Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
117. Cara berterima kasih.


__ADS_3

'Bunda Resty? Mereka udah sedekat itu?' Batin Arfen bertanya.


Dira melirik ke arah Arfen sekilas yang ternyata sedang menatap wajah santai suaminya. Entahlah, tatapan mata Arfen tadi sulit Dira artikan. "Aku gak tau, kak. Aku masih pengen disini nemenin Mama Diva." Jawab Dira.


Axell menganggukkan kepalanya mendengar jawaban yang keluar dari Dira, lalu pandangannya teralih pada Arfen. Axell menatap Arfen lama. Keduanya kini bahkan saling tatap tanpa mengucap kata satu sama lain. Hingga sampai akhirnya Axell memilih untuk memutus kontak mata dengan Arfen dan beralih menatap wajah Dira yang terlihat santai, tidak seperti biasanya. Axell masih bisa mengingat dengan jelas, dimana gadisnya itu menunjukan ekspresi tegang disaat ia berhadapan dengan Arfen saat itu.


"Ok, nanti kamu aja yang bilang ke Bunda, yang. Kalo gitu, aku ke ruangan Mama dulu. Sepertinya... (Pandangan Axell kembali terarah pada Arfen.) masih ada hal yang mau kalian omongin." Ucap Axell pada gadisnya.


Dira meraih tangan Axell, "Aku gak lama, kak. Nanti aku langsung nyusul." Jawab gadis itu.


Axell kembali mengangguk, ia lalu melepaskan genggaman tangan Dira. Tangannya kini terangkat untuk meraih kepala gadisnya itu. Dan,


Cup,


Axell mengecup singkat puncak kepala gadisnya tanpa peduli dengan adanya Arfen diantara mereka. Iya, sengaja memang.


"Ok, aku tunggu di dalam. Jangan lama-lama, kalo udah selesai langsung balik... Nanti papa nyariin kamu." Ucap Axell mengingatkan. Kali ini Axell memang mengizinkan Dira untuk menemui Arfen, tapi tidak untuk berlama-lama dengan sahabat tapi suka nya itu. Laki-laki itu bahkan tersenyum ke arah Arfen. Senyum yang entah apa artinya, Arfen tidak bisa mengartikan senyum dari Axell itu sendiri.


Dari sudut pandang Axell, ia dapat melihat dengan jelas, betapa Arfen menatapnya kesal. Bahkan Axell semakin tersenyum miring melihat tangan Arfen yang terkepal sempurna.


Selepas perginya Axell, kini Dira dan Arfen kembali duduk dengan pikiran masing-masing. Hening tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Sampai akhirnya Arfen yang memecah keheningan diantara keduanya.


"Jadi..." Satu kalimat menggantung yang muncul dari mulut Arfen.


Dira menoleh kearah Arfen dengan kedua alis yang terangkat, seakan menunggu apa yang akan Arfen katakan padanya.


"Udah sedekat itu hubungan Lo sama Axell? Sama bunda Resty juga?" Satu pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulut Arfen.

__ADS_1


Dira mengangguk pelan setelah beberapa menit tak menjawab. Dan hal itu malah membuat Arfen tersenyum masam. Sepertinya ia memang harus menutup rapat perasaannya pada Dira. Ia tak ingin kembali di cap sebagai perebut pacar orang, seperti apa yang pernah di tuduhkan padanya.


"Tapi, Ar. Lo kenal juga sama bunda Resty?" Pertanyaan yang terucap dari mulut Dira itu malah secara tidak sengaja, membuat Arfen mengingat kejadian di masa lalu. Masa dimana ia belum terjebak kesalahpahaman dengan Axell, 2 tahun lalu.


Arfen menggeleng, "Cuma sekedar kenal, Dir." Jawab Arfen. Lalu keheningan kembali menyapa keduanya. Canggung. Itu yang tengah mereka rasakan satu sama lain saat ini. Entah mengapa keduanya merasa seperti ada sekat yang memisahkan keduanya.


"Sebenarnya... gue seneng banget bisa ketemu Lo hari ini, Dir. Tapi kayaknya momennya gak tepat. Gue pengen liat keadaan Tante Diva, Tapi gak dulu, deh. Ada Axell soalnya." Ucap laki-laki itu.


