Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
77. Tamu tak diundang.


__ADS_3

Tepat pukul 14.00, mobil Axell tiba di apartemen miliknya. Axell tersenyum mendapati gadisnya yang terlelap sejak masih di perjalanan tadi.


Axell menggendong Dira untuk masuk ke dalam apartemennya, tak tega untuk membangunkan tidur gadis itu yang terlihat sangat nyenyak.


Saat sampai di lift, Axell bertemu dengan beberapa orang yang memandangnya dengan tatapan yang seakan mencibir dirinya dan Dira.


Bukan tanpa alasan, Hal itu terjadi karena Axell yang saat ini masih memakai seragam SMA yang masih lengkap dengan almamaternya itu sedang menggendong seorang gadis yang terlihat entah itu sedang tidur atau pingsan, masuk ke dalam apartemen.


Dengan keadaan yang seperti demikian, pasti banyak orang yang berpikir macam-macam. Karena kalau di lihat-lihat, wajah Axell dan Dira tidak ada kemiripan sama sekali. Jadi sudah dapat di pastikan keduanya bukanlah saudara.


Mereka berpikir kalau Axell dan gadis di dalam gendongannya itu adalah sepasang kekasih. Bayangkan saja, Sepasang kekasih datang ke apartemen dalam keadaan si ceweknya tidak sadar. Pasti banyak yang berpikir negatif.


Ting,


Saat pintu lift terbuka, tak ingin membuang waktu, Axell langsung melangkahkan kakinya menuju unit miliknya. Meninggalkan orang-orang yang sedari tadi memperhatikannya.


Biarkan saja. Toh mereka tidak tahu kebenarannya.


Sampai dikamar, Axell meletakkan gadisnya itu pelan-pelan di atas kasur agar tak sampai membangunkan Dira. Tak lupa juga ia melepaskan sepatu yang masih membungkus kedua kaki Dira disaat gadis itu tertidur seperti ini. Meletakkan sepatu di tempat yang semestinya. Dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit cukup bagi Axell untuk membersihkan diri. Ia keluar dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.


Axell berjalan dengan santai menuju Walk-in closet miliknya, mencari baju dan mengenakannya di sana.


Setelah memakai bajunya, Axell yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos pendek polos warna putih itu kini berjalan menuju kasur. Ia memutuskan untuk tidur sebentar sore ini.



*Si Axell seger ya, abis mandi. Macem buah yang baru di petik dari pohonnya. 🙈.


Tapi, Baru saja Axell membaringkan tubuhnya di samping Dira. Tiba-tiba terdengar pintu apartemen yang di ketuk dari luar.


Urung membuka pintu, Axell mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya siapa yang datang, "Bunda mungkin?" Gumamnya berspekulasi.


Axell lalu bangkit untuk membuka pintu. Dan yang datang ternyata seorang cowok yang masih mengenakan seragam yang sama dengan miliknya tadi.


"Ngapain?" Tanya Axell ketus pada sahabatnya itu. Verrel Zufar Mahendra.


Verrel terkekeh mendengar nada bicara sahabatnya itu. "Gitu banget tau gue yang Dateng." Jawab Verrel di akhir kekehannya.


"Gue capek, mau tidur." Datar Axell.


"Bentaran, Xell. Ada yang mau gue omongin sama Lo." Jawab Verrel yang kini duduk di sofa.


Axell mendengus kesal sambil menutup pintu apartemen. Sepertinya hari ini ia tak bisa mengusir laki-laki itu untuk segera pergi dari apartemennya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Axell yang kini sudah duduk di depan Verrel.


"ini penting, Xell." Pungkas Verrel.


Sementara Axell, ia hanya mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya 'Apa?'.


"Perasaan Lo, gimana? Maksud gue... Lo udah ada Dira sekarang ini. Tapi Rere, orang yang dulu pernah Lo cinta kembali datang dan seperti yang gue liat, kayaknya 'tuh cewe mau deketin Lo lagi, Xell!" Ujar Verrel mengatakan pendapatnya.


"Gue gak peduli. Gue paling anti barang bekas." Jawab Axell yang kini terlihat sedikit santai.


"Lo yakin, perasaan Lo ke Rere udah biasa aja?" Tanya Verrel yang mencoba meyakinkan sahabatnya itu.


"Bagi gue, Dia udah gak ada apa-apanya, semenjak 'tuh cewe milih pergi dari hidup gue... Dan keputusan dia yang milih pergi, itu udah bener banget. Dan sekarang... Gue udah punya yang lebih." Jelas Axell.


Verrel mengangguk mengerti. Sahabatnya ini memang orang yang sangat konsisten dengan apa yang di katakan nya. "Lo Copy-nan om Marvel banget."


"Gue anaknya." Jawab Axell membenarkan kata-kata Verrel.


