
Plak,
Ceklek,
"Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan, Ninda?" Tanya laki-laki yang baru saja keluar dari ruang kerja Axell tersebut.
Sebelumnya, Rheyhan yang sedang di dalam ruang kerja Axell itu sedang membaca laporan keuangan dari d'AXE Cafe. Tapi tiba-tiba perhatiannya teralihkan dengan suara samar yang ia dengar dari luar ruangan. Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana, Rheyhan memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
Dan tepat saat Rheyhan keluar ruangan dari ruangan Axell tersebut, laki-laki itu terkejut saat tak sengaja melihat adegan kekerasan yang baru saja di lakukan oleh salah satu pelayan di kafe milik sepupunya tersebut.
Entah apa pemicunya, seorang Ninda tiba-tiba menampar Dira dan langsung membuat wajah Dira otomatis tertoleh kesamping akibat tamparan keras yang Ninda berikan.
Dira yang sedang berdiri berhadapan dengan Ninda dengan posisi wajah yang sedikit menunduk dan satu tangan yang menempel pada pipi bagian kirinya.
"Pak Rhey..." Ucap Ninda tertahan. Gadis itu terkejut mendapati seorang Rheyhan, manajer dari d'AXE Cafe yang tiba-tiba keluar dari ruangan kerja Axell. Setahu Ninda, Rheyhan belum datang tadi. Tapi ini...
"Ninda, apa yang kamu lakukan?" Tanya Rheyhan tak sabaran. Laki-laki itu lalu menatap Dira yang masih menunduk sedari tadi.
Rheyhan lalu mendekat ke arah Dira. Menyibakkan rambut gadis yang hanya diam di depannya itu dengan tangan kiri dan tangan kanannya berusaha meraih tangan Dira agar tak lagi menutupi pipi bekas tamparan Ninda.
Dan saat Rheyhan berhasil menurunkan tangan gadis itu, tiba-tiba mata Rheyhan membulat dengan sempurna saat mendapati pipi Dira yang memerah bekas telapak tangan. Sangat jelas. Tamparan Ninda, tidak main-main tadi.
"Ada apa ini?" Pertanyaan yang muncul dari seseorang yang baru saja datang. Axell, laki-laki itu melihat tiga orang yang sedang berdiri di depan ruangannya. Dapat Axell tebak, sesuatu pasti telah terjadi sesaat sebelum kedatangannya.
Bukanya menjawab pertanyaan dari Axell, Rheyhan lebih memilih untuk melontarkan pertanyaan pada Ninda. "Ninda, kenapa kamu menampar Dira?" Pertanyaan yang bernada dingin itu seketika membuat Ninda tegang.
Berbeda dengan Ninda, Axell malah semakin terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Menampar?" Tanya Axell mengulang pertanyaan dari Rheyhan tadi.
Laki-laki itu lalu memperhatikan wajah gadisnya. Dan benar saja, Axell dapat melihat dengan jelas, gambaran warna merah berbentuk lima jari yang nampak sangat ketara, terlukis di pipi mulus milik gadisnya.
Seketika rahang Axell mengeras saat itu juga. Pipi mulus yang selalu ia kecup dan cium itu meradang hanya karena sebuah tamparan keras dari seorang Ninda yang tak lebih hanyalah seorang pelayan yang bekerja di kafenya. Tangan Axell bergerak naik keatas untuk mengelus pipi gadisnya yang terlihat mulai bengkak itu.
"Sshh..." Terdengar ringisan pelan yang keluar dari mulut Dira, menandakan gadisnya itu sedang kesakitan dan itu langsung membuat Axell kini melayangkan tatapan tajam ke arah Ninda.
Gleg.
Mendapat tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari Axell yang seperti itu, membuat gadis bernama Ninda itu meneguk ludahnya kasar. Perasaan takut tiba-tiba menghampirinya tanpa permisi.
"Jawab Ninda!" Tegas Rheyhan seakan menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari dari gadis itu.
"Ak- Aku-
__ADS_1
Axell langsung mengangkat satu telapak tangannya ke arah Ninda, seakan tak menerima satu kata pun yang akan terlontar dari mulut gadis itu. "Yang... Ayo masuk, aku obatin!" Ucap Axell sambil melingkarkan lengannya di pundak Dira, lalu menggiring gadis itu agar masuk lebih dulu kedalam ruangannya. Saat Axell mengikuti Dira masuk kedalam, tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rheyhan.
"Bang, gue serahin dia sama Lo. Bilang ke dia, ini terakhir kali gue liat mukanya di d'AXE Cafe. Next time gue gak mau liat mukanya ada disini lagi." Ucap Axell penuh dengan ketegasan sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruangannya untuk menyusul Dira.
Mata Axell memang menatap ke arah Rheyhan tadi, tapi tidak dengan jari telunjuk Axell yang menuding ke arah Ninda. Dari sudut pandang Rheyhan, ia bisa melihat dengan jelas, betapa Axell tengah marah saat ini. Siapa yang tidak marah, melihat orang yang dicintai mendapat tindak kekerasan seperti itu.
