Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
88. Pulang kerumah.


__ADS_3


*When Axell said : Apa sayang...??



*When Axell said : Dimaafkan.


"Lo berdua abis ngapain?" Pertanyaan kompak yang keluar dari Verrel dan Nayla. Sangat terdengar jelas ada nada tak suka dari keduanya. Jika Verrel menghawatirkan Axell sahabatnya, maka sama halnya dengan Nayla yang juga menghawatirkan Dira.


Khawatir dalam arti kata melihat hubungan keduanya yang sama-sama tidak tinggal dengan orang tua masing-masing. Bahkan tinggal di gedung apartemen yang sama, hanya beda lantai. Jadi tak menutup kemungkinan kalau keduanya akan kebablasan dalam pacaran karena terlalu sering bertemu dan mungkin tinggal bersama secara diam-diam.


Ok... Verrel dan Nayla sedang Over thinking saat ini.


Melihat Dira yang hanya mengenakan Bathrobe, dan posisi keduanya yang berpelukan saat mereka datang, tak menutup kemungkinan ada sesuatu hal yang terjadi sebelum mereka sampai tadi.


Tak menjawab, Axell malah kembali masuk ke dalam kamar Dira dan di ikuti oleh Nayla Gadis itu sedang menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut Axell. "Ngapain Lo malah masuk kamarnya Dira?" Tanya Nayla lagi dan masih tak mendapat respon apapun dari Axell.


Axell kembali keluar dari kamar Dira setelah mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di nakas samping tempat tidur. Masih dengan Nayla yang mengekor di belakangnya.


Axell kini duduk di sofa, lebih tepatnya di samping Bastian yang lebih dulu duduk sejak sampai tadi. Axell kini tengah mencari kontak seseorang. Dan langsung menekan tombol panggil saat menemukan nama yang ia cari.


📞 Calling Rheyhan...


"(.....)."


"Hallo, Bang Rhey."


"(....)."


"Tolong kirim menu Signature dari d'AXE Cafe, Ke Green life Residence ya, Bang. Untuk 7 orang. Nanti langsung ke lantai 9 Unit nomor 901.


"(....)."


"Ok. Thank's, bang!"


Axell langsung memasukkan ponselnya kedalam saku setelah panggilannya selesai.


"Gak terjadi apa-apa, gue cuma minta om gue buat periksa keadaan Dira tadi." Ucap Axell tanpa menatap Verrel ataupun Nayla. Laki-laki itu memilih untuk menyenderkan punggungnya dan menutup matanya sejenak, tiba-tiba kepalanya sedikit berdenyut.


"Dih... Lo pikir gue bakalan percaya?" Jawab Nayla.


"Lo pikir gue bakalan peduli?" Jawab Axell dengan menirukan nada bicara Nayla tadi.


"Lo iya, ukh!" Kesal Nayla.


"Udahlah, beib. Axell gak mungkin ngapa-ngapain Dira." Ujar Verrel yang menenangkan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Beib, Udah hampir 3 jam Axell bawa Dira pulang tadi, kita gak ada yang tau apa yang terjadi selama kita belum datang kan." Ucap Nayla yang terkesan menuduh ke arah Axell.


Sementara Axell menghela nafas, "Lo bisa tanya sendiri ke Dira." Ucap Axell yang kini kembali membuka matanya karena mendengar langkah kaki seseorang. Pandangannya kini beralih pada seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sini, yang!" Panggilnya pada Dira. Gadis itu menurut dan langsung mendekat ke arah Axell dan duduk di sampingnya.



"Masih pusing?" Tanya Axell sambil menempelkan punggung tangannya pada kening Dira. Tak ada jawaban, Dira hanya menggeleng kan kepalanya pelan.


Tangan Axell kini bergerak mengelus kepala Dira. "Gue udah pesen makan tadi, nanti makan yang banyak, biar lo cepet sembuh! Gue tau, Lo tadi baru makan dikit di kantin." Ucap Axell pada Dira. Dira hanya mengangguk pasrah.


"Tuan dan nyonya Axello yang terhormat, tolong keuwuannya jangan di pertontonkan dengan sengaja. Kami disini sedang prihatin dengan keadaan saudara kita yang kurang beruntung." Ucap Zaki sambil menatap Bastian.


Sementara Bastian hanya berdecak kesal, memang kenapa dengan dirinya? "Kenapa jadi bawa gue Lo, nyet!"


"Hahaha... Karena Lo kan dulunya juga ngarep banget sama Dira." Jawab Zaki tanpa rasa bersalah.


"Gue udah B aja ya, sekarang Kenapa Lo yang repot." Jawab Bastian malas.


