
"Lo pilih mana?" Tanya Axell menunggu jawaban dari Dira sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Gue udah siap, kalau pun Lo minta sekarang." Sambung Axell sambil melepaskan dasi yang masih melilit di lehernya itu ke sembarang arah.
Deg,
'Mampus.' Batin Dira.
"Ka-kak.... Gu-gue..." Ucap Dira terbata.
"Gue apa?" Tanya Axell lagi.
"Gue..."
"Gue?" Beo Axell menirukan suara Dira.
"Gue pilih makan." Jawab Dira cepat. Sungguh Dira belum siap untuk semua ini. Meskipun ia tahu bahwa Axell punya hak sepenuhnya atas dirinya. Tapi Dira pikir ini belum waktunya, mengingat keduanya masih sama-sama sekolah.
Mendengar jawaban Dira membuat Axell menarik salah satu sudut bibirnya. Sebenarnya ia hanya menggertak Dira agar mau makan tadi.
"a good choice! Ya udah, Lo makan dulu. Dan ini obat Lo. Gue mau mandi! Kalo Lo butuh sesuatu, Lo panggil gue!" Titah Axell sambil menyerahkan dua butir obat kepada gadis yang masih terduduk di ranjangnya itu.
Setelah Axell masuk ke kamar mandi, Dira menghembuskan nafasnya pelan. "Huuhh... gue kan nggak kenapa-kenapa, Kenapa harus di bikinin Bubur, sih? Jadi terpaksa kan gue harus makan ini!" Gumam Dira lirih. Ia terpaksa memilih memakan bubur, makanan yang paling tidak ia sukai dari pada membiarkan Axell melakukan apa yang tadi di katakannya.
Sebenarnya kalau pun Axell benar-benar meminta haknya, mau tak mau Dira pasti akan memberikannya. Karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri.
Dira sadar dan tahu betul bahwa, disaat seorang gadis telah menikah. Ia pasti akan kehilangan sesuatu yang sangat ia jaga selama ini dan menyerahkannya pada suaminya.
Tapi Dira berpikir tidak untuk sekarang. karena mengingat ia dan Axell tidak saling mencintai (Ralat : Bukan tidak saling cinta, tapi belum). b6ahkan mereka masih belum begitu mengenal satu sama lain.
Karena merasa ingin muntah, Dira hanya memakan beberapa sendok bubur yang tadi Axell siapkan untuknya. Baru saja Dira memakan dua sendok makan bubur, ia langsung menyudahi makannya.
Dira berjalan menuju ke dapur untuk mengembalikan mangkuk yang masih berisikan bubur yang terlihat masih penuh tadi dan meminum obat yang Axell berikan padanya.
"Rasanya gue kek pengen muntah. Huwek..." celetuk Dira tiba-tiba sambil memuntahkan bubur yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Ini hal biasa yang Dira alami setelah makan bubur, entah mengapa Dira selalu muntah setelah melihat atau memakan bubur. Lalu Dira memutuskan untuk minum air hangat untuk menghilangkan rasa mualnya.
"Lo disini." ucap Axell yang baru selesai mandi dan berjalan menghampiri Dira. Dira yang sedang minum itu pun menoleh dan langsung tersedak.
"Uhuk... uhuk..."
"Sorry, gue nggak maksud buat kagetin Lo." Ucap Axell meminta maaf sambil menepuk-nepuk pelan punggung Dira, bermaksud untuk meringankan batuk gadis itu.
Gimana Dira gak tersedak coba, selain Axell datang secara tiba-tiba, laki-laki itu menghampirinya dengan bawahan yang masih celana seragam sekolah dan tubuh bagian atas masih bertelanjang dada. Sontak saja Dira yang saat itu menoleh seketika terkejut.
"Kenapa kak Axell gak pake baju?" Protes Dira setelah mengalihkan pandangannya dari Axell.
"Baju seragam gue kotor Dira, gue nggak punya baju disini." Jawab Axell sambil berjalan kearah kulkas dan meraih satu apel dan memakannya.
Mendengar apa yang di katakan Axell tadi membuat Dira menghembuskan nafasnya pelan. Ia baru sadar ini di apartemennya, bukan apartemen Axell. Jadi wajar kalau Axell tidak mempunyai baju ganti disini.
__ADS_1
"Tunggu bentar, aku ambilin!" Ucap Dira sambil berjalan meninggalkan dapur.
"Kemana?" Tanya Axell singkat yang tak mendapat jawaban dari Dira. Dira lalu kembali menuju kamarnya dan mengambil satu kaos dari lemari bajunya.
