
"Berarti gue bener-bener harus ngelepas Lo, Dir." Lirih Arfen. Dira dapat mendengar dengan jelas, ada nada kesedihan yang keluar dari mulut Arfen.
"Ar... Maaf." Balas Dira lirih. Dira juga merasa sedih akan hal ini. Ia pernah menyukai Arfen. Tapi karena Dira sudah menjadi istri dari Axell. Gadis itu berusaha keras untuk menghilangkan perasaannya. Dan tanpa Dira sadari, sebenarnya Dira sudah mulai mencintai Axell.
Mungkin benar kata pepatah yang mengatakan kalau cinta ada karena terbiasa. Dan Dira telah terbiasa dengan adanya Axell disisinya.
"Hey, kok minta maaf sih." Ucap Arfen lembut. Tangan Arfen terangkat untuk mengusap lembut rambut Dira. Menyelipkan helaian rambut yang berterbangan karena angin ke belakang telinga gadis itu.
"It's Okay, my dear. Gue gapapa. Yang penting Lo bahagia dan dia bisa jagain Lo." Sambung Arfen yang melihat Dira yang mulai meneteskan air matanya.
Arfen berdiri dan memeluk Dira, menempelkan kepala gadis itu pada dada bidang miliknya. "Kebahagiaan Lo adalah yang terpenting buat gue, Dir. Meskipun Lo gak bareng gue. Seenggaknya... Kita masih bisa bersahabat dan... Gue masih bisa temuin Lo. Walaupun gak sesering dulu."
Hening, Dira diam karena masih menangis. Gadis itu sempat berpikir, kenapa papanya tidak menjodohkannya dengan Arfen saja dulu. Sampai sekarang pun, Dira tidak tahu alasan dari papanya yang menjodohkannya dengan Axell.
Kalau saja Dira boleh memilih, pasti dia akan memilih Arfen. Tapi semua sudah terlanjur. Dan Dira hanya bisa menerima kenyataan yang ada bahwa kini statusnya yang sudah menjadi istri dari Axell.
"Udah... Jangan nangis gini. Nanti dada Lo sesak. Gue gak mau asma Lo kambuh." Titah Arfen yang berusaha untuk menenangkan Dira.
Dira mulai tenang, ia harus bisa mengendalikan emosi dan nafasnya. Karena memang, Dira sudah mulai bisa merasakan. Nafasnya yang mulai berat.
"Ar... Anter gue pulang!" Pinta Dira setelah berhenti menangis. Ia harus cepat sampai apartemen sebelum asmanya benar-benar kambuh.
Arfen menghela nafas pelan, ia mengerti kalau Dira sudah mulai merasakan sesak pada nafasnya. "Ok, gue anter Lo pulang."
Kurang dari tiga puluh menit, mobil Arfen sudah sampai di mini market dekat apartemen Dira. Gadis itu meminta Arfen mengantarkannya hanya sampai di sana.
"Jadi selama ini Lo di apart?" Tanya Arfen pada Dira yang akan turun dari mobil.
Dira mengangguk. "Gue keluar dulu ya, makasih udah mau anterin gue."
Arfen tersenyum, "Gak usah makasih kalo sama gue, Dira. Gue yang bawa Lo, jadi gue yang tanggung jawab nganterin Lo pulang."
Dira tersenyum, sampai akhirnya keluar dari mobil Arfen. Sementara Arfen, laki-laki itu hanya diam di dalam mobil sambil memperhatikan Dira.
Sebenarnya Arfen ingin mengantarkan Dira sampai di unitnya. Tapi Dira menolak karena takut Axell melihatnya nanti.
Tapi tunggu, tiba-tiba Arfen keluar dari dalam mobil dan melepaskan Hoddie yang ia pakai, lalu menyusul Dira dan mengikatkan Hoddie tersebut pada pinggang Dira.
Dira yang tak tau apa-apa itu pun bingung. Ia menatap Arfen seakan bertanya kenapa.
"Lo nembus."
__ADS_1
Flashback off.
Nafas Dira kian sesak. Kini ia tengah mencari inhaler yang entah ia lupa meletakkannya di mana.
Dira mengacak-acak laci meja riasnya dan nihil, Dira tak menemukan alat itu di sana. Nafasnya kian berat. Dira bahkan kini terduduk di lantai. Tak kuat lagi berdiri. Ia bahkan berusaha menekan-nekan dadanya untuk meringankan rasa yang semakin menyakitinya.
"Sakit." Lirih gadis itu. Sesak di dadanya semakin merasainya.
Di saat Dira yang sudah semakin tak berdaya, bahkan untuk menegakkan duduknya gadis itu sudah tak mampu, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Ceklek,
"Astaga, Dira!" Axell terkejut dengan apa yang ia lihat. Dira terduduk lemas di lantai dengan wajah yang pucat.
"K-kak Ax-xell, to-tolong." Pinta Dira sambil meremat Bathrobe di bagian dadanya.
