Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
101. When Jasson meet Jessy.


__ADS_3

18+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dosa di tanggung sendiri. 😏


"Kenapa belum tidur, malah berdiam disini?" Tanya Axell.


"Aku belum bisa tidur, kak. Tadi siang udah kelamaan tidur." Jawab Dira.


Axell mengangguk membenarkan kata-kata Dira. "Tapi jangan di luar juga, yang. Bentar lagi hujan, Udara juga semakin dingin... Ayo masuk!" Ajak Axell.


"Bentar ya, kak. Aku masih pengen disini." Tolak Dira. Bahkan gadis itu masih betah berdiri sambil memegangi pembatas balkon.


Axell menggelengkan kepalanya menyadari gadisnya ini yang begitu keras kepala, "Dingin, yang. Udaranya gak baik buat Lo!" Ucap Axell yang langsung menggendong Dira untuk masuk ke dalam kamar.


"Kak Axell... turunin aku!" Pekik Dira yang terkejut dengan Axell yang tiba-tiba menggendongnya.


"Ok. Tapi Lo kurangin bandelnya, bisa?" Tanya Axell yang sudah kembali masuk ke dalam kamar.


"Iya... Iya, kak. Aku udah gak bandel lagi. Kan tadi udah janji." Jawab Dira.


Axell lalu reflek menurunkan gadisnya di tempat tidur. Tangannya terulur untuk mengacak pelan rambut gadisnya. "Good girl." Ucapnya lalu merebahkan diri di samping Dira.


Ting,


Tiba-tiba salah satu ponsel di nakas berbunyi menandakan ada pesan masuk. Axell tak bergeming. Ia malah sudah mulai menutup matanya.


Dira turun dari tempat tidur dan berjalan memutari ranjang untuk mengambil ponsel tersebut, karena posisi nakas yang berada di sebelah Axell.


Saat Dira meraih ponsel tersebut, ternyata pesan masuk itu bukan pada ponselnya, melainkan pada ponsel Axell.


Dira lalu duduk di dekat Axell, "Kak, ada pesan masuk!" Ucapnya.


"Dari siapa, yang? Tolong bacain." Tanya Axell masih dengan mata tertutup.


"Gak tau, gak ada namanya." Jawab Dira yang memang tak melihat nama si pengirim pesan.


"Buka aja, yang!" Suruh Axell. Dira mengangguk dan saat membuka pesan tersebut.


Deg,


Entah mengapa tiba-tiba perasaan Dira berubah tidak karuan.


📥 +62852279797xx


__ADS_1


Xello, gue kangen sama momen kebersamaan kita yang kayak gini. Gue masih sayang sama Lo, dan kita bisa memulainya lagi.


Bahkan Dira sampai mematung setelah membaca isi pesan tersebut. 'Ini nomor yang sama. Berarti ini... Renata.'


"Kenapa, yang?" Tanya Axell. Laki-laki itu memperhatikan gadisnya yang hanya diam setelah membuka pesan. Axell memutuskan untuk bangun dan mencari tahu, siapa yang mengiriminya pesan.


"Gak usah di liat, yang!" Tegur Axell saat mengetahui apa yang baru saja gadisnya itu lihat. Bahkan ponsel yang sedari tadi berada dalam genggaman Dira sudah berhasil mendarat di lantai karena Axell yang melemparnya.


"Tidur! Jangan racunin pikiran Lo dengan hal yang gak penting!" Ucap Axell yang kini menarik Dira untuk ikut berbaring di sampingnya.


"Kak..." Panggil gadis itu lirih.


"Hm."


"Kak Axell yakin, udah gak ada perasaan sama re-"


Cup,


Axell mengecup singkat bibir Dira, tak membiarkan gadisnya itu untuk melanjutkan kalimat yang sudah bisa Axell tebak. "Jangan pernah sebut namanya di antara kita, yang. Gue males dengernya!"


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dira, gadis itu hanya mengangguk. Hening. Kini keduanya saling diam dengan pandangan terkunci satu sama lain.


Axell mendekat ke arah Dira, mengikis jarak lalu.


Cup,


"Yang..." Panggil Axell pelan. Gadis itu tak menjawab, ia lebih memilih menunggu apa yang akan Axell katakan.


"Yang... Gue mau Lo." Ucap Axell dengan suara beratnya.


Deg,


Satu pertanyaan yang berhasil membuat Dira langsung gugup seketika. Jantungnya bahkan kini berdegup kencang. Setelah kejadian pagi tadi, kini Dira tidak ada alasan lagi untuk menolak kemauan Axell, suaminya.


Tak ada respon apapun, Axell kembali mengecup bibir Dira, seakan menuntut jawaban dari gadisnya itu.


Cup,


"Yang..." Panggil Axell lagi. Dira bahkan bisa melihat dari wajah laki-laki di depannya ini. Ada hasrat yang terpendam disana.


Lama Dira menatap wajah Axell, sampai akhirnya satu kalimat persetujuan keluar dari mulut Dira.


"Do it know!" Jawab Dira pelan.

__ADS_1


Untuk sesaat Axell tertegun setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dira. Sampai akhirnya, ia tersenyum karena akhirnya, Dira mengizinkannya. "Are you sure?" Tanya Axell memastikan.


