Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
99. Sedikit pelajaran.


__ADS_3

Axell menggandeng tangan Dira menuju apartemen milik gadis itu. Tangan kekar Axell yang satunya menekan beberapa angka sebagai kunci Password yang Dira gunakan.


Ceklek,


Pintu terbuka. Tanpa perlu membuang waktu lagi, Axell langsung membawa Dira masuk kedalam kamarnya.


Bruk,


Tubuh Dira seketika terhempas saat Axell dengan sengaja mendorongnya sedikit kasar ke tempat tidur, "Puasin gue, sekarang!" Ucap Axell dengan seringai muncul di bibirnya. Bahkan laki-laki itu kini mulai melepas almamaternya dan melemparnya asal.


Dira yang sadar dengan posisinya yang sudah mulai tidak aman itu jadi gelagapan sendiri. Gadis itu lalu bangun dan perlahan memundurkan tubuhnya.


Axell semakin mendekat, ia melepas dasi yang terpasang di lehernya. Sama seperti almamaternya tadi, ia juga melemparnya asal.


"Kak... K-kak Axell mau ngapain?" Ucap Dira terbata. Gadis itu kini semakin gugup dan ketakutan.


Axell tersenyum menyeringai, melihat gadisnya yang semakin gugup, Axell kian gencar melancarkan aksinya untuk memberi gadisnya ini pelajaran. "Lo tanya gue mau ngapain? Gue mau ngingetin Lo tentang status kita, karena sepertinya Lo sempet lupa tadi." Jawab Axell dengan tangan yang sudah melepas kedua sepatunya secara bergantian.


Deg,


Dira semakin gugup, gadis itu semakin tak bisa menormalkan detak jantungnya. Apa lagi ia menyadari bahwa tubuhnya yang sudah menempel pada sandaran ranjang. Ia sudah tidak bisa mundur lagi.


Axell semakin mendekat, bahkan ia sudah mulai melepas satu persatu kancing baju seragamnya.


Jika biasanya Dira akan terpesona dengan tubuh Axell, tapi tidak untuk saat ini. Ia tahu, suaminya sedang dalam emosi.


"Kak... Please... Jangan kayak gini!" Ucap Dira yang berusaha menghentikan Axell.


"Kenapa? Lo mau coba nolak suami Lo lagi?" Ucap Axell yang terkesan menyindir.


Dira reflek menggelengkan kepalanya. "Nggak... Kak Axell lagi emosi."


Axell kembali tersenyum menyeringai. "Bukannya kalo lagi emosi jadi lebih enak ya? Lebih bersemangat, lebih bergairah, jadi lebih berasa nikmatnya." Jawab Axell yang kini sudah berada tepat di depan Dira.


Axell kini mulai menciumi rambut Dira, lalu merambat ke telinga dan semakin turun ke leher.


"Hiks... Please, kak... Kita pasti akan melakukannya..." Ucap Dira menggantung Karena lagi-lagi gadis itu terisak, "... Tapi gak dalam keadaan kak Axell yang seperti ini."


Axell menghentikan aksinya. Mendengar gadisnya yang mulai menangis, emosinya seketika hilang. Ia rengkuh tubuh yang sekarang sedang terisak itu. Mengusap pelan punggung gadis yang ketakutan karena sikapnya tadi.

__ADS_1


Sungguh, Axell sebenarnya tidak benar-benar ingin melakukan hal ini pada gadisnya. Ia hanya ingin memberi gadisnya itu sedikit pelajaran.


"Sorry." Ucapnya pelan.


Mendengar kata maaf yang keluar dari Axell bukanya membuat tangis dari gadis itu terhenti, tapi malah semakin pecah.


"Harusnya Lo tau... Gue sesayang itu sama Lo, yang!" Ucap Axell lalu mencium kening Dira lembut lalu kembali memeluk gadisnya.


Dira mengangguk cepat, seakan mengatakan kalau dia memang merasakan kasih sayang yang Axell berikan padanya.


"Lo lupa, gue punya pengendalian emosi yang buruk. Gue gak bisa ngeliat Lo Deket sama cowok lain. Harusnya Lo bisa ngerti... Gue cemburu! Apa lagi cowok yang Lo temuin tadi itu bukan sekedar sahabat. Gue tau, ada rasa suka yang pernah Lo tanam untuk sahabat Lo itu, Dan itu yang bikin Lo susah buat nerima gue." Jelas Axell yang sukses menghentikan tangis dari Dira.


Gadis itu menggeleng, seakan menolak pernyataan yang baru saja Axell katakan. "Perasaan aku sama Arfen gak lebih dari sekedar sahabat, kak."


