
"Gue nggak lama." Lirih Axell lalu berjalan pelan meninggalkan kamarnya. Sebelum pergi Axell sempatkan untuk minum terlebih dahulu.
Drrtt... drrtt...
Ponsel Axell bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Axell meraih ponsel yang ia masukan di saku celananya. Dibacanya nama si penelepon,
📲 Verrel is Calling...
Kedua alisnya terangkat sempurna saat mengetahui siapa yang meneleponnya. Ada apa Verrel menelponnya di jam segini? Begitu pikir Axell.
"Hallo?"
"(....)."
"Lagi di apart, ada apa?"
"(....)."
"Gue mau ke kafe."
"(....)."
"Kalo ngantuk pulang sono, ngapain kesini?"
"(....)."
"Nggak ada. Lagian gue udah ganti Password Apart gue."
Tuutt... tuutt...
Axell memutuskan sepihak sambungan telepon dari Verrel. Ia harus cepat keluar dari apartemennya sebelum Verrel lebih dulu sampai.
Tadi Verrel menelepon dan mengatakan kalau dia berada di Basemen apartemen Axell. Sebenarnya Verrel sedang bersama dengan Nayla tadi, tapi karena hari sudah semakin gelap, Nayla juga sudah pulang ditambah dengan Verrel yang mulai mengantuk dan jarak rumahnya yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit lebih, jadilah Verrel memutuskan untuk mampir sekaligus menginap di apartemen Axell. Berhubung jarak dari taman dan apartemen Axell hanya beberapa menit. Tapi sayang, Axell dengan cepat melarangnya dengan dalih mau ke kafe.
Sebenarnya kalau Axell tidak ada di apartemen pun, Verrel tetap bisa masuk. Karena ini bukan kali pertamanya Verrel menginap. Bahkan Verrel sering datang dan numpang tidur meskipun Axell sedang di rumah, dan Axell tahu itu. Karena Axell memberitahu Password apartemennya. Jadi dia bebas keluar masuk apartemen Axell.
Axell tak pernah melarang Verrel atau pun Bastian untuk datang, bahkan ada atau tidaknya dia. Asalkan datang bukan untuk melakukan hal yang tidak-tidak saja.
Tapi tidak mulai sekarang, apa lagi sekarang keadaanya jauh berbeda. Axell tidak lagi tinggal sendiri, bahkan berstatuskan suami dari seseorang. Bisa heboh nanti, satu sekolah kalau tahu Axell tinggal satu atap dengan seorang gadis, apa lagi adik kelas di sekolahnya.
Dan benar saja saat pintu lift terbuka, Axell yang berjalan akan memasuki lift berpapasan langsung dengan Verrel yang akan berjalan keluar.
"Pulang sono lo, gue mau pergi." Usir Axell ketus.
"Yaelah, Xell. Gue numpang tidur bentar Napa. Lagian gue juga udah sering kan nginep di apartemen Lo Kemaren-kemaren Lo gak kayak gini, deh. Atau jangan-jangan..." Ucap Verrel menggantungkan kalimatnya, "...Lo nyembunyiin sesuatu ya, di apartemen Lo? Ngaku." Ujar Verrel menduga-duga.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Axell hanya menampilkan wajah datarnya. Ia tak ingin merespon ocehan dari sahabatnya itu.
"Wait, santai, Bro. Nggak usah masang muka sok ramah gitu dong! Ya kali, gue nginep aja nggak boleh. Nggak kayak biasanya, aneh Lo Xell." ucap Verrel yang memang merasa Axell benar-benar aneh.
"Rel, jangan buang waktu gue! Gue buru-buru." Ucap Axell tak penuh ketegasan.
Verrel menghela nafasnya kasar, "Huuhh... Beneran nggak boleh nih, Xell?" Tanya Verrel memastikan.
"Sorry, gue bener-bener gak ada waktu." Ucap Axell yang kini mulai memasuki Lift dan menekan tombol angka 1.
"Beneran harus pulang gue. SIALAN LO XELL." Ucap Verrel pada Axell yang sudah memasuki Lift tadi.
"Ok, gue jadi makin penasaran."
...***...
Hari sudah menjelang petang. Seorang gadis yang sedang tidur sendirian itu pun mulai mengerjapkan matanya pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Udah jam berapa, sih?" Ucapnya sambil meraih ponsel yang terletak di nakas samping tempat tidur.
Mata gadis itu membulat, menyadari dia tidur terlalu lama tadi. "O... Shitt, gue tidur apa mati suri sih tadi?" Ucapnya pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia tidur selama itu tadi.
Karena merasa tenggorokannya kering, akhirnya gadis itu pun memutuskan bangun untuk mengambil air minum. Tapi, saat baru keluar kamar,
"Udah bangun?" Tanya seseorang yang sedang duduk di sofa sambil mengetik sesuatu pada laptop dalam pangkuannya.