Dengan sigap, Axell menggendong Dira untuk ia letakkan di atas ranjang. Axell lalu membuka laci meja yang terletak di samping tempat tidur untuk mengambil inhaler yang sudah ia simpan beberapa Minggu lalu di laci tersebut.
Axell tahu, hal ini pasti akan sering terjadi. Mengingat istrinya yang memang menderita asma. Maka dari itu, ia sengaja membeli beberapa inhaler yang sudah ia letakkan di beberapa tempat. Salah satunya di apartemen Dira.
Axell cepat-cepat mengarahkan alat itu pada mulut Dira. "Dira, buka Mulutnya!" Titah Axell pelan.
Dira yang hampir kehilangan kesadaran itu pun diam tak merespon. "Ayo, sayang. Buka mulutnya! Hisap!" Titah Axell lagi.
Setelah beberapa menit, Dira melepaskan alat tersebut. Ia nampak masih kembali mengatur nafasnya yang sudah kembali normal.
"Sudah lebih baik?" Tanya Axell sambil mengelus lembut rambut Dira dengan sayang.
Dira hanya mengangguk pelan. "Jangan bikin gue khawatir!"
"Maaf." Lirih Dira.
"Gue yang minta maaf. Seharusnya gue tadi langsung kesini dan bukan ke lantai atas." Pungkas Axell yang malah mengundang senyum dari Dira.
"Makasih." Gadis itu kini bangun dan turun dari ranjang.
"Mau kemana?" Tanya Axell yang sedari tadi memperhatikan Dira yang kini tengah membuka lemari bajunya.
"Ganti baju." Jawab Dira yang kini kembali ke kamar mandi.
Axell lupa, tadi gadisnya masih mengenakan Bathrobe dengan rambut yang sedikit basah. Sudah dapat Axell pastikan kalau Dira tadi habis mandi. Axell bahkan masih dapat mencium aroma sabun dari tubuh gadisnya. Tiba-tiba Axell geleng-geleng kepala sendiri. Merasa pikirannya mulai kacau.
__ADS_1
"Ini udah lebih dari tiga bulan, tapi gue belum juga dapetin hak gue... Sabar Jasson, ini belum saatnya." Gumam Axell sambil terkekeh sendiri.
...***...
Malam harinya setelah makan malam, Dira kini tengah di sibukkan dengan tugas sekolah yang siang tadi di berikan oleh pak Dhana.
Berbeda dengan Dira yang tengah belajar, Axell kini tengah duduk bersandar di sofa sambil memangku laptop, seperti biasa, ia sedang memeriksa laporan dari kafenya.
"Huuhh..." Terdengar helaan nafas panjang dari Dira menandakan ia sudah selesai mengerjakan tugasnya. Axell mengangkat kepalanya dan menatap Dira sekilas. "Udah selesai ngerjainnya?"
Dira mengangguk tanpa menoleh ke arah Axell, "Baru selesai."
Axell mengangguk. "Duduk sini! Gue mau ngomong." Pinta Axell sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Tak menolak, Dira langsung bangkit dan duduk tepat di samping Axell. Gadis itu juga menyenderkan tubuhnya pada sofa sembari memejamkan matanya.
"Capek banget ya? Banyak banget tugasnya?" Tanya Axell yang kini beralih memperhatikan Dira.
Dira kembali membuka matanya dan menggeleng. "Gak kok, kak. Kak Axell tadi mau ngomong apa?"
"Misal gue ngajak Lo tinggal di rumah ayah, Lo keberatan gak?" Tanya laki-laki itu.
Dira mengerenyitkan dahinya bingung, "Kenapa harus keberatan?"
Axell hanya mengangkat bahunya. "Kalo gitu, mulai besok, kita pulang ke rumah."
"Tapi, kak. Kenapa tiba-tiba kak Axell ngajak tinggal di rumah ayah?" Tanya Dira penasaran. Padahal di awal pernikahan Axell sendiri yang mengajaknya untuk tinggal di apartemen.
Axell menghembuskan nafas pelan. "Sebentar lagi gue akan semakin sibuk, Dir. Ujian tinggal beberapa bulan. Gue gak bisa selalu jagain Lo disini." Axell lalu meraih botol air minum di sampingnya untuk ia minum airnya. "Setidaknya, kalo Lo tinggal di rumah, ada bunda yang jagain Lo. Gue jadi sedikit lebih tenang."
"Aku udah biasa sendiri, kak." Jawab Dira lirih.
"Lo mau coba bantah gue?" Tanya Axell yang kini menatap serius ke arah Dira. Gadis itu pun reflek menggelengkan kepalanya. "Bukannya istri itu harus nurut apa kata suami?"
"Maaf." Ucap Dira lirih, ia tak bermaksud begitu tadi, hanya saja Dira tidak mau merepotkan siapa pun.
Tangan Axell terangkat untuk mengusap lembut pipi Dira.
Deg,
Jantung Dira kembali berdetak tak karuan, padahal Axell hanya menyentuh pipinya.
__ADS_1
"Jangan buat gue khawatir, Dira."