Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
92. Bikin Lo yakin. (Axello)


__ADS_3

"Kak-


"Gue mau tidur." Potong Axell cepat. Laki-laki itu bahkan tak membiarkan Dira menyelesaikan kata-katanya.


Hening,


Dira menghela nafas pelan, gadis itu bahkan masih diam dengan posisi yang sama. "Bukan aku gak mau ngasih sesuatu yang udah jadi hak kakak... Aku hanya belum siap. Aku disini juga sedang berusaha mendekatkan diri. Maaf!"


Dira lalu bangkit setelah mengatakan apa yang mengganjal di dalam hatinya. Ini sulit. Dira lalu meraih ponsel yang ia letakkan di samping ponsel Axell. Berjalan mendekat ke arah pintu lalu,


Ceklek,


Tak ada lagi suara yang terdengar dari gadis itu, Hanya pintu yang terbuka sesaat dan kembali tertutup. Dapat Axell pastikan kalau Dira keluar dari kamar. Dan,


"O Shitt." Seketika Axell mengumpati dirinya sendiri. Laki-laki itu tidak benar-benar tidur tadi. Ia hanya sekedar memejamkan matanya. Jadi, sudah dapat di pastikan kalau Axell bisa mendengar dengan jelas, apa yang di katakan Dira padanya tadi.


Axell lalu terduduk di ranjang seraya berpikir, Kalau di ingat-ingat, saat awal mereka menikah, gadisnya itu sangatlah tertutup. Mereka kadang hanya bicara seperlunya saja. Lalu sekarang... Gadisnya itu sudah mulai banyak bicara. Itu artinya Dira sudah mulai bisa membuka diri. Bukankah ini sudah banyak sekali kemajuan pada hubungan keduanya? Harusnya Axell bisa lebih bersabar bukan? Sedikit lagi. Bukannya malah menuntut seperti ini.


Axell lalu bangun, berjalan keluar kamar untuk menyusul gadisnya. Takut-takut kalau Dira tersinggung dengan sikapnya tadi dan memutuskan untuk pergi dari rumah. Axell tak ingin terjadi sesuatu dengan gadisnya. "Maafin gue, Dira. Seharusnya gue lebih bisa ngertiin Lo!"


...***...


Di sekolah,


Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan kini, Nayla, Verrel dan juga Bastian sedang berjalan menuju ke kantin.


Saat memasuki kantin, mereka langsung menuju meja yang biasa mereka tempati dimana Melody dan juga Zaki yang sudah lebih dulu datang.


"Kok cuma berdua, Dira mana?" Tanya Nayla sambil celingukan mencari Sahabatnya itu.


"Gak masuk dia?" Jawab Zaki di sela-sela kunyahan nya memakan bakso.


"Gak masuk? Dira masih sakit?" Tanya Nayla yang teringat tentang Dira yang kemarin sedikit demam karena di temukan dalam keadaan pingsan di toilet sekolah.


Melody menggelengkan kepalanya, "Katanya ada urusan sih, kak... Tadi pagi dia Chat gue." Jawab Melody.


"Kompakan mereka berdua?" Sahut Verrel sambil menunjukkan Room chat terakhirnya dengan Axell. "Axell juga gak masuk hari ini."


"Sudah ku duga." Celetuk Zaki.


"Maksud Lo apa?" Pertanyaan kompak yang di lontarkan oleh Nayla dan juga Verrel.


"Mereka kan kalo gak masuk mesti barengan?" Jawab Zaki mengatakan pendapatnya.


"Kalo Axell lagi gak fit... Kecapean katanya.” Jelas Bastian.


"Kecapekan jagain Dira ya, kak? Dira kan tinggal sendiri di apartemen." Tanya Melody.


Tak menjawab Bastian hanya mengendikan bahunya.


"Kok Dira gak cerita ke gue ya, Mel? Coba deh gue telpon." Pungkas Nayla.


Gadis itu lalu merogoh ponsel dari dalam baju seragamnya. Mencari kontak dengan nama Dira dan, langsung menelpon nomor tersebut.


📞 Calling Dira...


Tuutt...


Tuutt...


"Gak di angkat, kak?" Tanya Melody penasaran

__ADS_1


"Belum." Jawab Nayla yang hanya menggunakan gerakan bibir.


"Tuutt...


"Hallo, Dir."


"(....)."


"Lo kok gak masuk, kenapa?


"(....)."


"O... Tapi Lo gak apa-apa, kan?


"(....)."


"Tolong kenapa?"


"(....)."


"Apartemen Lo? Ngapain emang?"


"(....)."


"Iya, gue inget. Kenapa?"


"(....)."


"APA? Jadi yang waktu itu ben-


"(....)"


"Ops... Sorry. Terus apa yang harus gue lakuin?"


"(....)."


"(....)."


"Ok, Lo tenang aja. Biar gue yang urus."


"(....)."


"Dir... Lo lagi sama-


Tut... tut...


"Loh kok mati, gue kan belum selesai ngomong!" Protes Nayla yang tiba-tiba kesal karena teleponnya yang tiba-tiba terputus.


