Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
33. Ganggu banget.


__ADS_3

"Sorry, kak. Lama." Ucap Dira sesaat setelah masuk ke mobil Axell. Axell hanya menatap sekilas ke arah Dira. Ia tak habis pikir dengan gadis itu, kenapa hanya untuk sekedar masuk ke dalam mobilnya, ia harus menunggu sampai keadaan benar-benar sepi? Apa sebegitu tak maunya orang lain tau kalau mereka berangkat dan pulang sekolah semobil? Begitu pikir Axell.


Axell bungkam, ia tak ingin bersuara. Lalu Axell mulai menjalankan mobilnya untuk meninggalkan area sekolah. Saat di tengah jalan, ponsel Axell bergetar menandakan ada panggilan masuk.


Drrtt... drrtt...


📲 Bunda is Calling...


"Hallo, Bun."


"(....)."


"Sudah Bun, ada apa?"


"(....)."


"Ini Axell juga mau kesana, Bun.


"(....)."


"Baik, Bun."


Tuutt... tuutt...


Telepon dari Bunda Resty itu pun berakhir. Untuk sejenak keheningan menyapa keduannya. Sampai akhirnya Axell membuka suara, "Dapat salam dari Bunda?" Ucapnya. Dira menoleh ke arah Axell.


"Bunda?" Tanya Dira meyakinkan.


"Iya... Em, Dir. Gue boleh nanya sesuatu sama Lo?" Ujar Axell pada gadis di sampingnya itu.


"Mau tanya apa, kak?" Tanya balik Dira.


"Sebelum Lo nikah sama gue, Lo udah berapa kali ketemu sama Bunda?" Tanya Axell sambil fokus menyetir.


Dira diam sesaat seolah berpikir, berapa kali ia bertemu dengan Bunda Resty sebelum menikah dengan Axell. "Tiga kali, kak." Jawab Dira yang mendapat anggukan kepala dari Axell.


"Ketemu di mana?" Tanyanya lagi.


"Di mall, di rumah, sama..."


"Di butik." Ucap Axell memotong ucapan Dira.


"Iya, kak. Tapi kak, kita mau kemana?" Tanya Dira ingin tahu kemana Axell membawanya sekarang. Karena jalan yang di lewati sekarang ini berbeda dengan arah menuju ke apartemennya.


"Pulang." jawab Axell singkat.


"Tapi kok lewat sini?" Tanya Dira lagi. Namun hening. Axell enggan menjawab apa yang di tanyakan Dira padanya tadi. Sampai pada akhirnya, mobil yang mereka tumpangi itu pun sampai di rumah mewah yang besar.

__ADS_1


Saat Axell dan Dira turun dari mobil, mereka langsung di sambut oleh Bunda Resty. "Hai sayang, bagaimana sekolahmu hari ini?" Tanya bunda Resty sambil memeluk menantunya itu.


"Baik, Bun. Bunda gimana kabarnya?" Ucap Dira sambil melepaskan pelukannya dengan bunda Resty.


"Bunda baik, sayang. Apa lagi kalau ketemu sama kamu. Kamu tahu tidak, bunda kangen sekali sama kamu, nak." Ucap Bunda Resty sambil mengelus rambut Dira.


"Dira, juga seneng bisa ketemu sama Bunda." Balas Dira.


Sementara itu, Axell hanya menarik salah satu sudut bibirnya menyadari satu hal. Ternyata, Dira dan Bunda Resty sedekat ini. Padahal cuma beberapa kali ketemu. Berbeda jika dengan dirinya yang setiap hari bertemu bahkan tinggal bersama, tapi seperti ada sekat di antara mereka.


Jika Axell mungkin sudah mulai bisa untuk menerima keberadaan Dira di hidupnya, tapi bagaimana dengan gadis itu? Apakah ia juga sudah mulai menerima atau bahkan belum sama sekali? Entahlah. Axell tidak tahu.


Cukup lama Axell memperhatikan keduanya sampai akhirnya ia memutuskan untuk ke kamarnya. "Axell ke kamar dulu ya, Bun?".


"Tunggu, Boy." Cegah Bunda Resty.


"Ada apa, Bun?" Tanya Axell.


"Istrinya di ajak, dong! Masa' di tinggalin, gitu." Titah Bunda Resty. Axell mengernyitkan dahinya bingung sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Bukankah tadi Bunda Resty dan Dira asyik ngobrol berdua sampai lupa kalau Axell juga ada di antara mereka.


"Perasaan tadi Axell di cuekin, deh!" Protes Axell pada Bunda Resty.


"Maaf, boy. Tadi Bunda saking senengnya kamu ajak menantu Bunda kesini. Ya sudah, kamu ajak istri kamu istirahat, kalian pasti capek." Ucap Bunda Resty.


