
"Tapi kalo kamu mau berterima kasih, seingat aku, aku udah pernah ngajarin kamu cara berterima kasih yang baik dan benar. Jadi, nanti sampai rumah aja terima kasihnya."
Blush...
Pipi Dira memanas, ia tahu betul apa yang di maksud Axell dengan cara berterima kasih versi suaminya itu. Apa lagi kalau bukan tentang kebutuhan biologis sepasang suami istri.
"Gimana, yang?" Tanya Axell sambil sesekali menoleh ke arah Dira dengan menaik turunkan alisnya.
Malu, benar-benar malu. Meskipun keduanya sudah sering melakukannya, tapi Dira masih saja merasa malu saat Axell membahas tentang hal itu. Tapi, Dira juga tak ingin menolak keinginan sang suami, gadis itu pun mengangguk, "Iya, boleh." Jawab gadis itu lirih.
Axell tersenyum senang, sejak Dira memberikan hak sepenuhnya sebagai suami untuk yang pertama kali, gadis itu kini tak pernah lagi menolak keinginannya.
Tapi tunggu, jika saat ini Axell tengah merasa senang karena Dira yang akan menuruti keinginannya setelah mereka sampai dirumah, tapi berbeda dengan apa yang gadis itu rasakan saat ini.
Dira tengah merasakan suatu hal yang tidak nyaman dengan dirinya sendiri sedari pagi. Perut bagian bawahnya terasa kram, dan juga bagian dadanya yang terasa sedikit nyeri. Hal yang biasa gadis itu rasakan disaat ia akan memasuki masa on periode atau biasa di sebut datang bulan. Mungkin.
Eh, tapi... Dira baru saja ingat akan satu hal, tamu rutin bulanannya itu terlambat datang, seharunya ia mendapatinya seminggu yang lalu.
Pandangan Dira yang sedari tadi mengarah kedepan kini beralih menatap ke arah Axell sang suami yang tengah fokus mengemudi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi dirinya sendiri tak yakin, apakah sang suami akan menuruti keinginannya atau tidak.
Ragu-ragu, Dira memberanikan diri untuk memanggil suaminya, "M... Kak." Panggil Dira lirih.
"Ya, sayang." Jawab Axell merdu sambil menoleh ke arah Dira. "Kenapa, mau beli sesuatu?" Tanya Axell balik.
Dira menggeleng, bukan itu yang ia inginkan. "Gak ada, kak. Aku ada satu permintaan."
"Boleh." Jawab Axell sambil sedikit menoleh kesamping, Laki-laki itu sedang membelokkan mobilnya ke arah d'AXE Cafe dan bukan ke rumah.
__ADS_1
"Aku minta, nanti kalo kita... Itu... Aku mau kak Axell pakai pengaman." Ucap gadis itu masih dengan nada yang sama seperti tadi, ragu. Bahkan Dira sampai meremat kedua tangannya sendiri hanya untuk menunggu reaksi yang akan Axell tunjukkan.
"Pengaman?" Ulang Axell memastikan apa yang gadisnya itu katakan. Axell menoleh ke arah Dira dan mendapati istrinya itu menganggukkan kepalanya. Axell tidak bodoh, ia tahu betul apa yang gadisnya itu maksudkan tentang kata 'Pengaman'.
"Gak. Aku gak mau. Gak enak, yang!" Tolak Axell cepat.
"Tapi, kak-
"Aku gak bisa ngerasain, yang. Aku gak bakal puas, gak enak, dan pokoknya aku gak mau." Ucap Axell lagi yang masih bersikeras untuk menolak keinginan Dira.
'Enak aja suruh pake pengaman. Kamu gak tau aja, yang. Aku masih tetap pada planning aku yang pengen kamu cepet hamil.' Batin Axell bermonolog.
Dira setengah tidak percaya mendengar jawaban yang Axell berikan. Bahkan mata gadis itu sedikit melebar setelah mendengar apa yang Axell katakan tadi.
