
"Istri dari mana coba? Kita semua tau, pak Axell itu masih sekolah jadi mana mungkin dia-
"Permisi mbak." Ucap Axell yang tiba-tiba muncul dari lift dan berjalan dengan tergesa-gesa mendekat kearah meja resepsionis.
Raquel dan Michelle yang melihat kedatangan Axell itu pun kompak berdiri.
"Iya Pak Axell, ada yang bisa dibantu?"
Ucap Raquel ramah.
*Idiiih... Giliran sama Axell aja ngomongnya manis gitu 😒.
"Tadi ada seorang gadis yang datang kesini mencari saya, sekarang dimana?" Tanya Axell To the point. Axell memang selalu memakai bahasa formal jika sedang berada di kantor.
Urung menjawab, kedua resepsionis itu malah saling pandang satu sama lain.
"Gadis cantik, pakai seragam SMA, rambut panjang kecoklatan. Tingginya... sedikit lebih tinggi dari bahu saya." Terang Axell. "Tadi pak Rheyhan bilang sudah mengantarkan dia kesini." Ucap Axell menambahkan. Sebelumnya, tadi Rheyhan sudah lebih dulu menelpon Axell dan mengatakan kalau ia sudah mengantarkan Dira sampai di kantor dan meninggalkan gadis itu di depan lobby karena ada kepentingan.
Michelle dan Raquel nampak kesulitan menelan salivanya sendiri. Ciri-ciri gadis yang Axell sebutkan sama persis dengan gadis yang baru saja keluar tadi. Gadis yang meng-Klaim dirinya sebagai istri dari Axell.
Mencoba tetap tenang, Michelle menjawab, "Oh... iya, pak. Tadi memang ada seorang gadis yang datang kesini dan mencari pak Axell-
Belum sempat Michelle menyelesaikan kalimatnya, Raquel sudah lebih dulu memotong, "Dia mengaku sebagai istri pak-
"Lalu dimana dia sekarang?" Sahut Axell tak sabaran.
"Baru saja keluar, pak. Katanya nanti dia akan kembali lagi kesini." Jawab Michelle yang mengatakan seperti apa yang Dira katakan tadi.
Axell menghentak nafas kasar. Tangannya terangkat untuk sedikit melonggarkan dasi yang melilit lehernya. Ia begitu khawatir dengan gadisnya sekarang ini. 'Kamu pergi kemana, yang?' Batin Axell bertanya pada dirinya sendiri.
Laki-laki itu lalu mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Dira.
📞 Calling My dear A...
Tuutt...
Tuutt...
"Hallo, yang. Kamu dimana?"
"(....)."
__ADS_1
"Ok, jangan kemana-mana! Tetap disitu! Aku datang." Ucap Axell lalu berjalan keluar untuk segera menyusul gadisnya itu berada sekarang. Seakan tak membiarkan sesuatu yang mungkin akan menimpa gadisnya disana.
"'Tuh kan, liat. Pak Axell langsung nyusulin gadis tadi. Berarti mungkin bener, dia istrinya pak Axell." Pungkas Michelle.
"Ya mana aku tau, mbak. Aku kan emang baru satu bulan kerja disini. Lagian mereka masih sama-sama berstatuskan pelajar, kan? Mana mungkin sudah menikah?" Jawab Raquel yang membela dirinya sendiri.
Tak ingin menjawab, Michelle hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia sendiri juga tidak tau, apa alasan dari atasannya itu menikahkan putra semata wayangnya bahkan di saat statusnya yang masih sebagai seorang pelajar.
...***...
Di sebuah mini market dekat area gedung perkantoran, seorang gadis berdiri di samping troli belanjaan yang sudah terisi beberapa bungkus cemilan, tengah memilih beberapa buah yang sepertinya akan ia beli.
Nampak gadis itu sedang memilah buah apel yang ia ketahui adalah buah kesukaan dari sang suami.
"Cemilan, buah apel, susu kotak... em... apalagi, iya?" Gumam gadis itu sambil menepuk-nepuk jari telunjuk pada dagunya.
Gadis yang tak lain bernama Dira itu tengah sibuk mengingat-ingat apa saja yang akan ia beli sampai pada akhirnya ia di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba memeluknya.
"Sayang!" Panggil Axell yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Dira sambil beberapa kali mengecup puncak kepala gadis itu. Bahkan pandangan mata orang-orang yang memperhatikan ia yang sedang memeluk gadisnya itu pun sama sekali tidak ia pedulikan.
"Hey... kak Axell kenapa?" Tanya gadis itu kebingungan.
"Aku khawatir banget sama kamu, yang. Kenapa kamu gak telpon aku aja tadi? Malah pergi sendiri kesini. Nanti kalo terjadi sesuatu sama kamu, gimana? Hm? Udah mulai bandel?" Ucap Axell pada Dira. Bahkan Axell sampai menarik pelan hidung mancung milik gadisnya itu.
"Kamu kan bisa nunggu di ruangan aku, yang! Kenapa malah pergi?" Ujar Axell yang tak puas dengan jawaban dari Dira.
Dira menghembuskan nafasnya pelan mengingat kejadian di kantor tadi. "Tadi aku udah tanya, dimana letak ruangan kak Axell sama dua kakak resepsionis tadi, tapi mereka gak mau ngasih tau." Jawab Dira.
