
"Sorry, udah kelamaan ngurung Lo disini sampai Lo ketiduran." Ujar Axell dengan rasa bersalahnya.
Axell mengangkat kepala Dira dengan pelan dan sangat hati-hati, tak ingin gadis itu sampai terbangun. Lalu Axell meletakkan kepala Dira di atas lengan kirinya.
Setelah kepala Dira ia letakkan di lengannya dengan nyaman, tangan Axell yang satunya kembali terulur untuk mengusap lembut rambut hitam kecoklatan milik Dira. Begitu halus, lembut dan em... wangi menurut Axell. Wangi yang sangat menggoda dan begitu memabukkan untuk laki-laki itu. Entah mengapa Axell begitu menyukai wangi rambut Dira. Sampai akhirnya Axell pun ikut tertidur dengan posisi memeluk gadisnya.
...***...
Saat Axell dan Dira masih terlelap dalam tidurnya, seorang pelayan yang tak lain adalah Ninda kembali masuk keruangan Axell untuk membersihkan makanan yang ia antarkan untuk Dira tadi.
Sebelumnya,
Tadi Axell meminta Ninda untuk mengantarkan makanan untuk Dira ke ruangannya, tapi berhubung Verrel datang secara mendadak, akhirnya Verrel lah yang menghabiskan makanan tersebut.
Sebelum Axell menyusul Dira ke kamar, ia sempat meminta Ninda untuk membersihkan meja bekas Verrel makan tadi, lalu mengganti makanannya satu jam kemudian.
Ceklek,
'Kok nggak ada siapa-siapa? Perasaan Axell sama 'tuh cewe belum pulang? Kemana mereka? Atau jangan-jangan... Mereka? (Mata Ninda menatap ke arah pintu kamar Axell). Batin Ninda menerka-nerka.
'Nggak mungkin!' Ninda menggelengkan kepalanya, mencoba menyangkal apa yang ia pikirkan. Ia lalu bergegas membereskan meja dan keluar dari ruang kerja Axell.
...***...
Didalam kamar,
Setelah tertidur selama hampir dua jam, Axell mulai terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadarannya. Setelah matanya terbuka dengan sempurna, ia baru ingat. Mereka tidur di kafe.
Axell menatap wajah gadis yang masih terlelap dalam pelukannya. Seulas senyuman muncul dari bibirnya, ternyata gadisnya masih tertidur dengan lelap.
Axell memperhatikan wajah damai Dira. "Cantik." Satu kata lolos dari mulut Axell.
Tangan Axell yang sedari tadi memeluk gadis itu pun kini terangkat untuk menyelipkan anakan rambut Dira yang menutupi sebagian wajahnya ke telinga gadis itu. Agar Axell bisa menatap wajah Dira yang sedang tertidur itu dengan lebih jelas tanpa sesuatu yang menghalangi pandangannya.
Cukup lama Axell berada di posisi seperti ini. Bahkan rasa pegal pada tangannya pun tak ia rasakan. Sampai pada akhirnya Dira menggeliat seperti akan bangun dari tidurnya.
Dan benar saja, Dira terbangun dan membuka matanya. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan kabut putih di matanya. Dan setelah benar-benar membuka matanya, Dira memutuskan untuk bangun dan mencuci muka. Tapi, disaat Dira akan bangun, Dira baru sadar. Ada tangan kekar melingkar di pinggangnya. Dira lalu menoleh kesamping dan,
Deg,
Tenyata Axell tidur di sampingnya dan bahkan memeluknya. Bukankah Axell sedang bekerja saat ia memasuki kamar tadi? Begitu pikir Dira.
__ADS_1
Bukan apa-apa, Dira sekarang memang sudah terbiasa untuk tidur seranjang dengan Axell. Bahkan tak lagi merasa canggung seperti kemarin-kemarin. Tapi, untuk di peluk seperti ini, Dira belumlah terbiasa. Selama hampir satu bulan mereka menikah, ini kali pertama kali Axell memeluknya saat tidur seperti ini.
'Sejak kapan kak Axell meluk gue?' Batin Dira bertanya.
Dengan pelan, Dira berusaha memindahkan tangan Axell dari pinggangnya. Dira tak ingin sampai membangunkan lelaki di sampingnya itu. Ia tahu, Axell tengah lelah karena pekerjaannya tadi.
*Si Dira, nggak tau aja kalo Axell 'tuh udah bangun dari tadi, ðŸ¤xixiðŸ¤ðŸ¤ªðŸ¤«
Tapi, di saat tangan Axell sudah mulai terangkat dari pinggangnya, tiba-tiba tangan Axell bergerak dan kembali memeluk Dira. Bahkan kini lebih erat dari sebelumnya.