'Apa tadi, Gak enak? Gak puas? Gak bisa ngerasain? Ini berarti sebelumnya kak Axell...'
Axell kembali menatap ke arah Dira dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ok, ini pembicaraan serius.
Laki-laki itu lalu memelankan laju kendaraannya dan menepikan mobilnya seketika. Setelah mobilnya berhenti, Axell memutar tubuhnya menghadap ke arah Dira. Ia harus segera menampik apa yang gadisnya itu pikirkan tentangnya.
"Ok, aku mau bikin pengakuan sama kamu..." Ucap Laki-laki itu setengah menggantung.
Dira mendengus kesal, jadi benar dugaannya.
"...Selama aku pacaran sama dia, aku emang pernah beberapa kali cium dia. Tapi, untuk sampai ke tahap yang lebih..." Laki-laki itu menggeleng, "...Aku masih sangat menjaga, yang. Dan gak ada yang terjadi lebih dari itu. Karena aku memegang teguh prinsip bahwa hanya istri aku yang memiliki hak atas diriku sepenuhnya... Kamu yang pertama, yang." Terang Axell.
__ADS_1
Dira menatap lekat manik mata Axell, mencoba mencari kebohongan yang mungkin saja Laki-laki itu lakukan. Namun nihil, Dira yakin kalau Axell berkata jujur.
"Maaf..." Ucap Dira lirih, pada akhirnya hanya kata itu yang bisa Dira ucapan. Ia telah salah mengira kalau Axell pernah melakukan hal sejauh itu dengan mantan kekasihnya.
"Sekarang aku balik nanya sama kamu. Atas dasar apa kamu nyuruh aku pake pengaman kayak tadi? Aku suami kamu, yang. Kamu gak mau hamil anak dari aku? Iya? Bener begitu?" Tanya Axell beruntun.
Nah... kan, kalau kayak gini, giliran Axell yang salah paham.
"Bukan begitu, kak." Jawab Dira lirih.
"Lalu? Kasih aku alasan!" Ujar Axell dengan sorot mata serius.
Dira menghela nafas pelan, "Kita masih sama-sama sekolah, kak. Bahkan aku masih kelas sebelas-
"Apa masalahnya sih, yang?" Potong Axell dengan pertanyaan. "Kamu bahkan masih bisa bebas melanjutkan sekolah walau dalam keadaan hamil sekalipun. Dan kalo nanti kamu ngerasa gak nyaman di saat perut kamu yang udah mulai membesar, aku bisa urus semuanya... Home schooling akan menjadi solusi buat kamu. Aku pastikan kamu akan tetap melanjutkan pendidikan seperti yang kamu mau. Jadi apa yang masih kamu takutkan?"
"Maaf..." Ucap Dira lagi. Gadis itu pun menunduk karena merasa bersalah dengan apa yang ia katakan tadi.
Axell menghembuskan nafasnya pelan, "Bukan itu yang mau aku denger dari kamu, yang." Balas Axell.
Dira lalu mengangkat wajahnya untuk berhadapan dengan Axell, "Aku gak akan bilang kayak gitu lagi."
"Yang mana? Banyak yang kamu katakan tadi." Tanya Axell.
"Aku gak akan minta kak Axell pake pengaman kayak tadi... Maaf!" Ucap gadis itu lirih.
"Dimaafkan." Jawab Axell singkat. Laki-laki itu lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya. Ia memutar balik arah laju mobil mewah warna hitam tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya tadi Axell ingin mengajak Dira untuk singgah sejenak di d'AXE Cafe untuk sekedar menyapa para pekerjanya sekaligus untuk mengisi perut yang mulai terasa lapar. Tapi karena suasana hatinya yang berubah buruk perihal tentang Dira yang memintanya memakai alat kontrasepsi tadi, Axell jadi mengurungkan niatnya untuk mendatangi kafe miliknya tersebut dan memilih untuk pulang ke apartemen.