
"Xello." Panggil seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari posisi Axell sekarang.
Deg,
Axell yang Mendengar ada yang memanggil dengan nama Xello pun seketika menghentikan langkahnya. Ia menarik salah satu sudut bibirnya karena Axell tahu betul, siapa gadis pemilik suara yang memanggilnya barusan.
Masih dengan posisi membelakangi gadis tadi, Axell tak berniat untuk berbalik atau menoleh sedikit pun ke arah gadis itu. Ia lebih memilih untuk tetap diam, membiarkan gadis itu menghampirinya.
Dan benar saja, hanya lewat sepersekian detik, gadis itu kini telah berdiri tepat di hadapan Axell. Lebih tepatnya menghalangi jalan laki-laki itu.
"Hi, Long time no see. Gimana kabar Lo, Xell?" Sapa gadis tadi.
"Baik." Jawab Axell singkat. Lebih tepatnya, Axell malas menanggapi gadis yang sedang menghalangi jalannya saat ini.
Sementara gadis tadi nampak tersenyum kaku, mendengar jawaban dari Axell yang terkesan tidak peduli padanya. Jauh berbeda dengan Axell yang ia kenal dulu.
"Udah lama ya kita gak ketemu. Gue seneng deh, bisa ketemu Lo lag-
"Ada hal penting yang mau Lo omongin?" Potong Axell cepat. Asli. Axell malas berurusan dengan gadis di depannya ini. Gadis yang dulu pernah mengisi relung hatinya sekaligus orang pertama yang pernah memberikannya luka karena penghianatan yang pernah di lakukan gadis itu.
Meskipun sekarang ini ada gadis lain yang menetap dan bersemayam di hati Axell. Tetap saja, Axell enggan berurusan lagi dengan gadis yang tak lain bernama Rere itu.
Sementara Rere membelalakkan matanya mendengar Axell yang dengan sengaja memotong ucapannya tadi. Ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang ada di bayangan gadis itu.
Pagi tadi, saat gadis itu baru bangun tidur, ia nampak berbinar membayangkan respon dari Axell yang pasti akan senang melihat kedatangannya. Tapi kenyataan yang di dapat sangatlah berbeda. Axell malah bersikap mengejutkan. Sungguh jauh dari bayangan gadis itu.
"Kalo gak ada gue pergi." Ucap Axell sambil melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya bahkan tanpa menatap ke arah Rere sedikit pun.
Kedua tangan Rere terkepal di kedua sisi tubuh gadis itu, melihat Axell yang sengaja melewatinya begitu saja. Ini sungguh di luar dugaannya. Gadis itu tidak pernah membayangkan, laki-laki yang dulu pernah begitu sangat mencintainya, akan berubah sedrastis ini.
"Gue bakal bikin Lo balik sama gue, Xello
Kita lihat aja!"
...***...
Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Kini Axell yang masih berdiam diri di kelas tengah mengetikan sebuah pesan untuk seseorang.
^^^📤 Axarkan^^^
^^^Temuin gue di ruang OSIS!^^^
__ADS_1
^^^SEKARANG!^^^
Send,
Tanpa menunggu balasan, Axell langsung bergegas menuju ke ruang OSIS. Bahkan ia tak memperdulikan seseorang yang berniat menghampirinya.
...***...
Seorang gadis sedang berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah. Sebelumnya, tadi ia berniat pergi ke kantin. Tapi, setelah mendapat pesan yang mengharuskannya untuk datang ke ruang OSIS, gadis itu pun mengurungkan niatnya pergi ke kantin dan lebih memilih untuk menemui si pengirim pesan di ruang OSIS.
"Huuft" Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut gadis itu sebelum ia membuka pintu.
Ceklek,
Setelah masuk ke ruangan OSIS, tiba-tiba ia di kejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang.
Tanpa perlu bertanya siapa yang tengah memeluknya saat ini, gadis yang tak lain adalah Dira itu tahu betul, siapa yang tengah memeluknya sekarang.
Dari aroma parfum yang tercium dari Indra penciuman gadis itu, dapat di pastikan seseorang yang tengah memeluknya saat ini tak lain dan tak bukan adalah seorang Axello, suaminya.
"Kak Axell kenapa?" Satu pertanyaan muncul dari bibir Dira setelah hening menyapa keduanya.
"Shuut... Diem! Gue cuma mau peluk lo bentar." Jawab Axell dengan nada tak biasa. Bahkan Dira dapat merasakan nafas Axell yang memburu.
