantu-bantu di kafe kalo gue lagi sibuk sama tugas sekolah." Jawab Axell.


Dira mengernyitkan dahinya bingung, ia semakin tidak mengerti maksud Axell.


Axell yang mengetahui gadisnya tengah kebingungan pun kembali menghela nafas. "Setelah lulus sekolah nanti, gue akan semakin sibuk, yang. Selain kuliah, gue juga harus sering-sering bantuin ayah di kantor. Jadi, d'AXE Cafe bakal gue serahin ke Lo." Ucap Axell sambil sesekali menoleh ke arah Dira.


"Kenapa aku, kak? Kenapa gak sama Owner-nya langsung aja?" Tanya Dira.


"Lo istrinya, Dira. Lo gak mau bantuin suami Lo?" Tanya Axell.


"Maksudnya?" Tanya Dira semakin bingung.


"d'AXE Cafe punya gue, yang." Jawab Axell santai. Tapi malah membuat gadisnya itu melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Hah?"


"Biasa aja kali, yang. Gue malah berencana ngasih d'AXE Cafe sepenuhnya ke Lo nanti."


...***...


Setelah dari Mall, kini Axell kembali melajukan mobilnya untuk pulang. Tujuan awal Axell tadi sebenarnya untuk mengajak gadisnya itu jalan-jalan dan juga membelikan beberapa barang yang mungkin gadisnya itu inginkan. Tapi ternyata yang terjadi tak sesuai dengan rencananya. Dira malah menolak dan hanya mengajak balik Axell untuk menonton film.


Tanpa Dira sadari, di tengah konsentrasi mengemudi, Axell tengah tersenyum sekarang ini. Laki-laki itu baru mengetahui satu hal, ternyata gadisnya ini tidak terlalu suka berbelanja.


"Kak, Stop!" Pinta Dira tiba-tiba.


Axell lalu menepikan mobilnya dan berhenti, "Ada apa, yang?" Tanya Axell bingung, kenapa gadisnya itu tiba-tiba meminta ia menghentikan mobilnya.


"Aku mau beli itu, kak. Bentar, ya!" Jawab Dira sambil menunjuk ke arah pedagang kaki lima yang sedang berjualan di pinggir jalan.


"Cilok mercon." Gumam Axell setelah mengetahui kemana arah jari telunjuk Dira. "Tunggu, yang!" Ucap Axell menghentikan Dira yang akan turun dari mobil.


"Kenapa, kak?" Tanya Dira sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Yakin, mau beli itu?" Tanya Axell ragu.


Dira mengangguk cepat, "Aku udah lama gak beli... Pengen." Ucapnya memelas.


Axell terdiam beberapa saat. Lalu, "Ok, Biar gue aja yang beli, Lo tunggu sini!" Titah Axell. Laki-laki itu lalu keluar dari mobil dan menghampiri bapak penjual cilok tersebut. Tanpa Axell tahu, senyum Dira mengembang melihat Axell yang menuruti keinginannya.


"Pak, beli ciloknya." Ucap Axell sopan pada bapak penjual cilok tersebut.

__ADS_1


"Iya, den. Mau beli berapa, den?" Tanya pak penjual.


Axell nampak menggaruk kepalanya. Ia sedang mengira-ngira berapa gadisnya itu biasa beli. "Satu porsi aja, pak." Putus Axell.


"Mau pake saus sambal atau saus kacang, den?" Tanya bapak itu lagi.


Axell mengernyit kan dahinya bingung. Ia tak tahu, saus mana yang gadisnya itu sukai. "Tolong bapak bikinin dua porsi dengan saus berbeda. Saya tidak tau, mana yang istri saya suka." Jawab Axell.


"Istri?" Tanya pak pedagang tersebut. Pria paruh baya yang hampir seumuran dengan Ayah Marvellyo itu tertegun dengan apa yang baru saja Axell katakan.


Bukan tanpa alasan, Karena kalau dilihat-lihat, Axell masih mengenakan seragam SMA. Bahkan masih lengkap dengan almamater yang menunjukkan dimana Axell bersekolah. Tapi, laki-laki belasan tahun itu tadi menyebutkan kata istri. "Aden sudah nikah?" Tanyanya ingin tahu.


Axell mengangguk samar, "Iya, pak. Istri saya nunggu di mobil." Jawab Axell sopan.


"Masih sekolah, tapi sudah menikah." Celetuk Bapak tadi sambil menggelengkan kepalanya.


"Dari pada pacaran kan, pak. Nambah dosa. Kalo udah suami istri kan bebas, pak. Halal juga." Jawab Axell sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya. "Berapa semuanya, pak?"


"Iya, den. Benar apa kata Aden..." Bapak itu lalu mengulurkan kantong plastik berisikan dua porsi cilok yang Axell pesan tadi. "Semuanya jadi dua puluh ribu, den."


Axell mengangguk, lalu menyerahkan satu lembar uang berwarna merah. "Kembaliannya buat bapak." Ucap Axell lalu berbalik kembali menuju mobilnya.


"Den, ini kebanyakan." Teriak bapak itu. Tapi tak mendapat respon dari Axell karena Axell yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.


Saat Axell masuk kedalam mobil. Seketika Axell di buat panik karena tidak melihat adanya Dira. Laki-laki itu lalu meletakkan bungkusan cilok tersebut ke dashboard mobil dan bergegas kembali keluar untuk mencari gadisnya.


Tapi baru saja Axell keluar dari mobil, Axell mendapati seorang gadis yang membelakanginya. Gadis yang sudah pasti Axell tebak adalah istrinya itu sedang berdiri di seberang jalan dengan dua anak kecil yang sedang membawa beberapa koran.


Axell memutuskan mendekat sembari memperhatikan interaksi di antara ketiganya. Ia melihat Dira yang memberikan beberapa lembar uang kepada salah satu anak yang Axell pikir mungkin itu kakak dari anak kecil satunya.


Saat semakin dekat, Axell memutuskan untuk berhenti. Masih dengan arah pandang yang sama. kini nampak Dira yang membungkukkan badannya dan mengelus kepada dua anak kecil tersebut bergantian Lalu melambaikan tangan dan berbalik.


"Kak Axell." Lirih Dira saat mendapati Axell yang berdiri dengan jarak yang hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.


"Gue nyariin Lo, yang. Udah sore, ayo pulang!" Ucap Axell lalu mengulurkan tangannya. Dira yang langsung mengerti maksud dari uluran tangan Axell pun langsung menyambut baik uluran tangan suaminya.


Axell tersenyum dalam hati, mendapati gadisnya yang menerima uluran tangannya. Laki-laki itu lalu membawa Dira masuk ke dalam mobil.


"Asyiiik... Cilok mercon." Seru Dira semangat. Tangan gadis itu lalu menusuk makanan berbentuk bulat bertekstur kenyal tersebut dengan benda mirip tusuk sate lalu memakainya.


"Enak, yang?" Tanya Axell sambil kembali menjalankan mobilnya.


Dira mengangguk cepat, "Enak, kak. Rasanya masih sama kayak terakhir aku beli. Kak Axell mau?" Ucap Dira menawarkan.

__ADS_1


Axell kembali tersenyum, "Boleh. Suapin tapi!"


__ADS_2