*Si Axell jahil, deh. Sengaja banget ya ngerjain Dira. XixiðŸ¤ðŸ¤«
"Eh... lah kok," Ucap Dira kaget saat Axell kembali memeluknya. "Kok jadi berat gini, sih? Perasaan tadi nggak berat-berat banget, deh!" Ucap Dira lagi. Dira berusaha mengangkat tangan Axell lagi, tapi anehnya tangan Axell terasa sangat berat. Seakan enggan beranjak dari tempatnya.
"Duh... Kak.. Berat banget sih tangan, lo! Gue haus, mau minum." Rintih Dira pelan.
Akhirnya karena tak bisa memindahkan tangan Axell dari pinggangnya, mau tak mau Dira pasrah dan menunggu Axell bangun dari tidurnya.
Tak lama kemudian, Axell yang akhirnya tak tega melihat Dira kehausan pun mengubah posisinya. Yang tadinya miring menghadap Dira, sekarang menjadi telentang. Seakan membiarkan gadis itu terbebas dari pelukannya.
"Finally." Ucapnya lirih lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Gue jahil juga ternyata." Ucap Axell sambil terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.
...***...
"Lo udah kasih tahu Dira?" Tanya cowok yang tak lain adalah Arfen.
"Udah, dong. Pagi tadi gue udah chat dia." Jawab Nayla sambil mengutak-atik ponselnya, Nayla sedang berbalas pesan dengan Verrel.
"Di bales nggak?" Tanya Arfen lagi. Arfen ingin tahu, apakah Dira membalas pesan dari Nayla atau tidak. Mengingat beberapa kali Arfen mengirimi pesan dan terabaikan oleh gadis itu.
"Enggak, sih. Tapi gue yakin si Dira pasti Dateng kok- Ucap Nayla menggantung. Arfen menatap wajah Nayla seakan menanti apa yang akan di katakan oleh Nayla selanjutnya.
"Kalau dia baca pesan gue, sih." Lanjut Nayla lagi.
Mendengar apa yang di katakan Nayla barusan membuat Arfen menganggukkan kepalanya. Ia teringat akan sesuatu. "Nomornya Dira masih yang lama kan, Nay?" Tanya Arfen memastikan.
"Iya, lah. Kalo Dira ganti nomor, pasti dia kasih tahu kita." Jawab Nayla santai.
"Gue ngerasa ada yang aneh sama Dira!" Celetuk Arfen tiba-tiba.
__ADS_1
"Aneh gimana sih, Ar? Perasaan Lo aja kali! Jawab Nayla yang memang tak tahu apa-apa.
Arfen menggelengkan kepalanya, "k5emaren lusa gue telpon dia, pas gue ajak ngomong, dia gak nyaut. Tapi nggak lama ada suara cowok bilang salah sambung. Abis itu gue chat nggak pernah di bales." Jelas Arfen.
"Seriusan Lo?" Tanya Nayla setengah tak percaya.
"Lo boleh liat." ja5wab Arfen sambil menyerahkan ponselnya pada Nayla.
Tunggu, Nayla ingat sesuatu.
"Bentar, gue check dulu chat gue tadi pagi." Ucap Nayla. Nayla lalu membuka salah satu aplikasi pesan miliknya. Dan,
"Di read doang, Ar." Ucapnya lagi.
Arfen mengernyitkan dahinya bingung. Ternyata bukan cuma pesan darinya saja yang di abaikan oleh Dira, tapi dari Nayla juga. 'Kenapa Dira nggak bales pesan dari Nayla juga?' Batin Arfen.
"Dira nggak lagi sakit, kan? Kemarin Dira masih masuk sekolah." Ucap Nayla.
"Gue nggak tau. Udah hampir satu bulan ini gue nggak ketemu sama dia." Ucap Arfen. Memang terakhir Arfen ketemu Dira waktu Dira belum menikah dengan Axell.
"Gue takut, Dira ngehindar dari gue lagi kayak waktu itu." Ucap Arfen lagi.
"Lo tenang Ar. Pasti ada alasannya kenapa Dira ngelakuin ini. Bentar, gue mau coba telpon Dira." Ucap Nayla lalu mencari kontak nomor bernama Dira.
📞 Calling Dira...
Tuut....
Tuut....
Tuut....
"Hallo."
.
.
.
*Yang udah baca Jan lupa likenya ya.. Dan juga komen, jam berapa kalian baca eps. Ini, oughey😘😘.. See you ..😘😘
__ADS_1