
Dira berjalan keluar dari toilet dengan benda pipih yang menempel di salah satu telinganya. Berbicara dengan seseorang di seberang sana. Gadis itu terlihat begitu bahagia.
Tanpa Dira sadari, ada suami sekaligus sahabatnya yang baru saja keluar dari ruangan OSIS sedang memperhatikannya dari belakang dan berjalan mengikuti gadis itu.
Dira terlihat sesekali tersenyum, entah apa yang di bicarakan, tiba-tiba saja Axell menjadi begitu ingin tahu.
Dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku, Axell berjalan dengan santainya. Ia semakin mendekat ke arah Dira, meninggalkan Nayla yang berjalan di belakangnya. Laki-laki itu ingin tahu, siapa yang menelpon gadisnya.
"Dira!!" Panggil Axell yang masih berjarak sekitar beberapa meter dari Dira berdiri sekarang.
Merasa namanya di panggil, gadis itu menoleh. Dan mendapati Axell yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Telpon siapa?" Tanya Axell To the point.
"Kak Axell... Ini dari-
Belum sempat Dira melanjutkan kata-katanya, Axell lalu mengarahkan tangannya, "Coba gue liat."
Melihat sikap Axell yang seperti ini, Dira mengerti, Axell tengah curiga padanya. Mungkin Axell mengira ia sedang menelepon Arfen. Tanpa membuang waktu, Dira lalu menyerahkan ponselnya pada Axell yang langsung di terima dengan baik oleh laki-laki itu.
Dengan cepat, Axell membaca nama yang tercantum pada layar ponsel Dira yang masih menyala itu. Menampilkan ID Number bernama "Bunda."
Karena panggilan itu masih tersambung, maka terdengar suara wanita paruh baya yang sedang memanggil si pemilik ponsel di seberang sana.
Axell bisa mendengar suara yang muncul dari ponsel tersebut, bahkan sangat hafal siapa pemilik suara itu. Ya... Bunda Resty. Wanita yang sudah melahirkannya.
"Halo, Bun. Ini Axell." Sapanya pada sang bunda.
"(....)."
"Ini Axell lagi sama Dira, Bun."
"(....)." Axell menarik salah satu sudut bibirnya mendengar apa yang di katakan Bundanya.
"Tenang aja, Bun, Axell pasti akan selalu jagain Dira... Axell tahu apa yang harus Axell lakuin." Ucap Axell sambil menatap Dira.
"Iya, Bun. Ya udah, Axell tutup dulu telponnya."
Tutt...
Dan panggilan itu pun berakhir. Akan tetapi, bukanya mengembalikan ponsel Dira, Axell malah memasukan ponsel Dira kedalam saku celana kanannya dan mengambil ponselnya dari dalam saku celana sebelah kiri.
"Tukeran." Ucapnya sambil memberikan ponsel miliknya pada Dira. Sementara Dira yang mengerti maksud Axell pun langsung menerima ponsel tersebut. "Tapi, kak- ... Emang gak apa-apa ya?" Tanya Dira ragu
"Gak. Lo kan is... Pacar Gue. Password-nya pakai tanggal lahir Lo." Jawab Axell yang hampir keceplosan menyebut Dira istri. Dira hanya mengangguk patuh. Mending cari aman kan?
"Jadi kalian beneran udah jadian?" Tanya Nayla yang memperhatikan keduanya sejak tadi.
Tapi belum sempat Dira membuka mulut, Nayla kembali melontarkan pertanyaan. "Jadi suara cowo yang gue denger di kamar Dira waktu itu... Lo, Xell?" Tanyanya pada Axell.
"Iya."Jawab Axell singkat.
__ADS_1
Seketika Nayla membulatkan matanya mendengar jawaban dari Axell. "Apa yang Lo lakuin berdua di dalam kamar?" Tanya Nayla yang terkesan ambigu.
Axell tersenyum menyeringai mendengar pertanyaan dari Nayla. "Urusan gue sama pacar gue."
"Jangan aneh-aneh Lo! Dira itu masih polos, belum pernah pacaran juga. Jangan Lo macem-macemin. Awas lo!" Ucap Nayla tak terima.
Axell tersenyum dalam hati mendengar apa yang di katakan Nayla. Ia sudah menduga sebelumnya saat pertama kali mencium Dira, dimana gadis itu yang sangat kaku saat Axell menciumnya. "Gue tahu apa yang harus gue lakuin." Jawab Axell dingin.
"Bagus kalo lo tau." Jawab Nayla yang tak lagi mendapat tanggapan dari Axell. Ia lebih tertarik untuk mengajak gadisnya bicara dari pada Nayla.
Tangan Axell terangkat untuk mengacak pelan rambut Dira, "Lo udah makan?" Tanya Axell pada gadisnya.
"Udah kak. Kak Axell sendiri?" Tanya gadis itu. Axell tersenyum, mendengar pertanyaan dari Dira. Tangannya kembali terulur untuk mengusap lembut rambut Dira. "Belum. Temenin gue makan mau?"
