Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
46. Menimang cucu.


__ADS_3

"Kalo gue perhatiin, lo kurusan sekarang, dari semenjak kita ketemu pertama kali. apa Lo tertekan dengan pernikahan kita ini? Sorry kalo gue belum bisa jadi suami yang baik buat Lo!" Ucap Axell lirih. Tangannya terulur untuk mengusap pelan puncak kepala Dira. Lalu Axell bergegas untuk mengganti seragam sekolahnya dengan baju rumahan.


Setelah Menganti bajunya, Axell menyusul Dira yang masih tertidur di ranjang. Ditatapnya kembali wajah damai Dira yang masih terpejam.


"Gue nggak tahu, harus bersikap seperti apa sama Lo dan pernikahan kita ini." Ucap Axell pelan lalu mengubah posisinya menjadi telentang dari yang sebelumnya miring menghadap Dira.


Axell memandang lurus ke atas. Laki-laki itu menatap sendu ke arah langit-langit kamarnya.


"Dulu gue berkeinginan, bisa menikah dengan orang yang gue cintai setelah gue lulus kuliah..." Ucap Axell sambil tersenyum kecut. Mengingat dulu ia pernah mencintai seseorang dan menikah dengannya saat sudah lulus kuliah nanti. Tapi gadis itu memilih untuk meninggalkannya.


"...Gue punya prinsip, menikah hanya sekali seumur hidup, sama seperti Ayah dan Bunda..." Axell tampak menghela nafasnya pelan.


"... Tapi sekarang..." Axell beralih menatap wajah Dira. "Dengan tiba-tibanya dan nggak pernah gue duga sama sekali, gue udah jadi suami Lo. Jadi, sebisa mungkin gue harus bisa jagain Lo. Karena Lo tanggung jawab gue. Istri gue, dan selamanya akan tetap menjadi istri gue." Pungkas Axell lirih, tapi penuh dengan ketegasan. Seakan dirinya sudah bertekad untuk mempertahankan pernikahannya dengan Dira.


Axell mendekatkan wajahnya ke arah Dira dan,


Cup.


Satu kecupan ia berikan di kening Dira. Lalu Axell memutuskan untuk menyusul Dira untuk masuk ke dunia mimpi. Tanpa Axell tahu, sebenarnya Dira sudah terbangun sedari tadi. Sejak Axell mengungkapkan keinginannya.


Deg,


Deg,


Deg,


Detak jantung Dira berdegup kencang saat ia merasakan benda kenyal menyentuh dahinya tadi. Setelah dirasa tak ada pergerakan dari laki-laki di sampingnya membuat Dira akhirnya membuka matanya.


Deg,


Jantung Dira berdetak semakin cepat setelah melihat pemandangan di depan matanya. Sangat dekat. Posisi Axell yang hampir tak berjarak dengannya. Ia bahkan dapat melihat dengan sangat jelas leher putih mulus milik laki-laki yang sudah sebulan lebih ini resmi menjadi suaminya.


"Gue juga punya keinginan yang sama kak... Menikah sekali seumur hidup." Ucap Dira pelan, takut membangunkan Axell yang baru saja tertidur.


Karena tidak bisa mengontrol detak jantungnya, akhirnya Dira memutuskan untuk bangun. Ia harus mandi karena sudah menjadi kebiasaan Dira kalau pulang sekolah ia akan mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...***...


Sementara itu di tempat lain, Nayla sedang bersama dengan Arfen di sebuah kafe.


"Gue telpon-telpon dia, tapi nggak pernah di angkat." Keluh Arfen pada Nayla.


"Gue juga, loh. Tadi gue sempat kirim pesan buat Dira, tapi gak di bales, di read doang!" Gerutu Nayla.


"Lo ngerasa ada yang aneh nggak, sama Dira?" Tanya Arfen.


Nayla tampak berpikir sejenak. Kek nya Lo bener, Ar! Dira emang agak tertutup sama gue belakang ini." Jawab Nayla.


