
Di pagi hari, pukul 04.45, Dira yang sudah mulai terbangun itu kini tengah mengerjakan matanya perlahan. Dan saat mata gadis itu sudah mulai terbuka sempurna, ia langsung di hadapkan dengan wajah damai milik Axell. Suaminya itu masih tertidur pulas.
Dira terus memperhatikan wajah rupawan itu. Wajah laki-laki yang sudah beberapa bulan ini telah menjadi suaminya. Laki-laki yang telah berhasil membuatnya menjadi seorang istri sepenuhnya. Dan semalam, mereka kembali melakukannya lagi.
Entah mengapa, Dira, gadis itu merasa semalam Laki-laki yang masih berusia belasan tahun tersebut sangat berbeda. Suaminya itu menjelma seperti pria dewasa.
Dira tahu, setiap orang yang menikah pasti ada peningkatan cara berfikir dan bersikap, tapi semalam Dira benar-benar merasakan perubahan dalam diri Axell.
Lalu tiba-tiba Dira teringat sesuatu, dirinya ini dalam masa subur. Dan sudah 2 malam mereka melakukan hubungan suami istri. Maka tidak menutup kemungkinan kalau dirinya akan segera hamil nanti.
Rasa takut tiba-tiba menyerangnya, 'Kalau nanti gue hamil, gimana? Gimana dengan sekolah gue? Terus apa gue bisa jadi seorang ibu yang baik nanti? Terus, temen-temen gue, pasti mereka berpikir yang tidak-tidak tentang gue dan juga kak Axell?' Batin Dira tengah berpikir.
Saking asyiknya berpikir, Dira sampai tidak menyadari kalau ternyata Axell sudah bangun sedari tadi dan kini tengah memperhatikannya.
Cup,
Satu kecupan singkat Axell berikan pada bibir Dira dan langsung berhasil menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Masih pagi, yang. Jangan ngelamun!" Ucap Axell. Urung menjawab, Dira malah balik menatap Axell. Untuk sesaat gadis itu terkesiap, 'Kapan kak Axell bangun?'
"Yang...!" Panggil Axell pelan, Axell merasa gadisnya itu tengah memikirkan sesuatu. Dira lalu menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Ada yang lagi dipikirin? Atau mau lagi?" Tanya Axell sambil mengangkat satu alisnya.
Dira mengernyit kan dahinya bingung mendengar pertanyaan Axell, "Mau lagi?" Tanya gadis itu memastikan pendengarannya, lebih tepatnya, ia tak mengerti apa maksud Axell.
"Yang kayak semalam." Jawab Axell sambil mengeratkan pelukannya.
Mendengar apa yang baru saja Axell katakan membuat Dira reflek menggelengkan kepalanya. "Gak dulu, kak. Badan aku serasa remuk, rasanya sakit semua." Tolak gadis itu pelan.
Bukannya merasa bersalah, Axell malah terkekeh pelan. "Kayaknya gue terlalu bersemangat semalem." Ucap Axell yang mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Iya, semalem kak Axell beda." Sahut gadis itu cepat.
"Oh... iya, bedanya gimana?" Tanya Axell cepat. Laki-laki itu bersemangat mendengar apa yang akan Dira katakan.
"Ya beda aja. Gak kayak kemarin. Semalam kak Axell... Buas." Ucap Dira sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Axell kembali terkekeh pelan, melihat Dira yang memanyunkan bibirnya, kenapa ia jadi semakin gemas begini. "Ini karena Om David, yang."
Dira kembali mengernyitkan dahinya, "Om David siapa, kak? Terus apa hubungannya?" Tanya gadis itu yang semakin bingung.
"Om David itu, papanya bang Rheyhan, yang. Jadi, kemaren itu aku sengaja ketemu sama Om David buat minta vitamin." Jawab Axell.
"Vitamin?" Ulang Dira.
Axell mengangguk, "Iya, yang. Bentar lagi gue kan mau ujian. Jadwal gue bakalan padet akhir-akhir ini. Belum lagi ngurusin kafe, dan juga bantu Ayah di kantor. Gue gak mau sakit. Makanya gue minta vitamin dari Om David, tapi sepertinya Om David salah paham dan malah ngasih gue obat yang bikin gue gila semalam." Jawab Axell yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dira menganggukkan kepalanya mengerti, "Jangan minum itu lagi." Pinta gadis itu.
Axell menatap wajah Dira, ia usap dengan sayang kepala gadisnya itu, "Ini nikmat, yang. Tapi kalo bikin Lo... em kamu, tersiksa, aku gak bakal minum itu lagi. Lagian, tanpa obat itu, aku tetap bisa bikin kamu mendesah." Jawab Axell. Memang benar kan, mereka masih sama-sama muda. Kalau masalah stamina, jangan di tanya.
"Ish... Apaan, sih." Jawab Dira sambil mencubit perut Axell.
