
"O... Iya, Sorry Lo jadi bingung kayak gini... Kenalin, Gue-
Plak...
Urung bersambut, Tangan cowok tadi lebih dulu di tepis dengan tangan cowok lain yang baru saja datang diantara mereka berdua.
Bersamaan dengan tepisan tangan itu, seseorang yang baru saja datang tadi langsung menarik Dira dan mengarahkan gadis itu di belakangnya. "Jangan sentuh dia!" Ucapnya dengan nada datar. Ia tak suka miliknya di dekati atau di sentuh orang lain.
Sementara Dira, ia sangat terkejut dengan kedatangan Axell yang tiba-tiba.
Ya, Cowok yang baru saja datang itu adalah Axello.
"Ck. Santai kali, Xell. Gue cuma mau ngajak kenalan." Ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Lo gak perlu kenal." Jawab Axell masih dengan nada datarnya.
Mendengar jawaban dari Axell membuat cowok tadi tertawa. "Hahaha... Kenapa? Lo takut dia berpaling dari Lo? Gue gak akan rebut cewek Lo kali, Xell. Kecuali... Kalo dia yang emang mau sama gue." Cowok itu terkekeh. "Beda lagi ceritanya."
"Gak akan gue biarin." Jawab Axell.
"Ok... Ok... Gue tau, Lo lagi bucin-buncinya sama nih cewe. Gak salah, sih. Dia emang cantik. Dan juga... (Melihat Dira dari atas ke bawah.) Wajar Lo gak nahan buat gak jebol nih cewe. But, kalo Lo udah bosen... Info ke gue. Gue bersedia nampung, Gak apa-apa deh, meskipun dia bekas Lo." Ujarnya dengan mata yang tak lepas memperhatikan Dira dari atas sampai bawah. Bahkan tatapannya sudah seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
Axell yang sesama laki-laki pun mengerti, apa arti dari tatapan yang laki-laki di depannya ini layangkan pada gadisnya. Seketika darah Axell mendidih dengan sendirinya.
Tangan Axell terkepal dengan sempurna dengan urat-urat yang terlihat di permukaan kulitnya. Sangat menonjol. Menunjukkan kalo Axell dalam keadaan marah.
"Bajing*n." Umpat Axell marah.
Bugh.
Satu pukulan Axell layangkan pada wajah laki-laki itu dan tepat mengenai pipi bagian kirinya. Laki-laki itu jatuh karena belum siap dengan serangan tiba-tiba dari Axell. Sungguh, ini di luar dugaannya. Ia sama sekali tak mengira kalau kata-katanya barusan dapat membuat Axell bereaksi seperti ini.
Dira memekik melihat Axell yang tiba-tiba memukul laki-laki yang tidak sengaja menabraknya tadi.
Dengan cepat, Axell menarik kerah baju dari laki-laki itu. "Ngomong apa Lo barusan? Bangun Lo, Brengsek!" Dan,
__ADS_1
Bugh,
Axell kembali melayangkan satu pukulan lagi dan kali ini tepat mengenai hidung laki-laki itu. Seketika darah segar mulai mengalir dari hidung lawan Axell.
Melihat Axell yang masih ingin memukul lawannya lagi, Dira berinisiatif untuk mencoba melerai pertengkaran keduanya. Dira tak ingin Axell terlibat dengan masalah nantinya.
Dira memberanikan diri untuk mendekat ke arah Axell yang sedang di Liputi oleh amarah itu, dan satu hal yang mungkin tak akan Axell duga sebelumnya.
Greb,
Dira memeluknya dari belakang, "Kak Axell, udah." Ucap Dira pelan.
Mendengar suara Dira yang menghentikan aksinya membuat Axell seketika diam. Ia melihat sepasang tangan melingkar di perutnya. Entah mengapa, apa yang Dira lakukan berhasil meredam emosi dari Axell yang sepertinya belum ingin berhenti memukul itu.
Melihat Axell yang berhenti memukulinya membuat cowok tadi tak ingin melewatkan kesempatan.
Cowok yang dipukuli oleh Axell tadi bangkit setelah sempat tersungkur dua kali. Ia bermaksud untuk membalas apa yang Axell lakukan padanya. Tapi baru saja ia akan melayangkan pukulannya pada Axell, Axell lebih dulu menendang perutnya dengan keras.
Bugh.
Laki-laki itu seketika terpental karena tendangan kuat yang tiba-tiba dari Axell tadi.
Cowok tadi masih meringkuk sambil memegangi perutnya seraya berpikir, 'Cuman gara-gara jal*ng kayak gitu, Lo sampe mukulin gue?'