Arfen menganggukkan kepalanya seraya berpikir. "Beberapa waktu yang lalu, gue nemuin Dira di sekolahnya." Ucap Arfen.


"Terus?" Tanya Nayla semangat.


"Lo tau, nggak, gimana reaksi Dira waktu ngeliat gue?" tanya Arfen.


Nayla nampak mengerenyitkan dahinya, "Gue kan nggak ngeliat Lo berdua, Ogeb. Jadi gimana gue tau reaksi Dira." Ujar Nayla.

__ADS_1


Arfen mendengus sebal mendengar jawaban Nayla. "Dira kek ketakutan liat gue." Ucap Arfen lirih.


"Yang bener Lo?" Tanya Nayla tak yakin yang langsung mendapat anggukan kepala dari Arfen.


"Udah sore gini, mending kita pulang!" Putus Arfen saat melihat jam tangannya.


"Ok, gue bisa pulang sendiri nggak usah Lo anterin!" Ujar Nayla yang mendapat anggukan kepala lagi dari Arfen.


...***...


Kembali di kediaman keluarga Ayah Marvellyo.


Seorang gadis tengah berdiri di balkon sambil merentangkan kedua tangannya. Ia sedang merasakan hembusan angin yang sedang menerpa tubuhnya. Membuat helaian rambut gadis itu berterbangan. Sambil mendengarkan musik dari Earphone yang tersambung di ponselnya.


"Dir." Panggil Axell yang baru saja menyusul Dira di balkon. Laki-laki itu sudah terbangun dari tadi, dan kini ia baru saja selesai mandi.


Karena tak mendapat jawaban dari Dira membuat Axell berjalan mendekat kearah Dira. Dan saat Axell sudah berada di belakang gadis itu, tangan Axell terulur untuk melepas satu Earphone yang tersemat di telinga Dira.


'*P*antesan di panggil nggak denger!''


"Kak Axell, ada apa?" Tanya Dira sedikit terkejut.


"Lo udah makan?" Satu pertanyaan lolos dari mulut Axell.


Dira menggelengkan kepalanya, "Belum kak." Jawab Dira?


"Kenapa belum makan?" Tanya Axell lagi.


"Kak Axell kan juga belum makan?" Tanya Dira balik.


"Niatnya gue tadi mau rebahan doang, malah ketiduran. Gue capek banget hari ini." Keluh Axell sambil menatap ke arah awan yang mulai menggelap karena mendung, seperti akan turun hujan.


"Ayo masuk, udara semakin dingin. Nanti Lo sakit!" Titah Axell sambil berjalan memasuki kamarnya di susul Dira yang tepat berada di belakangnya.


'*K*ak Axell khawatirin gue?'


Tepat saat Axell kembali masuk ke kamar, terdengar suara bunda memanggil. "Boy, Dira!" Panggil Bunda Resty dari balik pintu kamar Axell. Dengan cepat, Axell meraih Knop pintu untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek,


"Iya, Bun." Jawab Axell saat melihat wanita paruh baya yang selama delapan belas tahun ini telah membesarkannya.


"Boy, Dira mana?" Tanya Bunda Resty. Sementara Dira yang merasa di panggil pun langsung menyahut.


"Dira disini, Bun." Sahut Dira.


"Ayu turun, makan dulu! Kalian belum makan kan sedari tadi sampai." Ujar Bunda Resty.


"Iya, Bun. Ini Axell juga baru mau ngajakin Dira makan." Jawab Axell.


"Yaudah, Bunda keluar dulu ya, Ayah kalian juga sudah nunggu di meja makan." Ucap Bunda Resty.


"Iya, Bun." Jawab Axell dan Dira bersamaan. Keduanya pun memutuskan untuk mengikuti Bunda Resty menuju meja makan. Dan benar saja, sampai di ruang makan, Ayah Marvellyo tengah menunggu kedatangan mereka.


"Dira, kamu disini, nak?" Ucap Ayah Marvellyo senang.

