
Tadi, disaat Dira menuruni anak tangga, Axell sejenak terpaku melihat kecantikan gadis yang sekarang resmi berstatuskan istrinya itu.
'Cantik.' Batin Axell.
Tapi tunggu, 'Siapa namanya tadi?'' tanya Axell dalam hati, Axell kembali mengingat nama gadis yang disebutkannya saat prosesi ijab qobul tadi.
"Boy, kok bengong? Di sambut dong, tangan istrimu" Ucap Bunda Resty menyadarkan Axell yang hanya berdiam diri dari tadi.
Dira yang merasa tangannya tak kunjung bersambut pun memutuskan untuk menatap wajah suaminya. Dan ternyata,
"Kak Axell."
"Dira" Ucap keduanya bersamaan. Melihat reaksi keduannya membuat Papa Pras, Mama Diva, Bunda Resty serta Ayah Marvellyo tersenyum. Seperti yang mereka ketahui. Bahwa Axell dan Dira memang sudah saling kenal, hanya saja tak terlalu akrab.
"Boy, lekaslah berdo'a dan segera cium kening istrimu, Dira!" Titah ayah Marvellyo. Axell terdiam sesaat, entah mengapa rasa gugup yang tadi perlahan menghilang kini menyerangnya lagi.
Axell benar-benar gugup saat ini. Ia tahu statusnya kini adalah suami sah dari gadis bernama Dira. Dia sekarang bebas untuk menyentuh gadis itu. Jangankan hanya menyentuh, bahkan jika Axell ingin melakukan lebih pun Axell berhak sepenuhnya.
Tapi, kenapa Axell hanya diam?
Hal itulah yang sedang di pikirkan Dira sekarang ini. Bukan cuma rasa gugup yang sama seperti Axell rasakan, tapi kenapa lelaki di sampingnya ini hanya diam. Dira tahu pernikahan ini terjadi karena perjodohan dari kedua belah pihak.
Sama sepertinya, Axell pun menerima pernikahan ini karena terpaksa. Tapi, bagaimana pun mereka kini telah sah menjadi suami istri. Lalu kenapa Axell enggan mencium keningnya? Sebegitu tak maunya kah dia menikah dengan gadis pilihan keluarganya itu? Sehingga ia enggan untuk bersentuhan dengannya? Jangankan untuk mencium kening, menerima uluran tangannya pun tak kunjung Axell lakukan. Itulah yang sekarang sedang dipikirkan oleh Dira.
Salah. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Selain gugup, Axell hanya masih merasa tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat putranya yang hanya diam mematung, Ayah Marvellyo akhirnya menepuk pelan pundak Axell. Dan seketika membuat Axell tersadar.
Axell menyambut uluran tangan dari Dira dan membiarkan gadis itu untuk mencium punggung tangannya. Setelah Dira mencium punggung tangan Axell, kini giliran Axell mencium keningnya.
"Saudara Axello, cintai dan sayangilah istrimu. Jaga dan lindungilah dia. Kau adalah tempatnya berlidung sekarang. Karena setelah ini, dia telah menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya." Ucap Pak penghulu menasehati Axell dan dijawab Axell dengan anggukan kepala.
Deg,
Tanggung jawab. Mendengar kata tanggung jawab, membuat Dira menyadari sesuatu. Ia tahu, setelah ia resmi menjadi istri dari Axell maka orang tuanya sudah menyerahkan seluruh hidupnya pada Axell. Axell bertanggung jawab penuh atas dirinya. Dira bukan lagi tanggungan dari keluarganya.
Dan tiba-tiba saja, dengan tanpa permisi air mata Dira menetes dengan sendirinya. Cepat-cepat Dira menghapus air mata itu sebelum ada yang melihatnya menangis.
__ADS_1
Bunda Resty lalu mendekati Dira dan Axell dan menyerahkan sebuah kotak kaca berisikan dua cincin. "Sayang, pakaikan ini pada jari suamimu!" Titah bunda Resty lembut.
Dira menerima cincin yang di berikan Bunda Resty dan menganggukkan kepalanya, "Baik, bunda." Ucap Dira pelan yang masih di dengar oleh bunda Resty dan juga Axell.
Dira lalu memakaikan cincin nikah itu pada jari Axell. Dan kini bergantian dengan Axell. Ia juga melakukan hal yang sama.
Serangkaian acara demi acara telah selesai, para tamu undangan pun juga telah meninggalkan rumah Papa Pras. Hanya tinggal keluarga Axell yang belum pulang karena mereka masih berbincang-bincang.
"Sayang, bawa suamimu ke kamar untuk beristirahat. Mama tahu, kalian berdua pasti capek." Ucap Mama Diva.