Verrel kembali mengangguk. "Lalu Dira? Gue perhatiin sekarang Lo makin lengket sama Di-


"Kenapa memangnya?" Potong Axell cepat yang memang sudah tahu kemana arah pembicaraan dari sahabatnya itu.


"Gue bingung disini, Xell." Keluh Verrel.


Sementara Axell, lagi-lagi hanya menarik satu alisnya. Malas bertanya.


"Gue bingung mesti seneng atau sedih. Di sisi lain, gue seneng Lo udah punya cewe yang menurut gue bawa pengaruh positif buat Lo..." Ujar Verrel yang tak mendapat tanggapan dari Axell, laki-laki itu lebih memilih untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh sahabatnya itu selanjutnya.


"Positif dalam arti kata, Dira yang udah bikin Lo gak ngirit lagi kalo ngomong. Dikit sih emang, tapi berasa banget." Lanjut Verrel yang mendapat anggukan kepala samar dari Axell.


Memang benar, Axell sendiri juga merasakan hal itu. Ah... Kenapa ia baru menyadari hal ini?


"Kalo sedihnya... Gue kasihan sama sabahat kita, si Babas." Ucap Verrel. "Udah kek gak punya semangat idup. Gak tega gue liatnya."


Axell kembali menganggukkan kepalanya. Ia sendiri juga melihat wajah murung Bastian beberapa hari ini. Lebih tepatnya saat sahabatnya itu mengetahui hubungannya dengan Dira.


"Biar gue ngomong sama Babas." Pungkas Axell pada sahabatnya itu.


"Ngomong apaan?" Tanya Verrel penasaran.


"Lo gak perlu tau." Jawab Axell yang kini mulai menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil mulai memejamkan matanya.


Ceklek,


Mendengar pintu kamar yang terbuka, membuat Axell kembali membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kamar, pun sama dengan Verrel. Keduanya mendapati Dira yang keluar dari kamar dengan mata yang sepertinya masih enggan untuk terbuka.

__ADS_1


Kalau respon Axell biasa saja, maka berbeda dengan Reaksi yang Verrel tunjukkan. Laki-laki itu bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali seakan meyakinkan apa yang ia lihat adalah benar Dira.


Dira berjalan dengan malas ke arah sofa dan duduk sambil menyadarkan kepalanya di pundak Verrel. Hal itu pun membuat Verrel semakin terkejut.


1 detik,


2 detik,


3 detik,


Hening, Melihat perilaku Dira barusan membuat Axell dan Verrel diam dengan pikiran masing-masing.


Verrel yang masih terkejut itu tengah berpikir, kenapa Dira bisa tidur di apartemen Axell, Bahkan masih mengenakan seragam sekolah? Hanya saja gadis itu tak mengenakan sepatu. 'Kenapa Dira gak langsung pulang, malah tidur di sini?'


Berbeda dengan Verrel, Axell malah merasa kesal saat ini. 'ini Dira nyadar gak, sih? Atau emang sengaja?'


Kesal bukan karena Dira yang keluar dari kamarnya secara tiba-tiba dan berujung Verrel melihatnya, tidak sama sekali. Tapi kesal karena gadis itu kembali tidur dengan posisi menyender pada sahabatnya.


Wah... Dira nantangin. 🤭


1 menit,


2 menit,


3 menit,


Dira perlahan mulai kembali mengerjapkan matanya. Tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang tengah menguap.


Tapi bukannya bangun, gadis itu kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidur tanpa tahu apa yang sudah terjadi.


"Kalo masih ngantuk, balik ke kamar, yang!" Titah Axell pada gadisnya itu.


"Hm." Tak ada jawaban, hanya gumaman lirih yang samar-samar Axell dan Verrel dengar dari mulut Dira yang sepertinya sudah kembali terlelap.


"Nyaman banget ya, yang, pundaknya Verrel." Axell kembali berucap dengan nada yang terkesan kesal. Gadisnya ini... Sengaja atau bagaimana?


Tak sampai lewat dua menit, Dira kembali mengerjapkan matanya dan mengubah posisi kepalanya yang tadi bersandar di pundak Verrel beralih pada sandaran sofa.


Tangannya terangkat untuk mengucek matanya yang seperti nya masih enggan untuk kembali terbuka.


"Kak Axell tadi bilang apa?" Tanya gadis itu dengan suara khas bangun tidurnya. "Maaf Aku gak denger.


"Nyaman banget ya, yang... Pun dak nya Ver rel?" Ucap Axell yang kembali mengulangi kata-katanya tadi dengan penegasan.


"Verrel? Emang Kak Verrel ada di sini?" Tanya Dira yang masih setengah sadar. Sepertinya kesadaran dari gadis itu belum terkumpul sepenuhnya.

__ADS_1


"Tepat di samping Lo!"


__ADS_2