"Auw... sakit, yang!" Ucap Axell yang seolah kesakitan, padahal Dira tadi hanya mencubit perut Axell pelan.
"Ha... Beneran sakit, kak. Coba liat, mana yang sakit." Ucap Dira yang merasa bersalah telah mencubit perut Axell.
Melihat ekspresi Dira yang merasa bersalah, tiba-tiba ide jahil keluar dari kepala laki-laki itu. Tangannya pun bergerak untuk meraih tangan Dira, "Ini, yang, yang sakit." Tapi bukannya mengarahkan tangan Dira ke perutnya, Axell malah mengarahkan tangan Dira pada Jasson. Sontak saja Dira tersentak dengan apa yang Axell lakukan.
"Auw... Yang, sakit! Jasson pengen di elus, yang. Kok malah KDRT, sih." Ucap Axell tanpa rasa bersalah.
"Ha, Jasson?" Ucap Dira bingung. Siapa yang di maksud Jasson tadi.
"Yang kamu pegang tadi, yang." Jawab Axell sambil terkekeh pelan.
"Kak Axell, mulai nyebelin, ya!"
...***...
Setelah sarapan pagi, kini Dira sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Berhubung hari ini hari Minggu, jadi Dira dan Axell tidak bersekolah.
"Sayang, kamu disini." Ucap Bunda Resty yang baru saja kembali dari kamar.
"Iya, Bunda. Ada apa?" Jawab Dira.
__ADS_1
"Bunda kira tadi kamu kembali ke kamar." Balas Bunda Resty.
Dira menggelengkan kepalanya. "Dira disini Bunda. Ada yang perlu Dira bantu?" Tanya Dira.
Bunda Resty tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah menantunya itu, "Boleh?" Tanyanya.
"Tentu, Bunda. Apa yang bisa Dira bantu sekarang?" Tanya Dira antusias.
"Ayo ikut Bunda ke taman belakang. Temani Bunda lihat Ayah sama suami kamu, sayang!" Ajak Bunda Resty.
Dira mengernyit bingung, "Ayah sama kak Axell? Emang lagi ngapain, Bun?" Tanya Dira penasaran.
"Sudah, sini. Ayo ikut Bunda, nanti kamu juga tau sendiri." Ucap Bunda Resty sambil menggandeng tangan menantunya itu menuju taman belakang.
Dan sampailah dua perempuan beda usia itu sekarang. Bunda Resty lalu membawa menantunya itu untuk duduk di sebuah bangku yang memang tersedia di pinggir taman.
Wanita paruh baya itu lalu menunjuk ke arah depan, "Itu liat suami kamu. Semalam, Ayah minta Axell untuk menemaninya main tenis." Ucap Bunda Resty.
Dira yang mendengar apa yang baru saja di katakan Bunda Resty itupun langsung mengikuti arah pandang dari mertuanya itu. Dan benar saja, ia melihat suaminya tengah bermain tenis dengan Ayah Marvellyo.
Untuk sesaat Dira tertegun dengan kepiawaian Axell dalam bermain tenis, begitu lincah dan energik. Sebelumnya Dira tidak pernah tahu kalau suaminya itu pandai memainkan jenis olahraga tersebut.
"Sudah lama sekali Axell tidak bermain tenis dengan ayahnya. Padahal dulu setiap Minggu Axell selalu menemani ayahnya untuk bermain tenis, walaupun hanya sebentar." Ucap Bunda Resty.
"Loh... memangnya Kenapa, Bun?" Tanya Dira yang tiba-tiba penasaran.
"Semenjak Axell tinggal di apartemen, Axell hanya akan pulang ke rumah beberapa kali." Ucap Bunda Resty.
"Tapi, Bun. Sebenarnya Dira penasaran, ada hal yang ingin Dira tau." Balas Dira.
"Katakan, sayang! Apa yang ingin kamu ketahui!" Titah Bunda Resty.
"Em... Kak Axell adalah anak tunggal. Tapi Kenapa dia malah memutuskan tinggal sendiri di apartemen?" Tanya Dira To the point.
Bunda Resty tersenyum mendengar pertanyaan dari menantunya itu. "Bisa dibilang, itu wujud protes dari anak laki-laki yang tengah kecewa dengan keadaan. Katakanlah Axell butuh ketenangan pada waktu itu." Jawab Bunda Resty.
__ADS_1
Dira mengernyitkan dahinya bingung. Gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari perkataan mertuanya itu. "Dira gak ngerti maksud Bunda." Ucap gadis itu pelan.
Bunda Resty kembali tersenyum, "Ada beberapa faktor pendukung yang membuat Axell memilih untuk tinggal sendiri di apartemen, sayang. Selain karena Ayahnya yang terlalu keras dalam hal mendidik putranya, Axell juga merasa lelah karena di usianya yang bahkan masih remaja, ia sudah harus di sibukkan dengan kesibukan di kantor. Ditambah lagi, saat Axell baru mengenal yang namanya cinta, ia...