
Mobil Axell sampai di depan pintu gerbang tepat pukul 06.55 menit. Laki-laki itu tadi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh karena tak ingin gadisnya terlambat ke sekolah. Dan Dira bisa bernapas lega setelah melihat pintu gerbang yang ternyata masih terbuka.
"Aku keluar dulu ya, kak?" Pamit Dira sambil meraih tangan Axell untuk ia cium.
"Ada apa?" Tanya Dira saat merasakan tangan Axell yang enggan melepaskan tangannya.
"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu, yang." Jawab Axell. Laki-itu kini tengah memandang lekat kearah Dira.
Dira mengangkat satu alisnya, "Ada apa, kak?" Tanya gadis itu penasaran tentang apa yang akan Axell tanyakan padanya.
Bukannya menjawab, Axell malah diam dengan pandangan yang kini sulit Dira artikan.
"Kak Axell mau tanya apa? Nanti keburu pintu gerbangnya di tutup!" Ujar Dira sedikit menuntut.
Axell menarik satu sudut bibirnya, "Aku bisa jamin, pintu gerbang itu gak akan di tutup sebelum kamu masuk!" Ucap Axell sambil menunjuk ke arah pintu gerbang yang masih terbuka tersebut.
Dira mengernyitkan dahinya bingung, "Kok bisa gitu?" Tanya Dira penasaran.
"Karena pak Dirman sama pak Heru tau, ada kamu disini." Jawab Axell yang memang melihat kedua satpam penjaga gerbang yang melihat kedatanganya tadi.
"Apa hubungannya, kak?" Tanya Dira yang semakin tak mengerti.
"Kamu kan istri aku." Jawab Axell santai.
Dira menganggukkan kepalanya mengerti. "Terus, tadi kak Axell mau nanya apa?" Tanya Dira. Gadis itu teringat dengan Axell yang ingin menanyakan sesuatu padanya.
Axell kembali menatap wajah Dira dengan tatapan serius. Ada hal yang ingin laki-laki itu pastikan dengan gadisnya.
"Jawab pertanyaan aku dengan jujur, yang!" Ucap Axell serius. Sementara Dira, gadis itu tengah menunggu, apa yang Axell katakan setelahnya.
"Perasaan kamu sama Arfen... sekarang seperti apa?" Satu pertanyaan yang akhirnya muncul dari mulut Axell saat setelah memilih diam Beberapa menit.
"Perasaan aku?" Ulang Dira memastikan dan di jawab Axell dengan satu kali anggukan kepala.
Dira menghela nafas pelan, menyadari suaminya yang ternyata masih mengira kalau ia masih memiliki perasaan terhadap Arfen, sahabatnya.
"Setelah apa yang udah kita lakukan, kak Axell masih mikir kalo aku masih ada perasaan sama Arfen. Kak... aku bahkan udah ngasih hak kak Axell sebagai suami sepenuhnya." Jawab Dira yang secara tidak langsung mengatakan kalau ia memang sudah tidak memiliki perasaan terhadap Arfen. Itu jawaban yang Axell tangkap dari Dira.
Tapi bukan Axell namanya kalau dia langsung berhenti sampai disini.
"Bisa ajakan... kamu ngelakuin itu karena terpaksa." Jawab Axell asal. "Hati orang kan gak ada yang tau, yang!" Tambahnya.
__ADS_1
"Hah?" Gadis itu terkejut mendengar kalimat yang baru saja Axell katakan padanya. Dira tak habis pikir, bisa-bisanya Axell meragukan perasaannya setelah apa yang sudah mereka lakukan.
"Jadi kak Axell masih mik-
"Buktikan!" Ucap Axell memotong kalimat yang akan Dira katakan.
"Kak, dengan cara apa lagi aku harus buktiin ke kakak, kalo aku emang udah gak ada perasaan apa-apa lagi selain sekedar sahabat ke Arfen." Jawab Dira frustrasi.
"Itu mudah, yang." Jawab Axell santai. "Kiss me, please!"
"Kak! Tapi kita di-
"Do it now!... Tindakan yang akan kamu pilih akan menunjukan perasaan kamu yang sebenarnya." Ucap Axell yang kini mulai membuka kunci pintu mobil, memudahkan Dira jika gadis itu memilih untuk keluar dari dalam mobilnya. Axell juga melepas Safety belt-nya dan kini memutar tubuh ke arah Dira. "Kamu bisa pilih keluar kalo kamu mau, yang!"
Dira menghela nafas pelan. Ia harus menunjukkan kebenarannya pada Axell. Ia tak ingin Axell berpikir kalau ia masih menaruh hati dengan sahabatnya.
Dira lalu melepas Safety belt-nya. Memutar tubuhnya menghadap Axell dan perlahan mendekat. Dengan sedikit kaku, Dira mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Axell. Dan,
Cup,
Dira mengecup singkat bibir Axell. Merasa tak ada reaksi apapun yang Axell tunjukan, Dira mengulangi aksinya mencium Axell lagi. Kali ini berbeda. Dira sedikit menyesap bibir Axell, melu**t bibir bagian bawah milik suaminya itu.
