
"Arfen bisa jelasin, om." Ucap Arfen yang mulai menceritakan saat dia dengan tidak sengaja bertemu dengan Dira di Mall dengan Nayla sampai saat Dira yang mulai merasakan sesak di dadanya. "Jadi begitu om, Arfen lalu bawa Dira kesini." Jelas Arfen agar papa dari sahabatnya itu tidak salah paham.
Papa Pras menganggukkan kepalanya mendengar cerita dari Arfen. Papa Pras percaya dengan penjelasan yang Arfen berikan, ia tersenyum sambil menepuk pundak Arfen. "Terima kasih Arfen, sudah membawa Dira ke rumah sakit."
"Sudah seharusnya, om." Jawab Arfen sambil melirik Axell yang berjalan memasuki ruangan di mana kini Dira terbaring dengan selang infus yang menancap di salah satu tangannya.
Tangan Axell terulur untuk mengelus kepala Dira, "Kenapa Lo bandel banget, sih. Susah banget dibilangin. Harusnya Lo bilang ke gue, kalo ada dia di sana sama Lo!" Axell menjeda ucapannya yang sedang protes pada istrinya itu. "Kalau aja Lo gak dalam keadaan kayak gini, udah gue-"
Ceklek.
Pintu terbuka menampilkan papa Pras dan Arfen di belakangnya. Axell sempat menoleh sekilas, lalu kembali melihat wajah Dira yang terlihat damai dengan nafas yang sudah mulai teratur.
Ceklek.
Lagi, pintu kembali terbuka. Seorang pria bersnelli masuk dengan senyum ramah yang di tunjukkan pada tiga laki-laki yang sedang menemani seorang gadis yang satu jam lalu ia periksa. "Permisi, saya akan kembali memeriksa pasien." Ujarnya ramah.
"Silahkan dok!" Ucap Axell dan papa Pras kompak.
Sementara Arfen, ia nampak tersenyum kecut. Melihat interaksi keduanya. Ia ingat dengan apa yang papa Pras katakan padanya tadi saat Axell masuk ke ruangan Dira. Bahwa benar, fakta dimana papa Pras telah mempercayakan Axell untuk menjaga Dira.
Arfen sempat menanyakan tentang alasan kenapa harus Axell yang menjaga Dira pada pria paruh baya yang berusia sama dengan papinya itu. Sementara kalau hanya untuk sekedar menjaga Dira, ia juga sanggup. Tapi Papa Pras berdalih karena Axell satu sekolah dengan Dira jadi lebih bisa mengawasi putrinya.
Arfen kembali menghela nafasnya pelan.
'Selama mereka belum ada hubungan serius, gue masih ada kesempatan kan.'
"Pasien boleh pulang setelah infusannya habis, dia tidak perlu menginap." Ucap dokter Titon setelah memeriksa keadaan Dira. Axell menghembuskan nafasnya lega mendengar apa yang dokter katakan tentang istrinya pun sama dengan papa Pras dan Arfen.
"Kalau begitu, saya permisi." Pamit dokter Titon yang sempat memperhatikan Axell dan Arfen secara bergantian. Dokter muda itu nampak menggelengkan kepalanya samar sambil tersenyum.
Sangat jelas sekali, dari sudut pandang dokter Titon, ia dapat melihat ada perselisihan dari keduanya.
"Kalau begitu, Axell, Papa harus kembali lagi ke kantor, Ada Meeting yang tidak bisa Papa tinggal setengah jam lagi." Papa Pras nampak melirik ke arah Arfen sekilas, "Papa titip Dira sebentar ya, nanti kabari kalau Dira akan pulang." Lanjut Papa Pras sambil menepuk pundak Axell.
Papa Pras berkata demikian hanya untuk menutupi status Axell dan Dira yang sebenarnya. Bukan apa-apa, Papa Pras tahu kalau Axell dan Dira belum mengatakan kebenarannya pada Arfen. Jadi Papa Pras lebih memilih mendukung anak dan menantunya itu untuk menutupi status keduanya sampai Dira siap untuk mengungkapkannya sendiri pada Arfen.
Saat tepat di samping Arfen, Papa Pras berhenti sejenak, "Kamu masih mau disini Arfen?" Tanya Papa Pras pada sahabat putrinya itu.
"Arfen masih mau disini, om..." Arfen melirik Axell sekilas, "Sampai Dira pulang."
Papa Pras menganggukkan kepalanya. Papa Pras dapat melihat raut kekhawatiran dari wajah Arfen. Tanpa Papa Pras tahu, kalau Arfen menyayangi Dira lebih dari seorang sahabat.
Hening, Axell dan Arfen sama-sama diam sambil menunggu Dira bangun. Lima belas menit kemudian Dira tersadar dan sebentar lagi cairan di dalam tabung infus Dira juga akan habis.