"Kamu gak bilang kalo kamu istri aku, yang." Tanya Axell sambil melihat-lihat apa saja yang gadisnya itu beli.
"Udah. Tapi mereka gak percaya..." Jawab Dira mengantungkan kalimatnya. Axell memandang lekat wajah Dira seakan menanti apa yang akan gadisnya itu katakan.
"...Ya wajar, sih. Aku gak bisa nyalahin mereka. Mana ada orang yang mudah percaya dengan perkataan seorang gadis berseragam SMA, yang meng-Klaim dirinya sebagai seorang istri dari Axello." Jawab Dira yang kini berjalan menuju kasir dengan Axell yang mengekor di belakangnya sambil mendorong troli belanjaan.
Axell mengangguk mengerti, mendengar apa yang di katakan Dira ia jadi mengrutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjemput gadisnya tadi.
"Ada lagi yang mau di beli, yang. Mumpung masih disini?" Tanya Axell saat keduanya sudah sampai di bagian kasir.
Dira menggeleng pelan, "Udah cukup, kak."
...***...
__ADS_1
"Kak Axell masih ada Meeting lagi?" Tanya Dira sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kini keduanya sedang berjalan kembali ke kantor. Jarak dari mini market ke kantor hanya memakan waktu sekitar 5 menit.
"Udah gak, yang." Jawab Laki-laki itu santai.
"Terus kita nanti pulang jam berapa? Badan aku udah berasa lengket semua, kak." Keluh gadis itu.
Axell tersenyum mendengar apa yang gadisnya itu katakan, bahkan laki-laki itu tak segan kembali menciumi pelipis gadis itu. Axell sama sekali tak merasa risih atau pun malu dengan mata para karyawan yang bersiap untuk pulang dan tengah memperhatikannya.
"Kita pamit sama ayah dulu, ya. Aku juga mau ambil beberapa berkas yang aku tinggalin tadi." Jawab Axell saat keduanya mulai memasuki lobby utama.
"Lho... Kalian masih disini... Ayah pikir kalian sudah pulang." Ucap ayah Marvellyo pada anak dan menantunya itu.
Dira mendekat untuk meraih tangan Ayah Marvellyo dan menciumnya dengan takzim. "Ini juga mau pulang, yah. Tapi kak Axell mau ambil berkas dulu katanya." Jawab Dira yang di balas dengan anggukan kepala oleh Ayah Marvellyo.
"Oh... iya, yah. Axell mau bilang, hari ini Axell dan Dira mau pulang ke apart." Ujar Axell.
"Boleh, nanti biar ayah yang bilang sama bunda kamu, biar gak nungguin kalian..." Jawab Ayah Marvellyo. "...Kalau gitu, ayah pulang dulu, sudah sore. Kalian juga harus pulang dan istirahat. Dan juga, boy... Ayah mau minta sesuatu sama kamu."
"Apa, yah?" Sahut laki-laki itu cepat.
"Jaga menantu ayah baik-baik! Jangan sampai ada hal yang mengganggunya atau bahkan membuatnya tidak nyaman!" Titah Ayah Marvellyo pada putranya itu.
"Pasti, yah. Axell pasti akan terus jagain istri Axell." Jawab Axell mantap.
"Ayah percaya sama kamu, boy." Ucap Ayah Marvellyo sambil menepuk pundak Axell. Pria paruh baya itu pun berbalik dan berjalan mendekat ke arah resepsionis yang berjarak tak jauh dari mereka bertiga tadi.
"Saya tidak menginginkan kejadian tadi terulang kembali. Jangan kalian pikir saya tidak tau dengan apa yang kalian lakukan terhadap gadis itu tadi. Kalian ingat-ingat wajahnya baik-baik. Lain kali kalau dia datang, langsung antarkan ke ruangan Axell. Dia menantu saya. Mengerti?" Ucap Ayah Marvellyo tegas pada kedua resepsionis yang tak lain adalah Michelle dan Raquel itu.
"Baik, pak. Maaf atas kelancangan kami." Jawab Michelle. Sementara Raquel ia hanya menunduk tanpa berani berucap satu kata pun.
...***...
Dira yang baru selesai mandi itu kini tengah menyiapkan baju ganti untuk Axell. Saat meletakkan baju Axell di atas ranjang, terdengar bunyi ponsel Axell yang bergetar dari atas meja. Karena merasa penasaran, Dira akhirnya mengambil ponsel tersebut.
📥 Renata
Send a picture.
Satu pesan masuk dengan nama Renata sebagai pengirimnya. Alis Dira nampak terangkat sebelah seakan bertanya, foto apa yang Renata kirimkan pada suaminya itu.
Karena rasa penasaran yang semakin menyerang, Dira memberanikan diri untuk membuka pesan tersebut. Dan saat Dira melihat foto yang Renata kirim, mata gadis itu langsung membulat sempurna. Seketika Dira merasa takut, takut kalau Axell akan salah paham padanya setelah melihat foto tersebut.
__ADS_1
Bingung? Tentu. Dira tengah berpikir, apakah ia harus menghapus pesan tersebut atau tidak. Tapi, di hapus pun percuma. Karena Dira yakin kalau Renata pasti masih ada foto yang lainnya.
"Kamu kenapa, yang?"