__ADS_1


"Iya, Yah." Jawab Dira sambil tersenyum kearah mertuanya.


"Bagus kalo begitu. Kebetulan, ada yang mau Ayah omongin sama kamu, Boy." Ucap Ayah Marvellyo sambil menatap wajah putranya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Ayah Marvellyo tadi membuat Axell menarik satu alisnya, "Ada apa, Yah." Tanya Axell ingin tahu.


"Besok kamu ikut Ayah Meeting di kantor!" Titah Ayah Marvellyo tegas.


"Tapi Yah, besok Axell har-"


"Kamu bisa izin sama wali kelas kamu!" Ucap Ayah Marvellyo memotong ucapan Axell.


Axell menghela nafas pelan, ia tahu seperti apa perangai ayahnya ini. Segala sesuatu yang ayahnya ucapkan adalah hal yang harus di lakukan dan tidak bisa di bantah.


"Turuti saja, Boy!" Titah Bunda Resty dengan nada lembut bermaksud agar putranya ini mau menuruti kemauan dari ayahnya.


"Baik, Yah." Ucap Axell pasrah. Mau gimana lagi? Emangnya Axell bisa nolak? Nggak semudah itu kali, Xell. 😂🤣


Sementara Dira, ia hanya diam mendengar interaksi ketiganya sambil mengambilkan makanan untuk Axell.


"Makasih." Ucap Axell saat Dira meletakkan piring yang sudah terisi makanan di depannya. Dira hanya tersenyum sambil menatap ke arah Axell sesaat dan menganggukkan kepalanya.


Hening, Untuk sesaat hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring. Sampai akhirnya Ayah Marvellyo melontarkan sebuah pertanyaan,


"Boy, apa kamu belum punya kabar bahagia yang mau kamu sampaikan untuk Ayah dan Bunda?" Tanya Ayah Marvellyo sambil fokus pada makanannya.


Axell yang mendengar pertanyaan dari ayahnya itu langsung mengernyitkan dahinya bingung. Memangnya kabar bahagia apa yang akan dia sampaikan?


"Kalian kan sudah satu bulan lebih menikah. Apa belum ada tanda-tanda Dira..." Ucap Ayah mengantungkan kalimatnya sambil menatap kearah anak dan menantunya secara bergantian.


"Memangnya Dira kenapa, Yah?" Tanya Axell yang sengaja menampilkan kesan Cool-nya. Axell tidak bodoh. Ia tahu apa yang ayahnya ini maksudkan.


"Ayolah, Boy. Ayah tahu kamu Cerdas, dan pasti tahu apa yang Ayah maksudkan." Ujar Ayah Marvellyo.


Axell diam. Tak ingin menjawab, ia masih menunggu apa yang akan Ayahnya ini katakan selanjutnya.


Melihat Putranya yang hanya diam, akhirnya Ayah Marvellyo menjelaskan dari maksudnya.


"Maksud Ayah..." Ucap Ayah terjeda, ia sedang melemparkan senyum ke arah Bunda Resty yang langsung di balas senyum serta anggukan kepala oleh Bunda Resty.


"...apa belum ada tanda-tanda Ayah akan segera menimang cucu?" Tanya Ayah Marvellyo yang sukses membuat Dira tersedak.


"Uhuk... uhuk...


.


.


.


*Sorry ya guys, Aku jarang Up akhir-akhir ini! 🙏🏻🙏🏻 karena memang aku lagi ada kesibukan di Real life aku.


*Buat kalian semua yang udah setia banget nungguin cerita aku, aku ucapin banyak-banyak terima kasih.


*Dan seperti biasanya ya, Jangan lupa buat Like, Coment and Vote Cerita ini. yang udah ngasih Like dan Coment, Vote aku ucapin makasih banyak-banyak. 😘😘😘

__ADS_1


*Kedepannya insyaallah aku usahain untuk bisa Up tiap hari. Bye-bye ..😘😘**


__ADS_2