Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
118. Axell yang perhitungan.


__ADS_3

Axell tersenyum menyeringai, "Nanti aku kasih tau dirumah, tentang cara bagaimana seorang istri berterima kasih pada suami dengan baik dan benar, yang." Ucap Axell bersemangat.


Gleg,


Ok, entah mengapa setelah mendengar apa yang Axell katakan tadi, Dira tiba-tiba menjadi tegang sendiri. Perasaannya menjadi tidak karuan. Dira sudah bisa menebak, apa yang akan Axell lakukan padanya nanti ketika mereka sampai di rumah.


Ini tidak aman.


Gadis itu lalu beranjak dari sofa yang ia duduki bersama Axell, bermaksud untuk duduk di kursi dekat brankar Mama Diva sekaligus untuk menghindari serangan yang mungkin akan Axell lakukan padanya tiba-tiba. Tapi, baru saja Dira berdiri, tangan gadis itu sudah lebih dulu di cekal oleh Axell, seakan ia tak di perbolehkan untuk beranjak dari tempatnya sekarang.


"Eiits... mau kemana kamu, yang? Tunggu dulu!" Ucap Axell yang kini menatap Dira dengan senyum manisnya.


'Duh... kak, please... Jangan senyum kayak gitu!' Desah Dira dalam hati. Melihat senyum tampan dari suaminya, Dira seakan terhipnotis sendiri. Gadis itu pun menurut saat Axell kembali memintanya duduk.


Klik,


"Nah... Selesai, yang." Celetuk Axell yang kini menyenderkan tubuhnya pada sandaran Sofa.


Dira mengernyitkan dahinya bingung, apanya yang udah selesai? Pikir gadis itu.


"Kamu punya dua hutang sama aku, yang." Ucap Axell sambil mengangkat kedua jarinya membentuk angka 2.


Dira semakin bingung, kenapa ia bisa tiba-tiba memiliki dua hutang terhadap Axell, lalu hutang apa yang Axell maksudkan?


Mengerti dengan gadisnya yang tengah bingung, Axell kembali tersenyum menyeringai, menyadari dirinya yang akan menang banyak. "Pertama hutang terima kasih karena aku yang udah izinin kamu ketemu sama sahabat kamu tadi. Dan yang kedua, karena aku udah kerjain semua tugas kamu dari pak Dhana." Jelas Axell yang malah membuat Dira terperangah tak percaya.


'Sejak kapan kak Axell jadi perhitungan kayak gini?" Batin Dira.


"Aku kayak gini bukan tanpa alasan, yang. Aku emang ngizinin kamu ketemu sama Arfen tadi. Tapi, bukan berarti kamu bisa bebas ketemu sama dia kapan aja kamu mau. Dia emang sahabat kamu, bahkan jauh sebelum aku nikahin kamu. Aku bisa ngerti dan hargai itu. Tapi tetep, aku gak suka liat kamu deketan sama dia." Ucap Axell yang seakan mengerti dengan isi kepala Dira. "...Jadi, setiap kamu ketemu sama Arfen, aku akan minta imbalan sebagai izin yang aku berikan ke kamu. Gimana? Adil kan?" Sambungnya lagi.


"Ha...!!"


Ceklek,


"Kalian belum pulang?"


...***...


"Kalian sebaiknya pulang, udah hampir malam juga, kan!" Titah mama Diva yang kini duduk setengah bersandar pada brankar. Wanita paruh baya yang sempat merasakan sakit luar biasa pada pinggangnya akibat terjatuh di kamar mandi pagi tadi itu kini sudah merasa lebih baik.


"Tapi, ma-, Dira masih pengen disini... nemenin Mama." Jawab Dira memelas. Masih nampak jelas terlihat raut kekhawatiran di wajah Dira yang ia tujukan untuk Mama Diva.


Mama Diva tersenyum melihat ketulusan yang terlihat dari anak sambungnya itu, "Mama sudah gak apa-apa kok, sayang. Kalian juga harus istirahat. Lihat, kalian bahkan belum mengganti baju seragam kalian!" Ucap Mama Diva pada Dira dan Axell.

__ADS_1


Memang benar, keduanya masih mengenakan seragam sekolah. Sebenarnya, Axell tadi berinisiatif untuk mengajak Dira pulang sebentar untuk sekedar mandi dan ganti baju, tapi Dira menolak dengan alasan masih ingin menemani mama Diva.


"Mama baik-baik aja, sayang. Ada papa yang jagain Mama disini. Lagian, kamu tadi kan denger sendiri apa kata dokter, kalo mama sudah boleh pulang besok." Ucap Mama Diva menambahkan. Mama Diva berusaha membujuk agar Dira mau pulang, bagaimana pun juga Dira dan Axell juga harus beristirahat. Mama Diva tahu, mereka pasti juga lelah seharian berada di rumah sakit untuk menjaganya.


"Benar apa yang di katakan mama, yang... sebaiknya kita pulang, kamu juga perlu istirahat." Sahut Axell.


