
Pagi ini jam sudah menunjukkan pukul 6.45. Jika biasanya jam segini Dira sudah bangun dan bahkan sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, tapi lain untuk hari ini.
Gadis itu bahkan belum bangun, bukan sengaja karena hari ini sudah mulai izin tidak masuk sekolah karena persiapan pernikahannya, melainkan karena semalaman ia tidak bisa tidur sampai hampir pagi tadi.
Bahkan lewat jam empat pagi tadi, Dira baru bisa memejamkan matanya, dan sampai sekarang gadis itu masih betah bergelut dengan mimpinya.
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Dira. Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari si pemilik kamar, Mama Diva memutuskan untuk langsung masuk, berhubung kamar Dira yang tidak di kunci.
"Sayang..." Panggil Mama Diva lembut sambil mengelus rambut hitam kecoklatan milik Dira. Karena urung mendapatkan jawaban, Mama Diva kembali membangunkan Dira. "Bangun sayang, ayo sarapan, udah siang Lo." Ucap Mama Diva.
Dira yang mendengar suara Mama Diva pun akhirnya mulai terbangun, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Pagi, Ma?" Sapa Dira yang kembali akan memejamkan matanya. Melihat Dira yang akan kembali tidur, Mama Diva cepat-cepat menepuk pelan pipi Dira.
"Sayang, bangun! Udah siang. Ayo kita sarapan! Papa kamu juga sudah nungguin di bawah." Ajak Mama Diva.
Dira kembali membuka matanya sambil menguap. "Bentar ya, Ma, Dira mandi dulu." Jawab Dira.
"Ya sudah, Mama tunggu di meja makan ya, sayang!" Ucap Mama Diva sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Dira.
Setelah selesai dengan mandinya dan bersiap, Dira kini keluar kamar dan langsung menuju meja makan.
"Pagi, Pa..." Sapa Dira pada Papa Pras.
"Pagi, sayang. Lho... kok pakai seragam sekolah, sayang? bukannya kemarin papa sudah bilang, kamu besok libur." Ucap Papa Pras.
"O... iya, Pa. Dira lupa." Jawab Dira sambil menepuk jidatnya.
"Sayang, kamu mau sarapan roti atau nasi?" Tanya Mama Diva.
"Roti aja deh, Ma." Jawab Dira.
...***...
Sementara itu,
__ADS_1
Dikediaman mewah keluarga Marvellyo, nampak seorang pria paruh baya dan istrinya yang masih terlihat cantik walau usianya yang sudah menginjak hampir setengah abad itu sedang menunggu kedatangan putranya untuk sarapan bersama.
Tadi setengah jam yang lalu, bunda Resty datang ke kamar Axell untuk membangunkannya. Dan kini Axell tengah berjalan menuruni anak tangga untuk ikut bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Lho, Boy. Kok pake seragam sekolah, bukannya kemarin-" Belum selesai bunda Resty melontarkan pertanyaannya, Axell lebih dulu menjawab.
"Axell ada rapat OSIS hari ini, Bun. Verrel bilang, katanya dia nggak masuk." Jawab Axell cepat.
"Kamu tidak berniat untuk melarikan diri kan, Axell?" Tanya Ayah Marvellyo tanpa melihat wajah putra semata wayangnya itu.
Axell menarik salah satu sudut bibirnya, sebelum akhirnya menjawab, "Kalau pun Axell ingin, memangnya Axell bisa kabur dari Ayah? Sebelum Axell sampai ke tempat yang akan Axell tuju, pasti orang-orang suruhan Ayah udah lebih dulu nangkap Axell, dan bawa Axell pulang seperti waktu itu." Jawab Axell yang teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimana ia mencoba pergi dari rumah dan kabur ke luar negeri. Tapi begitu Axell turun dari pesawat, Axell langsung di sambut oleh orang-orang suruhan Ayah Marvellyo dan langsung dibawa kembali ke Indonesia.
Waktu itu Axell yang baru masuk SMA sudah sering kali dijejali dengan berbagai ilmu bisnis dan bagaimana cara mengelola perusahaan oleh Ayah Marvellyo.
Mengingat Axell adalah anak satu-satunya. Axell di tuntut untuk bisa menguasai dunia bisnis. Bahkan tak jarang Axell yang waktu itu masih kelas X sudah harus mengikuti ayahnya meeting di kantor.
Mendengar jawaban dari putranya seketika membuat Ayah Marvellyo tersenyum. "Ok. Ayah izinkan kamu sekolah hari ini. Tapi setelah ini, kamu harus langsung pulang!" Jawab Ayah Marvellyo.