Tok,


Tok,


Tok,


Tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu, Axell sudah bisa menebak siapa yang datang. Laki-laki itu lalu bangkit untuk membukakan pintu. Dan saat pintu terbuka, muncul dua orang dari balik pintu.


"Gak, bang, ini apartemennya Dira." Jawab Axell sambil kembali menutup pintu.


"Tolong taruh saja di meja." Ucap Axell pada gadis yang tadi datang bersama dengan Rheyhan tadi. Axell kini kembali melangkahkan kakinya untuk duduk di samping Dira.


"Saya masih mau disini, kamu bisa langsung kembali ke kafe, Ninda!" Ucap Rheyhan. Laki-laki yang hanya berbeda tiga tahun dari Axell itu adalah orang kepercayaan Axell di d'AXE Cafe sekaligus sepupu dari Axell sendiri.


"Baik, pak." Jawab Ninda sambil kembali melirik gadis di samping Axell. 'Kenapa, sih, 'tuh cewe nempel mulu' sama Axell?". Emang kenapa sih Ninda? Suka-suka Axell, dong!🤣


Setelah perginya Ninda, Rheyhan langsung bergabung dengan yang lainnya. Kini mereka tengah makan bersama sekarang.


"Gue denger-denger is-... Pacar Lo sakit, Xell?" Tanya Rheyhan yang hampir keceplosan menyebut Dira istri tadi kalau saja Axell tidak memberinya kode gelengan kepala samar.


"Cuma demam, bang!" Jawab Axell yang kini meraih makanan untuk ia berikan pada Dira. "A, yang... Aku suapin." Ucap Axell.


Dira menatap Axell sesaat lalu menggeleng, "Aku makan sendiri aja, kak."


Axell menggeleng, "Lo akan makan sedikit kalo makan sendiri. Jadi gue suapin!"


Dira tersenyum canggung, menyadari dirinya dan Axell yang langsung menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba ia jadi gak enak sendiri, "Tapi, kak-"

__ADS_1


"Dira, nurut sama gue bisa? Lo lagi gak enak badan." Potong Axell cepat yang seakan tak menerima penolakan dari istrinya. Axell jadi tak habis pikir, Kenapa di saat seperti ini istrinya ini jadi susah di kasih tahu. Axell memijat pelipisnya sebelah, kepalanya semakin berdenyut nyeri.


Sementara Rheyhan dan yang lain hanya menahan tawa melihat interaksi antara Axell dan Dira. Gemas sekali kedua pasangan ini.


"Nurut aja apa susahnya sih, Dir. Gak ada salahnya Lo nurut sama Axell!" Pungkas Rheyhan.


Mendengar apa yang di katakan Rheyhan padanya, mau tak mau Dira lalu menurut untuk di suapi Axell. Baru saja Axell memaafkan sikapnya yang tadi, tak mungkin kan ia bikin Axell kesal lagi.


...***...


Satu jam setelah Rheyhan beserta teman-temannya pergi dari apartemen Dira, Axell kini kembali mandi setelah membersihkan ruang tamu tempat ia dan teman-temannya makan tadi.


Setelah mandi, Axell meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


📞 Caliing Pak Septa...


"Hallo, Pak Septa?


"(....)."


"Tolong jemput saya di apartemen sekarang, bisa, pak?"


"(....)."


"Baik, saya tunggu, pak."


Panggilan berakhir setelah Axell menutup telponnya. Laki-laki itu lalu berjalan mendekat ke arah lemari lalu mengambil Hoddie dan memakainya.


Dira yang melihat Axell menggunakan Hoddie pun mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya, 'Kak Axell mau kemana?' Tanya gadis itu dalam hati, mata Dira beralih menatap jam yang menempel di dinding kamar dan menunjukan angka delapan malam.


Karena semakin penasaran, Dira akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya, "Kak Axell mau kemana?" Satu pertanyaan yang akhirnya lolos dari mulut Dira.


Axell menoleh ke arah Dira lalu mendekat ke arah gadisnya itu. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap pelan rambut gadisnya. "Gue mau pulang ke rumah." Jawabnya.


"Ke rumah?" Beo Dira. 'Ini kak Axell mau ninggalin gue? Apa dia masih marah?"


Axell mengangguk, "Kenapa?" Tanya Axell yang langsung mendapat gelengan kepala dari Dira.


Axell lalu meraih ponsel dari dalam saku celananya, membuka sebuah pesan yang baru masuk.


"Ayo, yang. Pak Septa udah nunggu kita di bawah."


.


.


.

__ADS_1



*Rheyhan Theda Finnegan, Putra dari Om David Finnegan.


__ADS_2