"Ini kak, kayaknya ini muat di badan kak Axell." Ucap Dira sambil menyerahkan sebuah kaos berwarna putih polos pada Axell.
Axell tampak mengerenyitkan dahinya seakan bertanya, '*I*ni kaos siapa?' Batin Axell.
"Lo nyimpen kaos cowok?" Tanya Axell sambil menerima kaos yang Dira berikan padanya.
"Itu punya aku kak, belum pernah aku pake, kegedean." Jawab Dira apa adanya.
Axell menganggukkan kepalanya dan langsung memakai kaos pemberian dari Dira tadi.
"Lo beneran udah nggak apa-apa?" tanya Axell ingin tahu.
"Gue udah nggak apa-apa." Ucap Dira.
"Ya udah. Gue mau balik ke apart gue, ganti celana. Lo masih mau disini atau ikut gue balik?" Tanya Axell lagi.
"Kak Axell duluan aja, nanti aku nyusul!" ucap Dira.
Axell menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari kamar Dira. Tapi, baru saja Axell akan membuka pintu, Dira kembali memanggil Axell. "Tunggu, kak!"
Axell menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dira. "Ada apa?" tanyanya.
Mendengar apa yang di katakan Dira membuat Axell mendekat ke arahnya. Ditatapnya lekat wajah gadis itu.
"Lo istri gue Dira, udah seharusnya gue ngelakuin itu." Ucap Axell pelan sambil mengacak rambut Dira.
Deg...
Deg...
Deg...
"Ya udah, gue pergi dulu." Ucap Axell sambil berjalan keluar.
"Apa tadi?" Lirih Dira sambil memegangi dadanya.
...***...
Keesokan harinya Dira dan Axell sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Saat sudah masuk ke dalam mobil. Axell menyerahkan sebuah Paper bag kepada Dira.
"Buat Lo." Ucap Axell singkat.
"Ini apa, kak." Tanya Dira setelah menerima Paper bag tersebut.
"Buka aja!" Jawab Axell sambil mulai menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Karena merasa penasaran, akhirnya Dira langsung membuka Paper bag yang Axell berikan. dan ternyata isinya,
"Ponsel?" Ucap Dira lirih sambil mengeluarkan sebuah kotak berbetuk persegi panjang.
"Ini buat apa?" Tanya Dira
"Buat Lo". Singkat Axell.
"Iya, tapi kenapa kak Axell ngasih aku ponsel?" Tanya Dira lagi.
"Buat Lo pakai?" Jawab Axell sekenanya. Mendengar jawaban dari Axell membuat Dira mengerenyitkan dahinya bingung. Ia sedang menebak apa yang sedang Axell pikirkan saat ini. Seingat Dira, ia belum memberitahu pada Axell kalau ponselnya hilang. Tapi sekarang ini Axell memberinya sebuah ponsel, seperti Axell tahu kalau ponselnya hilang.
"Kak Axell tahu, kalo ponsel aku hilang?" Tanya Dira sambil menatap wajah Axell sekilas.
Tak ingin menjawab, Axell hanya menatap Dira sesaat dan kembali fokus ke kemudi.
"Semua nomor kontak Lo udah gue masukin ke ponsel itu..." Ucap Axell tenang sambil mematikan mesin mobilnya.
"...Kecuali satu..." Axell menggantungkan kalimatnya.
'*K*ecuali apa?' Batin Dira bertanya.
"...Nomor kontak SAHABAT TAPI SUKA Lo, gue gak masukin." Lanjut Axell sambil melepas Seatbelt dan menatap wajah Dira sekilas. Ia ingin tahu seperti apa wajah Dira saat Axell mengatakan kalau dia tak menyimpan nomor Arfen.
"Ini peringatan terakhir buat Lo. Gue nggak mau lagi lihat dia datang apa lagi sampai bisa masuk ke sekolah gue... Terutama buat nemuin Lo, istri gue. NGERTI!" Ucap Axell santai tapi seperti tekanan tersendiri bagi Dira.
"Iya, aku ngerti kak." Jawab Dira lirih.
"Kalau Lo langgar....
.
.
.
*Yang kek biasanya ya, dan gak bosen² aku minta Vote dan likenya.. dan Jan lupa juga,, Yang udah baca Absen dong!!! Komen di jam berapa kalian baca eps. ini.. Ok😊..
Yang gak mau, gak apa-apa sih..
Tapi,
Ada tapinya....
Siap-siap aja di block.. Xixi 🤭
"Reader: Ih, kok maksa!"
"Author: Gak maksa, sih. Kita kan Simbiosis Mutualisme."
__ADS_1