Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
80. Kebenaran untuk Bastian.


__ADS_3

"Tapi waktu itu, Lo bilang kalo Dira-"


"Istri gue... Itu status Dira yang sebenarnya." Potong Axell cepat.


"Istri?" Seketika tawa sumbang terdengar dari mulut Bastian. "Sejak kapan, Xell?" Bastian menjeda sekilas ucapannya. "Sejak kapan Lo jadi pinter bo'ong kek gini? Pake segala ngarang cerita... Lawak Lo!" Ucap Bastian di akhir tawanya.


Axell diam sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Seperti yang sudah ia duga, sahabatnya ini pasti akan sulit untuk percaya dengan kebenaran yang baru ia ungkap. Tapi, kalau Axell tidak segera menceritakan kebenarannya, Bastian pasti akan terus seperti ini dan mungkin akan terus mengharapkan istrinya.


"Hari ini, Bas... Tepat di hari ini... Tiga bulan lewat satu minggu gue resmi menyandang status suami dari Dira." Ucap Axell lagi.


Hening, Bastian masih betah untuk diam. Ia sendiri bingung harus mempercayai Axell atau tidak. Tapi kalau ia ingat-ingat selama mereka bersahabat, Axell bukanlah seorang pembohong dan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu pasti adalah kebenaran yang sudah terjadi sebenarnya.


"Lo tau, kenapa gue gak pacaran meskipun gue udah lama Move on dari Rere?..." Tanya Axell sambil kembali menatap wajah Bastian. "... Itu karena gue lagi dalam proses menerima keputusan terbesar dalam hidup gue yang udah orang tua gue tentuin."


"Keputusan terbesar bagaiman maksud Lo?" Tanya Bastian yang kini berhasil di buat semakin penasaran dengan pengakuan dari Axell. Bahkan nada bicaranya kini terdengar serius.


Axell menghela nafasnya pelan, sepertinya ia memang harus menceritakan semuanya pada Bastian. "Tepat setelah Bunda tau gue putus dari Rere, Bunda cerita kalo gue ternyata udah di jodohin."


"Dijodohin?" Tanya Bastian dengan dahi berkerut, ia semakin bingung.


Axell mengangguk, ia diam sejenak mengingat dimana Bunda Resty yang menceritakan tentang perjodohannya.


"Awalnya gue berusaha keras untuk nolak." Axell menggelengkan kepalanya. "Tapi Lo tau kan, gimana Ayah, yang segala sesuatu keinginannya maka itu yang harus gue lakuin. Gue gak bisa nolak, dan akhirnya nerima perjodohan yang harus gue jalanin."


Sementara kini Bastian benar-benar diam. Ia memilih untuk mendengarkan sahabatnya ini bercerita.


"Gue berusaha nutup hati gue buat siapa pun cewe yang berusaha deketin gue. Itu gue lakuin bukan karena gue belum bisa lupain Rere. Gak sama sekali. Lo tau gue orang yang gak bisa nerima penghianatan. Itu semua gue lakuin karena perjodohan yang bakal gue jalanin nantinya."


"Percuma kan, Bas, gue pacaran dengan orang yang gak bakal bisa gue nikahin kelak. Gue gak mau nyakitin hati orang nantinya, Karena itu gue milih buat gak pacaran."


"Dan Lo tau, saat Dira awal masuk sekolah ini...? Gue hampir goyah dengan keputusan yang gue buat sendiri... Diam-diam gue sering perhatiin dia dari jauh. Tapi, belum sampai gue Deket sama Dira, gue kembali di tampar kenyataan saat ayah bilang kalo gue bakal nikah dua Minggu lagi."


"Gue sendiri bingung, kenapa orang tua gue bersikeras buat jodohin gue dengan orang yang sama sekali gak gue kenal. Jangankan nama, fotonya aja gue gak di kasih liat. Tunangan juga gue tinggal make cincin. Gak ada pertemuan sama sekali."


"Gue baru tau kalo gadis yang gue nikahin itu Dira setelah ijab qobul, saat gue inget nama gadis yang gue sebutin itu tak lain dari Andira." Jelas Axell menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Axell nampak menghela nafas pelan, seakan ia baru saja melepaskan beban yang berat.


"Kalo sekedar pacaran, gue bisa lepasin Dira buat Lo... Sahabat gue. Tapi status gue dan Dira sekarang ini bukan main-main, Bas. Jadi gue harap, Lo bisa nerima kenyataan. Dan Sorry... Kalo pernikahan gue dan Dira nyakitin buat Lo. Lo tetep sahabat gue." Ujar Axell lalu menepuk pundak Bastian sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu dengan beribu keterkejutannya.


"Sial!"


...***...


Di kantin sekolah, Zaki dan Melody sejak tadi hanya diam memperhatikan Dira yang hanya melamun sambil mengaduk-aduk bakso di depannya.


"Dira kenapa?" Tanya Zaki pada Melody dengan mulut yang hanya bergerak tanpa suara.

__ADS_1


Sementara Melody hanya menggelengkan kepalanya.