"Lo udah makan? Nih, gue beli makanan tadi." Ucap Axell sambil menunjuk dua kotak Rice bowl yang ia letakkan di atas meja.
"Belum, kak. Ini aja baru mau masak tadi." Ucap Dira malas.
"Nggak usah masak, makan ini aja!" Titah Axell pada Dira. Dira menganggukkan kepalanya dan membawa dua Rice bowl yang Axell letakkan di meja tadi ke meja makan. Kini keduanya makan dengan diam tanpa bersuara.
Malamnya setelah makan, Dira memutuskan untuk mandi. Karena tadi saat bangun tidur, Dira belum mandi. Setelah mandi, Dira putuskan untuk belajar. Dira membuka buku cetak yang agak tebal untuk dibaca.
Drrtt... drrtt...
Saat tengah membaca buku, ponsel Dira yang ia letakkan di nakas sedari tadi bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Dengan malas, Dira bangkit dari duduknya dan berjalan untuk mengambil ponselnya.
setelah diambilnya ponsel dari nakas tadi, Dira diam, membaca nama si penelpon.
📲 Arfen🙂 is Calling...
Setelah mengetahui siapa yang menelponnya, seketika Dira bingung. Apakah ia harus menerima telpon dari Arfen atau tidak? Mengingat ia kini sedang berada di apartemen Axell.
__ADS_1
Dira ingat, beberapa waktu yang lalu Axell pernah memblokir nomor Arfen pada ponselnya. Dira mengira kalau hubungan Axell dan Arfen sedang tidak baik. Apa lagi Axell pernah memperingatkannya untuk melarang Arfen datang menemuinya di sekolah beberapa waktu yang lalu. Dira bingung.
Akhirnya, ponselnya itu berhenti bergetar menandakan panggilan telah berhenti. Dira menghembuskan nafasnya lega. Ia tak perlu me-reject telepon dari Arfen.
Ceklek,
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Axell yang baru saja selesai mandi. Axell yang hanya memakai celana pendek rumahan dan masih belum memakai baju, menampilkan perut yang terpahat sempurna dengan rambut basah acak-acakan bahkan masih jelas terlihat air yang menetes dari ujung rambut Axell. Terkesan...
Sexy.
Setelah tidak sengaja melihat tubuh bagian atas Axell, Dira menatap wajah lelaki itu. Untuk sepersekian detik pandangan mata keduanya bertemu. Namun dengan cepat Dira mengalihkan pandangannya.
'Oh God, mikir apaan sih, gue?' Batin Dira.
"Belum tidur?" Tanya Axell pada hadis itu.
"Belum, kak." Jawab Dira. Axell menatap Jam dinding yang menunjukkan hampir jam sebelas malam.
"Udah malem gini. Mau begadang?" Tanya Axell lagi sambil berbaring di ranjang.
"Aku belum ngantuk, kak." Jawab Dira.
Mendengar jawaban Dira tadi membuat Axell menatap punggung gadis yang tengah membelakanginya itu sesaat setelah itu ia memejamkan matanya sejenak.
Axell menghela nafasnya pelan. Mengingat kejadian saat ia menolak Verrel untuk datang ke apartemennya. Untuk sekarang mungkin ia bisa menolaknya, dan Verrel bisa menerima alasan Axell melarangnya datang tadi. Tapi lama kelamaan sahabatnya itu pasti akan menaruh curiga padanya. Axell menggelengkan kepalanya, ia tak ingin terlalu memikirkan hal itu. Ia cukup lelah hari ini. Ia ingin beristirahat. Masalah Verrel ia akan pikirkan lagi nanti.
Ditatapnya lagi gadis yang masih memunggunginya itu. Ia lelah dan ingin beristirahat. Tapi bukankah gadis itu juga perlu beristirahat karena besok mereka masih harus bersekolah?
"Lo gak tidur?" Tanyanya pada gadis itu.
"Nanti, kak." Jawabnya sambil kembali fokus pada buku yang ia baca.
Tiba-tiba Axell tersenyum menyeringai, "Udah malem, Dira! Lo pilih tidur..." Ucap Axell menjeda kalimatnya "...atau gue tidurin?" Sambungnya.
Mendengar apa yang di katakan Axell barusan, entah kenapa tiba-tiba tubuh Dira menegang. Dira ingat, Axell adalah suaminya dan kini mereka tinggal bersama. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti Axell akan meminta haknya.
'*G*ue tidurin?'
Deg,
'Mampus! Jangan sekarang please, gue belum siap.' Batin Dira.
Merasa tidak ada pergerakan dari Dira, membuat Axell memutuskan untuk bangun dan berjalan mendekat kearah Dira yang masih terdiam.
Dira yang mendengar langkah kaki Axell yang mendekat ke arahnya, seketika menjadi semakin gugup.
__ADS_1
"Lo tidur sekarang? Atau sekarang... Gue yang tidurin lo?"