...***...
Bel pulang sekolah telah berbunyi hampir setengah jam yang lalu, kini keduanya sedang berada di dalam mobil untuk menuju ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, kak?" Tanya Dira saat melihat Axell yang Melawati begitu saja jalan yang mengarah ke apartemen.
"Kita pulang." Jawab Axell singkat.
"Ke rumah Bunda?" Tanya Dira memastikan.
Axell mengangguk, "Kemarin gue udah nemenin Lo ke rumah Papa. Sekarang Lo ikut gue... Temenin suami Lo ke rumah bunda!"
Deg,
"Mau mampir mini market dulu? Mungkin ada sesuatu yang mau Lo beli?" Ucap Axell menawarkan.
"Boleh." Jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, Axell menghentikan mobilnya di depan Indo April. Keduanya turun dan mulai memasuki mini market tersebut.
"Lo mau beli apa?" Tanya Axell yang sudah mulai mendorong troli belanjaan.
"Mungkin cuma cari cemilan sama buah, Kak." Jawab gadis itu sambil melangkah menuju rak yang terdapat berbagai macam buah.
"Kak Axell mau buah apa?" Tanya Dira yang tengah melihat-lihat buah yang akan ia beli.
"Yang ada di Lo... Gue suka itu." Jawab Axell santai.
Dira membelalakkan matanya mendengar jawaban dari Axell tadi. 'Yang ada di gue? Dia suka? Maksudnya...' gumam Dira dalam hati.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
Seketika tubuh Dira menegang dengan sendirinya. 'Buah yang ada di gue...' Dira lalu melirik bagian dadanya.
__ADS_1
"Kak Axell, jangan aneh-aneh deh." Protes gadis itu.
Axell menarik satu alisnya, "Aneh gimana?Bukanya Lo sendiri yang nawarin buah ke gue?"
"Iya tapi gak gitu maksudnya?" Jawab Dira.
"Terus maksud Lo yang kayak gimana?" Tanya Axell bingung sendiri.
"Maksud aku itu... Buah beneran." Jawab Dira lirih.
"Emang yang Lo pegang itu mainan?" Tanya Axell sambil menunjuk buah apel yang sedari tadi Dira pegang.
Dira mengikuti arah jari telunjuk Axell dan melihat tangannya yang memang memegang buah apel. Seketika Dira jadi malu sendiri. Ia sempat salah tanggap tadi.
Cletuk,
"Aw..." Pekik Dira lirih setelah Axell menyentil keningnya. "Sakit, kak." Protes gadis itu.
"Lo pikir buah apa tadi? Jangan Nething Lo sama gue!" Ujar Axell yang mengerti apa yang ada dalam pikiran Dira saat ini.
Tak ingin menanggapi apa yang baru saja Axell katakan, Dira lebih memilih untuk memasukan buah apel ke dalam troli lalu pergi meninggalkan Axell menuju rak yang berisikan camilan dan minuman ringan.
Setelah memasukan beberapa bungkus camilan dan minuman ringan, Dira lalu memilih untuk menyudahi belanjanya. Ia berjalan untuk menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya.
"Dir..." Panggil Axell dari belakang tiba-tiba.
Dira menghentikan langkahnya dan menoleh, "Ada apa, kak?"
"Lo gak mau beli ini?" Ucap Axell yang berhenti tepat di samping rak yang menampilkan berbagai jenis roti Jepang bersayap.
Dira mendekat dan mengangguk setelah tahu apa yang di maksud oleh Axell. Ia memang membutuhkannya. Mengingat sekarang ini ia kan menginap di rumah Ayah Marvellyo dan gadis itu belum membawanya untuk persediaan di sana.
Dengan gerakan cepat, Dira mengambil beberapa jenis roti Jepang itu. Satu merek tapi dengan berbagai macam ukuran dan warna kemasan yang berbeda.
"Udah, kak." Ucap gadis itu yang mendapat anggukan kepala dari Axell.
Sampai di kasir Axell lalu membayar belanjaan Dira. "Udah ini aja, gak mau nambah?" Tanya Axell.
Dira menggelengkan kepalanya, "Udah cukup, kak. Aku pengen cepet sampai rumah... Capek."
Axell menarik satu sudut bibirnya mendengar jawaban dari Dira. Axell menyadari satu hal, Dira sudah mulai mengatakan keluhannya. Ini merupakan suatu kemajuan, karena biasanya gadis itu akan mengatakan seperlunya saja saat di ajak bicara.
Axell mengacak pelan rambut Dira. "As you wish, (Honey)."
.
.
.
*Gimana nih? Kasih tanggapan kalian dong! Menurut kalian, cerita aku ini gimana? Jangan cuma baca doang! Kasih aku kritik dan saran yang pasti membangun. Komen dibawah ya! Jangan lupa kasih Like and Vote, Biar aku jadi makin semangat up-nya. TQ .. & See you bye-bye...😘
__ADS_1