"Sayang, benar apa yang di katakan mama, istirahatlah dulu. Ini sudah malam." Ucap Papa Pras ikut menimpali.
"Baik Ma, Pa, kalau begitu Ayah, Bunda Dira pamit mau istirahat dulu sama kak Axell." Ucap Dira berpamitan dengan mereka semua.
"Iya sayang, istirahatlah. Kalian pasti lelah." Ucap Bunda Resty.
Dira menganggukkan kepalanya dan berdiri di ikuti oleh Axell. Dira berjalan menaiki tangga menuju ke kamar diikuti Axell di belakangnya.
Ceklek,
Hening, itu yang mereka rasakan setelah memasuki kamar.
Ting,
Terdengar notifikasi dari ponsel Dira yang di letakkan di nakas. Dira berjalan pelan menuju nakas untuk melihat ponselnya. Menggunakan kebaya seperti ini sungguh membuatnya susah berjalan.
📩 Mama Diva
Sayang, kalau Axell mandi siapkan baju ganti untuknya. Mama sudah menyiapkannya, ada di lemari bajumu sebelah kiri.
Ternyata mama Diva yang mengirim pesan, Dira langsung bergegas menuju ke lemari dan membukanya. Dan benar saja, saat Dira membuka lemarinya, ternyata sudah ada baju-baju yang asing menurutnya dan tertata rapi. Sejak kapan baju-baju itu ada di lemarinya? Begitu pikir Dira.
Dira mengambil satu set baju atasan dan bawahan beserta ****** ***** untuk Axell kenakan.
"Kak Axell, kalau mau mandi bajunya udah aku siapin." Ucap Dira pelan.
Axell menatap Dira sesaat, Laki-laki itu terkesiap dengan apa yang baru saja Dira katakan. "Iya, terima kasih." Jawabnya.
__ADS_1
Axell bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang mulai terasa gerah dan lengket karena acara seharian tadi.
Ceklek,
Setelah selesai dengan mandinya, Axell keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tangan Axell sibuk mengeringkan rambut hitamnya yang basah dengan handuk kecil.
Dira yang saat itu masih duduk di meja rias membelakangi Axell pun tak sengaja melihat dengan jelas tubuh bagian atas dari lelaki yang kini berstatus kan suaminya itu.
Ini kali pertamanya Dira melihat pemandangan seperti ini. Merasa malu dengan apa yang dia liat, cepat-cepat Dira mengalihkan pandangannya. Kenapa Axell tidak sekalian memakai bajunya di kamar mandi tadi. Bukankah tadi ia sudah menyiapkannya sebelum Axell masuk ke kamar mandi.
"Lo gak mandi?" Tanya Axell yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.
Dira menatap wajah Axell sesaat, tiba-tiba pandangan mata keduanya bertemu. Cepat-cepat Dira menundukkan kepalanya. "Ini juga mau mandi kak." Jawab Dira yang berjalan ke kamar mandi sambil membawa bajunya. Dira berniat ganti baju di kamar mandi nantinya.
Selesai mandi Dira keluar dari kamar mandi dan mendapati Axell yang tengah berbaring di ranjangnya dengan baju yang ia siapkan tadi. Dira berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Nginggg..."
Suara dari Hair dryer yang kini Dira kenakan untuk mengeringkan rambutnya. Axell yang tadinya fokus pada ponselnya, diam-diam mencuri pandang ke arah Dira. Axell memperhatikan Dira diam-diam, gadis yang menurutnya misterius itu kini telah menjadi istrinya.
Sebenarnya Dira sudah selesai mengeringkan rambutnya. Tapi entah mengapa, gadis itu enggan beranjak dari tempatnya.
"Lo keberatan kalo gue tidur disini?" Tanya Axell pelan. Dira menatap wajah Axell lewat cermin di depannya dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak kok kak, Lo boleh tidur disini." Jawab Dira pelan.
"Ya udah tidur, udah malem." Ucap Axell yang mulai memejamkan matanya.
Dira terdiam sesaat sampai akhirnya berjalan mendekati ranjang dan ikut berbaring di ranjang yang sama.
Tak ada pergerakan dari Axell, Dira mengira Axell sudah tidur. Mungkin.
Dira tidak bisa tidur malam ini, ia hanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Ternyata dunia begitu sempit menurutnya. Dira kembali teringat pernah mengira kalau dia di jodohkan dengan om-om dulu, tapi ternyata Dira salah besar. Bukan om-om yang di jodohkan dengannya, melainkan kakak kelasnya sendiri.
"Bege." Ucap Dira pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya dan menertawai dirinya sendiri.
"Masih belum tidur?"
__ADS_1