Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
105. Gara-gara Drakor.


__ADS_3

Di jam makan malam, terlihat kejanggalan yang menyita perhatian dari Bunda Resty dan juga Ayah Marvellyo. Kenapa tidak? Pasalnya, Axell, putranya itu terlihat senyum-senyum sendiri. Sedangkan sang menantu menampilkan ekspresi yang berbeda. Dira terlihat cemberut. Nampak jelas terlihat dari Dira, gadis itu tengah memanyunkan bibirnya.


Merasa penasaran dengan apa yang sebelumnya terjadi, membuat Ayah Marvellyo menyenggol kaki Bunda Resty dari bawah meja, seakan bertanya ada apa? Namun nihil, Bunda Resty pun tak jauh berbeda dengan sang suami. Beliau juga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Gemas dengan tingkah keduanya, membuat Bunda Resty akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Sayang... kamu kenapa cemberut seperti itu." Pertanyaan yang akhirnya lolos dari mulut wanita paruh baya itu.


Merasa di ajak bicara, gadis yang dari tadi menunduk itu pun kini mengangkat wajahnya. "Ga papa, Bunda." Jawab Dira berbohong.


"Bener, kok cemberut gitu mukanya?" Tanya Bunda Resty tak yakin. Semenjak Dira menjadi menantu di rumah tersebut, ini baru kali pertama Bunda Resty melihat gadis itu cemberut seperti itu.


"Dira gak papa, Bunda..." Jawaban yang keluar bukan dari mulut Dira, melainkan dari sang putra. "...Iya, kan, yang?" Sambung Axell sambil menatap wajah istrinya itu.


Dira tersenyum sambil menatap Bunda Resty, lalu beralih menatap Axell dengan senyum terpaksa. Jangan lupakan tatapan mata Dira sekarang, gadis itu menatap ke arah Axell dengan tatapan kesal, "Iya, kak."


Axell terkekeh pelan, melihat ekspresi wajah istrinya yang seperti ini, kenapa dia jadi gemas sendiri.


'Lo gemesin banget sih, yang. Jadi pengen nerkam Lo lama-lama.' Batin Axell.


"Boy, kamu apain menantu Bunda?" Tanya Bunda Resty sesaat setelah mengetahui kemungkinan yang terjadi.


"Axell gak ngapa-ngapain, Bun." Jawab Axell seakan benar-benar tak bersalah.


"Jangan jahilin Dira, Boy. Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Dira?" Tanya Ayah Marvellyo yang sedari tadi hanya diam menyimak.


"Astaga... Ayah, Axell benar-benar gak ngapa-ngapain, Dira. Ayah bisa tanya sendiri ke Dira langsung kalo gak percaya." Jawab Axell. Ok, mendengar jawaban dari Axell membuat Ayah Marvellyo mengerti, sesuatu memang tengah terjadi di antara keduanya sebelumnya.


"Kalo ada masalah, cepat di selesaikan. Jangan di bicarakan berlarut dan malah melebar nantinya." Pesan Ayah Marvellyo lalu mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu. Pria paruh baya itu sudah selesai dengan makannya pun sama dengan Bunda Resty.


"Ya sudah, kalian istirahat sana!" Sambung Bunda Resty, berharap agar keduanya segera menyelesaikan apa yang sebenarnya tengah terjadi di antara putra dan menantunya.


"Tapi, Bun, Dira mau bantu." Jawab Dira.


"Gak usah, sayang. Mending kamu istirahat saja, Bunda tau kamu capek. Ada Bi Irah yang bantuin Bunda." Jawab bunda Resty. Tak ingin melawan, Dira menurut lalu berjalan menuju kamar disusul Axell yang berjalan di belakanganya.


...***...


Setelah keduanya memasuki kamar, "Yang, masih marah?" Tanya Axell basa-basi. Jelas-jelas Axell bisa melihat Dira yang masih terlihat kesal padanya, lalu kenapa masih bertanya?


Dira menatap Axell dengan tatapan tajam, "Kak Axell nyebelin."


Bukannya merasa bersalah, Axell malah terkekeh geli. "Ya habisnya gue denger Lo nangis tadi. Gue kan khawatir sama Lo, yang. Salah sendiri kenapa gak jawab waktu gue panggil, jadi masuk ke kamar mandi kan gue buat liat keadaan Lo." Jawab Axell membela diri.

__ADS_1


"Ngeselin." Protes Dira.


Flashback on.


Sore tadi, saat Axell kembali ke dapur untuk melihat istrinya, ternyata laki-laki itu tak menjumpai Dira, Bi Irah bilang kalau Dira sudah kembali ke kamar setelah menyelesaikan masakannya tadi.


Tanpa membuang waktu, Axell langsung bergegas menuju ke kamar untuk menyusul gadisnya, tapi saat Axell sampai di kamar, ia tak menemui adanya Dira. Lalu kemana perginya gadis itu? Pikir Axell.