Dira tak langsung menjawab, gadis itu bahkan meremat ujung rok seragamnya untuk mengalihkan rasa yang entah, Dira tidaklah mengerti. "Ar, ada sesuatu yang mau gue omongin sama Lo. Gue ngerasa Lo harus tau tentang hal ini. Tapi maaf... gak sekarang! Gue belum siap cerita." Ucap gadis yang tengah menunduk itu.


Arfen menarik satu alisnya seakan bertanya pada dirinya sendiri, kira-kira hal apa yang tidak ia ketahui tentang Dira selama ini. Detik kemudian Arfen tersenyum paksa, "It's Okay, Dir. Lo bisa cerita kapan pun Lo mau. Kalo Lo pengen ketemu atau sekedar curhat, nomor gue masih sama."


...***...


Ceklek,


Pintu ruang rawat Mama Diva terbuka dan muncullah Dira di balik pintu.


Dira menurut dan langsung duduk di samping Axell. Ada rasa aneh yang Dira rasakan saat ini. Rasa seperti telah melakukan kesalahan. Kesalahan karena menemui laki-laki lain. Sebelumnya Dira tak pernah merasa bersalah seperti ini, tapi kenapa kali ini lain. Gadis itu pun menghela nafas pelan untuk menetralkan detak jantungnya.


"Kenapa, yang. 'Tuh cowo gangguin kamu?" Tanya Axell yang kini beralih menatap gadisnya.


Gadis yang tengah menunduk itu menggeleng pelan, "Kak, maafin aku, ya!" Bukannya menjawab pertanyaan yang terlontar dari Axell untuknya, Dira malah mengucapkan kalimat permintaan maaf.


Axell menarik satu alisnya, "Hey... Kenapa malah minta maaf sih, yang?" Tanya Axell bingung.


"Tadi aku gak sengaja ketemu sama Arfen. Beneran, kak... Aku gak bohong. Tadi dia yang tiba-tiba nya-

__ADS_1


"Sstt... Yang, udah... Aku percaya kok..." Sahut Axell memotong ucapan Dira sambil menaruh jari telunjuknya di bibir gadis itu. "...Makanya tadi aku kasih kesempatan kamu buat ngomong sama dia." Sambung laki-laki itu lagi.


Dira tersenyum setelah mendengar apa yang Axell katakan padanya tadi. Dira merasa senang karena Axell yang tidak marah padanya karena tidak sengaja bertemu dengan Arfen, Gadis itu lalu memeluk Axell dari samping, "Makasih ya, kak." Ucap gadis itu.


"Hey, yang..." Ucap Axell yang terkesiap saat merasakan Dira yang tanpa ia duga memeluknya. "...Aku cuma izinin kamu ketemu sama sahabat kamu, tapi ternyata reaksi kamu sampai kayak gini... Kamu terlalu senang kayaknya?"


Masih dengan posisi memeluk dirinya, Axell bisa merasakan gadis itu menganggukkan kepalannya. Laki-laki itu lalu membalas pelukan Dira sambil mengecup kening gadisnya lama.


"Aku seneng kak Axell gak marah." Ucap Dira pelan.


"Aku emang gak gampang ngatur emosi, yang. Tapi bukan berarti aku orang yang suka marah tanpa sebab." Balas Axell.


Masih dengan posisi saling memeluk, tiba-tiba Axell mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Dira melepaskan pelukannya terhadap Axell. "Jangan mancing disini! Nanti kalo aku tiba-tiba pengen gimana?"


"Pengen?" Dahi Dira berkerut, "Pengen apa, kak?"


"Pengen kamu." Jawab Axell yang dengan gerakan cepat langsung mengecup singkat bibir Dira.


Cup,


"Kak... kita di rumah sakit, dasar mes*m!" Protes Dira yang sekarang sedikit menggeser duduknya menjauh dari Axell, padahal hanya beberapa senti saja.


"Kan kamu yang mancing, yang!" Jawab Axell tanpa merasa bersalah.


"Ih... gak, ya! Aku cuma meluk kak Axell sebagai tanda terima kasih aku." Ucap Dira.


Axell menarik satu sudut bibirnya, "Bukan begitu cara seorang istri berterima kasih pada suami, yang!" Jawab Axell.

__ADS_1


"Terus aku harus gimana?" Tanya Dira dengan wajah bingungnya.


Axell tersenyum menyeringai, "Nanti aku kasih tau dirumah, tentang cara bagaimana seorang istri berterima kasih pada suami dengan baik dan benar, yang."


__ADS_2