Axell tak tinggal diam, ia pun membalas ciuman yang Dira berikan. Dalam hati, Axell tersenyum puas. Selain mendapat Mood booster sebelum Meeting di kantor nanti, ia juga merasa menang. Karena secara tidak langsung, tindakan yang di lakukan Dira saat ini sebagai penegasan, kalau ialah pemilik sang gadis.
Seseorang yang sedang duduk menyender pada kap mobil warna putih dan mengenakan seragam sekolah yang berbeda dengan yang Dira kenakan saat ini.
Dapat Axell tebak, laki-laki itu tengah menunggu kedatangan seseorang, dan sudah pasti, Dira lah yang sedang ia tunggu sekarang ini.
Axell tersenyum menyeringai saat mengetahui mobil warna putih tersebut melaju melewati mobilnya. Laki-laki itu lalu meraih tengkuk leher Dira dan menekannya untuk memperdalam ciumannya. Hanya sebentar, lalu Axell melepaskannya. Ia usap bibir Dira yang terlihat basah menggunakan jempolnya.
"Thank's, yang!" Ucap Axell. Dira hanya mengangguk pelan.Laki-laki itu lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk gadisnya.
"Aku akan usahain jemput kamu nanti, yang." Ucap Axell saat Dira sudah keluar dari dalam mobilnya.
"Aku bisa pulang sendiri, kak." Jawab Dira.
Axell menggelengkan kepalanya, seakan menolak apa yang baru saja gadisnya itu katakan. "Tetep akan ada yang jemput kamu nanti. Sekarang, masuk sana! Udah di tunggu sama pak Dhana." Ujar Axell.
Dira lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.25.
"Aku masuk dulu, kak." Pamit Dira yang langsung bergegas meninggalkan Axell dan berjalan cepat menuju kelasnya.
__ADS_1
"Pelan-pelan, yang! Gak usah terburu-buru!" Ucap Axell yang tak mendapat jawaban dari Dira, tapi gadis itu menuruti Axell untuk memelankan langkahnya.
Setelah Dira menghilang dari pandangannya, Axell berjalan memutari mobil dan masuk ke dalamnya. Laki-laki itu lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, bang...
...***...
Jam pelajaran telah berakhir sekitar 15 menit yang lalu. Nampak banyak siswa-siswi yang berhamburan keluar dari kelas menuju parkiran sekolah. Tapi ada juga beberapa yang langsung menuju pintu gerbang untuk menunggu jemputan.
"Ada apaan sih di depan? Rame banget?" Ucap Melody penasaran. Gadis itu kini sedang berjalan bersama Dira menuju pintu gerbang sekolah.
"Gak tau." Jawab Dira malas. "Lo gak bareng Zaki, Mel?" Tanya Dira saat melihat Melody yang tetap berjalan di sampingnya dan bukan ke arah parkiran sekolah bersama Zaki.
"Bareng, sih. Tapi gue mau nemenin Lo dulu buat nunggu jemputan Lo. Kasian kalo Lo sendirian nanti." Jawab Melody sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
Dira menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Melody katakan padanya. Seketika Dira teringat akan sesuatu. Gadis itu lalu mengambil ponsel yang sedari tadi ia masukkan ke dalam tasnya. Melihat apakah ada pesan yang Axell kirimkan untuknya atau tidak.
"Kalo kak Axell gak bisa jemput Lo, mending bareng gue aja, Dir?" Ajak Melody. Gadis yang sedang dekat dengan Zaki itu tahu kalau suami dari Dira tidak masuk hari ini karena ada kepentingan.
"Tapi, kak Axell bilang bakal ada yang jemput tadi." Jawab Dira sambil memasukkan ponselnya kedalam saku seragamnya. Gadis itu tak mendapati pesan yang Axell kirimkan untuknya.
Melody mengangguk mengerti dan tak ingin memaksa Dira untuk menerima tawarannya. Sampai akhirnya terdengar desas-desus yang mengalihkan perhatian keduanya saat sudah mendekati pintu gerbang.
"Cogan asli, bestie."
"Wih... ganteng banget."
"Oppa Korea!"
"Cowo gue, anjir."
"Idiiih... ngaku-ngaku!"
"Lagi ngehalu, mbak?"
Begitulah suara-suara yang sedang Dira dan Melody dengar. Keduanya saling tatap lalu saling menggelengkan kepalanya karena sama-sama tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenernya.
Detik kemudian, saat Dira sampai di pintu gerbang. Gadis itu mendapati seseorang yang sedang duduk santai dan berbincang dengan salah satu satpam penjaga pintu gerbang.
Dira menggelengkan kepalanya setelah tahu apa yang menjadi penyebab para gadis-gadis itu berkumpul di pintu gerbang. Dira lalu memutuskan untuk menghampiri cowok tersebut.
__ADS_1
"Kak Rhey..."