Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
15. Axell cuek.


__ADS_3

Siang ini Dira memutuskan untuk mengunjungi makam mama dan Dara kakaknya.


Sebelum ke makam, Dira sempatkan ke toko bunga langganannya untuk membeli karangan bunga yang biasa ia bawa jika sedang berkunjung ke makam.


The florist.


Dira berhenti di depan toko bertuliskan the florist dan langsung memasuki toko tersebut.


"Pagi, ada yang bisa dibantu? Eh, Dira." Sapa salah satu pegawai di toko bunga tersebut yang tak lain adalah Mitha.


"Mbak Mitha, Dira minta bunganya dua ya, yang seperti biasa." Jawab Dira dengan senyum manisnya.


"Ok, bentar ya, Dir. Kamu duduk dulu." Jawab Mitha.


Dira menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju tempat duduk yang tersedia.


"Eh, ada Dira. Mau ke makam, Dir?" Tanya Nicholas anak sang pemilik toko bunga yang melihat kedatangan Dira.


"Iya, kak." Jawab Dira sambil tersenyum.


"Sama siapa? Sendiri?" Tanya Nicholas lagi.


"Iya nih, kak. Tadi Dira gak bilang sama orang rumah kalau mau ke makam." Jawab Dira apa adanya. Tak jarang Dira datang sendiri ke makam. Tapi kadang Dira datang dengan ditemani Papa Pras dan juga Mama Diva.


"Mau kak Nicho temenin, kebetulan kak Nicho gak ada kelas hari ini?" Tawar Nicholas pada Dira, berharap gadis yang ia sukai itu menerima tawarannya. Sebenarnya sudah lama Nicholas menyukai gadis itu, tapi Dira selalu menolaknya dengan alasan belum mau untuk pacaran.


"Nggak usah, kak. Dira nggak mau ngerepotin." Jawab Dira sambil tersenyum.


"Nggak kok, Nggak ngerepotin sama sekali." Jawab Nicholas cepat.


"Nggak usah kak, Dira bisa sendiri kok." Tolak Dira lagi.


"Yakin bisa sendiri?" Tanya Nicholas yang mulai melunak dan tak berniat memaksa Dira lagi.


"100% yakin." Jawab Dira sambil mengacungkan jempolnya.


"Ya udah kalau gitu, tapi kalau kamu butuh temen, mau kemanapun perginya, kak Nicho siap kok nemenin." Ucap Nicholas pada Dira.


Melihat Nicholas yang masih berusaha untuk bisa mengajaknya pergi bersama, membuat Dira menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya kak, terima kasih." Jawab Dira sambil menampilkan senyum.


"Ini Dir, bunganya." Ucap Mitha sambil menyerahkan dua buket bunga kepada Dira. Dira menerima bunga tersebut dan tak lupa menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayarnya.


Dira mulai melajukan mobilnya. Dan saat di tengah jalan, tak sengaja mobil Dira berpapasan dengan mobil Axell dan Verrel sebagai pengemudinya.


"Eh, Xell... 'tuh kek Dira gak sih?" Tanya Verrel pada Axell.


"Lo salah lihat kali." Jawab Axell sekenanya, karena memang Axell tengah sibuk dengan laptop di pangkuannya.


Melihat temannya yang enggan mengalihkan pandangannya dari laptop membuat Verrel mendengus kesal.


"Lo lihat depan, Bro! Jangan laptop mulu yang Lo lihat." Tegur Verrel sedikit ngegas.


Enggan berdebat dengan sahabatnya, Axell menutup layar laptopnya dan mengikuti arah pandang Verrel. Dan benar saja. Gadis bernama Dira itu memang berada di depan mobil Axell dengan arah berlawanan.


"See! 'Tuh cewek Dira bukan?" tanya Verrel lagi.

__ADS_1


"So, kalau emang bener 'tuh cewek. Lo mau apa?" tanya balik Axell.


"Ck. Ya kalau benar 'tuh cewek Dira, berarti penglihatan gue gak salah, Xell." Jawab Verrel malas.


"Ya kalau nggak salah berarti benar. Setahu gue sih gitu." jawab Axell asal sambil kembali membuka layar laptopnya.


"Sialan Lo!" Umpat Verrel kesal terhadap sahabatnya itu. Sementara Axell hanya mengendikkan bahunya acuh.


...***...


Kini Dira tengah berada di mobilnya. Gadis itu sedang mengusap sisa-sisa air mata yang masih nampak mengalir dengan di pipinya.


Benar saja, ketika dimakan tadi, Dira sempat menangis saat menceritakan apa yang tengah ia hadapi sekarang ini. Tentang kerinduan yang ia rasakan saat ini, tentang hidupnya sekarang, bahkan tentang perjodohan yang Papanya putuskan.


Semua itu ia tumpahkan saat berada di pusara Mama dan kakaknya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak sambil menikmati musik yang sengaja ia putar tadi.