"Tapi, kak-


"Dira... Kamu lupa apa pesan papa, nak?" Ucap papa Pras yang kini ikut bersuara.


Dira mengerutkan dahinya tak mengerti, "Pesan apa, pa?"


"Jangan membantah apa yang Axell katakan padamu. Turuti semua apa yang Axell katakan. Kamu lupa, Axell adalah suamimu yang mana ucapannya harus kamu ikuti!" Ucap papa Pras mengingatkan.


Dira menghela nafas pelan mendengarkan apa yang Papa Pras katakan. Bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau Axell suaminya, mereka bahkan sudah pernah melakukan hubungan suami istri bahkan hampir setiap malam.


"Baik, pa. Kalo gitu, Dira sama kak Axell pamit pulang."


...***...


"Mau pulang ke mana, yang?" Satu pertanyaan yang lolos dari mulut Axell yang saat ini tengah fokus mengemudi. Kini keduanya sedang berada di dalam perjalanan pulang setelah Dira bersikukuh untuk menemani Mama Diva di rumah sakit.


Dira menoleh ke arah Axell sesaat lalu kembali menatap lurus ke depan, "Terserah kak Axell aja." Jawab gadis itu pelan.


Dira tampak berpikir sejenak, gadis itu tengah menimbang ingin pulang ke mana malam ini.


"Rumah papa!" Ucap keduannya kompak. Sampai akhirnya terdengar tawa dari keduanya.


Axell pun semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Ia ingin cepat sampai kerumah dan ingin segera mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket seharian di rumah sakit.


...***...


Di tempat berbeda, lebih tepatnya di Drum club', Arfen yang baru saja turun dari panggung itu berjalan hendak keluar dari club' tersebut, ia memutuskan untuk segera pulang setelah hampir dua jam menjadi disk jockey.


Saat akan pulang, Arfen menyempatkan diri untuk menemui Devan, sang bartender.


"Yang kayak biasa, bos?" Tanya Devan saat Arfen menghampirinya.


"Gak dulu, bang. Gue gak minum hari ini." Jawab Arfen yang kini mulai meneliti setiap sudut ruangan, mencari kemungkinan ada seseorang yang mungkin ia kenal.


"Lo cari siapa?" Tanya Devan saat melihat Arfen tengah memperhatikan setiap meja yang penuh dengan pengunjung club'.


Arfen menggeleng, "Gak nyari siapa-siapa, bang." Jawab Arfen.

__ADS_1


"Kalo Lo nyari Nicholas, dia ada di sebelah sana!" Tunjuk Devan pada sebuah meja.


Arfen langsung mengikuti arah pandangan Devan. Dan benar saja, Arfen langsung bisa melihat adanya Nicholas dan juga seorang Derry yang tengah asyik minum. Ralat. Derry yang lebih banyak minum. Laki-laki penyuka minuman beralkohol itu tak henti-hentinya menenggak cairan memabukkan yang tersedia di meja. Berbeda dengan Nicholas yang hanya menyesap minumannya sesekali.


Arfen menggelengkan kepalanya. "Gue langsung pulang aja, bang." Jawab Arfen yang terdengar malas di pendengaran Devan. Tanpa membuang waktu lagi, Arfen langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sang bartender.


Tapi, baru saja berjalan beberapa meter, terdengar suara seseorang yang sangat ia kenal tengah memanggilnya, "Yo, Arfen!" Panggil laki-laki yang Arfen yakini sudah mulai mabuk itu.


Arfen menghembuskan nafasnya kasar. Sebelum akhirnya berbalik dan mendekat ke arah Nicholas dan juga Derry, lalu duduk bergabung dengan keduanya.


"Buru-buru banget?" Tanya Nicholas. Laki-laki itu masih terlihat seratus persen sadar.


"Lagi males gue, bang." Jawab Arfen yang kini menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Males? Gak ada alasan yang lebih wajar? Lo gak pinter bo'ong, taik." Sahut Derry yang kini menaruh gelas kosong di meja.


Tanpa ingin menjawab apa yang Derry katakan, Arfen hanya menatap Derry malas.


"Gue bisa tebak, ini pasti ada hubungannya dengan gadis bernama Dira, iya kan?" Ucap Derry yang mengacungkan jari telunjuknya ke arah Arfen.


Masih dengan ekspresi wajah sama, Arfen masih enggan membuka mulutnya untuk menanggapi Derry. Tidak ada gunanya bicara dengan orang mabuk. Begitu pikir Arfen.


Lain halnya dengan Nicholas, ia malah tertarik dengan apa yang akan Derry katakan. Nicholas pikir, mungkin ia melewatkan sesuatu.


"Lo semua pada tau gak, belakangan ini gue sering mergokin si Dira-Dira itu masuk Green life Residence... bersama seorang Xello."


.


.


.



Axello.



Andira.



Arfen.

__ADS_1


__ADS_2