...***...
"Si Dira lama banget, sih, di toilet!" Protes Nayla yang memang sedari tadi sudah menunggu Dira dari tadi.
"Sakit perut kali, Beib, Diranya!" Jawab Verrel santai. Nayla hanya menatap malas ke arah Verrel.
Sementara Bastian, ia sedang menatap kedua pasangan yang duduk satu meja dengannya. Laki-laki itu menggeleng samar kala mengingat mengapa Axell tidak mengatakan kebenaran antara statusnya dengan Dira?
'Sampai sekarang, gue masih belum tau apa rencana Lo, Xell. Kenapa Lo nutupin status Lo dan Dira sama sahabat Lo sendiri? Ini si Nayla malah sampe mikir yang enggak-enggak sama Lo.'
"Lo kenapa, Bas?" Celetuk Verrel yang tadi sempat melihat Bastian yang sedang menggelengkan kepalanya.
"Gue kenapa?" Bukannya menjawab, Bastian malah bertanya balik.
"Ck." Verrel berdecak. Bastian terlihat tidak seperti biasa akhir-akhir ini. Verrel tahu, ada yang sedang Bastian sembunyikan darinya. Tapi Verrel tidak tahu itu apa, dan belum berniat untuk mencari tahu sekarang ini.
"Gue susulin Dira, deh." Ucap Nayla yang sudah mulai berdiri untuk menyusul Dira ke toilet.
"Kelamaan, gue gak mau kalo-
Kalimat yang akan Nayla ucapkan seketika terhenti saat melihat seorang gadis yang berjalan cepat menuju pintu keluar dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Kenapa? Belum pernah liat cewe nangis?" Pertanyaan yang keluar dari Rheyhan.
"Bukan gak pernah liat cewe nangis, Bang. Pertanyaannya disini kenapa 'tuh cewe nangis? gitu." Jawab Bastian.
Enggan menjawab, Rheyhan hanya mengendikan bahunya acuh.
"Ada hubungannya sama Lo, Bang?" Tanya Verrel penuh selidik.
"Lebih tepatnya, sama Axell." Jawab laki-laki itu santai.
"Axell!" Ucap Bastian dan Verrel bersamaan.
"Abis nyari masalah dia." Ucap Rheyhan lagi.
__ADS_1
"Nyari masalah gimana maksud Lo, Bang. Yang jelas dong kalo ngomong!" Protes Verrel ingin tahu. Setahu Verrel, Ninda itu sudah lama kerja d'AXE Cafe. Bahkan Verrel ingat, gadis itu pernah bilang kalau ia senang bisa bekerja di kafe ini. Terus sekarang, masalah seperti apa yang di buat oleh gadis itu?
"Tadi gue liat, 'tuh cewe nampar Dira." Jelas Rheyhan dan sukses membuat tiga pasang mata itu membulat seketika.
"APA?" Ucap Nayla, Verrel dan Bastian bersamaan. Mereka begitu terkejut dengan apa yang baru saja Rheyhan katakan tadi.
"Tapi kenapa, Bang?"
"Kenapa 'tuh cewe nampar Dira?"
"Terus kenapa 'tuh cewe keluar sambil nangis."
"Sekarang Dira dimana, Bang?"
"Terus reaksi Axell... Hais... Pasti si Axell marah banget."
Serentetan pertanyaan beruntun yang di ucapkan bergantian dari ketiganya. Bukannya menjawab, Rheyhan malah menatap malas ke arah ketiganya secara bergantian.
"Kenapa cuma diem sih, Bang? Jawab dong!" Ucap Nayla.
"Kenapa jadi pada kayak pemburu berita sih, Lo pada?" Protes Rheyhan.
"Ya kita kan pengen tau, ilah..." Jawab Bastian yang semakin tidak sabar.
Rheyhan mendengus kesal. "Lo pada ngeh nggak, 'tuh cewe kayak suka gak sih sama Axell?" Ujar Rheyhan.
Verrel dan Bastian reflek mengangguk, karena memang mereka juga sudah tahu hal itu sejak lama. Berbeda dengan Nayla yang tidak tahu apa-apa. Gadis itu memilih diam dan mendengarkan apa yang akan Rheyhan katakan setelahnya.
"Gue gak tau apa motif di balik aksi Ninda nampar Dira. Tapi kayaknya 'tuh cewe cemburu ngeliat Dira sama Axell." Jawab Rheyhan.
"Terus sekarang Dira-
Pertanyaan yang belum terucap sepenuhnya itu langsung di jawab oleh Rheyhan. "Ada, lagi di obatin sama Axell."
.
.
.
*Sorry ya zheyeng-zheyengku ๐, tidak upnya cerita aku beberapa hari ini adalah imbas dari tumbangnya diriku. Bener-bener istirahat dan gak nulis sama sekali. Jadi maaf banget kalo aku ngecewain kalian.
__ADS_1
*Buat yang udah stay nunggu ceritaku, aku ucapin makasih banyakยฒ, kalian... Terbaik ๐๐..