
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Nayla yang mendengar jawaban dari Rheyhan itu pun memutuskan untuk langsung menuju ke ruangan Axell untuk menemui Dira.
Ceklek,
Tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, Nayla yang tanpa mengucap kata permisi itupun langsung masuk ke ruang kerja Axell dan mendapati Axell yang tengah mengoleskan salep pada pipi Dira.
Sementara Axell yang melihat datangnya Nayla hanya menatap gadis itu dingin, "Ck, ketok pintu dulu, bisa?" Protes Axell dengan nada ketusnya.
"Sorry, gue cuma mau liat keadaan Dira." Jawab Nayla yang kini duduk di samping Dira. "Lo gapapa kan, Dir? Kenapa 'tuh cewe bisa nampar Lo, sih?" Pertanyaan yang kini Nayla tujukan untuk Dira. Dapat Axell lihat, ada kekhawatiran yang Nayla rasakan pada Dira.
"Gue gapapa kok, Nay." Jawab Dira sambil tersenyum.
"Gapapa gimana? Lihat, pipi Lo sampe kayak gini?" Balas Nayla sambil mendekatkan tangannya untuk menyentuh pipi Dira, tapi ia urungkan.
"Nanti juga ilang bekasnya, Nay. Lo tenang!" Jawab Dira sambil menenangkan Nayla.
Nayla nampak menghela nafas, ia ingat, Dira adalah gadis yang selalu bersikap tenang meskipun sudah di tampar bahkan sampai pipinya bengkak seperti itu.
"Kalo gue jadi Lo, Dir, gue bakal bales 'tuh cewe." Ucap Nayla yang sekarang mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Mau pulang sekarang? Ayo gue anter!" Ucap Nayla lagi.
Dira menggeleng pelan sambil tersenyum. Dira tahu, Nayla memang sangat peduli dengan dirinya, tapi ia harus menolak tawaran dari Nayla. Dira merasa tak enak dengan Axell kalau ia menerima ajakan Nayla untuk mengantarkannya pulang. "Nanti, Nay-
"Lo gak bisa liat? Masih ada gue disini, kan? Dira pulang bareng gue." Jawab Axell memotong ucapan Dira.
"Ck." Nayla berdecak kesal mendengar apa yang baru saja Axell katakan. Sebelum akhirnya pintu kembali terbuka dan menampilkan Bastian dan Verrel yang muncul di balik pintu.
Ceklek,
Sama seperti yang Nayla lakukan tadi, keduanya langsung masuk dan duduk di depan Sofa yang tengah Axell duduki sekarang ini.
Nayla menatap malas ke arah Bastian dan Verrel, lalu kembali menatap Axell dan Dira secara bergantian. "Terus terang ya, sebenarnya gue gak pernah ada masalah, Dira mau dekat atau bahkan pacaran sama siapa aja, selama 'tuh cowo gak nyakitin Dira, gue akan selalu dukung. Tapi sekarang liat gaya pacaran Lo berdua, gue jadi khawatir. Gaya pacaran kalian itu terlalu Over. Ingat, kita itu masih anak sekolah, jangan sampai Lo berdua melakukan hal-hal yang diluar batas. Dan juga Lo, Xell, Lo lupa, Lo itu ketua OSIS? Seharusnya Lo itu bisa ngasih contoh yang bener, bukannya kayak gini." Ucap Nayla yang ngutarakan apa yang sedang mengganjal di hatinya beberapa hari ini.
Dira diam, ia bingung harus menjawab apa. Disisi lain, ia ingin mengatakan pada Nayla kalau statusnya dengan Axell bukan sekedar pacaran. Tapi disisi lain, ia masih ingin merahasiakannya statusnya karena satu alasan.
Berbeda dengan Dira yang tengah dilema saat ini, Axell malah merasa kesal dengan sahabat dari istrinya itu. Axell paling tidak suka di gurui seperti ini. Ia sudah dewasa, dan tahu benar, apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
"Gue tau apa yang harus gue lakuin. Lo gak tau apa-apa, Nay. Jadi gue minta, Lo diem." Ucap Axell yang kini sedang berkutat dengan laptopnya.
"Nayla bener kali, Xell. Terlepas dari status Nayla yang notabene sebagai cewe gue, gue setuju dengan apa yang Nayla..." Ucapan Verrel yang tiba-tiba terhenti karena mendapat tatapan tak bersahabat yang Axell Axell tujukan padanya. Laki-laki itu spontan mengangkat kedua tangganya ke atas seakan-akan ada seseorang yang menodongkan pistol kearahnya. "Gue gak jadi ikutan!" Ucap Verrel.
Sementara Bastian yang memang tahu status Axell dan Dira yang sudah menikah lebih memilih diam. Ia tak ingin salah bicara dan malah keceplosan nantinya.