Lalu Axell memutuskan untuk kembali keluar kamar. Tapi tunggu, Axell mengurungkan niatnya untuk keluar karena mengingat apa yang bi Irah katakan tadi. Dira sedang mandi.


Lalu Axell mendekat ke pintu kamar mandi untuk memastikan gadisnya itu benar ada di dalam atau tidak, tanpa harus membuka kamar mandi tersebut.


Namun, Axell sama sekali tak mendengar suara gemericik air dari dalam. "Yang... Lo di dalem?" Panggil Axell yang sama sekali tak mendapat jawaban dari Dira.


"Yang... lo lagi mandi?" Tanyanya lagi, namun sama. Tak ada jawaban dari Dira. Axell lalu mengira kalau Dira mungkin memang tidak ada di kamar mandi. Sampai akhirnya Axell mendengar satu isakan yang terdengar dari dalam kamar mandi.


"Hiks..."


Deg, Axell membulatkan matanya. Laki-laki itu terkejut. Gadisnya itu... menangis. Perasaannya mendadak khawatir. Apa yang membuat gadisnya itu menangis saat ini.


"Hiks..."


"Yang Lo kenapa?" Tanya Axell khawatir. Bukannya menjawab, gadis itu malah menggelengkan kepalanya pelan sambil menunjuk ke layar benda pipih yang ia taruh di tepi bathtub. Menampilkan drama Korea yang entah apa judulnya, Axell tidak lah tau. Dari dalam layar itu menunjukkan seorang gadis yang tengah menangis di pinggir jalan sendirian.


Axell mengerti sekarang dan kini mulai bernafas lega. Gadisnya ini tak jauh berbeda dengan beberapa teman-teman sekelasnya, yang suka melihat drama dari negri gingseng tersebut. Mungkin karena terlalu menghayati cerita dari drama yang sedang Dira liat, membuat gadisnya itu menangis seperti sekarang.


"Gue kira Lo kenapa tadi, Gue khawatir, yang." Ucap Axell yang mengatakan kekhawatirannya.


1 detik,


2 detik,


3 detik,


"KAK AXELL!!" Teriak Dira tiba-tiba setelah menyadari Axell yang berdiri di samping bathtub dan melihat tubuhnya yang setengah Na**d.


"Kenapa yang? Kenapa malah teriak?" Tanya Axell bingung.


"Keluar gak?" Pekik gadis itu lagi. Bahkan sekarang gadis itu tengah mengumpulkan busa untuk menutupi tubuh nya.


Bukannya menuruti kemauan sang istri yang memintanya keluar, Axell malah kembali terkekeh geli. Gadisnya itu ternyata baru menyadari kehadirannya sekarang.

__ADS_1


"Kenapa di tutupi sih, yang? Gue kan udah pernah liat. Bahkan gue udah pernah ngerasain..." Jawab Axell yang malah membuat Dira membulatkan matanya. "...Kenapa lagi, ada yang salah?" Tanya Axell sambil menaik-turunkan alisnya.


"Kak Axell, keluar!" Teriak gadis itu lagi. Bahkan Dira kini tanpa sadar berdiri dan mulai mendorong tubuh Axell untuk pergi dari kamar mandi.


Tapi tanpa Dira duga, karena lantai licin yang basah terkena air bercampur sabun dari bathtub yang meluap, tiba-tiba...


Byur...


Axell dan Dira masuk ke dalam bathtub secara bersamaan. Karena lantai yang licin, kaki Axell tergelincir dan malah jatuh dengan posisi Dira yang menimpa tubuhnya.


Deg,


Deg,


Deg,


Jantung keduanya terpompa dengan begitu cepat. Mereka masih tidak bisa berkata dengan kejadian yang tiba-tiba seperti ini. Tapi bukan Axell namanya kalau ia tidak bisa mengendalikan jantungnya.


Laki-laki itu bahkan tersenyum ke arah Dira, "Karena udah terlanjur basah. Yaudah. Mandi aja sekalian."


"Kak Axell emmph-"


Bukannya mandi seperti apa yang ia katakan tadi, laki-laki itu malah langsung membungkam mulut Dira dengan bibirnya. Tangannya pun tak tinggal diam sekarang, Axell langsung menangkup kedua gundukan kenyal milik Dira dan memijatnya pelan.


"Yang, gue mau lagi." Bisiknya.


Tok,


Tok,


Tok,


.


.


.


*Sorry, ya zheyeng-zheyengku... Atas tidak update nya aku beberapa hari ini. Itu karena aku memang sedang revisi dari awal part sampai part akhir. Tenang, tidak ada cerita yang aku ubah, aku hanya koreksi tanda baca sama ganti beberapa kata yang menurut aku kurang pantas. Setelah ini, aku akan usaha up setiap harinya.


*Jangan lupa like and coment, karena itu yang bikin aku semangat updatenya... Bye.. Bye..😘😘

__ADS_1


__ADS_2