Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
18. Inisial huruf A.


__ADS_3

Sekolah masih terlalu sepi, sepertinya Dira berangkat terlalu pagi hari ini. Melihat masih sedikit murid yang berada di sekolah membuat Dira menunggu kedatangan temannya di taman sekolah.


"Sendirian aja, Dir?" Tanya Verrel yang baru datang dengan Axell.


"Iya, kak. Belum pada dateng. Kepagian gue berangkatnya." Jawab gadis itu. Verrel menganggukkan kepalanya paham.


"Selamat pagi Bidadari cantikku." Sapa Bastian semangat. Mendengar sebutan bidadari membuat ketiganya menoleh.


"Lo masih panggil Dira Bidadari, Bas?" Tanya Verrel.


"Kenapa memangnya? Ada yang salah disini?" Tanya Bastian balik tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Verrel.


"Nggak kenapa-kenapa sih, gue hargai perjuangan Lo..." Jawab Verrel yang di akhiri dengan kekehannya. Merasa mendapat dukungan dari salah satu sahabatnya membuat Bastian mengacungkan jempolnya pada Verrel.


"...Tapi kalau Lo di tolak lagi sama Dira, Jangan nangis Lo, apa lagi berpikir untuk bunuh diri." Lanjut Verrel memperingatkan sahabatnya itu.


"Sialan, Lo! Kalau ngomong yang baik-baik, bisa? Kan kalo beneran di kabulin sama yang maha kuasa jadinya baik juga." Tegur Bastian pada Verrel.


"Idih, sok religius Lo!" Cibir Verrel sambil menonton kepala Bastian.


"Woy, Bangs*t. Kepala gue nih. Calon kepala rumah tangga, sembarangan Lo." Protes Bastian tak terima.


"Pada lagi ngomongin apaan, sih?" Celetuk seorang gadis yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Dira.


"Ini, beib. Si Babas lagi usaha dapetin bidadari nya." Jawab Verrel sambil terkekeh geli. Nayla tahu, siapa yang di maksud bidadari oleh Verrel sampai akhirnya dia berkata, "Gue hargai usaha Lo, Bas. Lo emang pantang mundur kalau berusaha dapetin sesuatu. Patut dicontoh usaha, Lo." Ucap Nayla sambil mengacungkan jempolnya.


Merasa dapat dukungan dari teman sekelasnya itu seketika membuat senyum di bibir Bastian terlihat.

__ADS_1


"Disaat yang lain berusaha ngejatuhin gue, Lo adalah satu-satunya temen yang dukung gue, Nay. Thank's ya, Nay. Lo terbaik." Puji Bastian sambil ikut mengacungkan jempolnya ke arah Nayla.


"Tapi..." Nayla menggantungkan kalimatnya. "...Jangan seneng dulu, ada tapinya, Bas!"


"Tapi kenapa, Nay?" Tanya Bastian bingung.


"...Tapi gue nggak yakin kalo Dira mau terima Lo." Jawab Nayla di akhiri dengan tawanya dan di ikuti oleh Verrel.


"Ck. Lo berdua, laki bini kompak bener ngejatuhin gue." Ucap Verrel memelas. Sementara Axell hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka. Jangan tanyakan Dira, Dira hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menarik salah satu sudut bibirnya.


"Eh, Dir." Pekik Nayla tiba-tiba heboh setelah memperhatikan jari manis Dira.


"Ada apa, Nay?" Tanya Dira spontan.


"Sejak kapan Lo pakai cincin?" Tanya Nayla sambil mengangkat salah satu tangan Dira.


"Cincinnya bagus, deh. Ada inisial huruf A nya." Celetuk Nayla.


Deg...


'Inisial huruf A, jangan-jangan cewek yang dijodohin sama gue... berarti kemarin?' Batin Axell sambil memperhatikan Dira diam-diam.


Dan hal itu pun tak luput dari perhatian Verrel yang akhir-akhir ini selalu memperhatikan sahabatnya itu. Jika sesuatu itu menyangkut gadis bernama Dira, pasti Axell menunjukkan reaksi yang tak biasa.


"Pasti dari Arfen." Lanjut Nayla berasumsi.


"Ish... Apaan sih, Nay. Ini itu dari bokap gue." Bohong Dira. Mendengar Nayla menyebutkan nama Arfen entah mengapa membuat Axell merasa kesal.

__ADS_1


"Gue duluan." Ucap Axell lalu pergi meninggalkan teman-temannya.


"Fiks, Lo kayaknya emang lagi nyembunyiin sesuatu dari gue, Xell." Gumam Verrel lirih agar tak ada yang mendengarnya.


"Gue juga mau ke kelas, duluan ya." Pamit Dira pada ketiganya.


"Nanti ke kantin bareng ya, Dir?" Pekik Nayla. Tak menjawab, Dira hanya mengacungkan jempolnya.


"Kelas yuk, beib!" Ajak Nayla pada Verrel.


"Siap." Jawab Verrel singkat sambil berdiri dan berjalan berdampingan dengan Nayla.


"Nasib jomblo, gue kayak gak di anggep ada." Keluh Bastian sengaja di keraskan agar Verrel dan Nayla mendengarnya. Verrel dan Nayla yang mendengarnya pun kompak menertawakan ekspresi memelas Bastian.


"Resiko jomblo, Bas." Jawab Verrel dan Nayla kompak.


...***...


Bel istirahat telah berbunyi, jika biasanya jam istirahat dihabiskan para murid lainnya ke kantin, taman atau rooftop. Tapi lain halnya dengan Axell. Axell kini tengah berjalan menuju ruang OSIS. Sampai di ruangan OSIS, Axell duduk sambil memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin 'tuh cewe yang di jodohin sama gue?" Tanya Axell pada dirinya sendiri.


"Tapi 'tuh cewek bukannya lagi Deket sama si Arfen?" Tanyanya lagi.


"Bunda bilang, dia sekolah disini kan. Dan dia adek kelas gue. Kata Nayla tadi pagi, dia juga make cincin inisial huruf A, ya meskipun gue gak liat 'tuh cincinnya kayak apa. Kemarin dia juga... Ah.. Ck. gak mungkin. Nyokapnya Dira kan udah meninggal. Terus cewe yang di jodohin sama gue, nyokapnya masih hidup. Ini cuma kebetulan, dan cewe yang di jodohin sama gue udah pasti bukan Dira. Ck. sial... Kenapa gue kayak ngerasa kecewa kalau cewe yang di jodohin sama gue itu bukan Dira, kalau yang di jodohin sama gue itu beneran Dira, It's okay. Gue rasa dia gadis yang baik dan gue gak keberatan." Asumsi Axell sambil memijat pelipisnya sebelah. Axell begitu larut dalam pikirannya sendiri sehingga tidak sadar ada seseorang yang datang dan berjalan mendekat kearahnya. Hingga satu tangan kekar menepuk pundaknya.


"Lo lagi ada masalah, Bro?"

__ADS_1


__ADS_2