"Lo tumben irit banget ngomong sih, Bas. Kenapa Lo jadi pendiem sekarang? Salah makan Lo!" Ucap Nayla yang ditujukan pada Bastian. Bahkan nada bicara yang keluar dari mulut Nayla sama sekali tak enak di dengar, gadis itu tengah menahan kesal sekarang.
Bukannya langsung menjawab, Bastian malah tersenyum sambil melirik ke arah Axell. Untuk sepersekian detik, tatapan keduanya bertemu sampai akhirnya Axell sengaja memutus kontak matanya dan kembali fokus pada layang terang di depannya.
Tapi sialnya Verrel menangkap hal itu. Laki-laki itu pun mengangguk samar, ia semakin yakin bahwa Axell dan Bastian memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan mungkin saja ini ada kaitannya dengan... Dira
"Gue bukan salah makan, Nay. Seingat gue, pagi tadi gue sarapan roti, dan tadi makan kentang goreng. Jadi gak ada yang salah dengan makanan yang gue makan. Masih makanan yang wajar di makan sama manusia." Jawab Bastian asal.
Nayla memutar bola matanya jengah, berbicara dengan Bastian membuatnya semakin kesal. "Kumat gilanya."
...***...
"Kak..." Panggil Dira pelan.
Dira menggeleng, "Gak usah, kak. Udah gak terlalu sakit, kok." Balas Dira.
"Lalu?" Tanya Axell sambil meraih tangan Dira dan menautkan jarinya.
"Boleh nggak, kalo kita pulang ke apartemen aja hari ini?" Pinta gadis itu.
Axell menarik satu alisnya, "Boleh. Tapi kenapa? Tumben ngajakin pulang ke apartemen, yang?" Tanya Axell ingin tahu. Ini pertama kalinya Dira mengajaknya pulang ke apartemen. Biasanya gadis itu akan selalu menurut kemana Axell membawanya.
Bukannya menjawab, Dira hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu diam seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Gara-gara ini?" Tanya Axell yang sekarang ini mengelus pelan pipi Dira.
"Aku hanya gak mau Bunda khawatir, kak." Jawab Dira pelan.
Axell mengangguk mengerti, "Yaudah, seperti yang kamu mau." Jawab Axell yang kini kembali fokus dengan kemudinya. "Ada syaratnya tapi, yang." Ucap laki-laki itu menambahkan.
__ADS_1
Dira menoleh ke arah Axell tak percaya, ini pertama kalinya Axell meminta syarat untuk sesuatu hal yang ia minta. "Apa, kak?" Tanya Dira To the point.
Axell lalu menepikan mobilnya setelah mendengar pertanyaan dari Dira. "Jawab pertanyaan aku, yang! Kenapa Ninda nampar kamu tadi?"
...***...
"Sesuai dengan permintaan Dira, Axell benar-benar membawa gadisnya itu pulang ke apartemen. Saat mobil Axell berhenti di Basemen, laki-laki mendapati gadisnya yang tengah menguap karena mengantuk.
"Ngantuk, yang?" Tanya Axell yang langsung mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Mau aku gendong?" Ucap Axell menawarkan.
Dira menggeleng, "Gak usah, kak. Aku jalan aja." Jawab Dira sambil kembali menguap.
Axell menghela nafas, gadisnya itu begitu keras kepala. Tanpa membuang waktu lagi, Axell langsung bergegas untuk keluar dari mobil dan membuka pintu mobil sebelah dimana Dira masih terduduk disana.
"Sini yang, aku gendong!" Ucap Axell sambil setengah membungkuk dengan satu tangan yang menepuk punggungnya.
"Kak, aku bis-
"Naik, yang!" Ucap Axell yang sengaja memotong ucapan Dira. Laki-laki itu sama sekali tak menerima kalimat penolakan yang akan gadisnya itu ucapkan.
Mau bagaimana lagi, kalau sudah begini mau tidak mau Dira harus mau mengikuti kemauan Axell kan. Dira lalu naik ke punggung Axell.
"Tas kamu siniin, yang!" Ucap Axell yang meminta Dira untuk menyerahkan tas selempangnya.
Dira lalu menyerahkan tas yang ia bawa pada Axell dengan kembali menguap, gadis itu benar-benar mengantuk.
Axell lalu mengalungkan tali tas milik Dira pada lehernya dengan satu tangannya. Lalu berjalan santai menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dimana unit milik gadisnya. Ya kali ini Axell memilih untuk menuju apartemen milik Dira dan bukan miliknya. Alasannya karena Axell yakin Dira sudah tertidur di gendongannya sekarang. Laki-laki itu ingin segera menidurkan Dira di atas ranjang agar membuat gadisnya merasa nyaman.
Ting,
Pintu lift terbuka. Axell segera melangkah keluar menuju unit milik Dira. Tapi tiba-tiba langkah kaki Axell terhenti saat melihat seseorang yang ia kenal berjalan mendekat ke arahnya.
"Woi... Xell, Lo apain anak orang?"
__ADS_1