Drrtt... drrtt...


📲 Nayla is Calling...


Ponsel Dira bergetar dan segera ia mengangkat telepon yang ternyata dari sahabatnya itu.


"Hallo, Nay,"


"(....)."


"Kemana."


"(....)."


"(....)."


"Ok, bentar ya, gue otw."


"(....)."


"Bye..."


Tuutt..


Dira memutuskan panggilan telepon dari Nayla dan bergegas menuju ke tempat yang di sebutkan oleh Nayla. Ya, tadi Nayla meminta Dira untuk menemuinya di salah satu kafe.


Sekitar lima belas menit waktu perjalanan, kini Dira sudah sampai di kafe yang di minta oleh Nayla.


"Dira." panggil Nayla sambil melambaikan salah satu tangannya. Mendengar suara yang tak asing menurutnya, seketika membuat Dira menolehkan kepalanya.


Tanpa menunggu lama, Dira bergegas mendekat ke arah dimana Nayla duduk ditemani dengan seorang cowok yang tak lain adalah Verrel.


"Udah lama?" tanya Dira.


"Enggak kok, gue juga baru aja nyampe." Jawab Nayla santai. Mendengar jawaban dari Nayla membuat Dira menganggukkan kepalanya.


"Eh Dir, gue tadi lihat Lo deh


dijalan?" Celetuk Verrel tiba-tiba.


"Beneran, kak? Dimana emang?" Tanya Dira tak percaya.

__ADS_1


"Tadi kalo nggak salah di lampu merah, Deket toko bunga." Jawab Verrel.


"Oh tadi, iya sih." Jawab Dira santai.


"Abis dari mana Lo, Dir?" tanya Nayla penasaran.


"Ke makam, Nay. Gue kangen almarhum Mama sama kak Dara." Jawab Dira lirih.


"Kok Lo gak ngajak gue sih, Dir. Gue kan juga mau ikut." Protes Nayla.


"Gue tadi buru-buru, Nay. Tiba-tiba aja pengen ke sana. Minggu depan deh, kita ke sana bareng?" Jawab Dira.


"Bener ya? Awas kalo Lo bo'ong." Ucap Nayla.


"Ck. Kapan gue bo'ong sih, Nay?" Dira berdecak kesal. Melihat ekspresi wajah Dira yang kesal membuat Nayla terkikik pelan.


"Iya-iya, sayang, Sorry deh." Jawab Nayla sambil memeluk Dira.


...***...


"Bro, gue mau balik, ngantuk." Pamit Verrel pada Axell. Kini keduanya sedang di ruang kerja Axell di kafenya. d'AXE cafe.


"Nggak perlu gue anter kan, gue sibuk soalnya?" Tanya Axell sambil sibuk menatap layar laptopnya.


"Sok sibuk lo. Gue bisa sendiri kali, lagian gue mau balik sama Bastian." Jawab Verrel.


Mendengar jawaban Verrel membuat Axell mengangkat alisnya sebelah.


"Emang Bastian kesini?" Tanya Axell tak yakin.


"Kesini tadi pas Dira sama cewek gue mau balik." Jelas Verrel.


"Dira?" Ulang Axell.


"Iya, Dira, tadi Dira kesini. Nayla yang ngajak." Jawab Verrel menjelaskan. Mendengar jawaban dari Verrel membuat Axell menganggukkan kepalanya paham.


"Tau gak, Xell... Cewek yang tadi kita ketemu di jalan, ternyata beneran Dira." Ujar Verrel.


"Terus, kalau Dira kenapa?" Tanya Axell cuek.


"Nggak asik Lo, Xell," protes Verrel.


"Terus kalo 'tuh cewe beneran Dira gue mesti ngapain, ngikuti dia? Mata-matain dia, gitu? Buat apa?" Jawab Axell malas.


"Ya nggak gitu juga kali, Bro. 'Tuh cewek ke makam tadi." Jawab Verrel.


"Ya terus hubungannya sama gue apa?" Tanya Axell yang semakin malas menanggapi sahabatnya itu.


"Gue rasa Lo berdua cocok deh. Sama-sama cuek. Dahlah, ngomong sama Lo bikin gue tambah ngantuk. Ok, gue cabut." Jawab Verrel sambil berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Axell.


Selepas kepergian Verrel, Axell menutup layar laptopnya. Laki-laki itu memijat pelipisnya sebelah, seakan kepalanya terasa berdenyut setelah bekerja beberapa saat sambil menatap layar laptopnya.


Tadi Axell tengah melihat-lihat laporan keuangan dari d'AXE cafe miliknya yang beberapa hari lalu dikirimkan oleh salah satu orang kepercayaannya di kafe.


"Dira." Desah Axell pelan. "Kenapa gue jadi tiba-tiba kepikiran terus sama 'tuh cewek?" Gumam Axell lirih.


"Tapi 'tuh cewek manis juga."

__ADS_1


__ADS_2