Dira mengangguk pelan. Axell kembali tersenyum lalu mencium kening Dira lama. Lalu ciuman itu turun ke mata Dira, lalu kedua pipi Dira dan kini beralih ke bibir. Axell mengecup bibir milik Dira beberapa kali sampai akhirnya Melu**tnya pelan. Axell dapat merasakan Dira yang kini ikut mengimbangi permainan bibirnya.


Tangan Axell bergerak naik untuk mengelus pelan leher gadisnya. Lalu turun ke bagian perut. Ia usap dengan lembut perut datar Dira.


Kini Axell merubah posisinya menjadi di atas Dira dengan satu tangan yang ia jadikan tumpuan tubuhnya agar tak terlalu menimpa gadisnya. Dengan masih menyatukan bibir keduanya.


"Bernafas, yang!" Titah Axell saat melepas ciumannya. Lalu kembali Melu**t bibir ranum itu lagi. Tangannya pun kini terampil melepas satu persatu kancing baju piyama Dira. Axell dapat melihat dengan jelas rona malu disana namun tanpa perlawanan. Dira saat ini benar-benar menerima apa yang Axell lakukan padanya.


Namun, tak sampai di situ, Axell menggerakkan tangannya untuk menangkup gundukan kenyal milik Dira, memijatnya pelan. Axell sengaja-sengaja memainkannya, memberikan rangsangan-rangsangan tak terkirakan.


Dira dapat merasakan tangan Axell yang terasa panas di permukaan kulitnya. Semakin panas saat laki-laki itu berhasil melepas pengait dari sisa kain yang menutupi tubuh bagian atasnya. Malu, benar-benar malu. Dira bahkan sampai menyilangkan tangan untuk menutupinya. Tapi bukan Axell namanya kalau ia tak berhasil membujuk Dira untuk menjauhkan tangannya hingga bagian itu kembali terpampang nyata.


Tubuh gadis itu tiba-tiba menekuk ke atas saat Axell mengecup gundukan indah itu. Mencumbu dengan mesra di bagian sana. Lenguhan dan ******* pun akhirnya keluar dari mulut Dira. Membuat Axell semakin berhasrat di atasnya.


Tak lama kemudian, Axell bangun untuk melepas baju yang ia kenakan dan membuangnya ke lantai. Dira kini dapat melihat dengan jelas, sangat jelas tubuh indah suaminya. Mendadak Dira kembali gugup. Hingga Dira kini merasakan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan tubuh Axell, membuat desiran menjalar pada dirinya. Sengatan-sengatan yang belum pernah Dira rasakan sebelumnya.


Tubuh mereka semakin panas dengan deru nafas yang kian memburu. Dan setelah beberapa menit, entah bagaimana caranya, kini keduanya sudah dalam keadaan na**d.


"Yang, gue mau sekarang." Bisik Axell tepat di telinga Dira dan membuat tubuh Dira semakin menegang. Gadis itu kembali mengangguk.


"Gue gak janji bilang ini gak sakit, tapi gue akan lakuinnya selembut mungkin." Lalu kembali mencium gadisnya.


Hingga beberapa saat setelah Axell berhasil membujuk, Pekikan itu pun keluar dari mulut Dira saat penyatuan antara Jasson dan Jessy itu tiba.


"Kak Axell... Sak-


Axell reflek menghentikan aksinya. Ia bungkam mulut Dira dengan bibirnya. Axell berusaha mengalihkan rasa sakit yang Dira rasakan.


Axell menarik Jasson pelan, kemudian perlahan memasukannya lagi. Dengan sabar ia menahan hasratnya agar tidak menyakiti Dira dan menunggu Jessy agar terbiasa dengan Jasson.


Axell kembali menarik Jasson pelan, lalu ia hentakkan lagi hingga benar-benar memasuki Jessy sepenuhnya. Bahkan kini keluar darah segar dari pangkal paha Dira.


Setelah beberapa menit dan dirasakan Dira sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Jasson di bawah sana, Axell kenaikan tempo gerakannya. Dipompa nya Jasson dengan cepat. Ditariknya pelan, kemudian di dorongnya dengan kuat lagi begitu seterusnya semakin cepat.


Dan pada akhirnya malam ini setelah melewati sekian purnama, seorang Axello berhasil membuat Dira merintih dan mendesah dibawah Kungkungan nya. Axell benar-benar pintar merayu untuk sampai ke tahap ini. Tahap yang membuat mereka berhasil menjadi suami istri sepenuhnya.


Tubuh Dira lemas seketika saat hentakan yang Axell berikan tadi benar-benar memasukinya semakin dalam. Saat setelah berkali-kali berusaha, akhirnya Axell pun berhasil membobol dirinya.


Sisa-sisa air mata itu masih ada sampai saat pergulatan itu berakhir. Ya, tadi Dira sempat menangis karena merasakan sakit luar biasa pada Jessy saat Jasson memasukinya.


Cup,

__ADS_1


Sebuah kecupan singkat yang Dira terima, sebelum akhirnya ia mendengar Axell mengucapkan kata, "I love you, Andira."


__ADS_2