"Dir..." Panggil Zaki yang tak mendapat respon dari Dira.


"Dira..." Kini gantian Melody yang memanggil, namun masih tetap sama. Tak ada jawaban dari gadis itu.


"Lah, ini anak kenapa, sih?" Tanya Zaki bingung.


"Gak tau, tadi masih baik-baik aja kok. Eh tapi tunggu dulu, deh..." Ucap Melody seraya mengingat sesuatu.


"Apaan?" Tanya Zaki penasaran.


"Si Dira jadi kek gini waktu keluar dari toilet." Cetus Melody.


"Toilet?" Beo Zaki sambil menarik satu alisnya. Melody mengangguk, yakin.


"Jangan-jangan Dira kesambet setan dari toilet." Jawab Zaki asal.


"Ish, ngawur Lo! Mana ada setan siang-siang begini?" Protes Melody.


"Siapa tau. Gue kan cuma nebak, perasaan Dira tadi baik-baik aja pas di kelas kan." Jawab Zaki.


"Dira kenapa?" Tanya Nayla yang baru saja datang.


"Gak tau, kak." Jawab Melody.


Tangan Nayla naik untuk menggenggam tangan Dira. "Lo kenapa?" Tanya Nayla halus dan sukses membuat Dira menoleh ke arahnya.


Dira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Gue gak apa-apa, Nay."


"Jangan bohong! Gue tau, pasti terjadi sesuatu sama Lo." Ujar Nayla.


"Yang, ikut gue bentar." Ucap Axell yang tiba-tiba datang entah dari mana. Ia menggandeng tangan Dira lalu membawa gadis itu pergi begitu saja, membuat tanda tanya besar di benak Melody, Zaki dan Nayla, terkecuali Verrel yang baru saja datang bersama Axell tadi.


Di dalam mobil Dira dan Axell berada sekarang. Keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Dira yang sedang memikirkan kebenaran dari gadis yang mengaku kekasih dari suaminya. Sementara Axell yang ragu memberi tahu Dira tentang kebenaran yang baru saja ia ceritakan dengan Bastian.


Tapi tunggu, Axell menyadari satu hal. Ada yang aneh dengan gadisnya. Axell menebak, pasti ada sesuatu dengan Dira. Ini tak seperti biasanya. Gadis itu pasti akan protes kalo Axell tiba-tiba membawanya seperti ini.


Tapi kali ini tidak, gadis itu seakan bungkam. Enggan membuka mulut. Sampai akhirnya Axell mengingat apa yang Verrel katakan padanya sebelum ke kantin tadi.


"Jangan mudah percaya sama orang baru, Lo cukup percaya sama gue!" Ucap Axell tenang.


Dira menoleh ke arah Axell. "Kak Axell, boleh aku tanya sesuatu?"


Axell mengangguk "Apapun itu yang ingin Lo tau."

__ADS_1


"Kak Axell punya pacar ya?" Tanya Dira yang malah memancing seulas senyum muncul dari bibir Axell.


"Ada. Kenapa?" Tanya Axell.


Deg,


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Axell tiba-tiba Dira merasa sesak. 'Kenapa tiba-tiba rasanya sakit?'


"Maaf?" Lirih Dira.


Axell mengerenyitkan dahinya, "Kok maaf?" Axell bingung, kenapa kata maaf yang malah keluar dari mulut Dira.


"Gara-gara kak Axell nikah sama aku... Hubungan kak Axell sama pacar kak Axell jadi bermasalah." Jelas Dira.


"Hubungan gue sama cewe gue baik-baik aja." Pungkas Axell.


"Tapi tadi ada cewe bilang kalo hubungannya sama kak Axell jadi renggang gara-gara aku." Ucap Dira sambil menahan rasa sesak dalam dadanya.


Axell menarik satu sudut bibirnya. 'Benerkan dugaan gue.'


"Hubungan gue sama cewe gue baik-baik aja. Malah gue lagi satu mobil sama dia sekarang." Jawab Axell yang malah membuat Dira jadi bingung.


Dira masih diam, ia sedang mencerna apa yang Axell katakan padanya tadi.


"Tadi gue bilang apa sama Lo?" Tanya Axell.


"Yang mana?" Tanya Dira balik.


"Jangan mudah percaya sama orang baru, Lo cukup percaya sama gue!" Ucap Axell yang kembali mengulangi kata-katanya tadi.


"Tapi ka-


"Apa?" Potong Axell cepat.


"Tadi ada yang bilang-


"Gak usah Lo dengerin! Hubungan gue sama dia udah lama berakhir. Bahkan jauh sebelum Lo masuk ke dalam kehidupan gue." Ucap Axell yang secara tidak langsung menyangkal apa yang gadis yang ia temui di toilet tadi katakan. "Apapun yang dia katakan sama Lo tadi, gak usah Lo percaya." Lanjut Axell lagi.


"Kak Axell tau?" Tanya Dira.


.


.


.

__ADS_1


*Yuk... Ramaikan komen, like & vote nya guys...😘


__ADS_2