"Baik, Bun. Kalau gitu, Axell ke atas ya, Bun!" Pamit Axell lagi sambil melangkah menuju tangga.


"Iya, jangan gangguin Dira dulu! Biarin Dira istirahat." Ucap Bunda Resty.


*Memangnya Axell mau ngapain, sampai gangguin Dira segala?


Jangan tanyakan Dira, gadis itu kini sedang menahan malu karena apa yang di katakan oleh bunda Resty tadi.


"Bun, Dira ke atas dulu ya." Pamit Dira pada Bunda Resty.


"Iya, sayang. Kamu istirahat, ya!" Ucap Bunda Resty yang mendapat anggukan kepala dari Dira.


Dira berjalan pelan menaiki anak tangga. Sampai akhirnya ia berada di lantai dua. Melihat ada banyak pintu, Dira jadi bingung. Dimana kamar Axell?


"Gue masuk ke kamar yang mana?" Tanya Dira bingung. Sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka menampilkan Axell yang sudah mengganti bajunya.


Ceklek.


Untuk sepersekian detik pandangan mata keduanya bertemu sampai akhirnya Axell kembali masuk ke kamar. Sementara Dira hanya diam mematung di depan pintu. Gadis itu bingung mau masuk apa tidak.


Axell yang kembali masuk merasa Dira yang tak kunjung mengikutinya masuk ke dalam kamar pun kembali keluar.


"Nungguin apa? Masuk sini!" Ujar Axell. Dira lalu mengikuti Axell masuk ke dalam kamarnya tersebut.

__ADS_1



*Kamar Axell.


"Baju-baju Lo ada di lemari." uca5p Axell lalu membanting tubuhnya ke ranjang dengan posisi tengkurap.


Dira menganggukkan kepalanya. Ia meletakkan tas yang sedari tadi ia bawa di atas sofa dan berjalan menuju lemari. Saat Dira membuka lemari tersebut. Dira terkejut, melihat begitu banyak baju yang sudah tertata dengan rapi di dalamnya.


"Itu semua Bunda yang siapin. Pakai yang menurut Lo nyaman!" Ucap Axell. Dira menganggukkan kepalanya.


"...Gue mau tidur, kalau ada yang penting, Lo bisa bangunin gue." Tambah Axell.


Dira mengambil baju setelan rumahan dan ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Saat Axell hampir tertidur sepenuhnya, ia mendengar ponsel milik Dira bergetar. Awalnya Axell membiarkan ponsel tersebut. Tapi, karena ponsel itu terus bergetar, dan Dira belum juga keluar dari kamar mandi. Terpaksa ia harus bangun untuk melihat siapa yang menelpon Dira berkali-kali itu.


📲 Arfen🙂 is Calling...


Axell menarik satu alisnya saat ia tau siapa yang menelpon Dira. Dan ternyata Arfen. Orang yang di sebut Nayla sebagai sahabat dari Dira. Ralat, sahabat tapi suka. Itu yang Axell ketahui.


Memang dari dulu, hubungan keduanya agak kurang baik. Bahkan jauh sebelum Axell mengenal Dira. Tapi kenapa rasa tidak suka Axell terhadap Arfen semakin bertambah akhir-akhir ini. Apa mungkin karena Axell kembali mengingat masalah yang dulu? Atau karena Arfen sering menghubungi Dira yang tak lain adalah istrinya itu?


Entahlah, Axell tak tau. Kenapa dia semakin membenci Arfen sekarang ini.


'Ck. Hanggu banget.' b6atin Axell berdecak kesal. Tanpa membuang waktu, Axell menekan tombol hijau pada layar ponsel Dira.


"(....)."


Axell masih diam mendengarkan sembari membiarkan orang di seberang sana untuk mengutarakan maksudnya. Sampai akhirnya ia berkata,


"Sorry, salah sambung."


Dan,


Tuutt...


Axell langsung memutus sepihak telepon dari Arfen tanpa membiarkan orang di seberang sana bertanya, dengan siapa dia berbicara?


Dengan cepat, sebelum Arfen kembali menelpon, Axell langsung me-non aktifkan ponsel Dira agar Arfen tidak kembali menghubungi gadisnya itu untuk beberapa saat. Axell lalu kembali meletakkan ponsel Dira di atas meja lalu kembali berbaring.


Ceklek,


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Dira yang sudah selesai membersihkan diri. Terlihat segar dan...


'Cantik.' Batin Axell.


Dira menyisir rambutnya sejenak lalu berjalan menuju ranjang yang sama dengan Axell dan ikut berbaring. Dira memutuskan untuk istirahat sejenak.

__ADS_1


Sementara Axell, ia kembali menarik salah satu sudut bibirnya. Mengetahui Dira tak berniat melihat ponselnya yang sudah Axell non aktifkan tadi.


"Selamat tidur."


__ADS_2