"Dir." Panggil Axell saat melihat Dira yang mulai membuka matanya.
"Kak Axell..." Panggil Dira sambil mencoba untuk duduk.
__ADS_1
"Lo udah bangun, Dir?" Tanya Arfen yang berjalan mendekat ke arah brangkar Dira.
"Arfen." Lirih Dira sambil menatap Axell dan Arfen bergantian.
"Apa yang Lo rasain? Nafas Lo... Masih sesak?" Tanya Axell sambil menggenggam tangan Dira yang tidak di pasang selang infus.
"Aku udah enakan, kak."
Jangan tanya kan Arfen. Melihat Axell yang menggenggam tangan Dira membuatnya ingin menepis tangan Axell. Tapi, Arfen tak ingin terlihat emosi, sebisa mungkin ia menahannya.
Dira memperhatikan tangannya yang di genggam Axell dan beralih memandang wajah Arfen. Sungguh sangat terlihat Arfen seperti menahan amarah.
Ok, Dira tahu, Pasti terjadi sesuatu sebelum ia bangun tadi.
"Kak, aku mau pulang." Ucap Dira.
"Bentar, gue telpon papa dulu?" Jawab Axell sambil menelpon Papa Pras seperti perintah Papa Pras tadi.
Dira mengerutkan keningnya bingung. Kenapa harus menelpon papanya, sungguh Dira tidaklah mengerti.
'Aku?'
"Dir, Lo beneran udah gak apa-apa?" Tanya Arfen mencoba meyakinkan keadaan Dira.
"Gue udah gak apa-apa, Ar. Thank's Lo udah bawa gue kesini dan juga udah telpon kak Axell." Ujar Dira.
Setelah menghilangkannya Arfen di balik pintu. Dira memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Axell. "Kak..." Ucapnya lirih. Sementara Axell hanya menjawabnya dengan deheman.
"Hm."
"Aku gak sengaja ketemu Arfen tadi. Beneran, aku cuma jalan sama Nayla-"
"Udah lupain, yang penting jangan ketemu lagi sama dia, Dengan atau tanpa sepengetahuan gue. Ngerti." Ucap Axell yang mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Good girl." Ucap Axell sambil mengusap lembut kepala Dira. "Mau pulang kemana?"
...***...
"Kak... Kak Axell." Panggil Dira dari kamar mandi. Kini Axell dan Dira sudah berada di apartemen Axell.
Axell yang sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya di sofa pun seketika bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Hm, Kenapa?" Jawabannya.
"Bisa minta tolong gak?" Tanya Dira dari kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Axell balik.
__ADS_1
"Bisa ambilin pembalut aku di apartemen?" Jawab Dira.
"Pembalut?" Beo Axell.
"Iya, tolong ambilin?" Jawabnya.
"Dimana?" Tanya Axell lagi.
"Di apartemen aku."
"Maksud gue, dimana Lo nyimpenya?"
"Di laci meja rias aku, kak."
Tanpa menjawab lagi, Axell berjalan pergi menuju apartemen Dira.
Sampai di apartemen Dira, Axell langsung menuju dimana meja rias Dira berada dan membuka laci di bagian bawah. Saat laci terbuka, Axell menemukan Beberapa bungkus pembalut. Pembalut dengan satu Merek tapi berbeda warna kemasan.
Tanpa membuang waktu Axell lalu mengambil satu bungkus di setiap jenisnya dan memasukannya kedalam Paper bag yang tersedia di laci. Gak mungkin kan Axell membawanya begitu saja.
Setelah memasukkannya ke dalam Paper bag, Axell langsung bergegas kembali ke apartemennya.
"Dir, Lo masih di situ?" Tanya Axell memastikan.
"Iya, kak." Jawab Dira.
"Buka pintunya?" Ucap Axell.
"Aku malu." Pekik Dira dari kamar mandi.
Mendengar jawaban Dira membuat Axell menghembuskan nafasnya pelan, "Kalo pintunya gak Lo buka... Gimana Lo ngambil nih barang, Dira."
Seketika Dira menepuk jidatnya di kamar mandi. "O... iya. Bege gue." Lirih Dira yang masih dapat di dengar oleh Axell. Axell menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan.
Ceklek,
.
.
.
*Gimana nih? Kasih tanggapan kalian dong!
Komen dibawah ya! Jangan lupa kasih Like and Vote, Biar aku jadi makin semangat up-nya. TQ .. & See you bye-bye...😘
*dr. Titon adalah nama yang aku ambil dari dokter yang dulu pernah nanganin aku waktu sakit tahun 2012, Eh pas tahun 2019 sakit dan ketemu lagi. Makasih dr. Titon.
__ADS_1