"Gue emang anggep Lo temen gue, Der, tapi kata-kata Lo barusan gak pantes Lo ucapin buat dia, gadis yang berada di belakang gue sekarang!" Ujar Axell.
Ya, Cowok yang tidak sengaja memancing emosi Axell tadi adalah seorang Derry Bramantyo, sahabat dari Nicholas.
"Jangan Lo pikir, apa yang gue katakan kemarin bisa bikin Lo Mandang rendah Dira. Asal Lo tau... Dira istri SAH gue. Kalo Lo ulangin, Gue gak akan tinggal diam." Ucap Axell lalu pergi meninggalkan Derry yang masih kesakitan sambil menggandeng tangan Dira.
'Istri? Gue gak salah denger kan tadi?' Jadi Xello...'
Oke, terjadi kesalahpahaman disini. Maksud dari perkataan Axell yang sudah mengambil sesuatu yang berharga dari seorang cewek bukanlah mengambil kegadisan yang sama seperti Derry pikirkan. Bukan. Jangan samakan Axell dengan Derry yang suka gonta-ganti pacar. Axell tidak sebejat itu untuk merusak anak orang. Tapi maksud Axell adalah dia yang sekarang ini membatasi ruang kebebasan untuk Dira.
Semenjak menikahi Dira, selain mengubah status Dira yang masih lajang menjadi seorang istri, Axell juga membatasi pergaulan dari gadis itu. Mungkin bisa di bilang mengekang. Itu semua Axell lakukan bukan tanpa alasan atau hanya karena keegoisan dari putra Ayah Marvellyo Jodi itu. Tidak sama sekali.
__ADS_1
Axell membatasi kebebasan Dira hanya untuk menjaga gadisnya. Seperti pesan yang ia dapatkan dari papa Pras, mertuanya.
Seperti yang terjadi kemarin, dimana Dira kambuh dan pingsan saat tidak bersamanya. Dan hal itu sudah terjadi dua kali. Axell tak ingin itu terulang lagi. Maka dari itu, Axell akan lebih mengawasi Dira, melarangnya pergi tanpa dirinya.
Sebenarnya bukan itu saja alasan dari Axell memperlakukan Dira seperti demikian. Selain ia khawatir dengan keadaan Dira, Axell yang sudah mulai mencintai Dira itu tak ingin, jika gadisnya di dekati orang lain. Mengingat statusnya yang kini adalah suami istri. Axell telah bertekad tidak akan melepaskan Dira. Seperti yang pernah ia lakukan pada mantan kekasihnya dulu.
Axell terus berjalan meninggalkan minimarket yang tepat berdiri di depan gedung apartemennya sambil menggandeng tangan Dira dengan tangan kanan, dan tangan kiri yang membawa barang belanjaan Dira.
Tanpa Axell sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan perkelahiannya dari jarak jauh. Walau tak bisa mendengar apa yang menjadi pertengkaran keduanya.
...***...
Axell membawa Dira masuk kedalam apartemennya. Mendudukkan gadis itu di sofa dan menaruh belanjaan Dira di atas meja. Masih dapat Dira lihat, sisa-sisa kemarahan di wajah Axell, membuat gadis itu takut sendiri.
"Ngapain Lo tadi?" Tanya Axell yang sejak tadi diam.
"A-aku... Aku-
"Ngapain?" Tanya Axell lagi.
"Aku-
"Gue izinin Lo keluar, buat ngehindarin Verrel sama Bastian. Bukan buat keluyuran! Gue udah bilang, Lo gak boleh pergi kalo gak sama gue. Siapa suruh Lo pergi ke minimarket depan tadi?" Ucap Axell pelan, pelan karena Axell sedang berusaha menahan emosinya.
Dira hanya bisa menunduk. Ia tak berani menjawab bahkan memandang wajah Axell yang masih menampilkan semburat kemarahan yang masih jelas terlihat dari wajah tampannya.
Axell menyentak nafasnya kasar. Menyadari ketakutan dalam diri Dira. Melihat Dira yang hanya diam sambil menunduk, membuatnya merasa bersalah. Tidak seharusnya ia melakukan hal yang dapat menakuti gadisnya.
Axell tak habis pikir dengan dirinya sendiri, Kenapa sekarang dia semakin tidak bisa mengendalikan emosi.
Axell menghembuskan nafasnya pelan, ia mendekati Dira dan mengusap lembut kepala gadis itu. "Sorry."
.
.
__ADS_1
.
*Gimana nih? Kasih tanggapan kalian dong! Menurut kalian, cerita aku ini gimana? Jangan cuma baca doang! Kasih aku kritik dan saran yang pasti membangun. Komen dibawah ya! Jangan lupa kasih Like and Vote, Biar aku jadi makin semangat up-nya. TQ .. & See you bye-bye...😘