"Kenapa, beib?" Tanya Verrel yang sedari tadi mengamati kekasihnya itu. Sama halnya dengan Zaki, Melody dan juga Bastian.


"Gak tau, nih. Tiba-tiba Dira matiin telponnya." Jawab Nayla sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Tadi Dira ngomong apaan?"


...***...


"Ternyata disini? Gue nyariin Lo tadi?" Ucap Axell pada gadisnya. Laki-laki itu tadi sempat berpikir kalau Dira pergi dari rumah. Ternyata Dira berada di taman belakang rumah.


"Kak Axell." Lirih Dira yang terkejut akan kedatangan Axell. Gadis itu lalu reflek mematikan ponselnya.


"Kok di matiin? Telpon siapa?" Tanya Axell yang kini berjalan mendekat.

__ADS_1


"Kaget, kak. Kak Axell Dateng tiba-tiba. Aku pikir tidur tadi." Keluh gadis itu. Setengah bohong sih, Dira memang kaget, tapi Dira juga cari aman. Takut Nayla tahu kalau dia sedang bersama dengan Axell sekarang. Di sisi lain, Dira juga takut, kalau Axell mendengar pembicaraannya tadi. "Telpon dari Nayla." Sambung gadis itu.


Axell lalu duduk di samping Dira. Menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu sambil memejamkan matanya. "Katanya mau nemenin? Kok malah keluar kamar? Lo tersinggung ya, sama omongan gue tadi?"


Dira menggeleng pelan. "Aku gak mau ganggu istirahat kakak." Jawab Dira pelan.


Hening, keduanya diam masih dengan posisi yang sama.


"Boleh gue tanya sesuatu sama Lo?" Tanya Axell yang masih memejamkan matanya.


Dira mengangguk pelan, "Boleh. Kak Axell mau tanya apa?" Tanya Dira balik.


"Sebenarnya, udah ada gue belum di hati Lo?" Satu pertanyaan yang malah membuat jantung Dira berdebar.


1 detik,


2 detik,


3 detik,


"Hm?"


"Aku gak tau, kak." Sebuah jawaban yang keluar dari mulut Dira, tapi anehnya tanpa Dira tahu malah membuat seulas senyuman manis muncul di bibir Axell.


"Itu tandanya gue udah ada, Lo nya aja yang belum menyadari." Ucap Axell di sela-sela senyumannya.


Dahi Dira mengernyit bingung, "Kok kak Axell bilang gitu?" Tanya Dira.


Axell membuka matanya, "Jujur sama gue... Ada keraguan kan saat Lo mau jawab tadi?" Tanya Axell yang kini mengubah posisinya menghadap ke arah Dira.


Dira mengangguk pelan. Dan entah mengapa senyum Axell semakin mengembang. "Dengerin gue... Kalo Lo gak ada perasaan apapun sama gue, mulut Lo akan langsung reflek bilang gak. Tapi tadi tidak, Lo ragu. Itu tandanya gue udah masuk, tapi Lo yang belum menyadari keberadaan gue di hati lo." Ujar Axell pada gadisnya itu.


Dira diam, ia bingung harus menjawab apa. Pikirannya kini sedang mencerna apa yang Axell katakan padanya tadi. 'Apa iya?'


"Dan tugas gue sekarang, bikin Lo yakin dengan perasaan Lo."


...***...


Di Green life Residence.


"Tadi berapa ya? Gue gak yakin, tapi apa salahnya kita coba." Gumam seorang gadis yang sedang berdiri di depan pintu apartemen Dira.


Nayla, gadis yang beberapa jam lalu di mintai tolong oleh Dira untuk mengambil Paper bag yang Dira simpan di dalam almari pakaian di apartemennya. Ya, Paper bag yang berisi Hoddie milik Arfen waktu itu.


Kini Nayla tengah mencoba Password yang Dira katakan padanya tadi di telpon.


"002508" Klik. Dan,


Your succes.


"Berhasil. Ok, tanpa membuang waktu, kita ambil barangnya sekarang." Ucap Nayla pada dirinya sendiri. Lalu berjalan masuk ke dalam apartemen Dira.


Kamar Dira adalah tempat yang langsung Nayla tuju sekarang.


Ceklek,


Pintu kamar Dira terbuka. Nayla lalu masuk dan berjalan mendekat ke arah lemari. "Pintu yang sebelah kiri, kan, tadi?" Gumam gadis itu.


Saat Nayla membuka lemari Dira, Nayla langsung menjumpai Paper bag warna Oren yang di maksud Dira tadi di telpon. Tangan gadis itu langsung terulur untuk mengambil Paper bag tersebut. Tapi, saat Nayla akan menutup kembali lemari tersebut, Tiba-tiba Nayla di buat terkejut melihat pemandangan di depannya.


"Ini bajunya siapa? Baju-baju cowok, banyak banget lagi." Ucap Nayla saat menjumpai banyak baju laki-laki yang menggantung di dalam lemari.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Mata Nayla semakin membulat dengan sempurna seakan tak percaya dengan apa yang ia pikirkan. "Mereka gak tinggal bareng kan?"


__ADS_2