Axell melepas pelukannya, ia menatap dalam manik mata Dira, "Bukannya Lo suka sama Arfen?"


...***...


Sementara itu, di kantin sekolah.


"Lo berdua aja, Dira mana?" Tanya Nayla yang tak mendapati adanya Dira di antara Zaki dan juga Melody.


"Lah, bukanya Dira gak masuk ya?" Tanya Zaki bingung sendiri. Ia memang tidak melihat Dira sedari pagi.


Berbeda dengan Zaki dan juga Nayla, Melody, Gadis itu kini lebih banyak diam, ia masih memikirkan tentang kejadian beberapa jam tadi. Sesuatu yang tidak sengaja ia dengar, tapi malah mengganggu konsentrasi belajarnya.


'Gue masih yakin dengan apa yang gue denger tadi.' Batin Melody.


"Kalo Dira masuk, pasti udah bareng kita. Iya gak, Mel?" Jawab Zaki. Laki-laki itu kini menatap Melody. "Lo kenapa, sih, dari tadi banyak diemnya? kesambet tau rasa Lo!"


"Ye... Sembarangan kalo ngomong!" Cibir Melody kesal.


"Seriusan deh, ini yang bener yang mana?" Celetuk Verrel yang sedari tadi keasyikan makan.


"Apa sih, beib?" Tanya Nayla pada Verrel.


"Sebenarnya si Dira masuk apa nggak? Entar ilang lagi, Ter-


"Terus junjungan Lo pada ngamuk lagi, iya?" Potong Zaki cepat. Sambil menunjuk ke arah Nayla, Verrel dan juga Bastian menggunakan garpu secara bergantian.

__ADS_1


"Si Dira masuk, ya! Jelas-jelas pagi tadi gue liat Dira sama Ax- ... Ah... Gue tau nih, si pelaku utamanya?" Ujar Nayla yang sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"KENAPA?" Tanya Verrel dan Zaki kompak.


"Dih... kompakan!" Cibir Bastian yang sedari tadi diam. Laki-laki itu memang sudah bisa menebak apa yang terjadi. Jadi nggak mau ikutan pusing seperti teman-temannya. 'Gak heran sih, gue udah bisa nebak. Pasti si Dira lagi bareng lakinya.' Batin Babas.


"Pasti si Dira ilang, karena Axell... Sahabat Lo berdua!" Tunjuk Nayla pada Verrel dan juga Bastian. "Orang jelas-jelas pagi tadi gue liat mereka berdua berangkat bareng. Terus- ..." Ucap Nayla yang tiba-tiba terhenti dan langsung menimbulkan tanda tanya besar di benar teman-temannya.


"Ish... Kalo ngomong jangan setengah-setengah!" Protes Zaki yang tidak sabaran.


"Iya, beib. Sebenarnya ada apa, sih?" Tanya Verrel yang ikutan bingung.


"Omegot... Omegot... Omegot... Jangan-jangan si Axell liat mereka berdua tadi!" Jawab Nayla menebak apa yang terjadi.


"Beib, ini sebenarnya ada apa?" Tanya Verrel lagi.


"Si Dira sama Arfen ketemu pagi tadi. Bukan apa-apa, sih, Cuma sekedar ngobrol di kafe depan. Gue yakin, Axell mergokin mereka keluar dari 'tuh kafe, terus sekarang pasti Axell di balik ilangnya Dira sekarang." Ujar Nayla menceritakan kejadian pagi tadi.


Mendengar cerita singkat dari Nayla, Bastian jadi terkikik sendiri, 'Pasti si Dira lagi di garap, 'tuh, sama si Axell?'


Sementara Verrel, ia menatap Bastian bingung, "Obat kewarasan Lo, abis, Bas?" Tanya Verrel asal.


"Tau', nih." Semprot Nayla.


"Yaudah lah, ya. Mereka kan udah pada gede juga. Kenapa Lo semua jadi ribet?" Jawab Bastian asal.


"Lo beneran gak waras, Bas?" Cibir Nayla.


"Lo baru tau!"


...***...


"Kak..." Panggil Dira lirih.


"Sorry...!" Jawab Axell pelan.


"Aku takut, kak-


"Gue gak akan sejahat itu sama Lo, yang!" Ucap Axell memotong ucapan Dira.

__ADS_1


Dira menganggukkan kepalanya. "Maaf... Aku janji gak akan temuin Arfen lagi."


Axell tersenyum, "Lo boleh temuin dia, asal harus izin dulu sama gue!"


__ADS_2