
Axell sedang di perjalanan menuju rumahnya. Tadi Bunda Resty memintanya untuk pulang kerumah, karena ada sesuatu yang perlu di bahas. Tanpa banyak bertanya lagi, Axell yang tidak suka membuang-buang waktu itu pun, langsung bergegas menuju rumah kedua orangtuanya tersebut.
Mobil Axell memasuki pintu gerbang rumah seorang pengusaha sukses yang sekaligus pemilik sekolah dimana dia mengenyam pendidikan disana.
Axell memasuki rumah melalui pintu utama. Dan ternyata tepat Axell akan membuka pintu, Bunda Resty lebih dulu membukanya.
"Bunda." Panggil Axell sambil mencium pipi Bunda Resty sebelah.
"Cepat sekali, Boy? Kamu tidak ngebut kan tadi?" Tanya bunda Resty menelisik putranya itu.
"Nggak dong, Bun. Axell tadi mandi terus langsung kesini, sampai Axell belum sempat makan." Jawab Axell santai.
"Berarti kamu belum makan?" Tanya Bunda Resty yang langsung mendapat gelengan kepala dari Axell.
"Belum, Bun. Ini Axell udah laper banget." Jawabnya.
"Yaudah, sambil nunggu ayahmu pulang. Kamu makan dulu." Titah Bunda Resty dan berlalu entah kemana.
...***...
Axell yang sudah menyelesaikan makannya, kini sedang mencari Bunda Resty. "Kemana Bunda, ya?" Tanyanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali di selingi menengok ke kanan dan kiri.
Sampai kini Axell berada di taman belakang dimana Bunda Resty dan Ayahnya berada. Melihat kedatangan putranya, Bunda Resty langsung memanggil putranya untuk mendekat.
"Kemari, boy! Bunda sama Ayah sedang menunggumu disini." Panggil Bunda Resty sambil menepuk kursi di sampingnya.
Axell menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekat ke arah orang tuanya. Kini Axell tengah duduk di antara Ayah Marvellyo dan bunda Resty. "Ada apa, Yah?" Tanya Axell To the point.
__ADS_1
"Ayah mau bahas tentang pernikahanmu." Ucap Ayah Marvellyo. Mendengar apa yang di katakan oleh Ayahnya, membuat Axell menghembuskan nafasnya pelan. Ia kembali teringat bahwa dia dijodohkan.
"Kenapa, Yah?" Tanyanya ingin tahu, apa yang akan di katakan oleh Ayahnya tentang perjodohan yang di putuskan nya beberapa waktu yang lalu.
"Ayah sudah mengurus semuanya dan besok kamu tidak perlu masuk sekolah." Jawab Ayah Marvellyo.
Axell menarik satu alisnya, Kenapa Ayahnya itu melarangnya untuk sekolah besok, 'Ada apa?' Batin Axell.
"Kenapa, Yah? Kenapa besok Axell nggak harus masuk sekolah?" Tanya Axell tak mengerti.
"Karena tiga hari lagi kamu akan menikah." Ucap Ayah Marvellyo tenang.
"APA, YAH? TIGA HARI LAGI? AYAH YANG BENAR SAJA?" Pekik Axell yang terkejut mendengar kabar bahwa dia akan menikah dalam waktu tiga hari kedepan. Begitu mendadak Menurutnya.
"Kecilkan suaramu, Boy! Jangan terkejut seperti itu. Ayah sudah bilang beberapa waktu yang lalu tentang perjodohan ini. dan kamu menyetujuinya." Jawab Ayah Marvellyo Datar.
"Cepat atau lambat, pernikahan ini juga pasti akan terjadi. Jadi, buat apa buang-buang waktu? Lebih cepat lebih baik." Jawab Ayah Marvellyo.
"Tapi, Yah-"
"STOP! Tidak ada tapi, AXELL! Keputusan ini sudah bulat, dan kamu tidak bisa membantahnya." Jawab Ayah Marvellyo tegas seakan tidak menerima bantahan dari putra semata wayangnya itu.
Axell tahu, jika ayahnya memanggil dengan namanya, berarti ayahnya dalam keadaan yang tidak main-main dan tidak menerima bantahan ataupun penolakan darinya.
Axell masih terdiam, memikirkan keputusan sepihak dari ayahnya. Menikah di usia muda, bukan perkara penyatuan dua insan laki-laki dan perempuan saja. Tapi penyatuan dua orang yang mungkin memiliki sifat dan karakter yang pasti akan berbeda dari segala hal. Entah itu dari cara berfikir, perilaku, kebiasaan dan mungkin masih banyak lagi yang lainnya. Apakah mungkin mereka bisa melewati ini semua nantinya, begitulah isi didalam kepala Axell saat ini.
"Turuti saja, Boy. Ayah sama Bunda melakukan ini semua demi kebaikanmu!" Ucap bunda Resty lembut. Bunda Resty tahu, mungkin putranya terkejut mendengar keputusan sepihak dari ayahnya tadi.
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh bunda Resty kini Seketika membuat Axell luluh dan menerima semua keputusan yang di ambil kedua orang tuanya.
"Axell terima, Yah." Ucap Axell pasrah.
*Mau bagaimana lagi, menolak pun tak akan bisa. Udah nurut aja sama aku, Axell!!!🤭
"Harus, Boy. Kamu harus menerimanya!" Ucap Ayah Marvellyo sambil menepuk salah satu pundak Axell sebelum akhirnya bangkit dan pergi untuk beristirahat. Karena setelah mendapat telepon dari Bunda Resty yang mengatakan kalau Axell sudah pulang kerumah, Ayah Marvellyo yang sedang berada di kantor memutuskan untuk segera pulang dan cepat-cepat membahas tentang pernikahan Antara Axell dan Dira. Sehingga Ayah Marvellyo belum sempat untuk beristirahat tadi.
Melihat wajah putranya yang terlihat sedang melamun membuat bunda Resty menghela nafasnya pelan. Ia tahu mungkin putranya ini belum sepenuhnya menerima keputusan dari Ayahnya.
"Kamu bisa, Boy. Kamu pasti bisa." Ucap Bunda Resty lembut sambil mengusap lembut punggung dari putranya itu.
...***...
'Resiko jadi anak tunggal.' Batin seseorang yang kini tengah merebahkan tubuhnya di kamar sambil menatap langit-langit kamarnya.
Axell kini tengah berada di kamar yang sekarang jarang ia tempati setelah memutuskan untuk tinggal di apartemennya.
"Apa gue bisa? Bahkan gue masih sekolah? Apa gue bisa, gak nyakitin 'tuh cewe nanti?" Gumam Axell lirih pada dirinya sendiri. Setelah apa yang di katakan Ayahnya sekitar setengah jam yang lalu, Axell beranjak pergi menuju kamarnya.
Begitu banyak hal yang Axell pikiran. Semuanya begitu mendadak Menurutnya. Tapi bagaimana lagi, Axell tahu betul bagaimana sifat dari Ayahnya itu. Tegas dan apa yang di katakan harus di lakukan.
Cukup lama Axell bergelut dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia merasa lelah dan terlelap dalam tidurnya.
...***...
*Yang udah pada baca. Jangan diem-diem Bae. Tinggalin jejaknya, like, coment and vote! Aku tungguin ya!👋🏻
__ADS_1