Setelah pelukan Axell terlepas, Dira membalikkan tubuhnya menghadap Axell. Bahkan kini Pandangan keduanya saling terkunci satu sama lain.
"Kak Axell kenapa?" Tanya Dira yang mengulangi pertanyaannya tadi. "Kak Axell sakit?"
"Gue gak apa-apa..." Jawab Axell cepat. "...Cuma mau di peluk sama lo." Sambung Axell yang masih betah menatap ke arah Dira.
Deg,
'Ini kak Axell kenapa, sih?'
Setelah diam beberapa saat, Dira yang sedari tadi bingung pun kini memberanikan dirinya untuk mendekat ke arah Axell. Mengikis jarak di antara keduanya yang sempat Dira ciptakan sendiri tadi. Seperti apa yang di minta suaminya, Kini Dira memeluk laki-laki itu.
"Kalo sakit bilang, kak." Ucap Dira pelan.
Seulas senyum muncul di bibir Axell. Tangan Axell terangkat untuk membalas pelukan hangat yang Dira berikan. Begitu nyaman dan menenangkan. Itu yang Axell rasakan saat ini, dan Axell butuh itu.
"Dir, boleh gue minta sesuatu dari Lo?" Tanya Axell pelan.
__ADS_1
Dira mengangkat satu alisnya sesaat sampai akhirnya ia mengangguk pelan, "Kalo aku bisa... Akan aku kasih."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dira membuat Axell semakin mengeratkan pelukannya, seakan ia takut kehilangan gadisnya. "Apapun yang terjadi kedepannya... Jangan pernah berpikir sedikitpun buat tinggalin gue. Bisa?"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dira, gadis itu memilih untuk kembali menganggukkan kepalanya.
"Tetep Stay bareng gue, Dir. Gue butuh Lo."
...***...
Dua puluh menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi, Axell kembali datang ke kelas Dira untuk menjemput gadisnya, kembali membawa istrinya itu pulang sebelum waktunya. Sepertinya ini akan menjadi kebiasaan baru bagi Axell.
Kalau kemarin Axell harus meminta izin terlebih dahulu dari guru yang mengajar di kelas Dira, tapi hari ini lain lagi ceritanya. Kelas tersebut dalam keadaan jam kosong karena pak Dhana, guru yang kebetulan mengajar siang ini berhalangan hadir.
Ceklek,
Saat pintu kelas di buka dari luar dan menampilkan Axell dari balik pintu. Sontak saja, semua mata langsung tertuju ke arah Axell, kecuali Dira, Zaki dan juga Melody yang memang sedang asyik sendiri.
Tak menghiraukan setiap pasang mata yang memandang ke arahnya, Axell terus melangkah menuju meja Dira.
"Yang!" Panggil Axell.
Dira yang memang tidak mengetahui kedatangan Axell karena sedang asyik bercerita dengan Zaki dan Melody pun seketika terkejut. Ia menoleh dan mendapati Axell di depannya.
"Asyik banget, Yang, sampai gak liat gue dateng." Keluh Axell sambil mengusap lembut kepala Dira.
"Kak Axell," Lirihnya.
"Ayo pulang!" Ajak Axell yang langsung meraih tas sekolah Dira.
"Tapi kak-
"Kelas Lo Free, Yang. Pak Dhana udah Konfir ke gue tadi, beliau gak bisa datang. Kalau kelas gue juga Free, gue udah ajak Lo pulang dari tadi." Jawab Axell yang mengerti kalau Dira pasti akan menolak pulang sebelum jam pelajaran berakhir.
"Dih yang punya sekolah, enak ye, punya jam pulang sendiri." Cibir Zaki yang memang sedari tadi mendengarkan interaksi antara Axell dan Dira.
Sementara Axell, ia hanya menatap dingin ke arah Zaki tanpa berniat membalas cibiran yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Sadar dirinya jadi pusat perhatian dari seisi kelas, mau tak mau Dira menuruti kemauan Axell yang ingin mengajaknya pulang. Gadis itu mulai berdiri dari duduknya. Tanpa ragu sedikitpun Axell meraih tangan Dira dan menggandeng gadis itu, berjalan santai menuju pintu keluar.
Saat Axell dan Dira masuk ke dalam mobil, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari lantai tiga, Lantai yang di peruntukan untuk kelas XII. Seorang gadis yang kini berdiri dengan kedua tangan yang terkepal.
__ADS_1
"Jadi karena dia?"