"Sudah-sudah, sarapan dulu! Sudah siang." Ucap Bunda Resty menengahi keduanya.
Axell yang sudah selesai dengan sarapannya langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya dan keluar menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Setelah mobil Axell keluar dari pekarangan rumah, Ayah Marvellyo nampak tersenyum penuh arti sambil menggelengkan kepalanya. Ayah Marvellyo tahu, Axell tengah berbohong tentang rapat OSIS yang putranya katakan hari ini.
Mengingat beliau adalah pemilik sekolah sekaligus ketua yayasan, mengetahui semua itu bukanlah hal yang sulit. Agar saat pernikahan Axell di langsungkan tidak akan berbenturan dengan jadwal atau kegiatan yang lainnya.
Dan sekarang ini, Axell sebenarnya masuk bukan untuk urusan OSIS, melainkan untuk hal yang lainnya.
"Kamu tidak akan menemukannya di sekolah, Boy. Dia tidak sekolah hari ini." Ucap Ayah Marvellyo.
"Ayah tahu dari mana?" tanya Bunda Resty. Mendengar pertanyaan dari Bunda Resty, ayah Marvellyo langsung merogoh saku jasnya lalu menunjukkan sebuah pesan dari seseorang.
...***...
Disekolah bel istirahat telah berbunyi dan kini Melody sedang duduk di kantin ditemani oleh Zaki.
"Napa sih, itu muka di tekuk Mulu dari tadi?" Tanya Zaki yang terus memperhatikan Melody.
"Nggak usah sok perhatian, deh!" Jawab Melody ketus.
"Gue selalu perhatian, ya. Lo aja yang gak pernah ngerasain perhatian dari gue." Jawab Zaki.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja dikatakan Zaki membuat Melody tersedak minumannya sendiri.
"Uhuk... uhuk..."
Zaki yang mengetahui kalau Melody terbatuk-batuk langsung reflek menepuk-nepuk punggung gadis itu.
"Kalo minum itu, pelan-pelan, gue nggak minta juga." Ucap Zaki.
"Lo apain anak orang, woy?" Ucap cowok tengil yang baru saja datang dengan teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan Sebastian Arseino.
"Emangnya menurut Lo, gua apain anak orang?" Tanya balik Zaki.
"Lo cuma berdua? Berarti si Dira beneran gak masuk, dong?" Tanya Nayla.
Lagi,
Perhatian Axell terfokus pada Nayla yang menyebutkan nama Dira. Verrel yang ikut mendengar nama Dira disebut pun kini memperhatikan Axell dengan senyum miring.
Ini adalah hobi baru dari Verrel yang diam-diam memperhatikan sahabatnya itu. Axell yang begitu dingin dan acuh tentang orang lain kini berubah jika itu menyangkut gadis bernama Dira.
Entah mengapa, Verrel merasa jika Axell tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu. Beberapa waktu yang lalu, Verrel sempat menanyakan tentang perasaan Axell terhadap adik kelasnya itu tapi Axell menyangkalnya.
"Lo tahu, kak?" Tanya Melody.
"Gue baru aja telepon dia tadi, nanya yang tentang kemarin. Tapi katanya masalahnya gak sebegitu berat kok. Dan udah clear juga." Jawab Melody santai dan mendapat anggukan kepala dari Melody.
"Lah, iya ya. Si bidadari gue gak masuk. Kenapa, Nay? Sakit dia?" Tanya Bastian.
"Iya, kak, terus kenapa Dira gak masuk?" Tanya Melody menimpali.
"Kasih tahu gak ya...?" Jawab Nayla sambil menggerakkan jari telunjuknya pada dagunya seolah-olah sedang berpikir.
"Kasih tahu aja, Beib! Kasihan yang penasaran kenapa Dira gak masuk sekolah hari ini." Jawab Verrel santai dan melirik Axell sesaat.
Mendengar apa yang Verrel katakan Axell langsung menghadiahinya dengan lirikan tajam. Ia teringat pertanyaan yang terlontar dari mulut sahabatnya itu.
"Dia izin untuk beberapa hari kedepan, katanya ada urusan." Jawab Nayla yang menunjukkan ponselnya yang berisikan Chat room dirinya dengan Dira.
"Syukur deh kalo cuma urusan keluarga, gue sempet mikir kalo Dira sakit tadi." Jawab Melody merasa lega.
"Udah jelas, kan, kenapa Dira gak masuk sekolah hari ini?" Tanya Verrel. "Gimana? Plong gitu gak perasaan Lo?" Ucap Verrel lagi dengan nada yang terkesan menggoda sambil kembali melirik sahabatnya itu.
__ADS_1
"O-Shitt."